Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.
Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...
Benarkah rumah itu membawa kutukan?
Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Eka, Dwi, dan Tri
Arkana berdiri mematung di depan pintu ruang rawat. Tangannya gemetar beberapa kali menyentuh gagang pintu, namun kembali terlepas. Dadanya terasa begitu sesak.
"Pak Arkana," panggil dokter yang baru saja keluar dari ruangan, memecah keraguan Arkana.
Arkana mengangkat wajahnya yang sembap. "Iya, Dok?"
"Istri Bapak sudah sadar sepenuhnya. Masuklah, beliau menunggu," ujar dokter itu lembut seraya menepuk pelan bahu Arkana.
"Terima kasih, Dok," bisik Arkana pasrah.
Dengan langkah kaki yang amat berat, Arkana mendorong pintu perlahan. Suara mesin monitor berdetak pelan memecah keheningan ruangan.
Bip... Bip... Bip...
Hanifah berbaring di atas ranjang dengan wajah pucat pasi. Selang infus menancap di punggung tangannya. Saat melihat suaminya melangkah masuk, bibirnya membentuk senyum kecil.
"Mas..." sapa Hanifah lirih.
Arkana membalas senyuman itu, meski kaku dan dipaksakan. Ia menarik kursi ke samping ranjang, lalu duduk di sisi istrinya. Jemari dingin Hanifah langsung digenggamnya erat.
"Aku tidur lama ya, Mas?" tanya Hanifah lembut, menatap suaminya.
Arkana mengangguk pelan. "Lumayan, Dek."
"Pantesan badanku masih lemas," kekeh Hanifah tipis. Ia mengamati wajah suaminya sejenak. "Mas... Mas menangis?"
Arkana usahakan menyapu sudut matanya cepat. "Enggak kok. Cuma kecapekan."
"Mas bohong," tuduh Hanifah menyipitkan mata. "Matanya merah begitu."
Arkana hanya tersenyum kecil, tenggorokannya terlalu menyempit untuk membalas.
Hanifah menghembuskan napas pelan. Secara refleks, jemari tangannya bergerak mengusap permukaan perutnya. Namun, gerakannya mendadak terhenti. Dahinya berkerut dalam.
"Mas..." panggil Hanifah, nada suaranya berubah ragu.
"Iya, Dek?"
"Perutku... kok rasanya ringan dan kempes ya?" tanya Hanifah menatap Arkana bingung.
Jantung Arkana mendadak berdegup kencang. Ia tertunduk dalam-dalam, tak sanggup bertatapan mata.
Hanifah justru tertawa kecil, mencoba menepis prasangka buruknya. "Mungkin Eka, Dwi, sama Tri capek ya, Mas? Tadi mereka nakal banget sampai bikin Ibunya masuk rumah sakit."
Ia kembali mengusap perutnya dengan tatapan penuh kasih sayang. "Eka... Dwi... Tri... Ibu sudah bangun. Nanti jangan bikin Ibu kaget lagi ya..."
Arkana menggigit bibirnya kuat-kuat. Tetesan air mata yang ditahannya runtuh seketika membasahi punggung tangan Hanifah.
"Mas? Kok malah menangis makin deras?" panggil Hanifah panik.
Arkana hanya menggelengkan kepala tanpa sanggup bersuara.
"Mas... anak-anak kita bagaimana?" ceceh Hanifah mulai gemetar. "Mas! Eka, Dwi, Tri... mereka baik-baik saja, kan?!"
Bip... Bip... Bip...
Hanya suara mesin monitor yang menjawab. Hanifah mencoba bangkit dari ranjangnya, namun tubuhnya terlalu lemah.
"Mas! Jawab aku!" seru Hanifah cemas, meremas lengan kemeja suaminya. "Anak-anak kita di mana?!"
Arkana segera menyangga tubuh istrinya agar tidak terjatuh. "Pelan, Dek... pelan..."
"Mas, tolong jawab! Aku takut!" jerit Hanifah, air matanya mulai menetes.
Arkana memejamkan mata rapat-rapat, isak tangisnya pecah seketika. "Maafkan Mas, Dek... Maafkan Mas..."
"Jangan..." pangkas Hanifah cepat sambil menggeleng kuat-kuat. "Mas, jangan bilang—"
"Dek..." potong Arkana terengah-engah. "Eka... Dwi... Tri... mereka sudah pulang kepada Allah..."
Hanifah seketika membeku. Tatapannya mendadak kosong menatap wajah Arkana.
"Mas... jangan bercanda," bisik Hanifah tertawa rapuh. "Mereka masih ada di dalam, kan? Mas cuma menakut-nakutiku, kan?!"
Arkana tidak menjawab. Ia hanya terus menunduk sambil terisak hebat.
Hanifah kembali mengusap perutnya yang datar dengan napas memburu. "Mas... ini bohong, kan?! Aku masih bisa merasakan mereka! Mas, bilang ini bohong!"
Air mata Arkana menetes tepat di atas telapak tangan Hanifah. Jawaban tanpa suara itu menghantam Hanifah telak. Senyum rapuhnya sirna seketika, bibirnya bergetar hebat.
"Eka... Dwi... Tri... maafin Ibu..." bisik Hanifah dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Air matanya tumpah satu per satu. Bukan jeritan histeris, melainkan tangisan pelan yang teramat menyayat hati. "Ibu gagal menjaga kalian... Maaf... Maafkan Ibu..."
Arkana langsung merengkuh dan memeluk erat tubuh istrinya. "Jangan bilang begitu! Ini bukan salah kamu, Dek!"
"Aku yang gagal, Mas!" tangis Hanifah pecah di dada Arkana. "Aku ibu yang gagal!"
"Bukan! Kamu sudah berjuang! Kalian semua sudah berjuang!" bisik Arkana terisak, mengelus punggung istrinya yang terguncang hebat.
...----------------...
Di balik pintu ruang rawat yang sedikit terbuka, Bu Sulastri refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tangisnya ikut pecah mendengar isakan pilu dari dalam. Pak Hadi di sampingnya hanya bisa mengembuskan napas panjang, menundukkan kepala menahan duka.
Sementara di kursi paling ujung lorong, Bibi Ratna masih bersedekap dada. Ia menatap ubin rumah sakit tanpa mengujarkan sepatah kata pun, terkurung dalam keheningan yang dingin.