Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Sulastri tetap masuk.
Bukan karena ia datang baik-baik, tetapi karena gengsinya terlalu besar untuk mundur setelah tetangga mulai melirik dari teras masing-masing.
Harto menyusul di belakangnya. Bagas datang paling akhir, memakai kaus mahal yang Naura yakin dibeli dari uang rumah, bukan dari hasil kerja.
Begitu melihat Naura duduk di meja makan Pakde Darma, wajah Sulastri mengeras.
"Enak sekali makan di sini. Rumah sendiri dilewati."
Bude Sari berdiri di samping meja.
"Dia baru sampai. Anak perjalanan jauh, wajar makan dulu."
"Aku ibunya."
"Kami tahu."
Jawaban Bude Sari halus, tetapi dingin.
Salsa menunduk, tetapi tangan di bawah meja menggenggam tangan Naura erat.
Naura mengangkat mata.
"Ibu mau bicara apa?"
Sulastri tampak kaget mendengar nada Naura. Tidak keras. Tidak kasar. Tapi tidak lagi takut.
"Kamu masih tanya? Kamu pulang kampung, lewat depan rumah, tidak mampir. Tetangga lihat. Kamu mau bikin kami malu?"
"Aku tidak berniat menginap di rumah Ibu."
"Kenapa? Rumah itu rumahmu juga."
Naura menatapnya.
"Benarkah?"
Sulastri mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"
"Kamar saya masih ada?"
Bagas mendengus. "Mulai lagi drama."
Naura menoleh kepadanya.
"Jawab saja."
Harto akhirnya bicara. "Kamu jarang pulang. Kamar dipakai Bagas untuk kerja."
"Kerja apa?"
Bagas langsung membalas, "Konten dan trading."
Salsa hampir tersedak.
Naura menatap adiknya. "Trading pakai uang siapa?"
"Kok kamu selalu hitung-hitungan sama keluarga?"
Kalimat itu dulu selalu membuat Naura diam.
Sekarang ia tersenyum.
"Karena selama ini keluarga selalu menghitung uang saya lebih dulu."
Suasana ruang makan membeku.
Sulastri menunjuk Naura. "Kamu berubah."
"Iya."
"Kamu jadi sombong setelah kerja di Jakarta."
"Kalau menolak diperas disebut sombong, iya."
Bagas berdiri. "Mbak, jaga mulut."
Pakde Darma bergerak satu langkah.
Bagas langsung berhenti.
Pakde Darma bukan orang yang banyak bicara. Tapi sejak kecil, Bagas tahu pamannya itu tidak bisa digertak dengan suara keras.
Harto berkata, "Naura, kita bicara di rumah. Jangan buka aib keluarga di sini."
Naura melihat sekeliling.
Pakde. Bude. Salsa.
Orang-orang yang tahu sebagian besar luka itu.
"Aib keluarga sudah Ibu bawa ke lobi kantor saya."
Sulastri berteriak, "Itu karena kamu susah dihubungi!"
"Karena setiap dihubungi, yang diminta uang."
"Kami orang tuamu!"
"Saya tahu. Itu yang dulu membuat saya bertahan."
Sulastri terdiam.
Naura berdiri.
Suaranya tetap tenang, tetapi semua orang mendengar.
"Malam ini saya capek. Kalau Bapak dan Ibu mau silaturahmi baik-baik, kita bisa bicara besok. Kalau mau menuntut uang, saya tidak punya jawaban baru."
Bagas tertawa sinis.
"Nggak punya uang? Jangan bohong. Katanya kerja di rumah orang kaya. Pasti gajinya gede."
Bude Sari menatap Bagas tajam.
"Mulutmu itu ya, Gas."
Bagas tidak peduli. "Bude jangan ikut campur. Ini urusan keluarga kami."
Pakde Darma bertanya pelan, "Keluarga yang mana?"
Bagas menoleh.
Pakde Darma melanjutkan, "Waktu Naura butuh uang sekolah, keluarga mana yang bayar? Waktu dia sakit karena kerja sambil kuliah, keluarga mana yang antar ke klinik? Waktu dia pulang dan tidak ada makanan di rumahmu, dia makan di mana?"
Wajah Harto berubah.
"Mas, jangan ungkit-ungkit."
"Kamu bisa datang ke rumahku menuntut anak ini sebagai darahmu, tapi tidak mau diingatkan bahwa kamu gagal menjaganya?"
Sulastri mulai menangis.
Tangisannya cepat. Terlatih.
"Kami miskin waktu itu. Kami punya banyak beban. Apa salah kalau anak membantu orang tua?"
Naura melihat air mata itu.
Dulu ia akan luluh.
Sekarang ia hanya merasa lelah.
Tangis itu dulu menjadi tombol yang selalu berhasil ditekan. Begitu Sulastri menangis, Naura akan berhenti membela diri. Ia akan mengambil dompet, meminta maaf lebih dulu, lalu pulang dengan dada sesak karena merasa menjadi anak yang buruk.
Malam itu, ia melihat hal yang berbeda.
Air mata ibunya tidak jatuh karena rindu. Air mata itu jatuh karena cara lama tidak lagi bekerja.
Kesadaran itu menyakitkan, tetapi juga membuat punggung Naura lebih tegak.
"Membantu berbeda dengan menanggung hidup semua orang."
"Kamu anak pertama!"
"Dan Bagas anak laki-laki satu-satunya. Kalimat itu sudah terlalu sering dipakai untuk membenarkan semuanya."
Bagas memukul meja.
Gelas bergetar.
Salsa tersentak.
Pakde Darma langsung maju. "Jangan pukul meja di rumahku."
Bagas menahan napas.
Naura menatap Bagas.
"Besok saya akan ambil barang lama saya, kalau masih ada. Setelah itu saya tidak akan masuk rumah itu lagi tanpa alasan."
Sulastri menghapus air mata dengan kasar.
"Barangmu? Kamar saja sudah tidak ada. Barang lama paling sudah dibuang."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Dan justru karena begitu saja, semua orang tahu itu benar.
Naura diam.
Salsa menoleh tajam. "Ibu buang barang Kak Naura?"
Sulastri memandang Salsa dengan jijik.
"Kamu jangan ikut bicara. Kamu sudah jadi anak orang."
Wajah Salsa pucat.
Naura maju satu langkah.
"Jangan bicara begitu pada Salsa."
"Kenapa? Salah? Kamu berdua memang sama. Sudah dibesarkan orang, lupa asal."
Naura menatap ibu kandungnya.
Ia tiba-tiba merasa sangat tenang.
"Asal tidak selalu berarti rumah."
Sulastri seperti ditampar.
Harto menarik lengan istrinya. Mungkin ia sadar situasi tidak menguntungkan. Tetangga di luar makin banyak. Jika diteruskan, justru aib mereka yang terbuka.
"Kita pulang dulu," katanya.
Bagas masih marah. "Pak..."
"Pulang."
Sulastri menunjuk Naura.
"Besok kamu datang ke rumah. Jangan bikin Ibu datang menjemput."
Naura menjawab, "Saya datang dengan Salsa. Siang. Kalau ada keributan, saya pulang."
Sulastri hendak membalas, tetapi Pakde Darma membuka pintu lebih lebar.
"Sudah malam."
Itu pengusiran halus.
Mereka pergi.
Begitu pintu tertutup, Salsa langsung memeluk Naura.
"Kak..."
Naura memeluk balik.
Tangannya baru terasa gemetar setelah semua selesai.
Bude Sari mendekat dan mengusap punggungnya.
"Kamu hebat."
Naura menggeleng. "Saya takut."
Pakde Darma berkata, "Berani itu bukan tidak takut."
Naura menatapnya.
Pakde melanjutkan, "Berani itu tetap berdiri meski takut."
Malam itu, Naura tidur di kamar kecil rumah Pakde Darma. Kamar itu sederhana, dengan seprai bersih dan kipas angin berdiri di sudut.
Di meja kecil, Bude Sari meletakkan air minum dan minyak kayu putih.
Naura duduk di tepi kasur, menyentuh seprai.
Rumah Harto dibangun dari uangnya, tetapi tidak punya kamar untuknya.
Rumah Pakde sederhana, tetapi selalu menyediakan tempat.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Arkan.
`Sudah sampai?`
Naura menatap layar lama.
Ia membalas:
`Sudah. Ada sedikit keributan, tapi saya aman.`
Balasan datang cepat.
`Sedikit?`
Naura hampir tersenyum.
`Menurut standar keluarga saya, sedikit.`
Arkan:
`Saya tidak suka standar itu.`
Naura membaca pesan itu, lalu untuk pertama kalinya malam itu, ia tertawa pelan.
Ia membalas:
`Saya juga.`
Di kamar kecil yang hangat, Naura mematikan lampu.
Besok ia akan masuk ke rumah masa lalunya.
Kali ini, bukan untuk meminta diterima.
Melainkan untuk mengambil kembali dirinya.
jgn setengah 2 ya