Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.
Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.
Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.
Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.
Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.
Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.
Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penemuan di tengah badai
Mobil Daffa melaju kencang membelah hujan deras. Pak Jamal sudah sangat mahir menyetir, sehingga sekalipun saat badai begini, ia tidak pernah ragu melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi.
Namun saat Daffa baru saja hendak memejamkan mata karena lelah memikirkan banyak hal, Pak Jamal tiba-tiba menekan rem mendadak. Suara ban mobil berdesis ngeri beradu dengan aspal yang licin.
Tubuh Daffa terhuyung ke depan, kepalanya bahkan sempat membentur bagian atas atap mobil. "Apa-apaan ini, Pak Jamal!" bentaknya kesal.
"Maaf, Tuan Muda! Ada seseorang di tengah jalan sana!" Pak Jamal menunjuk ke arah depan. Di sana terbaring sesosok tubuh, tangannya masih memegang erat gagang payung biru yang sudah rusak parah.
"Biarkan saja. Pasti itu jebakan."
"Tapi sepertinya bukan begitu, Tuan Muda. Itu terlihat seperti seorang perempuan. Mungkin korban tabrak lari," ucap Pak Jamal khawatir.
Daffa pun mendongak ke depan, menatap lekat-lekat sosok yang terbaring tepat di depan mobilnya.
Tanpa pikir panjang lagi, Daffa langsung turun dari mobil, tanpa membawa payung. Dia melonggarkan dasi, lalu melepas jas mahalnya dan menyingsingkan lengan kemejanya sampai ke siku sebelum berjalan mendekati tubuh itu.
Pak Jamal segera menyusul, berlari cepat sambil membuka payung untuk meneduhi tuannya.
Daffa berjongkok, perlahan membalikkan tubuh itu hingga telentang. Matanya menatap jelas, dia adalah seorang wanita, "Siapa kamu? Apa kamu sedang menyusun jebakan untuk mendapatkan uang nantinya?" batin Daffa curiga.
Tubuh itu sangat dingin, baju tipisnya yang basah bahkan sudah menerawang hingga memperlihatkan pakaian dalamnya. Daffa langsung menyelimuti tubuh itu dengan jas miliknya yang tadi dia lepaskan.
Pak Jamal berdiri di sampingnya, memegang payung agar air hujan tidak lagi membasahi mereka berdua.
"Tuan Muda, apa yang harus kita lakukan?" tanyanya cemas.
Daffa tidak menjawab sepatah kata pun. Sekilas ia melirik kearah tas hitam yang tampak berisi penuh, "Pak Jamal, tolong bawa tas itu." perintahnya menunjuk ke arah tas itu.
"Baik, Tuan Muda."
Belum sempat pak Jamal meraih tali tas itu, Daffa sudah lebih dulu menggendong tubuh ringkih itu dan membawanya masuk ke kursi belakang mobil mewahnya.
"Dia.... siapa wanita ini?" lirihnya sambil membaringkan tubuh itu perlahan dalam posisi nyaman. Daffa juga meletakkan tas laptopnya di bawah kepala wanita itu sebagai bantal.
Setelah itu, Daffa kembali duduk di kursi depan.
Pak Jamal menyusul dengan membawa tas kecil milik perempuan itu. Menaruh tas itu di kursi belakang di lantai begitu saja.
"Ke apartemen, Pak!"
"Baik, Tuan Muda." Pak Jamal kembali melajukan mobil menuju apartemen yang dimaksud Daffa.
Apartemen ini adalah tempat persembunyian Daffa saat ia merasa sangat terpuruk, terutama setiap kali Amanda menyudutkannya atau setelah berhasil selamat dari rencana jahat Amanda terhadapnya.
Sesampainya di apartemen, Daffa kembali menggendong wanita itu masuk ke dalam kamar apartemennya yang selalu rapi, bersih, dan wangi. Tempat ini dirawat khusus oleh Mbok Ayu, pengasuhnya sejak bayi sekaligus istri Pak Jamal.
Daffa membaringkan tubuh basah itu di atas sofa ruang tamu.
"Pak Jamal, panggil Mbok Ayu ke sini sekarang!"
Pak Jamal segera menelepon istrinya yang memang tinggal di gedung yang sama, namun di lantai bawah dengan tipe kamar yang jauh lebih sederhana.
Daffa sengaja menyewakannya agar mereka berdua tidak perlu jauh-jauh berangkat dari rumah aslinya yang berada di pinggiran kota.
Sambil menunggu kedatangan Mbok Ayu, Daffa sempat mandi dan berganti pakaian dengan pakaian santai yang nyaman.
Tidak lama kemudian, Mbok Ayu pun tiba. "Ada apa, Mas?"
Pak Jamal menoleh dengan tersenyum tipis menyambut kedatangan istrinya.
"Kenapa? ada apa mendadak seperti ini?" tanya Mbok Ayu penasaran.
"Begini, Yu... tadi di jalan kita tidak sengaja menemukan wanita yang pingsan di tengah jalan. Tuan Muda kasihan, jadi dibawa ke sini saja," jelas Pak Jamal panjang lebar.
"Mana orangnya, Mas?" tanya Mbok Ayu segera.
Mereka berdua melangkah ke ruang tengah. Melihat wajah pucat wanita itu, Mbok Ayu langsung terkejut, "Ya Allah, kasihan sekali... dia masih bernapas kan?"
"Masih, Mbok. Hanya pingsan karena mungkin terlalu kedinginan," sahut Daffa yang baru keluar dari kamar.
"Tolong rawat dia ya, Mbok. Gantikan juga pakaiannya dengan pakaian Mbok Ayu dulu. Pakaian miliknya basah semua di dalam tas itu," Daffa menunjuk ke arah tas hitam di lantai.
"Baik, Tuan Muda."
"Malam ini Mbok Ayu sama Pak Jamal menginap di sini saja. Nanti kalau dia sudah sadar, katakan saja kalau Mbok Ayu sama Pak Jamal yang menemukannya."
"Baik, Tuan Muda."
"Kalau ada yang aneh-aneh, langsung telpon saya!"
"Baik, Tuan Muda."
Daffa bersiap berangkat kembali ke rumah utama, menyetir mobilnya sendiri. Sementara Pak Jamal ditugaskan menjaga wanita itu bersama istrinya.
Sebelum melangkah pergi, Daffa berhenti sejenak, "Satu lagi, kalian harus sembunyikan hal ini dari siapa pun. Tanpa ada pengecualian!"
"Baik, Tuan Muda. Kami mengerti."
Daffa melangkah tegas masuk ke dalam lift, pintu besi itu menutup perlahan memisahkannya dari apartemen yang kini menyimpan rahasia baru.
Mobilnya melaju kembali membelah jalanan kota yang mulai basah dan sepi, pikirannya tidak henti kembali pada sosok wanita yang tadi ia temukan, wajah pucat itu entah mengapa tidak mau lepas dari ingatannya.
Di dalam apartemen, keheningan kembali menyelimuti ruangan luas itu. Mbok Ayu mengambil handuk kering, lalu perlahan mengusap sisa air hujan yang masih menempel di wajah wanita tidak dikenal itu.
Mbok Ayu juga sudah menggantikan pakaian wanita itu dengan pakaian miliknya. Untungnya ukuran tubuh mereka tidak jauh berbeda. Jadi pakaiannya pas.
Hatinya terasa perih melihat mata yang sembab hebat, seolah wanita itu baru saja menangis sejadi-jadinya sebelum jatuh pingsan di tengah guyuran hujan deras.
"Kasihan, ya Mas," bisik Mbok Ayu pelan sambil memeras handuk basah, "Sepertinya dia baru saja mengalami hal yang sangat berat. Semoga bukan mengarah pada pelecehan...."
Pak Jamal duduk di kursi dekat pintu, matanya tidak lepas mengawasi keadaan sekitar.
"Siapa yang tahu, Yu. Semoga saja tidak begitu. Sepertinya, mungkin Tuhan mengirimkan Tuan Muda di saat yang tepat. Kalau tidak, entah apa yang akan menimpanya di jalanan gelap itu."
Mbok Ayu tersenyum tipis, lalu menarik selimut hingga menutupi bahu wanita itu dengan rapat, "Semoga kamu baik-baik saja, Nona yang cantik. Dan semoga... kebaikan kecil ini bisa menjadi awal perubahan bagi hidupmu nantinya."
Angin malam berdesir kencang sekali lagi, mengguncang jendela kaca tinggi yang menghadap ke arah kerlap-kerlip lampu kota.
Hujan perlahan berhenti menyisakan rintik halus, namun takdir telah menuntun benang merah tak terlihat itu menghubungkan hidup wanita yang baru saja kehilangan segalanya, dengan pria yang terjebak dalam ambisi dan kesepian dalam hidupnya.
Bersambung....