semoga suka ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak org, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 23
Tok. Tok. Tok
"sayang, dengarkan aku dulu sayang" ucap Aryan lembut sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar Yeri.
"sayang aku mohon tolong dengarkan penjelasan aku dulu sayang"
Karena tidak kunjung menjawab ucapannya itu Aryan pun akhirnya memilih untuk memberanikan diri masuk ke kamar Yeri dengan jantung yang tak pernah berhenti berdetak kencang.
Ceklek
"sayang" ucap Aryan lembut saat melihat seluruh kamar itu gelap gulita.
Lampu dimatikan dan gorden juga jendela ditutup sehingga membuat seluruh kamar itu mendadak menjadi gelap.
Dan tanpa sengaja Aryan Malah menginjak serpihan kaca yang tergeletak berceceran di lantai.
"apa ini?" tanya Aryan memegang serpihan itu.
Karena tidak bisa melihat apapun dengan jelas, Aryan pun mulai mencari saklar lampu dengan langkah pelan-pelan.
Klik
saat Aryan membalikkan badannya betapa terkejutnya Aryan saat melihat Yeri yang terduduk di lantai dengan memegang serpihan kaca yang ada sedikit noda darah.
dan yang paling membuat hati Aryan terasa menyakitkan adalah melihat lengan kiri Yeri yang sudah dibaluti oleh darah segar yang terus-menerus keluar dari lengannya itu.
Sraattt!
"Yeri" teriak Aryan menggema di penjuru kamar.
Yeri menatap wajah suaminya yang sudah berkeringat dingin. mata yang memerah dan rahangnya yang mengeras serta urat-urat lehernya yang sangat terlihat jelas. antara marah dan sedih menjadi satu.
Yeri menatap wajah suaminya dengan tatapan kosong lalu menatap kembali lengannya yang sudah penuh darah itu.
entah memang tidak merasakan sakitnya, atau memang karena terlalu sakit hati terhadap suaminya, jadinya luka yang ada di lengannya terasa tidak sakit sama sekali.
Sraattt!
"Yeri! Apa yang kau lakukan!!" Aryan menghampiri Yeri yang kembali melukai lengannya.
"lepasin aku!" berontak Yeri mencoba melepaskan tangan Aryan di lengannya
"tidak! Jika aku melepaskanmu kau akan kembali melukai dirimu sendiri Yeri" Aryan menatap Yeri dengan tajam.
"enghh! Lepasin, aku bilang lepasin ya lepasin Aryan!!"
Sraattt!
"Akhh!" Aryan memegang lengannya yang sempat dilukai oleh Yeri.
"aku membencimu! Kenapa Aryan! Kenapa!!" air mata Yeri jatuh begitu saja saat menatap suaminya dengan tatapan benci.
"sayang aku mohon dengarkan aku dulu ya"
"itu pisaunya taruh di lantai ya sayang. Aku mohon" ucap Aryan lembut memohon kepada Yeri agar pisaunya dijatuhkan ke lantai.
"enggak! Aku mau mati aja, aku udah enggak sanggup diginiin aku benci kamu Aryan!!"
"Yeri!!" teriak Aryan membelalakkan matanya terkejut melihat tubuh Yeri yang sudah terlentang di lantai dengan kedua mata yang terpejam.
Brak!
"apa yang terjadi?!" teriak Lea dengan raut wajah cemas
"sayang hiks, bangun. Sayang aku mohon" Aryan mengelus rambut Yeri dengan menangis tersedu-sedu.
Lea, Darman dan Aluna. Mendekat ke arah Aryan dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Yeri dengan wajah pucat dan tangan yang sudah penuh oleh darah.
"Aryan apa yang terjadi? Kenapa menantuku jadi seperti ini Aryan?!" tanya Lea dengan mata berkaca-kaca.
Aryan tidak menjawab pertanyaan ibunya itu langsung. Karena dia terlalu sibuk dengan keadaan sang istri yang sekarang terlihat sangat tidak berdaya.
"sayang hiks aku mohon bangunlah"
"mas apa yang terjadi?" tanya Aluna
"ini semua pasti karena dirimu! Coba saja kau tidak tidur dengan Aryan maka Yeri tidak akan seperti ini!!" sentak Lea menatap Aluna tajam dengan kedua tangan yang terkepal erat.
Aluna yang dimarahi oleh mertuanya itu menundukkan kepalanya. Takut dan merasa sangat bersalah kepada Yeri.
Benar ini semua adalah salahnya. coba saja dia tidak tidur dengan Aryan maka Yeri tidak akan seperti ini.
Dia ini hanyalah istri kedua dari Aryan. Dan juga ini hanyalah perjodohan. Seharusnya Aluna tahu akan batasan itu.
"kau!" sebelum Lea melakukan yang tidak-tidak kepada Aluna, Darman lebih dulu menghentikan aksi itu.
"sudah-sudah diam! Apa kalian akan terus bertengkar seperti ini?!"
"lihat Yeri sedang tidak baik-baik Saja. Seharusnya kita memperhatikan dulu keadaanya dan membawa dia ke rumah sakit. Bukan malah ribut seperti ini" ujar Darman tegas.
"Aryan cepat. Kita bawa Yeri ke rumah sakit sebelum terlambat" perintah Darman.
Aryan yang mendengar perintah ayahnya, segera menggendong Yeri dan berlari menghampiri mobilnya di parkiran.
setibanya di parkiran, Aryan langsung memerintahkan bodyguardnya untuk membawanya menuju ke rumah sakit terdekat.
selalu disusul oleh mobil kedua yang diisi oleh Darman, Lea, dan Aluna yang juga ikut ke rumah sakit.
setibanya di rumah sakit, para suster yang melihat mobil keluarga Wijaya. tanpa jeda sedikitpun. mereka langsung membawa brankar itu menuju mobil Aryan. dan Aryan pun membaringkan tubuh Yeri di atas brankar itu.
lalu mereka mendorong brankar itu menuju ruang IGD.
"sayang aku mohon bertahanlah" lirih Aryan menatap khawatir ke arah wajah pucat istrinya.
setibanya di ruang IGD, Aryan yang ingin ikut masuk ke dalam langsung dihentikan oleh salah satu suster di sana.
"mohon maaf tuan. Anda harus kami larang masuk, dan untuk itu Anda harus menunggu di luar tuan"
"tapi istri saya-"
"tenang tuan, kami akan mengeluarkan segenap kemampuan kami untuk menyelamatkan nyonya Yeri. kami berjanji" ujar suster itu yakin.
dan Aryan pun hanya bisa menganggukkan kepalanya setuju. "baiklah tolong selamatkan nyawa istri saya. kalo sampai terjadi sesuatu hal terhadap istri saya kau pasti tahu apa yang bisa saya lakukan untuk rumah sakit ini"
suster yang melihat wajah tegas Aryan dan mata tajam itu. langsung ciut seketika karena dia tahu dengan siapa mereka saat ini sedang berhadapan.
suster itu pun menganggukkan kepalanya cepat lalu menunduk sebentar dan menutup pintunya kembali, meninggalkan Aryan yang sedang menatap tajam ke arah balik pintu itu.
beberapa saat kemudian Aryan menutup kedua matanya sejenak, lalu menghembuskan napas panjangnya, dan duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana.
Tak. Tak. Tak.
"mas~"
Aryan yang mendengar suara lembut Aluna mendongakkan kepalanya, lalu menatap wajah sendu Aluna.
Bruk!
Aryan langsung memeluk tubuh Aluna erat. dan menumpahkan air matanya yang sejak tadi terus ingin jatuh.
"mas~ tenang ya aku yakin Yeri pasti akan baik-baik saja" Aluna mengelus punggung lebar Aryan dengan usapan lembut.
"aku takut Aluna hiks aku takut"
"mas~ aku yakin Yeri pasti selamat, dan mas gak perlu takut. Aku akan selalu ada untukmu mas"
Sedangkan Lea juga tidak kalah sedihnya dengan Aryan. Dia memeluk tubuh suaminya erat dan mencengkeram kuat jas hitam yang sedang dikenakan suaminya itu menjadi kusut.
Darman yang melihat hal itu tidak ambil pusing. Dia ikut menenangkan istrinya yang sedang dilanda ketakutan yang luar biasa
"sayang tenang ya hum, Yeri pasti baik-baik saja cup" Darman mencium kening istrinya lama
Dan Lea hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah dan berdoa semoga Yeri baik-baik saja
Maaf kalo gak nyambung dan typo bertebaran 😁 jangan lupa di like sama komen ya❤️