Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.
Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.
Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?
Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 022: Pintu Kedua
Meilin tidak segera memanggil Kevin.
Dia menatap foto itu, lalu kalimat di bawahnya, sampai ujung jarinya terasa dingin.
Koko masih sama.
Selalu melindungi orang yang tidak seharusnya dia lindungi.
Kalimat itu seperti ditulis untuk melukai dua orang sekaligus. Kevin, karena masa lalu yang belum dia ceritakan. Meilin, karena posisinya disebut tidak seharusnya.
Kevin kembali dari balkon beberapa menit kemudian.
"Telepon kantor?" tanya Meilin, mencoba membuat suaranya normal.
"Selesai. Ada update kecil untuk dashboard."
Dia langsung melihat wajah Meilin.
"Apa yang terjadi?"
Meilin tidak bisa berbohong. Bukan setelah semalam memintanya memberi tahu kalau pria itu muncul lagi.
Dia menyerahkan ponsel.
Kevin membaca pesan itu.
Wajahnya tidak berubah banyak. Justru itu yang membuat Meilin lebih takut. Dia diam, membuka foto, memperbesar bagian latar, lalu menyimpan nomor itu ke daftar blokir setelah mengambil screenshot.
"Jangan hapus," katanya.
"Aku tidak akan."
"Kalau nomor itu kirim lagi, langsung kasih aku."
"Iya."
Kevin menatap foto itu sekali lagi. "Dia seharusnya tidak menghubungimu."
"Tapi dia sudah."
"Aku akan urus."
Meilin menahan napas. "Ko, jangan cuma bilang begitu."
Kevin mengangkat mata.
"Aku bukan minta kamu ceritakan semuanya sekarang. Tapi kalau ini menyangkut aku juga, aku perlu tahu apa yang harus kulakukan."
Kevin terlihat ingin menutup pintu lama itu lagi. Namun kali ini dia berhenti di ambang.
"Jangan temui dia sendirian. Jangan balas pesan. Kalau dia muncul dekat apartemen atau tempatmu meeting, langsung pergi ke tempat ramai dan telepon aku."
"Itu instruksi."
"Iya."
"Aku juga butuh penjelasan."
Kevin diam.
Lalu, pelan, dia berkata, "Dia keluarga jauh."
Meilin menunggu.
"Lebih tepatnya, dari keluarga ayahku."
Keluarga ayah.
Halim.
Nama itu tidak diucapkan, tapi bayangannya masuk ke ruangan seperti angin dingin.
"Dia berbahaya?"
"Tidak dengan cara yang kamu pikirkan."
"Itu tidak menenangkan."
"Memang."
Kevin meletakkan ponsel Meilin di meja, lalu menyentuh punggung tangannya sebentar. "Aku belum siap cerita semuanya. Tapi aku tidak akan biarkan dia menyentuhmu."
Meilin menatap tangan itu.
Dulu, mungkin dia akan menuntut jawaban. Sekarang dia tahu ada luka yang tidak bisa dibuka paksa tanpa membuat orangnya berdarah lagi.
"Baik," ucapnya. "Tapi aku juga tidak mau cuma berdiri di belakangmu."
Kevin menatapnya lebih lama.
"Aku tahu."
Malam itu, Meilin tidak bisa tidur cepat.
Bukan karena takut saja. Pesan itu menempel di kepalanya, bercampur dengan kalimat Jessica tentang pameran. Rumah yang pelan-pelan jadi tempat pulang. Pintu Kedua.
Kalau dia hanya menggambar Kevin yang melindunginya, seri itu belum selesai.
Dia mengambil buku sketsa.
Karya pertama: kamar kos lama dengan lampu hampir mati, tapi ada meja kecil yang tetap dipakai bekerja.
Karya kedua: tangan yang saling menggenggam di ranjang rumah sakit, bukan untuk menahan, melainkan untuk memberi tahu bahwa satu sama lain masih ada.
Karya ketiga: pintu apartemen baru yang terbuka, dengan dua kartu akses di atas meja.
Untuk karya keempat, dia berhenti.
Kevin duduk di seberangnya, memperhatikan tanpa mengganggu.
"Kamu butuh empat?" tanyanya.
"Tiga sampai lima."
"Kamu punya ide?"
Meilin menatap halaman kosong. "Aku tidak mau semua gambarnya tentang dilindungi."
Kevin tidak menjawab.
"Aku mau ada satu gambar tentang berdiri sendiri," lanjutnya. "Bukan karena tidak butuh orang lain. Tapi karena aku tidak mau orang seperti dia berpikir aku hanya beban yang kamu lindungi."
Kevin menatapnya, dan ada sesuatu yang pelan berubah di wajahnya.
"Gambar apa?"
Meilin mengambil pensil.
Dia menggambar seorang perempuan berdiri di depan pintu terbuka. Di belakangnya ada bayangan seorang laki-laki, tapi bukan menutupi. Hanya berdiri cukup dekat untuk menjaga jika diperlukan. Cahaya datang dari depan, bukan dari belakang.
"Ini," katanya.
Kevin melihat sketsa itu lama.
"Bagus."
"Kamu selalu bilang begitu kalau tidak tahu harus bilang apa."
"Tidak. Kali ini aku tahu."
Meilin menunggu.
Kevin menunjuk bayangan laki-laki di belakang gambar. "Dia tidak mendorong. Tidak menarik. Dia menunggu."
Meilin menggigit bibir, lalu ingat larangan Kevin dan berhenti.
"Itu kamu?"
"Kalau kamu mau."
Jawaban itu membuat tangannya hampir salah garis.
Tiga minggu berikutnya berubah menjadi ritme yang padat.
Kevin bekerja dari kantor dan beberapa malam dari apartemen. Meilin menggambar seri Pintu Kedua, mengedit foto karya, menulis artist statement dengan bantuan Jessica, lalu memperbaikinya lagi karena Kevin bilang kalimat pertamanya terlalu menjelaskan.
Jessica datang dua kali membawa makanan aman untuk lambung dan energi berlebihan.
"Statement-mu jangan seperti laporan pajak," katanya.
Kevin dari dapur menjawab, "Itu kalimatku."
"Bagus, kita sepakat."
Meilin menghela napas, tapi dia bahagia.
Hari terakhir submission, mereka bertiga duduk di meja apartemen. Kevin mengecek ukuran file. Jessica mengecek typo. Meilin membaca ulang statement terakhir.
Pintu Kedua adalah seri tentang ruang-ruang kecil yang menyelamatkan seseorang tanpa terlihat seperti keajaiban.
Dia menekan tombol submit.
Tidak ada ledakan. Tidak ada musik. Hanya layar kecil yang menampilkan tulisan: Submission received.
Meilin mengembuskan napas yang rasanya tertahan selama tiga minggu.
"Selesai," bisiknya.
Kevin meletakkan segelas air di sampingnya. "Sekarang makan."
Jessica menepuk tangan. "Romantis sekali, Romeo versi lambung sehat."
Meilin tertawa.
Dua hari kemudian, email dari Jakarta Art masuk saat Kevin sedang memasak makan malam.
Meilin membuka email itu dengan tangan gemetar.
Dear Meilin Tan,
Selamat. Seri karya Anda, "Pintu Kedua", terpilih untuk ditampilkan dalam Jakarta Art Emerging Showcase.
Dia membaca kalimat itu sekali.
Lalu sekali lagi.
"Ko," panggilnya, suaranya hampir hilang.
Kevin menoleh dari dapur.
Meilin mengangkat ponsel.
"Aku masuk."