Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 027 - Pesan dari Prof. Dharma
Senin pagi, skor 690 Keira sudah punya hidup sendiri di SMAN 7.
Ia muncul di papan pengumuman, di grup angkatan, di story yang cepat dihapus, di mulut siswa kelas sebelas yang bahkan belum pernah bicara dengannya. Angka itu menempel pada namanya seperti label yang membuat orang-orang harus menata ulang cara menatap.
Sebagian memilih kagum.
Sebagian memilih curiga.
"Kalau terlalu tinggi justru aneh," ucap seorang siswa di depan kantin. "Selama ini dia biasa saja."
"Biasa saja karena kamu nggak pernah lihat dia belajar," balas Bayu.
Siswa itu menoleh. "Lah, Bayu."
Bayu berdiri dengan tongkat lipat di tangan. Wajahnya agak pucat, tetapi suaranya tidak mundur. "Kalau kamu tidak pernah lihat seseorang makan, bukan berarti dia tidak pernah makan."
Beberapa orang di kantin tertawa kecil. Bukan menertawakan Bayu, melainkan siswa yang wajahnya langsung merah.
Keira yang baru tiba di ambang kantin berhenti.
Bayu melihatnya dan langsung gugup. "Mbak, aku..."
"Bagus."
"Aku nggak bikin masalah?"
"Belum."
Bayu menghela napas lega, lalu sadar kata itu tidak sepenuhnya menenangkan.
Di meja dekat jendela, Nadira duduk bersama dua temannya. Ponselnya tergeletak di samping es teh. Ia tidak lagi menulis sindiran terang-terangan setelah malam Grand Megawan, tetapi orang seperti Nadira tidak benar-benar diam. Mereka hanya mengganti pisau dengan jarum.
"Aku cuma heran," kata Nadira dengan suara cukup keras. "Peserta yang mendadak tinggi biasanya ada dua kemungkinan. Memang genius tersembunyi, atau sistemnya belum lihat semua variabel."
Temannya berbisik, "Maksudmu curang?"
Nadira mengangkat bahu. "Aku tidak bilang begitu. Kamu yang bilang."
Keira mengambil air mineral dari kulkas kantin. Bayu sudah hendak maju, tetapi Keira menahan dengan satu lirikan.
Nadira tersenyum tipis ketika Keira lewat. "Selamat, ya. Semoga kalau nanti diuji langsung, hasilnya tetap sama."
Keira berhenti di samping mejanya.
"Kau ingin menguji?"
Senyum Nadira menegang. "Aku cuma bercanda."
"Kalau bercanda, tertawalah."
Teman-teman Nadira menunduk. Nadira tidak tertawa.
Keira berjalan pergi.
Di kelas, suasana tidak lebih baik. Rika dan beberapa siswa lain berpura-pura membahas soal try out, tetapi setiap kali Keira bergerak, mata mereka ikut bergerak. Bu Ratna masuk membawa buku tugas dan menutup pintu dengan suara tegas.
"Hari ini kita belajar, bukan mengadakan pengadilan rakyat."
Satu kelas diam.
"Kalau ada yang merasa lebih pintar dari sistem koreksi, Prof. Dharma, dan tim akademik, silakan ajukan keberatan resmi. Jangan cuma berani di belakang ponsel."
Laras menunduk. Ia tidak mengatakan apa pun sejak pagi. Setelah Grand Megawan, Bu Sri menyuruhnya menjaga sikap, membangun simpati, dan jangan memberi Keira kesempatan terlihat dizalimi lagi. Masalahnya, melihat Keira duduk tenang seperti tidak ada yang bisa menyentuhnya membuat dada Laras panas.
Saat istirahat kedua, Bu Ratna menempelkan salinan kecil hasil try out di papan kelas. "Biar tidak ada yang mengedit screenshot," katanya.
Rika yang tadi paling ramai langsung berpura-pura mencari penghapus. Dua siswa lain mendekat, membaca angka Bayu, lalu menatapnya dengan wajah berbeda.
"Bayu, kamu beneran belajar dari Mbak Keira?"
Bayu mengangguk hati-hati. "Iya."
"Boleh nanti tanya soal pola deret?"
Bayu terkejut sampai lupa menjawab. Keira yang duduk di belakang membuka botol air.
"Kalau dia mau," katanya.
Untuk pertama kalinya, Bayu tidak ditanya karena kasihan pada kakinya. Ia ditanya karena jawabannya dianggap berguna.
Menjelang siang, ponsel Keira bergetar.
Prof. Dharma:
Apakah kau punya waktu lima belas menit setelah sekolah? Saya ingin memastikan satu hal. Video call cukup.
Keira membalas:
Bisa.
Pukul tiga lewat sepuluh, Keira duduk di sudut warung kopi kecil dekat jalan belakang. Pemilik warung meletakkan kopi hitam tanpa bertanya. Bayu sudah pulang lebih dulu karena jadwal latihan kaki. Keira membuka ponsel.
Panggilan video masuk tepat pukul tiga lima belas.
Wajah Prof. Dharma muncul dengan latar rak buku dan papan tulis penuh coretan.
"Keira, terima kasih sudah menerima panggilan."
"Prof."
"Saya tidak akan lama. Ada satu soal yang ingin saya tanyakan. Nomor empat puluh tujuh dari paket pengayaan yang tidak diberikan ke peserta umum." Ia mengangkat kertas. "Kau pernah melihatnya?"
Keira membaca layar. Soal itu tampak seperti teori bilangan sederhana, tetapi bagian akhirnya menyembunyikan pola yang biasa dipakai untuk menyaring kandidat olimpiade tingkat lanjut.
"Belum."
"Bagus. Kalau begitu, jelaskan pendekatanmu."
Keira mengambil tisu di meja, meminjam pulpen dari pemilik warung, lalu mulai menulis di permukaan tisu. Kamera ponselnya diarahkan ke meja.
"Bukan mulai dari mencari nilai langsung. Pecah kelas sisanya dulu. Jika n ganjil, bentuk ini akan jatuh ke pola berbeda dari n genap. Tapi bagian yang menjebak bukan di situ. Pilihan jawaban membuat orang mengabaikan batas bawah."
Prof. Dharma tidak menyela.
Keira menulis tiga baris. "Ini batasnya. Jawaban akhirnya bukan angka terbesar, melainkan satu-satunya yang memenuhi dua syarat sekaligus."
Di layar, Prof. Dharma perlahan melepas kacamatanya.
"Berapa lama kau memikirkan itu?"
"Tadi."
"Tadi berapa lama?"
Keira melihat tisu. "Kurang dari dua menit."
Di sisi lain meja, pemilik warung yang sedang mengelap gelas berhenti sebentar, lalu pura-pura sibuk lagi.
Prof. Dharma tertawa pelan. Bukan tawa meremehkan, melainkan tawa orang yang menemukan pintu rahasia di rumah yang ia kira sudah diukur.
"Keira, ada program kecil yang sedang kami siapkan. Belum untuk umum. Melibatkan beberapa profesor, beberapa mitra riset, dan M-Foundation Summit. Biasanya saya tidak mengajak siswa SMA sedini ini."
"Tapi?"
"Tapi biasanya siswa SMA tidak menjawab nomor empat puluh tujuh di atas tisu warung kopi dalam dua menit."
Keira diam.
Nama M-Foundation membuat bayangan Yves, patient #0047, dan Dr. Seely berdiri di belakang kalimat itu.
Prof. Dharma melanjutkan, "Saya tidak akan memaksa. Saya hanya ingin kau tahu, pintu akademik untukmu tidak sesempit sekolah ini."
Ponsel Keira bergetar lagi. Pesan dari Yves muncul di bagian atas layar.
M-Foundation mengirim daftar undangan. Mereka memakai nama Dr. Seely sebagai pembicara tertutup. Kau masuk?
Keira menurunkan pandangan sepersekian detik.
Prof. Dharma menangkap perubahan itu. "Ada masalah?"
"Tidak."
"Keira, orang dengan kemampuanmu biasanya punya banyak orang yang ingin menariknya. Hati-hati memilih siapa yang boleh memanggil namamu."
Kalimat itu terlalu dekat dengan kebenaran.
Keira menatap kamera. "Saya akan pikirkan."
"Baik. Saya kirim detailnya nanti. Dan satu lagi."
"Ya?"
"Kalau ada tuduhan curang di sekolah, jangan sibuk membela diri. Biarkan angka dan proses yang bicara. Orang yang tidak bisa mengalahkan jawaban biasanya menyerang penulisnya."
Panggilan berakhir beberapa menit kemudian.
Keira menatap tisu penuh rumus di mejanya. Pemilik warung mendekat, meletakkan sepiring kecil gorengan.
"Lagi-lagi bonus?"
"Yang tadi kayaknya penting. Orang penting harus makan."
"Saya bukan orang penting."
"Kalau bukan, kenapa profesor video call di warung saya?"
Keira tidak menjawab. Ia mengambil satu gorengan.
Di layar ponsel, pesan Yves masih menunggu. Di bawahnya, undangan digital dari Prof. Dharma masuk. Dua dunia memanggil dengan bahasa berbeda, tetapi keduanya mulai memakai pintu yang sama.
Di layar kecil di tangannya, dunia lain sudah memanggil namanya dengan gelar yang jauh lebih berbahaya.