Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Hari pernikahan yang Dingin
Pernikahan antara Areksa Vareksa dan Zevanna Valerius tidak digelar di hotel bintang lima dengan ribuan undangan, melainkan di sebuah kapel tua bernuansa gotik di pinggiran Jakarta. Semuanya sesuai dengan permintaan mutlak pihak Vareksa yang menginginkan privasi total.
Zevanna berdiri di depan cermin besar ruang rias. Gaun pengantin yang dikenakannya bukan satin tipis yang dibisikkan Areksa dengan penuh nada mesum di butik waktu itu, melainkan gaun high-neck berbahan brokat Prancis yang sangat tertutup, lengkap dengan ekor panjang yang menyapu lantai. Zevanna sengaja memilihnya sebagai bentuk perlawanan kecil bahwa tubuhnya tidak akan pernah menjadi objek yang bisa diatur oleh Areksa begitu saja.
Namun, ketegangan jelas tidak bisa disembunyikan dari garis wajahnya. Pagi ini, kondisi Kakek Danuel mendadak kritis sampai harus dilarikan ke rumah sakit dan tidak bisa mendampinginya di altar. Perwalian Zevanna secara hukum diserahkan kepada Bram, yang sepanjang pagi menatapnya dengan pandangan penuh dendam tersembunyi.
Tok, tok!
Pintu terbuka, menampilkan Valerie yang mengenakan gaun bridesmaid berwarna merah marun. Ia melangkah masuk dengan senyum sinis yang sudah jadi ciri khasnya.
"Wah, kau kelihatan kayak biarawati yang siap dikorbankan ya, Zevanna," ejek Valerie sambil berjalan memutari tubuh Zevanna. "Sayang banget Kakek nggak bisa lihat 'kemenangan' besarmu ini. Tapi tebak apa? Ayahku baru dapat kabar kalau habis pemberkatan ini selesai, Areksa nggak bakal bawa kamu ke acara resepsi apa pun. Kau langsung diseret ke rumahnya. Cuma dijadikan pajangan pemuas kontrak doang, tuh."
Zevanna membalikkan tubuhnya, menatap Valerie lewat pantulan cermin dengan mata jernih tanpa gentar. "Kalau aku cuma pajangan, kenapa kau repot-repot datang ke ruang riasku cuma buat menggonggong, Valerie? Mending simpan suaramu buat cari pria lain yang mungkin sudi melirikmu."
"Kau—!" Wajah Valerie seketika memerah padam. Namun sebelum ia sempat membalas, ketukan kedua di pintu terdengar lebih keras. Dua orang pengawal bertubuh kekar dengan setelan jas hitam milik keluarga Vareksa sudah berdiri di ambang pintu.
"Nona Valerius, Tuan Areksa sudah menunggu di altar. Waktu Anda sudah tiba," ucap salah satu pengawal dengan nada monoton yang dingin.
Zevanna menarik napas panjang, meremas buket bunga mawar putih di tangannya hingga tangkainya sedikit tertekuk. Ini dia. Titik di mana jalanku nggak bisa balik lagi.
Lonceng kapel berdentang berat saat pintu kayu besar terbuka. Alunan musik organ yang lambat dan khidmat menggema di ruangan yang hanya dihadiri kurang dari dua puluh orang—hanya keluarga inti Valerius dan beberapa petinggi Vareksa Group.
Di ujung altar, berdiri Areksa Vareksa.
Pria itu mengenakan tuksedo hitam tiga potong yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang, menampilkan dahi yang kokoh dan garis rahang tegas.
Wajahnya datar, mirip patung marmer yang tidak punya emosi. Namun, begitu matanya yang sekelam malam menangkap sosok Zevanna yang melangkah didampingi Bram, sorot mata itu menajam seketika.
Pandangan Areksa menyapu gaun high-neck tertutup yang dikenakan Zevanna, lalu sebuah senyuman tipis—hampir tak terlihat, namun sarat akan cemoohan—terukir di sudut bibirnya.
Kau sengaja menantangku pakai gaun ini, kan?
Sorot mata itu seolah berbicara tanpa kata.
Bram menyerahkan tangan Zevanna kepada Areksa di undakan altar. Saat telapak tangan Areksa yang besar dan hangat membungkus jemari Zevanna yang sedingin es, sebuah sengatan familier kembali merayapi saraf Zevanna. Pria itu meremas jemarinya sedikit terlalu erat, seolah menegaskan cengkeraman kekuasaannya.
Prosesi pemberkatan berjalan dengan ketegangan yang pekat. Ketika tiba saatnya mengucapkan janji pernikahan, suara Areksa terdengar berat, stabil, dan menggema penuh otoritas di dalam kapel.
"Aku, Areksa Vareksa, menerima engkau, Zevanna Valerius, menjadi istriku... untuk saling memiliki dan menjaga, mulai hari ini, dalam suka maupun duka..."
Saat giliran Zevanna, suaranya sempat bergetar di awal, namun ia berhasil menyelesaikannya dengan tatapan mata yang lurus menantang mata es Areksa.
"Saya, Zevanna Valerius, menerima engkau, Areksa Vareksa..."
"Kalian sah menjadi suami istri. Silakan mencium pengantin wanita Anda," ucap pendeta tua di hadapan mereka.
Jantung Zevanna serasa berhenti berdetak selama satu detik. Areksa melangkah mendekat. Tangan kanannya naik ke belakang kepala Zevanna, jemarinya terselip di antara sanggul rambutnya yang rapi. Pria itu menunduk, mendekatkan wajahnya. Zevanna langsung memejamkan mata, bersiap menerima ciuman formal di bibir di hadapan keluarga.
Tapi, Areksa malah membuat kejutan. Bibir pria itu tidak mendarat di bibirnya, melainkan bergeser ke sudut bibir Zevanna, lalu turun ke rahangnya. Ia memberikan kecupan yang lambat, hangat, dan penuh penekanan di sana, sebelum berbisik dengan suara rendah yang cuma bisa didengar oleh Zevanna.
"Gaun yang bagus, Istriku. Tapi ini cuma bikin aku butuh waktu dua menit lebih lama buat melepasnya nanti malam."