Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjaga Naskah dan Takdir yang Kurang Sopan
Aku tidak suka kata “takdir”.
Di dunia modern, orang menggunakan kata itu saat listrik padam ketika episode terakhir sedang seru, saat hujan turun setelah mencuci sepatu, atau saat mantan tiba-tiba menikah lebih dulu. Di dunia ini, kata “takdir” tampaknya dipakai oleh pria berjubah gagak yang muncul di lorong bawah tanah, mengatakan ibuku mati karena mencoba menghapus namaku dari naskah, lalu menutup jalan keluar dengan dinding batu.
Standar dramanya jauh lebih tinggi.
Adrian langsung menyerang.
Pedangnya bergerak cepat, mengarah ke leher pria tua itu. Namun sebelum mengenai sasaran, lantai di depan pria itu menyala. Sebuah lingkaran sihir muncul, dan pedang Adrian terpental seolah menghantam dinding tak terlihat.
“Kakak!” seruku.
Adrian mundur satu langkah, rahangnya mengeras. “Sihir penghalang.”
Cassian menarikku ke samping. “Jangan bergerak sembarangan.”
Pria tua itu tersenyum. “Tenang, Lady Evangeline. Aku tidak datang untuk membunuhmu.”
“Semua orang yang mengatakan itu biasanya punya rencana lebih buruk.”
“Cerdas. Kau memang berbeda dari Evangeline yang kami tulis.”
Darahku terasa dingin.
Ia tahu.
Atau setidaknya, ia tahu ada sesuatu yang berubah.
Aku memaksa wajah tetap tenang. “Kalau kalian menulis Evangeline, seharusnya kalian memberi karakter yang lebih disukai publik. Reputasiku buruk sekali. Nol dari sepuluh untuk pengembangan tokoh.”
Cassian melirikku sebentar. Aku yakin ia ingin mengatakan sesuatu seperti “ini bukan waktunya mengkritik penulis takdir”, tetapi ia menahan diri.
Pria tua itu tertawa. “Itulah fungsimu. Penjahat harus dibenci agar pahlawan tampak suci.”
Aku menatapnya tajam. “Seraphina.”
“Saintess adalah cahaya kerajaan.”
“Cahaya yang sedikit terlalu suka menaruh orang di depan pisau eksekusi.”
“Cahaya membutuhkan bayangan.”
Aku menunjuk diriku. “Dan aku bayangannya?”
“Seharusnya.”
“Maaf, jadwalku penuh. Aku sedang cuti dari menjadi korban.”
Mata pria itu menyipit. Untuk pertama kalinya, senyumnya retak.
Bagus. Sarkasme masih berfungsi meski di bawah tanah.
Cassian bergerak perlahan, mencari celah pada penghalang. Adrian menggeser posisi untuk melindungiku. Aku memperhatikan pria tua itu. Jubahnya usang, tetapi cincin di tangannya mahal. Ia bukan sekadar imam gila. Ia punya akses pada istana dan pengetahuan sihir lama.
“Siapa namamu?” tanyaku.
“Orang-orang dulu memanggilku Father Malric.”
Cassian menegang sedikit. “Malric sudah mati dua puluh tahun lalu.”
Pria itu menunduk sopan. “Secara administratif, benar.”
Aku menghela napas. “Tentu saja. Karena hidupku belum cukup rumit, sekarang ada imam yang menolak arsip kematian.”
Malric tersenyum. “Aku menjaga naskah asli. Tugas itu lebih penting daripada kematian.”
“Naskah asli ada di mana?”
“Dekat.”
“Definisikan dekat.”
“Di tempat kau akan memilih apakah tetap menjadi Evangeline atau menghancurkan cerita.”
Aku membeku.
Tetap menjadi Evangeline.
Kata-kata itu menusuk bagian paling rahasia dalam diriku. Sejak bangun di tubuh ini, aku berusaha bertahan. Aku belum sempat benar-benar memikirkan apa arti “menjadi Evangeline”. Apakah aku Alena yang memakai tubuh Evangeline? Apakah Evangeline asli hilang? Apakah tubuh ini masih menyimpan perasaan dan luka pemiliknya?
Dan mengapa Malric berkata seolah ada pilihan?
Cassian berkata dingin, “Jangan dengarkan dia.”
Malric menatap Cassian. “Kau selalu seperti ayahmu. Mengira kebenaran bisa dikunci dan ditinggalkan di menara.”
Wajah Cassian mengeras.
Aku menoleh. “Apa maksudnya?”
Cassian tidak menjawab.
Malric menjawab untuknya. “Ayah Duke North membantu Rosaline menyembunyikan bagian naskah yang memuat kematian Evangeline. Ia ingin memutus takdir. Bodoh, tetapi menyentuh.”
Adrian mengangkat pedang lagi. “Jangan sebut nama ibuku.”
“Rosaline adalah pengkhianat bagi Ordo dan ibu yang baik bagi kalian. Dua hal bisa benar sekaligus.”
Aku merasakan kemarahan naik. “Kenapa ibuku mati?”
Malric menatapku. “Karena ia membaca akhir ceritamu.”
“Apa akhir itu?”
“Kau mati. Seraphina naik. Lucien menjadi raja. Ordo menguasai mahkota dari balik altar. Kerajaan tampak damai, tetapi setiap keputusan besar diarahkan oleh tangan kami.”
Aku menelan ludah.
Jadi eksekusiku bukan sekadar hukuman palsu. Itu bagian dari desain politik. Dengan menjadikanku penjahat, Seraphina mendapat simpati, Lucien mendapat legitimasi moral, dan Ordo mendapat akses pada mahkota.
Aku bukan karakter jahat.
Aku alat narasi.
Dan aku sangat membenci menjadi alat.
“Kalau begitu, kenapa kalian tidak langsung membunuhku sekarang?” tanyaku.
Malric tersenyum. “Karena kau berubah. Naskah mulai retak. Kami perlu tahu apakah retakan itu bisa diarahkan.”
“Diarahkan ke mana?”
“Ke kehancuran Duke North, misalnya. Atau ke perang saudara. Takdir yang rusak masih bisa berguna.”
Cassian melangkah maju. Penghalang sihir bergetar. “Cukup.”
Malric mengangkat tangannya. “Jangan marah, Cassian kecil. Kau lebih lucu saat memegang cangkir.”
Mira pasti akan menangis bahagia jika mendengar itu. Sayang, ia sedang jauh di atas menjaga kamar dengan sendok.
Aku memperhatikan lingkaran sihir di lantai. Simbolnya berulang: gagak, mahkota, garis darah. Tapi ada satu bagian yang tampak lebih redup. Sihir ini mungkin kuat, tetapi tua. Dan seperti semua sistem tua, mungkin punya celah.
Aku mendekati lingkaran itu satu langkah. Cassian langsung menahan lenganku.
“Jangan.”
“Aku tidak akan masuk.”
“Itu yang dikatakan orang sebelum masuk.”
“Percayalah sedikit.”
Ia menatapku. “Saya mencoba.”
Kalimat itu membuatku berhenti sejenak. Ada kejujuran aneh di sana. Cassian, pria yang menyusun kontrak agar aku tidak melakukan tindakan bodoh, sekarang berkata ia mencoba mempercayaiku.
Tidak membantu jantungku.
Aku menatap Malric. “Kau bilang penjahat harus dibenci agar pahlawan tampak suci.”
“Benar.”
“Kalau begitu, siapa yang memastikan semua orang membenciku?”
Malric tampak tertarik. “Pertanyaan bagus.”
“Bukan Seraphina sendiri. Ia terlalu muda saat rumor pertama tentangku muncul. Bukan Lucien, karena dia hanya percaya rumor yang sudah ada. Bukan rakyat, mereka hanya menerima cerita. Jadi siapa?”
Malric tersenyum perlahan. “Kau mulai melihat pinggir halaman.”
Aku menunjuk cincin di tangannya. “Cincinmu. Lambang kecil di sisinya bukan lambang gereja. Itu lambang keluarga istana lama.”
Cassian menyipitkan mata. Adrian mencondongkan tubuh.
Aku melanjutkan, “Ordo tidak hanya memakai agama. Kalian punya pendukung di antara bangsawan tua. Keluarga yang takut kehilangan pengaruh jika mahkota diperkuat. Keluarga yang membutuhkan kambing hitam bangsawan untuk mendorong Seraphina naik sebagai simbol baru.”
Malric tidak lagi tersenyum.
Aku merasa sedikit puas.
“Kalian memilih Evangeline karena reputasinya mudah dihancurkan. Karena ayahnya tidak akan membela. Karena ibunya sudah mati. Karena kakaknya jauh. Karena tunangannya membenci. Itu bukan takdir. Itu strategi.”
Hening turun.
Lalu Malric bertepuk tangan pelan.
“Rosaline benar. Anaknya berbahaya jika diberi kesempatan.”
Aku tersenyum tajam. “Sayangnya kalian memberiku tiga hari.”
Cassian tiba-tiba bergerak. Saat perhatian Malric tertuju padaku, ia melempar pisau kecil ke bagian redup lingkaran sihir. Pada saat yang sama, Adrian menghantam titik lain dengan pedangnya. Penghalang retak.
Malric mundur. “Menarik.”
Aku mengambil sendok dari kantongku.
Cassian menatapku sekilas. “Serius?”
“Warisan Mira.”
Aku melempar sendok itu ke simbol gagak yang paling redup.
Ting!
Lingkaran sihir pecah.
Cassian bergerak seperti bayangan. Adrian menerjang. Tetapi Malric sudah lebih cepat. Lantainya terbuka di bawah kakinya, memperlihatkan jalur rahasia lain.
Sebelum menghilang, ia menatapku.
“Temukan naskah asli jika kau berani. Tapi ingat, Lady Evangeline. Jika kau menghapus peran penjahat, cerita akan mencari penjahat baru.”
Ia tersenyum.
“Mungkin orang yang kau cintai.”
Lantai menutup.
Lorong kembali hening.
Aku berdiri dengan tangan gemetar.
Adrian memeriksa lantai, tetapi tidak ada celah. Cassian mengambil sendok yang jatuh dan menyerahkannya kepadaku.
“Senjata yang efektif.”
Aku menerima sendok itu. “Mira akan sangat sombong.”
Namun tawaku terasa lemah.
Kata-kata Malric terus berputar di kepalaku.
Jika aku menghapus peran penjahat, cerita akan mencari penjahat baru.
Aku menatap Cassian. Lalu Adrian.
Tidak.
Aku tidak akan membiarkan cerita ini menukar kepalaku dengan kepala orang lain.
Kami melanjutkan ke ruang arsip bawah tanah. Di ujung lorong, pintu batu besar menunggu. Tidak ada pegangan. Hanya ukiran kalimat:
Hanya mereka yang menolak perannya dapat membaca halaman pertama.
Aku menyentuh tulisan itu.
Darah di ujung jariku dari luka kecil tadi menyala merah gelap.
Pintu terbuka.
Di dalamnya, rak-rak batu penuh naskah tua menjulang sampai langit-langit. Di tengah ruangan, di atas meja hitam, ada sebuah buku besar terbuka.
Halaman pertamanya tertulis dengan tinta merah:
Evangeline Arvella harus mati agar Saintess naik.
Aku menatap kalimat itu lama.
Lalu menutup buku itu dengan keras.
“Tidak sopan sekali,” kataku.
Cassian berdiri di sampingku. “Apa rencanamu?”
Aku tersenyum.
“Menulis revisi.”
Cassian menatap buku itu, lalu menatapku. “Menulis revisi bukan tindakan teknis yang mudah.”
“Aku sadar. Bahkan mengedit caption saja kadang melelahkan.”
“Apa itu caption?”
“Lupakan. Istilah dunia lain.”
Cassian diam.
Aku langsung sadar kesalahanku. Adrian juga menoleh. Ruangan yang penuh buku takdir tiba-tiba terasa lebih sempit.
Cassian berkata pelan, “Kau sering mengatakan hal seperti itu.”
“Hal seperti apa?”
“Seolah kau datang dari tempat yang tidak kami kenal.”
Aku menatap buku, pura-pura membaca kalimat yang sama tiga kali. “Mungkin karena aku hampir mati. Orang yang hampir mati memang terdengar aneh.”
Adrian menatapku dengan sorot bingung, tetapi tidak memaksa. Cassian, seperti biasa, menyimpan pertanyaannya. Itu lebih berbahaya. Pria itu tidak lupa. Ia hanya menunggu waktu yang lebih tepat untuk membuatku tersudut.
Aku mengetuk halaman buku. “Untuk saat ini, fokusnya adalah ini. Jika naskah bisa menulis bahwa aku harus mati, pasti ada cara menulis bahwa aku tidak harus mati.”
“Dan jika tidak ada?” tanya Adrian.
“Kalau tidak ada, kita buat cara baru.”
Kalimat itu keluar lebih mantap daripada yang kurasakan. Tapi begitu kuucapkan, aku menyadari aku mempercayainya. Dulu aku membaca cerita sebagai pembaca. Sekarang aku berada di dalamnya. Pembaca bisa mengeluh. Tokoh harus bergerak.
Aku mengambil pena tua yang terletak di samping buku. Pena itu dingin seperti es. Saat kusentuh, ujungnya menyala merah.
Cassian langsung memegang tanganku. “Jangan.”
Aku menatap pena itu. Di halaman kosong berikutnya, tinta muncul perlahan.
Harga revisi adalah ingatan.
Aku menelan ludah.
Tentu saja. Tidak ada yang gratis, bahkan di bagian administrasi takdir.
Aku tidak tahu ingatan mana yang akan diminta, tetapi aku tahu satu hal: takdir ini sangat buruk dalam memberi syarat yang ramah pengguna.