NovelToon NovelToon
Kau Milikku Sayang

Kau Milikku Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Single Mom
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dua puluh tujuh

Diandra menghembuskan nafasnya lega, begitu mobil xavier hilang dari pandangannya, diandra menutup rapat pintu rumah.

Rasa lega itu terasa memenuhi dadanya, diandra menggelengkan kepalanya keras.

'nggak boleh seperti ini, sadarlah di! Pria itu tidak tertarik padamu!'

10 tahun bukanlah waktu yang singkat, namun selama itu diandra menyimpan rapat-rapat, nama pria itu dalam hatinya.

'dia sudah tunangan, di. Sadarlah kau tak seistemewa itu, ingat dia hanya menginginkan killian'

Diandra menghempaskan tubuhnya yang terasa penat, di kursi sofa tua yang dibelinya kemarin dari pasar loak.

"apa yang harus aku lakukan jika dia ingin merebut killian dariku?" gumamnya sendu, "aku tak bisa kehilangan killian, dia satu-satunya harta yang aku miliki"

Ujung mata diandra berkaca-kaca, sungguh ia tak mampu membayangkan hidupnya tanpa killian.

"apa aku harus lari sejauh mungkin?" gumamnya lagi, keningnya berkerut, ia sepertinya sedang berpikir keras.

"tapi pria itu sudah mengancamku, bagaimana ini?" keluhnya, diandra benar-benar pusing tujuh keliling.

Sementara xavier di dalam mobilnya sedang berpikir keras, ia juga sudah mengirimkan pesan kepada orang-orang bayarannya untuk mengawasi kediaman diandra, xavier tak mau ambil resiko, diandra akan menghilang lagi.

Sekilas senyum manis terbit di bibirnya, sepertinya xavier yakin, kalau dia bisa mengetuk hati wanita itu.

'aku sepertinya benar-benar jatuh cinta pada diandra'

Senyumnya masih tersemat indah, saat dering ponsel mengagetkannya. Mata birunya memicing, menatap layar ponsel, nama omanya tertera di sana.

"ya hallo..oma" sapanya malas,

["xavi...ke rumah sakit, cepat!"]

"ada apa oma" tanyanya masih dengan suara malasnya.

["aldine, xavi!, aldine!"] suara omanya terdengar panik, namun xavi masih saja menanggapi santai.

"kenapa aldine!"

["aldine, koma!, cepatlah!"]

Xavier sedikit tersentak, bukankah tadi siang wanita itu baik-baik saja. Kenapa dia bisa koma, padahal sepertinya wanita itu tidak sedang dalam keadaan sakit parah.

Xavier membawa mobilnya sedikit laju, ada rasa cemas menghampiri, bagaimana pun aldine saat ini masih berstatus tunangannya, karena xavier belum mengumumkan berakhirnya hubungan mereka secara resmi.

Xavier melangkah cepat di koridor rumah sakit, langkah kakinya terdengar berderap di lantai rumah sakit yang dingin.

Omanya yang melihat langsung berdiri, orangtua geraldine, ibunya wanita itu menangis tersedu dalam pelukan suaminya.

"xavi...!" panggil omanya cemas, kedua orangtua geraldine mendongak, menatap ke arah xavier.

Tiba-tiba pria tua itu, santoso wijaya. Papanya geraldine langsung menghampirinya dan menampar pipi xavier.

Terdengar teriakan dari oma dan mamanya geraldine, xavier terpana.

Ia meraba pipinya yang panas, menatap tak percaya pria paruh baya yang menamparnya itu.

"apa yang kau lakukan pada aldine?hah?" bentak pria tua itu dengan mata memerah.

"apa yang kau katakan padanya?"

Xavier mengerutkan keningnya, menatap ke arah oma dan kedua orangtua geraldine bergantian.

"aldine mencoba bunuh diri, xavi" bisik omanya lirih, tangannya menarik lengan xavier, menjauhi papa aldine yang sudah mendekati istrinya lagi.

"apaa?" mata xavier membola sempurna, "apa maksud oma?, tapi tadi siang, aldine baik-baik saja"

"dia menenggak cairan anti serangga, dan mengiris urat nadinya karenamu.."

Pria tua itu kembali menghampiri xavier dengan masih memeluk istrinya.

"apaaa?"

"apa yang kamu katakan padanya, sampai putri kami senekat itu?" kini pertanyaan dari dari nyonya yulia santoso terdengar pilu, karena bercampur dengan air mata.

"aaku..aku.." xavier menggeleng bingung, kehabisan kata-kata.

"sudah seminggu ini, aldine mengurung diri di kamarnya dan selalu menangis, ada apa dengan kalian?" suara wanita paruh baya itu setengah histeris bertanya, tangannya memukuli dada bidang xavier yang hanya diam terpaku.

Xavier kehabisan kata-kata, bingung. Mengapa geraldine melakukan itu, apa karena xavier memutuskan pertunangan itu.

Xavier menoleh, menatap lekat omanya yang mengangguk dengan tatapan sendu.

"kalau terjadi sesuatu dengan aldine, jangan harap aku diam saja, aku akan membawa keluarga pratama hancur"

Oma wina terkejut, dengan segera tangannya meraih lengan pria paruh baya itu.

"apa maksudmu santoso?"

Papanya geraldine itu, menatap penuh amarah, dengan mata yang masih merah.

"aku akan menghancurkan keluarga pratama, tante!, aku tidak perduli dengan hubungan baik antara keluarga pratama dan almarhum papaku, aku akan menghancurkan kalian semua"

Xavier tak mampu berbicara, ia hanya melihat kemarahan papanya geraldine dan omanya yang sibuk membujuk pria tua itu.

Xavier sungguh tak habis pikir, betapa kejamnya ternyata, kata-katanya siang tadi. Ia tak menyangka geraldine memilih jalan pintas seperti itu.

Keadaan di luar ruang operasi bertambah kacau, ketika kakak laki-laki geraldine datang dan langsung kembali meninju xavier, tinju pria tambun berkaca mata itu di wajah xavier tak mengakibatkan apapun.

Xavier tak melawan, walau pukulan itu sama sekali tak terasa, namun ia hanya diam.

Saat ini sejujurnya, xavier merasa sangat bersalah.

Makian dari pria berkaca mata itu terdengar kasar, omanya sampai menangis karena tak tega melihat xavier dikeroyok ayah dan anak, bagi xavier serangan dua orang pria itu memang tidak terasa, apalagi dia adalah pria yang cukup sering olahraga.

Namun rasa bersalah saat ini menyelimutinya, xavier pasrah, hanya saja suara jeritan dan tangisan omanya, menyadarkan xavier.

"cukup..!" ujar xavier dengan suara beratnya yang mengintimidasi.

"apakah menurut kalian, dengan memukuliku, geraldine akan siuman?"

"tutup mulutmu!" teriak kakak laki-laki geraldine itu, "jangan sebut nama adikku dengan mulut kotormu itu.

"cukup tony.." suara mamanya geraldine melerai, "benar kata xavi, nggak ada gunanya!"

Pria tambun itu hampir protes lagi, namun lampu ruang operasi mati, mereka semua berdiri tegak, menanti dokter.

"dok..." santoso wijaya, pria tua itu menghampiri dokter dengan wajah cemas.

"dokter aldine, baik-baik saja, prof. Saat ini sedang tahap pemulihan, mungkin belum siuman jadi saat menjenguknya bergantian saja!"

Terdengar helaan nafas lega, xavier mengucapkan doa syukur sebanyak-banyaknya dalam hati.

Tak dapat ia bayangkan, bagaimana jika geraldine tak bertahan.

"jangan kau pikir, kau sudah aman, bajingan!"

Xavier menoleh, kakak laki-laki geraldine masih menatapnya penuh amarah.

"sudahlah.."lerai tuan santoso lagi, wajah tua pria itu sudah terlihat lebih tenang.

"kalau kamu memang bukan pria baik-baik, kamu boleh pulang sekarang xavi. Tapi kalau kau pria terhormat, minta maaf pada geraldine dan bertanggung jawablah!"

Xavier hanya mengangguk, "aku akan menemani aldine di sini om"

"cihhhh.." terdengar decihan kesal dari mulut tony, kakak laki-laki geraldine itu meninggalkan xavier, melangkah terlebih dahulu ke kamar adiknya.

Sementara xavier hanya mengikuti kedua orangtua geraldine dan omanya yang berjalan lambat di depannya.

Saat ini walau ia sedang dalam keadaan kalut karena geraldine, entah mengapa tiba-tiba bayang diandra berkelebat di benaknya.

'sabar, di. Aku akan segera datang untukmu'

Bersambung....

1
Sri S
lanjut
Sri S
suka
Sri S
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!