NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Jembatan Pelangi dan Gerbang ke Dunia Lain

Setelah turun dari Gunung Merapi Tidur yang telah kembali tenang, perjalanan Cepot dan Dawala membawa mereka menuju arah timur yang lebih jauh. Batu pemberi petunjuk yang mereka bawa kini memancarkan cahaya yang lebih terang dan berwarna-warni, seolah memanggil mereka menuju tempat yang istimewa. Setelah berjalan selama dua hari, mereka tiba di tepi sebuah lembah yang sangat luas, dipisahkan oleh jurang dalam yang dasarnya tertutup kabut tebal.

“Kang, lihatlah! Di seberang sana terlihat pemandangan yang tidak seperti yang biasa kita lihat,” seru Dawala sambil menunjuk ke seberang jurang. “Pohon-pohonnya berdaun berwarna-warni, sungainya memantulkan cahaya seperti permata, dan langitnya tampak lebih cerah.”

Cepot mengangguk, matanya menatap lekat-lekat. “Ini pasti batas antara alam yang kita kenal dengan alam semesta yang lebih luas. Konon, di sinilah letak Jembatan Pelangi yang menghubungkan dua dunia—namun jembatan ini hanya akan muncul bagi mereka yang memiliki hati yang bersih dan niat yang lurus.”

Belum sempat mereka melangkah lebih dekat, tiba-tiba kabut di tengah jurang bergerak berputar, dan perlahan terbentuklah sebuah jembatan lebar yang terbuat dari cahaya berwarna-warni, membentang kokoh dari satu sisi ke sisi lain. Namun, di tengah jembatan itu berdiri dua sosok penjaga yang tinggi menjulang, mengenakan perisai dan tombak yang memancarkan cahaya lembut.

“Berhenti di tempat! Jembatan ini bukan jalan sembarangan,” suara salah satu penjaga itu terdengar jelas namun tidak mengancam. “Hanya mereka yang membawa keseimbangan dan tidak memiliki niat jahat yang boleh melintas. Sebutkanlah tujuan kalian melangkah ke sisi seberang.”

“Kami adalah pengembara yang bertugas menjaga harmoni di segala tempat yang kami lewati,” jawab Cepot dengan tegas dan sopan. “Kami datang bukan untuk menaklukkan, bukan untuk mengambil apa pun, melainkan memastikan bahwa kedamaian juga terjaga di tempat yang baru ini. Jika ada gangguan atau ketidakteraturan, kami siap membantu mengembalikannya ke jalan yang benar.”

Kedua penjaga itu menatap mereka dalam-dalam, lalu mengamati cahaya yang memancar dari Golek Pancasona, batu pemberi petunjuk, serta barang-barang yang mereka bawa. Setelah beberapa saat, mereka mengangguk dan menyingkirkan tombak yang menghalangi jalan.

“Cahaya yang kalian bawa adalah tanda kebenaran. Melintaslah, namun ingatlah: di seberang sana hukum alam bekerja dengan cara yang lebih halus. Kekuatan fisik saja tidak cukup; kebijaksanaan dan kesabaranlah yang akan menjadi penolong terbesarmu.”

Mereka pun melangkah menapaki Jembatan Pelangi. Setiap langkah terasa ringan, seolah berjalan di atas awan, dan udara di sekitar terasa sangat segar serta menyejukkan hati. Begitu sampai di ujung seberang, pemandangan yang terbentang di depan mata membuat mereka tertegun kagum.

Di sana, alam tumbuh dengan keindahan yang luar biasa—bunga-bunga mekar sepanjang waktu, air sungai mengalir dengan nada merdu, dan makhluk-makhluk halus yang beraneka wujud terlihat terbang atau berjalan dengan damai. Namun, di tengah keindahan itu, mereka segera merasakan ada bagian yang tidak seimbang. Di kejauhan, terlihat sebuah wilayah yang tertutup kabut kelabu pekat, berbeda dengan suasana cerah di sekitarnya.

“Tempat itu terasa dingin dan sunyi,” gumam Dawala. “Seolah ada sesuatu yang menutupi cahaya kehidupan di sana.”

Mereka segera berjalan menuju wilayah yang tertutup kabut itu. Semakin dekat, udara terasa semakin berat, dan suara-suara yang tadinya merdu perlahan menghilang. Begitu masuk ke dalam kabut, pandangan mereka menjadi terbatas, namun Golek Pancasona secara otomatis memancarkan cahaya yang cukup terang untuk menerangi jalan dan mengusir hawa dingin yang menyengat.

Tidak lama kemudian, mereka bertemu dengan sekelompok makhluk yang berwujud seperti manusia namun tubuhnya tampak redup dan kurang bercahaya. Wajah mereka terlihat sedih dan lemas, berjalan dengan langkah gontai tanpa semangat.

“Mengapa kalian hidup dalam kegelapan ini?” tanya Cepot dengan nada lembut. “Mengapa tidak tinggal di tempat yang terang dan indah seperti wilayah lain?”

Salah satu dari mereka menoleh perlahan, matanya terlihat sayu. “Dahulu, seluruh wilayah ini terang dan damai. Namun, datanglah seorang penguasa bernama Ki Bayang. Ia merasa cahaya membuat segala sesuatu terlihat jelas, sehingga ia tidak bisa menyembunyikan keinginannya sendiri. Ia menciptakan kabut tebal ini agar ia bisa mengatur segalanya sesuka hati, tanpa diketahui siapa pun. Sejak itu, cahaya terhalang, energi kehidupan berkurang, dan kami menjadi lemah seperti ini.”

“Konon, ia tinggal di dalam Istana Kegelapan yang terletak di tengah wilayah ini,” lanjutnya. “Siapa pun yang mencoba mendekat akan tersesat dalam kabut dan akhirnya lupa jalan pulang, bahkan lupa akan siapa dirinya.”

Mendengar penjelasan itu, Cepot dan Dawala saling berpandangan. Tantangan kali ini bukanlah melawan kekuatan fisik yang besar, melawan kekuatan yang bekerja dengan cara menyembunyikan kebenaran dan menimbulkan kebingungan.

“Jangan khawatir,” kata Cepot menenangkan. “Cahaya yang kami bawa tidak akan membiarkan kabut menyesatkan jalan kami. Kami akan membawakan kembali cahaya dan kejelasan yang telah hilang.”

Mereka melanjutkan perjalanan lebih dalam, dipandu oleh cahaya dari Golek Pancasona yang menembus kabut kelabu itu. Di tengah wilayah itu, mereka akhirnya menemukan sebuah istana yang terbuat dari batu hitam, tanpa jendela, dan hanya memiliki satu pintu masuk yang gelap gulita.

Begitu melangkah masuk, suasana di dalamnya terasa sunyi dan dingin. Di ujung ruangan yang luas, duduklah Ki Bayang di atas singgasana yang terbuat dari bayangan itu sendiri. Wajahnya samar, suaranya terdengar bergema dari segala arah.

“Siapa yang berani membawa cahaya ke tempat yang telah aku atur menjadi tenang?” tanyanya dengan nada mengejek. “Cahaya hanya menimbulkan keributan dan mengungkapkan hal-hal yang sebaiknya tidak diketahui. Di sini, tanpa cahaya, tidak ada yang membedakan benar dan salah, semuanya sama saja.”

“Bukan sama dalam kebaikan, tapi sama dalam ketidaktahuan,” jawab Cepot tegas. “Kegelapan yang kau ciptakan bukanlah kedamaian, melainkan penindasan. Kau membuat makhluk hidup di sini kehilangan semangat dan kemampuan untuk melihat kebenaran yang sebenarnya.”

Ki Bayang tertawa panjang, lalu menggerakkan tangannya. Kabut hitam berputar dengan cepat, membentuk ribuan bayangan yang menyerupai wujud Cepot dan Dawala, berusaha membingungkan pandangan dan pikiran mereka.

“Lihatlah! Di dalam kegelapan, semua bisa menjadi apa saja! Kalian tidak akan tahu mana yang asli dan mana yang palsu!” serunya.

Dawala merasa sedikit pusing melihat begitu banyak wujud yang bergerak mengelilingi mereka, namun ia segera mengingat pesan yang pernah diajarkan. “Kang, bagaimana cara membedakannya?”

“Yang asli memiliki hati yang terarah, yang palsu hanya bergerak mengikuti arus,” jawab Cepot tenang. “Jangan melihat dengan mata saja, tapi rasakan dengan hati.”

Ia segera mengangkat Golek Pancasona setinggi bahu. Cahaya putih keemasan memancar terang, menyebar ke seluruh ruangan. Begitu cahaya itu menyentuh bayangan-bayangan itu, mereka langsung berteriak dan lenyap menjadi asap tipis. Kabut hitam yang menyelimuti istana pun mulai menipis dan terangkat perlahan.

Melihat pertahanannya hancur, Ki Bayang mencoba melarikan diri dan bersembunyi di sisa kegelapan yang tersisa. Namun, cahaya itu terus mengikutinya, membuat wujudnya terlihat jelas dan tidak bisa lagi bersembunyi. Ia terjatuh ke lantai, kekuatannya menyusut karena tidak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi.

“Mengapa… mengapa cahaya ini tidak bisa dihalangi?” tanyanya dengan suara lemah.

“Karena cahaya adalah sifat dasar alam ini,” jawab Cepot. “Kau hanya bisa menutupinya sementara, tapi tidak pernah bisa menghilangkannya selamanya. Semakin lama kau menutupinya, semakin besar tekanan yang akan muncul saat ia terungkap.”

Begitu kabut itu lenyap seluruhnya, cahaya matahari yang terang masuk memenuhi seluruh wilayah itu. Tanah yang tadinya redup kembali menghijau, makhluk-makhluk yang lemah mulai mendapatkan kembali kekuatan dan cahaya di tubuh mereka, serta udara kembali terasa segar dan hidup.

Ki Bayang menyadari kesalahannya, lalu memohon kesempatan untuk berubah. Ia berjanji akan membantu menjaga keseimbangan dengan cara yang benar, bukan lagi dengan menyembunyikan kebenaran.

Sebelum melanjutkan perjalanan lebih jauh, para penghuni tempat itu memberikan mereka sebuah lentera kecil yang selalu menyala. “Lentera ini akan tetap terang meski berada di tempat yang paling gelap sekalipun, mengingatkan kalian bahwa selama ada kebenaran, cahaya tidak akan pernah padam.”

Dengan membawa lentera itu dan pelajaran baru bahwa kebenaran tidak perlu disembunyikan dan kegelapan tidak akan bertahan selamanya, Cepot dan Dawala melangkah maju, siap menghadapi apa pun yang menanti di dunia yang baru ini.

1
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!