Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persiapan Bertempur..
Kalau ada yang bilang hidup itu keras, mungkin Alya mahendra nggak akan terlalu paham. Karena selama ini, apa pun yang dia inginkan selalu bisa ia dapatkan dengan mudah.
Jadi, ketika universitas mewajibkan seluruh mahasiswa tingkat akhir untuk mengikuti kuliah kerja nyata (Kkn), Alya sama sekali tidak ambil pusing.
Dipikiran Alya, kkn tidak lebih dari sekedar kegiatan pindah tempat tinggal untuk sementara. Mirip liburan kecil yang agak panjang, di mana ia tetap bisa tampil cantik. lalu menikmati suasana desa tanpa harus memikirkan hal rumit.
Tapi, ketika daftar peserta kkn akhirnya muncul di layar ponselnya, Alya langsung terdiam. Matanya tertuju pada satu nama yang terpampang jelas di barisan ke tiga: Arga Pratama.
"Yaa Ampun.. Kenapa harus dia?"
Alya nyaris menjatuhkan ponselnya ke lantai. Wajahnya langsung memerah, kali ini bukan karena malu. Tapi, karena kesal.
Arga Pratama es kutub Selatan, merupakan teman sekelasnya yang Alya benci bukan main.
Bukan karena mereka pernah berantem, bukan jika karena Arga Pratama pernah berbuat jahat. Tapi, karena.. dia terlalu dingin.
Dan yang lebih menyakitkan dinginnya itu hanya terasa ke Alya.
Padahal Alya tidak perna punya masalah dengannya. Bahkan perna beberapa kali mencoba menyapa dengan sopan. Tapi balasannya? cuma anggukan kecil tanpa ekspresi.
Ditengah kejengkelannya, alya sedikit bernapas lega saat melihat satu nama di urutan ke tujuh. Tiara Calista, Sahabatnya.
Mereka sering kerja kelompok bareng, kadang nongkrong sepulang kuliah. Dan tiara selalu tau bagaimana cara menenangkan Alya saat mood-nya sedang tidak baik.
Dengan adanya tiara, setidaknya Alya tidak harus menghadapi Arga sendirian.
Selain mereka bertiga, Alya juga mengenali beberapa nama lain yang akan menjadi teman kkn nya.
Totalnya ada 13 orang dari berbagai fakultas yang mana 8 orang laki-laki, sedangkan perempuan ada 5 orang.
Setelah itu, Alya mematikan ponselnya. Namun, Baru saja layar ponselnya menggelap, matanya tiba-tiba membulat seolah baru mengingat sesuatu.
“Astaga!” serunya spontan.
Ia langsung berdiri dari posisi duduknya hingga kursi di belakang sedikit bergeser.
“Aku harus belanja kebutuhan buat KKN lusa!” teriaknya antusias.
Rasa kesal yang sejak tadi memenuhi pikirannya perlahan menghilang, tergantikan oleh semangat yang mendadak memuncak.
Di pikirannya sekarang cuma ada satu tujuan, membeli semua hal yang sekiranya akan ia butuhkan untuk bertahan selama menjalani KKN di tempat yang bahkan belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Tanpa membuang waktu, Alya segera meraih tas kecilnya. Hari ini, mau tidak mau, semua persiapan harus selesai.
Tujuannya sudah jelas: mall.
Kalau peserta lain sibuk mempersiapkan kebutuhan KKN seperti alat tulis, obat-obatan, atau perlengkapan lapangan, Alya justru punya prioritas berbeda.
Baginya, pergi ke pelosok bukan berarti harus kehilangan gaya. Tinggal di desa selama beberapa minggu bukan alasan untuk tampil berantakan. Skincare harus lengkap, outfit tetap on point, dan barang-barang favorit tentu wajib dibawa.
Dengan semangat menggebu, Alya segera melajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan.
Sesampainya di sana, ia memarkir kendaraan lalu turun sambil merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan terkena angin dari pendingin mobil.
Tatapannya menyapu area sekitar.
Suasana basement mall cukup ramai sore itu. Deretan mobil memenuhi hampir setiap sisi parkiran, suara langkah kaki bercampur dengan dentingan troli belanja yang sesekali melintas.
Aroma samar parfum dan pendingin ruangan khas pusat perbelanjaan langsung menyambut begitu ia menutup pintu mobil.
Alya tersenyum kecil.
“Oke… saatnya belanja.”
Tanpa membuang waktu, ia mulai melangkah menyusuri basement menuju lift utama mall, siap menjalankan misi pentingnya hari ini.
Bukan sekadar persiapan KKN… tapi memastikan dirinya tetap tampil maksimal di mana pun berada dan yang lebih penting adalah ini adalah keperluan untuk bertahan hidup di pelosok.
Alya langsung bergerak dari satu toko ke toko lain dengan semangat yang sulit dibendung.
Keranjang belanjanya perlahan mulai penuh. Ia mengambil berbagai perlengkapan yang menurutnya wajib dibawa untuk KKN.
Mulai dari jaket multifungsi berbahan ringan dan tahan panas, pakaian pelindung anti-serangga, bahkan setelan khusus seperti yang biasa dipakai petani madu.
“Siapa tahu nanti aku disuruh bantu ambil madu di hutan,” ujarnya santai pada seorang SPG yang hanya bisa menatapnya bingung, tak yakin apakah Alya sedang bercanda atau benar-benar serius.
Belum selesai sampai di situ, Alya juga memilih beberapa baju lengan pendek berbahan breathable agar tetap nyaman dipakai di cuaca panas, daster tidur satin demi menjaga kualitas istirahatnya, hingga beberapa outfit harian yang tetap terlihat chic tanpa meninggalkan kesan sopan.
Setiap barang dipilih dengan satu tujuan yang menurut Alya sangat penting: siap tempur.
Tak butuh waktu lama, troli belanjanya sudah terisi penuh sampai nyaris meluber. Dari kejauhan, dua kasir yang berjaga di depan toko hanya bisa saling melirik dengan ekspresi tak percaya.
Pemandangan itu benar-benar menarik perhatian. Rasanya seperti mereka sedang melihat seseorang yang bukan hendak berangkat KKN… melainkan bersiap memulai ekspedisi bertahan hidup di tengah hutan Amazon.
Salah satu kasir, seorang perempuan muda yang sudah cukup sering melihat Alya berbelanja di butik itu, akhirnya terkekeh kecil sebelum angkat bicara.
“Kak Alya…” katanya sambil menatap isi troli yang menggunung.
“Ini mau KKN… atau mau buka basecamp di Amazon?” tanyanya setengah bercanda, meski nada herannya terdengar jelas.
Alya justru mengangkat dagu, menampilkan raut puas seolah seluruh isi trolinya adalah keputusan paling rasional di muka bumi.
“Persiapan itu kunci,” jawabnya enteng sembari meraih sepasang boots lapangan yang baru saja ia sambar dari rak dekat kasir.
“Kita tidak pernah tahu apa yang akan menanti di Sukamaju nanti.”
Kedua kasir itu kembali bertukar pandang. Yang satu menahan tawa, sementara yang lain hanya menggeleng tak habis pikir masih berupaya mencerna logika pelanggan paling eksentrik di butik tersebut.
“Tapi, Kak…” salah satu kasir memberanikan diri, jemarinya menunjuk gunungan barang yang nyaris menutupi dasar troli.
“Isinya ada jaket anti panas, pakaian anti serangga, sepatu lapangan, skincare satu pouch penuh, dan…”
matanya menyipit saat menemukan benda ganjil di antara tumpukan itu, “daster satin?”
Alya mengangguk mantap, sama sekali tidak merasa ada yang janggal.
“Tidur yang nyenyak itu kebutuhan primer.”
“Di Sukamaju, maksudnya?”
Alya tersenyum tipis.
“Justru karena di Sukamaju. Kalau seharian tenaga habis terkuras kegiatan KKN, setidaknya saat terlelap, aku harus merasa kalau hidupku tetap high quality.”
Jawaban itu memancing tawa kecil dari kedua kasir. Namun, Alya belum puas. Ia berbalik, kembali melangkah ke rak terdekat, lalu menyambar sebuah topi pantai bertepi lebar dan kacamata hitam.
“Kak…” panggil kasir itu dengan nada pasrah.
“Serius deh… KKN di Sukamaju itu sebenarnya tempatnya seperti apa? Sampai harus bawa baju anti lebah?”
Alya memasukkan barang terakhir tersebut ke troli, lalu menoleh dengan wajah penuh keyakinan.
“Entahlah,” sahutnya santai.
“Tapi kalau ternyata medan di sana ekstrem…” ia menggantung kalimatnya, menatap penuh arti ke arah "ekspedisi" belanjaannya,
“…setidaknya aku sudah siap menghadapi segalanya.”
Keheningan singkat menyelimuti meja kasir. Salah satu dari mereka kemudian berbisik pelan pada rekannya.
“Aku yakin… dia bukan mau KKN ke desa biasa.”
“Terus?”
Kasir itu melirik Alya yang kini tengah sibuk mengecek daftar belanja di ponselnya dengan teliti.
“Dia sepertinya sedang bersiap ikut syuting survival show di hutan belantara.”
Sudut bibir Alya terangkat pelan, puas Karena setidaknya satu misi penting telah berhasil ia tuntaskan hari ini.