Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.
Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.
Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Yura A.
Setelah keadaan Yura sedikit membaik, Liam segera meraih ponselnya dan mencari nama Yura disana.
Ia memberikan instruksi pada Yura agar mengangkat panggilan darinya.
"Kalau tangis mu sudah reda, baru aku pergi.. " ucapnya masih menatap Yura lekat-lekat.
Yura yang tidak menyangka akan ada kejadian sperti itu hanya bisa diam. Kehadiran Liam disana mampu mengubah sudut pandang nya.
"Jangan berusaha keras untukku, aku sudah lama menyukai orang lain. Aku tidak ingin kamu terluka nanti.. "
Liam disana tersenyum, ia mengangguk sambil tangannya bergerak menyuruh gadis itu segera masuk dan menutup jendelanya.
"Nanti kamu sakit.. "
Yura tidak menolak maupun membantah, i segera masuk dan menutup jendelanya. Namun ia melupakan panggilan telepon yang masih tersambung hingga pagi menyambut.
...****************...
Pagi-pagi sekali, Lany mama nya Liam sudah tiba. Kedatangan nya itu disambut oleh Yura a yang baru saja terbangun karena mendengar suara panggilan dari wanita itu.
Kedua nya berpelukan saling melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu.
"Aduh, anak gadis mama. maaf ya mama baru bisa datang.. "
Ia memeluk Yura yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri. Dirinya yang hanya memiliki anak laki-laki itu sangat senang melihat Yura ada didalam keluarga nya.
Namun berbeda dengan sang suami. Papa nya Liam itu tidak tertarik pada hal-hal seperti itu. Ia hanya sibuk mengembangkan bisnis rumah sakitnya.
Dimana anak itu? Pasti belum bangun.. " Ucapnya sambil berjalan memasuki kamar Liam.
Namun tidak ada pria itu disana, melainkan tidur diruang tamu rumah nenek Lea.
Nenek yang melihat penampakan itu hampir saja berteriak jika saja wajah pria itu tak segera dikenalinya.
"Liam,? Mengapa tidur disini? "
Sedangkan Liam yang tidak tahu harus menjawab apa hanya bisa diam. Ia masih belum sadar sepenuhnya, terlihat dari tangannya yang masih menggaruk-garuk kepalanya, khas bangun tidur.
"Yasudah, bangun sana. Kamu meninggalkan Yura sendirian. Bahaya tau... "
Liam tahu jika dirinya hanya dipandang orang sebagai pelindung untuk Yura. Karena itu lah dengan tidak banyak alasan, ia segera bangkit dan pamit keluar.
Namun nenek yang sudah selesai memasak sekalian saja menitipkan bekal untuk mereka makan pagi ini.
Sebelum meninggalkan halaman rumah, Liam menoleh kebelakang untuk sekedar memastikan apakah Yura sudah membuka jendela nya.
Namun Jendela itu masih tertutup rapat, serapat selimut Yura yang masih setia menutupi seluruh tubuhnya.
Ia bangun lebih lama karena dirinya yang kelelahan akibat dari tangisnya semalam.
...****************...
Pagi ini, Yura naik bis sendirian. Tidak ada Yura a maupun Liam. Ia duduk dibangku yang biasa ia pakai, dan memandangi ponsel Liam yang ada di tangannya.
Tadi pagi sang nenek memberikan ponsel itu padanya, katanya ponsel Liam tertinggal.
Yura sempat bingung karena seingatnya, semalam ia terakhir kali bicara dengan Liam melalui telepon.
Namun pagi ini sang nenek mengatakan jika ponsel pria itu ada disofa. Membuat dirinya mau tak mau harus mempercayai pemikirannya.
Liam tidak pulang, ia tidur di sofa rumah nenek. Bahkan panggilan telepon nya baru mati saat ponsel itu kehabisan daya nya.
Disisi lain, Yura dan Liam berangkat menggunakan mobil pribadi Liam. Kondisi Yura yang tidak boleh bergerak sembarangan lah yang menjadi penyebabnya.
"Biar mama yang menyetir, kamu dibelakang saja.. " ucap mama Lany yang ikut masuk kedalam mobil.
Alhasil Liam duduk dibelakang bersama dengan Yura. Raut Wajah Yura sedikit berbeda pagi ini, namun Liam tidak akan mengerti itu.
"Liam, kamu tidur dimana tadi malam? "
Pertanyaan mama Lany meluncur seolah mewakili perasaan Yura. Ia menoleh kesamping memandang Liam.
"Tidur dirumah nenek Lea ma.. " Jawab Liam seadanya.
"Kamu tidak berkabar dengan Yura? " Sang ibu masih mengulik apa yang menjadi penyebab sang putra terlihat berbeda kali ini.
Yura yang tidak ingin Liam kena omel sang mama akhirnya buka suara menjawab. "Dia takut tidur ku terganggu ma. "
Akhirnya mama Lany berhenti bertanya, walaupun masih heran mengapa tiba-tiba sang putra jadi seperti itu.
Yura yang ada disamping Liam berbisik pelan, "seharusnya mengajak ku juga,, "
"Kamu membuat Yura berkhianat padaku tau... " ucapnya lagi.
Yura a sudah tahu sejak awal kalau kehadiran sahabatnya itu mampu mengalihkan perhatian Liam.
Sejak awal ia sangat yakin jika dirinya tidak akan merasa terganggu. Karena itulah dirinya berani mendekati Yura B.
Namun ia tak menyangka jika dihatinya ada sebuah rasa tak ikhlas. Rasa yang seharusnya tak boleh ia miliki.
kebersamaan mereka selama setahun ini membuat hati kecil nya berharap yang lebih dari sekedar teman.
Ia sangat tahu jika Liam selalu ada untuknya hanya sebagai sebuah tanggung jawab yang dilalukan pria itu karena permintaan terakhir sang kakak.
Tapi apa boleh buat, perasaan bukanlah sesuatu yang disengaja. Ia tumbuh dengan sendirinya bagaikan rumput liar yang sulit dihancurkan.
Liam disamping nya memilih diam setelah mengucapkan kata maaf. Ia sendiri sangat bingung bagaimana akhir dari perasaan rumit ini.
Ia menjaga Yura a murni karena tanggung jawab, namun dunia seolah menetapkan ketentuannya sendiri.
Ia memiliki rasa pada Yura b, namun gadis itu tak memberi nya ruang. Gadis itu bahkan memiliki orang lain di hatinya.
Namun melihat air mata itu semalam membuat perasaan ingin melindungi di dalam diri Liam kembali menguat.
"Ma, aku kerumah sakit saja ya hari ini.. " Yura a bersuara.
"Oh tentu, tapi apa kamu baik-baik saja? " Mama Lany tentu khawatir jika saja kondisi Yura kembali memburuk.
"Aku baik-baik saja kok ma, aku hanya ingin belajar dari rumah saja.. "
Liam turun setelah tiba didepan gedung. Ia melambaikan tangannya saat mobil itu kembali bergerak meninggalkannya.
Ia memilih menunggu Yura didepan sekolah karena dirinya tahu jika bus yang membawa gadis itu belum tiba.
Dari jauh, Yura dapat menangkap sosok Liam yang menunggu dirinya. Terlihat wajah nya yang begitu semangat saat melihat bus sekolah nya mendekat.
Yura yang tak ingin bertemu dalam suasana canggung memilih mengendap-endap dan berusaha bersembunyi di antara kerumunan orang.
Namun sehebat apa pun ia menyembunyikan diri, Liam pasti akan mengenalinya. Dimata Liam, Yura memiliki warna tersendiri yang membuat mata nya dengan mudah untuk mengenalinya.
"Mau sembunyi? " Ia bertanya sambil menarik tas gadis itu.
Yura tak menjawab, ia melepaskan pelan-pelan genggaman tangan pria itu dari tas nya.
"Dimana Yura..? " Ia bertanya karena tidak melihat sosok sahabatnya itu.
"Kamu Yura.. " jawab Liam dengan tawa nya.
"Aku tidak menepati janjiku tadi malam, ia pasti marah.. " Ucap Yura.
"Nanti kita bujuk dia, oke? " Liam menimpali.
Yura yang tidak ingin kesalahpahaman ini semakin meluas, akhirnya memilih untuk bicara yang sebenarnya.
"Liam, kamu tahu tidak kalau Yura a menyukaimu? "
Pertanyaan itu sontak membuat Liam berhenti. Kemudian ia tertawa lepas karena kata-kata Yura yang ia anggap sangat lucu.
"Kita sudah berteman lama, mana ada suka begitu? "
Yura mulai kesal.
"Kamu nih masalahnya. Yura suka kamu. Tapi tadi malam kamu tidur dirumah nenek ku dan tak memikirkan perasaan Yura. "
"Aku yakin saat ini ia salah paham pada kita, apalagi tadi malam aku tidak datang bahkan tidak menerima panggilan nya. "
Liam yang sama sekali tidak tahu soal perasaan Yura hanya memasang wajah bingungnya.
"Lalu? " Tanyanya.
"Aku jujur pada Yura soal perasaanku padamu.. Ia malah dukung kok.. "
Perkataan Liam itu berhasil membuat Yura merasa pusing dikepala nya.
"Kamu memang bodoh Liam. !! " Ia lalu pergi.
.
.
.
Bersambung...