Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 TERJEBAK DI HUTAN
Beberapa pria berlari menuju tepi jurang dengan napas memburu. Cahaya senter bergerak liar menyapu kegelapan di bawah sana. Yang terlihat hanya pohon-pohon besar, bebatuan raksasa, dan kabut tipis yang menggantung di antara tebing. Jurang itu terlalu curam untuk dituruni sembarangan. Bahkan orang berpengalaman pun pasti membutuhkan perlengkapan panjat tebing yang lengkap. Tiba-tiba angin kencang berembus dari bawah jurang, membuat dedaunan bergoyang keras dan hawa dingin menusuk kulit.
“Sepertinya tempat ini angker, Bos,” ujar pria yang memegang senter.
“Iya, Bos. Medannya terjal, Bos. Mana mungkin mereka selamat,” lelaki yang satunya menyahut.
Lelaki kekar itu mengerutkan dahi. Tangannya mengangkat senter lebih tinggi lalu mengarahkannya ke berbagai sisi jurang. Namun yang dia lihat hanya embun, ranting-ranting pohon, dan dinding tebing yang gelap. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tidak ada suara minta tolong. Tiba-tiba lolongan serigala terdengar dari bawah sana. Suara panjang itu menggema di antara tebing, membuat beberapa anak buahnya saling melirik dengan wajah tegang.
“Ayo kita cabut,” ujar mereka.
Tanpa membuang waktu lagi, mereka meninggalkan lokasi dan kembali ke persembunyian mereka di sebuah gudang tua. Saat kendaraan memasuki halaman, beberapa mobil sudah terparkir rapi di depan bangunan. Lampu-lampunya masih menyala. Baru saja Baron turun dari mobil, seorang wanita berjalan cepat menghampirinya dengan wajah dingin dan rahang mengeras.
“Di mana dia, Baron?” tanya Rani dengan nada dingin.
“Mereka sudah mati, Nyonya,” jawab Baron.
“Kenapa tidak menunggu instruksiku, ha? Aku ingin melihat dia mati dengan kepalaku senadiri.”
Tatapan Rani menusuk tajam ke arah Baron. Wajahnya suram dan penuh amarah yang ditahan. Namun Baron tidak terlihat gentar sedikit pun.
“Mereka sudah kami buang ke jurang,” Baron kembali menjawab.
“Kenapa tidak menungguku?” suara Rani mengeram.
Baron mengembuskan napas kasar. Kesabarannya sudah habis sejak tadi. Dia melangkah maju satu langkah dan menatap Rani tanpa berkedip.
“Lihat berapa anak buahku yang tumbang gara-gara dua anak sialan itu. Kalau aku enggak bunuh mereka, lalu kamu mau bayar pengobatan anak buahku? Satu orang bahkan sekarat, kepalanya retak dihantam balok. Kamu bilang hanya anak remaja. Mereka bukan anak remaja, mereka itu monster,” Baron menjawab dengan kesal.
Rani terdiam. Jari-jarinya yang semula mengepal perlahan mengendur. Mendengar nada bicara Baron yang keras dan tegas membuat nyalinya menciut. Dia sadar sedang berada di sarang para bandit yang tidak segan menggunakan kekerasan.
“Baiklah,” ucap Rani akhirnya. “Tapi benarkan dia sudah mati?” tanya Rani.
“Mereka aku buang ke jurang angker. Banyak serigalanya. Itu hukuman bagi mereka yang melukai anak buahku.”
Rani mengembuskan napas berat. Masih ada sedikit keraguan di dalam hatinya, tetapi dia tidak punya pilihan lain selain mempercayai ucapan Baron.
“Aku mau lihat jurang itu,” ucap Rani.
“Mari,” Baron langsung menjawab. Walau dia lelah dan kesal, tapi dia harus profesional.
Mereka berjalan melewati kebun singkong lalu masuk ke dalam hutan. Semakin jauh melangkah, suasana semakin sunyi. Sesekali terdengar lolongan serigala dari kejauhan yang membuat langkah Rani melambat.
“Di mana mereka? Apa masih jauh?” ucap Rani.
“Ini baru setengahnya.”
“Sudahlah, enggak jadi. Pasti banyak serigala.”
“Iya, memang banyak,” jawab Baron kesal.
Rani langsung membatalkan niatnya. Akhirnya mereka kembali ke markas. Setelah sampai, Rani menyerahkan sisa pembayaran dalam bentuk uang tunai. Dia sengaja menghindari transfer bank agar tidak meninggalkan jejak yang bisa ditelusuri di kemudian hari
...
Waktu terus berlalu tanpa terasa. Gelap malam perlahan menghilang, digantikan cahaya pagi yang menyusup di antara celah pepohonan. Sinar matahari menyentuh dedaunan yang masih basah oleh embun. Angin berembus pelan membawa hawa dingin yang membuat kulit merinding. Burung-burung mulai berkicau saling bersahutan dari kejauhan. Pepohonan bergoyang lembut mengikuti arah angin. Pemandangan itu begitu tenang dan indah, seolah tidak pernah terjadi apa pun di tempat tersebut.
Namun di tengah keindahan pagi itu, Nadia dan Aldo masih terjebak di dalam jurang. Tubuh mereka tersangkut di cabang sebuah pohon besar yang tumbuh dari dinding tebing. Nadia masih berada di punggung Aldo, sama seperti saat mereka terjatuh semalam. Daun-daun kering menutupi sebagian tubuh mereka. Jika dilihat dari kejauhan, keduanya seperti dua sosok yang sudah tidak bernyawa.
Dada Aldo terasa sesak. Napasnya berat. Kelopak matanya bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka sedikit. Pandangannya masih kabur. Kepalanya berdenyut hebat.
“Astaga, kenapa di kuburan begini pengap?” ujar Aldo.
Dia mengerjapkan mata beberapa kali. Lalu merasakan sesuatu menekan punggungnya. Alisnya langsung berkerut.
“Nad, Nadia, lu di mana, Nad?” gumam Aldo, namun tak ada jawaban.
Dengan susah payah dia mencoba bangkit. Baru saat itulah dia sadar dirinya berada di atas batang pohon besar yang melintang di antara tebing. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Refleks dia meraih batang pohon lain untuk menopang tubuhnya.
“Krak!”
Suara retakan terdengar jelas.
Mata Aldo membelalak.
Dan...
“Bruk!”
Tubuh mereka berdua jatuh ke tanah. Untungnya jaraknya tidak terlalu tinggi, hanya sekitar dua meter. Meski begitu, benturan itu tetap membuat seluruh badan terasa nyeri.
“Ah, sialan,” kata Aldo.
Dia meringis sambil memegang pinggangnya. Belum sempat mengatur napas, matanya menangkap tubuh Nadia yang menggelinding menuruni lereng kecil beberapa meter di depannya.
“Nad!”
Aldo langsung berdiri. Kakinya terasa gemetar. Bahunya sakit. Punggungnya seperti dipukul palu. Tapi rasa khawatir membuatnya melupakan semua itu. Dia berlari tertatih menghampiri Nadia.
Saat sampai di dekatnya, napas Aldo langsung tercekat.
Wajah Nadia pucat. Bibirnya kering. Tangan gadis itu masih dililit kain yang kini berubah merah oleh darah. Di bagian betisnya terlihat luka tembak yang sudah mengering, tetapi masih tampak mengerikan.
Aldo berlutut di sampingnya.
“Nad... bangun... Nad,” Aldo panik.
Dia mengguncang bahu Nadia perlahan. Tidak ada respons.
Jantung Aldo semakin kacau. Tangannya gemetar saat memegang pergelangan tangan Nadia. Beberapa detik kemudian dia mengembuskan napas lega.
Nadinya masih berdetak.
Aldo langsung teringat sesuatu yang pernah dia lihat di film.
Orang pingsan harus diberi napas buatan.
Tanpa berpikir panjang dia mendekatkan wajahnya ke wajah Nadia. Bibirnya mulai bergerak mendekat.
“Hentikan, sialan. Napas lu bau,” gumam Nadia.
Aldo langsung meloncat mundur seperti disengat listrik.
“Astaga!”
Nadia membuka mata perlahan sambil menatapnya kesal.
Aldo tidak peduli. Wajahnya langsung berubah cerah. Dia buru-buru mendekat, membantu Nadia duduk, lalu memeluknya erat.
“Pengap, sialan. Lepasin gue,” ucap Nadia.
Aldo cepat-cepat melepaskan pelukan itu. Dia menyeka matanya yang basah dengan punggung tangan.
“Akhirnya lu selamat, Nad.”
“Iya. Nyawa gue enggak semudah itu mati,” jawab Nadia.
Dia bersandar di batang pohon sambil mengatur napas. Wajahnya tetap tenang, meski rasa sakit jelas terlihat dari bibirnya yang terus bergetar.
“Nad, lu enggak kenapa-kenapa, kan?” tanya Aldo dengan raut khawatir.
“Keluarin peluru dari betis gue, Al. Perih banget,” jawab Nadia.
Aldo langsung menggaruk kepala.
“Bagaimana caranya, Nad?”
“Cari bambu. Ambil kulitnya lalu sayat di bagian yang tertembak, lalu keluarkan,” jawab Nadia dengan bibir gemetar.
“Tapi, Nad, di sini enggak ada obat bius, Nad.”
“Di sini juga enggak ada rumah sakit, bodoh,” ucap Nadia dingin.
“Lu galak amat sih...” ucap Aldo.
“Cepatlah kalau lu mau lihat gua hidup,” ucap Nadia dengan napas tersengal. “Kalau ada cabai rawit, ambil yang banyak.”
Aldo langsung berdiri dan berlari. Tubuhnya masih sakit semua, tetapi dia tidak punya waktu mengeluh. Dia menandai beberapa pohon agar tidak tersesat. Namun setelah berkeliling cukup jauh, dia tidak menemukan bambu sama sekali.
Saat hampir putus asa, suara gemuruh air terdengar dari kejauhan.
Aldo mengikuti suara itu dan menemukan sebuah air terjun kecil.
“Air!”
Dia berlari lalu minum sepuasnya. Air dingin itu membuat tubuhnya sedikit segar.
“Ah, sialan. Enggak ada kantong. Nanti saja gue gendong Nadia ke sini.”
Saat hendak pergi, matanya menangkap sesuatu.
Di balik tirai air terjun ternyata ada sebuah gua.
Rasa penasaran membuatnya melangkah masuk. Cahaya matahari yang menembus air cukup membantu menerangi bagian dalam gua. Aldo berjalan perlahan sambil melihat ke segala arah.
Tiba-tiba kakinya menendang sesuatu yang keras.
Dia menunduk.
“Tengkorak!” teriaknya. “Hantu!”
Aldo hampir saja kabur tunggang-langgang. Namun saat matanya kembali melihat ke arah tengkorak itu, dia menyadari ada sesuatu yang lain.
Sebuah tas ransel tua tergeletak tidak jauh dari sana.
libas saja mereka si pecundang