“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Roda kereta akhirnya berhenti tepat di depan tangga utama Kastil Clyvedon. Seorang kusir segera turun dari bangkunya, disusul dua pelayan yang bergegas membuka pintu kereta.
Cassian menghembuskan napas pelan. Sepanjang perjalanan, tak sepatah kata pun terucap. Hanya keheningan yang terasa semakin berat setiap detiknya.
Sang Duke turun lebih dulu, kemudian berbalik mengulurkan tangannya ke arah Elowen.
“Elowen…”
Tatapannya penuh harap.
Akan tetapi Elowen bahkan tidak meliriknya. Insiden tadi pasti masih melukai wanita itu.
Alih-alih menerima uluran tangan suaminya, Elowen mengalihkan pandangannya kepada salah seorang pelayan wanita.
Pelayan itu tampak terkejut saat Elowen menatapnya.
“Yang Mulia…” gadis itu ragu-ragu menoleh kepada Cassian, seolah meminta izin.
Cassian menghela napas sambil mengetatkan rahangnya. Duke terdiam sejenak.
Namun beberapa detik kemudian, ia menurunkan tangannya perlahan.
“Lakukanlah.”
Pelayan itu buru-buru membantu Elowen turun dari kereta.
Gaun hijau pastel sang duchess bergoyang pelan tertiup angin sore. Begitu kedua kakinya menapak tanah, ia menarik sedikit roknya dan berjalan melewati Cassian tanpa menoleh sedikit pun.
Elowen mengabaikan Cassian seolah pria itu tidak berada di sana.
Keheningan menyelimuti halaman kastil.
Para pelayan yang berjajar menyambut kepulangan pasangan bangsawan itu saling bertukar pandang.
Penolakan Elowen atas Duke tentu adalah pemandangan pertama yang pernah mereka lihat.
“Astaga… Apa kalian melihatnya?” seorang pelayan berbisik.
“Yang Mulia Duchess menolak Duke. Apa mataku tidak berbohong?”
“Aku juga melihatnya,” mereka saling menimpali.
“Apa mereka bertengkar?”
Nyonya Wilson yang juga berdiri di antara para pelayan melirik tajam ke arah mereka. “Jangan menyebarkan rumor aneh tentang Duke dan Duchess,” tegurnya dengan nada khasnya.
“Apa yang sedang kulewatkan?” seru Harry saat turun dari kudanya.
Ajudan pribadi Cassian itu mendekat dengan mata memicing. Dia merasakan ketegangan dari semua orang.
Apalagi melihat Cassian dengan wajah masamnya berdiri mematung menatap ke satu arah. Harry berjalan ke samping Cassian melihat apa sebenarnya yang membuat Sang Duke terpaku.
Ternyata dia melihat Elowen yang berjalan cepat dengan gaun yang dibantu dipegangi pelayan.
“Ada apa? Kau membuatnya marah?” bisik Harry tepat di telinga Cassian.
Cassian menggertakan giginya, darahnya berdesir hebat. Sungguh dia tak pernah mendapat penolak seperti ini. Elowen… wanita itu sungguh berani.
“Apa dia harus semarah itu ketika aku menciumnya?” cetus Cassian sembari berjalan.
Harry mengikutinya dari samping.
“Hah? Kau menciumnya?” ulang Harry. Dia mengusap dagunya dengan tangan. “Tapi kupikir sebuah ciuman tidak masalah untuk pasangan suami istri. Katakan padaku dengan jelas! Karena Elowen tidak mungkin marah hanya dengan itu.”
Mendengar Harry memanggil nama istrinya dengan sangat santai membuat emosi Cassian naik.
Dia menghentikan langkahnya. Berbalik menoleh ke arah Harry.
“Elowen?”
Harry melipat bibirnya saat melihat Cassian mengerutkan wajahnya. Apa dia sudah melakukan kesalahan? Sepertinya iya, jadi untuk keluar dari sini hidup-hidup Harry mulai mengubah posisi santainya dengan sangat formal.
“Maksud saya Duchess Elowen. Saya rasa Duchess tidak akan semarah itu kalau soal ciuman. Apa anda melakukannya dengan benar?”
Cassian kembali mengeraskan rahangnya. Dia tidak melakukannya dengan benar, ciuman itu bukan sebuah ciuman melainkan lebih pantas disebut hukuman.
“Aku memaksanya, melakukannya dengan kasar.” Cassian mengaku pada akhirnya.
Harry membuka bibirnya lebar, tidak ada kata-kata yang keluar dari kalau dia berkomentar jujur sekarang. Lehernya pasti tidak selamat.
Sepertinya Sang Duke sedang mengalami masalah rumah tangga yang serius.
“Anda butuh teman cerita, Duke Clyvedon?” Harry menawarkan dirinya sebagai pendengar setia Cassian.
Tidak seperti biasanya, kali ini Cassian menerima tawaran Harry.
“Kita bicarakan ini di ruang baca, Harry,” kata Cassian berjalan lebih dulu.
“Aku akan meminta pelayan menyiapkan brendinya.”
Harry berjalan ke arah lain meminta pelayan menyiapkan hari minum antar pria. Ini mungkin akan menjadi obrolan panjang yang membuatnya sakit kepala.
***
Elowen berjalan cepat menuju kamar tidurnya. Dia menoleh sesaat ke belakang, Naima sangat kesulitan mengurus gaunnya.
Astaga, gadis itu berkali-kali menunduk mengumpulkan mutiara yang jatuh ke lantai akibat Elowen berjalan dengan cepat.
Wanita itu berhenti, menelan ludahnya. Kenapa dia harus menyusahkan orang lain seperti ini. Padahal yang membuatnya marah adalah Cassian.
Elowen menulis di catatannya, tapi teringat kalau Naima tidak bisa membaca. Ya Tuhan, bagaimana dia bisa mengatakan kalau Naima tidak perlu memungut ornamen mutiara itu dari lantai kastil.
Beruntung, Nyonya Wilson akhirnya datang. Buru-buru Elowen menulis di catatannya.
“Your Grace,” seru Nyonya Wilson lalu menundukkan kepalanya.
Elowen langsung memperlihatkan catatannya.
“Katakan pada Naima kalau dia tidak perlu memungut mutiara itu. Dan, tolong pindahkan barang-barangku dari kamar Cassian ke kamarku sendiri.”
Nyonya Wilson tidak langsung mengiyakan tapi wanita paruh baya itu tersenyum ramah. Dia berbalik menyuruh Naima untuk berhenti memungut mutiara di lantai. Kemudian menyuruh pelayan muda itu kembali ke belakang.
“Biar saya mengantar anda ke kamar, Your Grace.” Nyonya Wilson menawarkan diri.
Elowen mengangguk pelan.
Sesampainya di kamar Elowen langsung menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
Ruangan itu masih kosong, itu adalah kamar pribadi Elowen dan bukan kamarnya bersama Cassian.
Nyonya Wilson masuk ke dalam kamar membawakan baju ganti untuk Elowen. Gaun rumah yang lebih nyaman. Dia membantu duchess mengganti pakaiannya.
“Apa anda dan duke sedang memiliki kesalahpahaman?” Nyonya Wilson membuka percakapan.
Elowen terdiam, sementara Nyonya Wilson membantunya melepaskan korset. Duchess menghela napas panjang, kemudian meraih catatannya.
“Kenapa seorang pria selalu bersikap seenaknya, Nyonya Wilson?” tulis Elowen sambil berbalik ke arah Nyonya Wilson.
Elowen sudah melepas gaunnya, meninggalkan chemise putih yang sekarang dipakainya.
Nyonya Wilson menarik lembut tangan Elowen memintanya untuk duduk di sisi ranjang.
“Saya tidak pernah benar-benar memiliki anak. Tapi, sepertinya saya harus memberitahu Anda tentang sang duke.”
Elowen tidak mengerti, Nyonya Wilson seolah ingin menceritakan sesuatu.
“Mungkin Duke Cassian terlihat bersikap seenaknya. Tapi, percaya pada saya, beliau memiliki sisi yang sangat lembut. Ini semua karena Duke tidak pernah diajarkan bagaimana mengekspresikan sisi lembutnya. Dari kecil kehidupan Duke diatur untuk bersikap melindungi apapun yang dimilikinya. Meski kadang caranya melindungi terlihat kasar dan menyiksa.”
Nyonya Wilson tersenyum ramah. Jiwa keibuan terpancar di wajah wanita itu. Elowen tidak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu, tapi saat bersama Nyonya Wilson seolah dirinya menemukan kasih sayang itu.
Dari cerita Nyonya Wilson, Elowen tahu kalau sebenarnya dirinya dan Cassian tidak jauh berbeda.
Keduanya sama-sama kesepian dalam hidup mereka.
***
klo di rupiah kan setara dgn berapa kah...?
auto lsg tanta mbh gogle
you're amazing writer