“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Pagi itu beberapa keluarga bangsawan Arvendale dikejutkan oleh datangnya undangan pesta dansa. Bukan undangannya yang membuat mereka tertarik melainkan dari mana undangan itu berasal.
“Kastil Clyvedon?” Adrian mengambil undangan yang diberikan pelayan padanya.
Dia yang berada di ruang tengah kediaman Whitmore langsung membuka undangan itu di depan ketiga saudaranya.
“Pesta dansa untuk sang duchess. Minggu malam ini,” ujarnya lagi sambil melihat ke arah saudaranya. “Kalian semua diundang.”
Bastian tersenyum menyeringai.
“Adik bungsu kita hidup dalam kemewahan ternyata,” ucapnya. “Betapa enaknya, tidak seperti seseorang…” sindir Bastian sambil melirik Cleona.
Cleona yang sedang duduk di kursi beludru menggenggam cangkir tehnya. Ucapan Bastian sungguh menyebalkan.
“Jaga ucapanmu Bastian. Jangan ganggu Cleona,” tegur Adrian.
Bastian menyengir remeh. “Jangan kau manjakan adik perempuanmu ini, Adrian. Dia membuat kita kehilangan sepuluh ribu pound! Sepuluh ribu pound yang berharga hanya untuk mengambilnya dari pria brengsek itu.”
Bastian sedang menyindir suami Cleona.
Remus ternyata bukan pria yang mencintai Cleona dengan tulus. Melainkan pria yang sengaja mendekatinya untuk mendapatkan sesuatu.
Benar saja, setelah mendengar kabar seorang putri Whitmore menikah dengan keluarga Duke Clyvedon. Remus sengaja bersikap kasar dan menyiksa Cleona agar wanita itu menghubungi keluarganya dan merengek untuk pulang.
Remus sangat licik, dia tidak mengizinkan Adrian membawa pulang Cleona jika tidak memberikannya sepuluh ribu pound.
“Kau gila! Untuk apa aku memberikan sepuluh ribu pound untukmu, dasar brengsek!” umpat Adrian saat dilarang menemui Cleona.
“Kalau anda mau bertemu dengan adik anda Tuan Whitmore. Sebaiknya anda siapkan uang itu.”
“Berikan dia padaku, Remus!” tunjuk Adrian ke arah Cleona yang ada di belakang Remus.
“Dia istriku, Tuan. Tidak ada yang bisa membuatnya pergi dari rumahku tanpa izin dariku.” Ucap Remus dengan sombong.
Di belakangnya Cleona duduk di lantai dengan baju yang compang camping dan wajah yang penuh dengan luka.
Ya Tuhan, kakak mana yang tega melihat adiknya seperti itu. Adrian tidak tega melihat keadaan Cleona dan akhirnya menyetujui untuk memberikan sepuluh ribu pound untuk Remus.
Sepuluh ribu pound yang dikumpulkan dari masing-masing anak lelaki di keluarga Whitmore. Karena uang milik Cleona sudah diberikan pada Cleona dan dihabiskan Remus untuk berjudi dan membayar pelacur di bar.
Karena itulah Bastian selalu menyindir Cleona tentang itu. Seperti sekarang, mereka sedang berkumpul dan seharusnya membahas soal pesta dansa Duke. Tapi, lagi-lagi Bastian menyindir Cleona soal uang itu.
“Kau hanya mengeluarkan dua ribu pound, Bastian.” Dylan menyela.
“Lalu, kau sendiri rela membuang tiga ribu pound milikmu untuk bajingan Remus itu?” balas Bastian.
Dylan mendengus. Dasar Bastian menyebalkan karena apa yang diucapkannya benar. Siapa yang rela membuang uang berharga untuk orang seperti Remus.
Adrian menghembuskan napasnya kasar.
“Kalian bisa berhenti tidak?!” sentaknya. “Kita sedang membicarakan pesta dansa Duke dan Duchess, bukan Cleona dan si brengsek itu.”
Cleona berdiri dari tempat duduknya. Melirik tajam ke arah Bastian kemudian keluar dari ruang tengah kediaman Whitmore.
“Dia berubah jadi tidak sopan.” Bastian berkomentar tentang Cleona.
“Dan kau tidak pernah berubah Bastian. Kau menyebalkan dengan sangat konsisten.” Dylan mencoba membela Cleona dan menghentikan Bastian agar tidak lagi mengganggu Cleona.
Adrian sebagai anak tertua dan juga kepala keluarga Whitmore tidak berkomentar apa-apa.
***
Cleona membanting pintu kamarnya.
Dia kesal karena percakapan keluarganya tadi. Lebih kesal ketika melihat undangan itu juga ada di kamarnya.
Pesta dansa untuk Duchess Clyvedon.
Cleona mendengus. Kemudian membuang undangan itu ke lantai. “Harusnya aku yang jadi Duchess!!!” teriaknya kesal.
Dia masih tidak terima dengan pernikahan Elowen dan Duke Clyvedon. Dia masih menyesal kenapa malam itu dia harus kabur. Kalau saja dia tidak pergi, dia yang akan menjadi bintang utama pesta dansa ini.
“Sialan!”
Cleona melempar barang-barangnya ke lantai membuat suara gaduh yang memancing para pelayan menggedor pintunya.
“Miss Cleona? Anda baik-baik saja?” suara pelayan terdengar di luar kamar.
Cleona melempar vas bunga ke arah pintu.
“Jangan Panggil Aku Miss!!!” teriaknya kemudian. “Harusnya kalian memanggilku Your Grace,” lanjutnya dengan nada lebih pelan. Putus asa, dan penuh delusional.
“Aku yang seharusnya menjadi Duchess Clyvedon. Bukan Elowen si bisu.”
“Aku yang seharusnya menjadi istri Duke. Aku putri sempurna keluarga Whitmore.” ucapnya sambil menggigit kuku jarinya.
Sebuah luka berubah menjadi kecemburuan dan itu menjadi kebencian. Cleona membenci Elowen.
“Aku akan membuatmu kehilangan gelar Duchess Elowen. Dan aku akan mengambil gelar itu.”
***
Di tempat lain, tepatnya di Ravenhearst.
Marquess Lucien juga memegang undangan yang sama.
“Sebuah pesta dansa ya?” gumamnya.
“Dia pasti akan terlihat cantik dengan gaun pesta.” Marquess Lucien mulai membayangkan bagaimana Elowen nanti di pesta dansa.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Marquess Lucien.
“Tuan Lucien?” suara pelayan terdengar dari luar ruangan. Lucien sedang berada di ruang kerjanya.
“Ya, ada apa?”
“Kereta Miss Lyorine sudah terlihat di perbatasan, Tuan.”
Lucien mengangkat kepalanya.
“Lyorine? Dia pulang?” gumamnya.
Tiba-tiba saja Lucien merasa ini akan menjadi sesuatu yang sangat rumit. Adiknya pulang dari kepergiaannya yang sangat jauh.
Bukan berarti Lucien tidak suka. Tapi, kenapa Lyorine kembali pulang saat seharusnya dia tidak muncul lagi?
***
Semangat ya thooor.... terimakasih sdh up dan sllu kutunggu up mu banyak2😍
klo di rupiah kan setara dgn berapa kah...?
auto lsg tanta mbh gogle
you're amazing writer