NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:19.8k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 - Gerbang Besi Dan Pelukan Hangat

Udara pagi di depan Lembaga Pemasyarakatan itu terasa berbeda. Bagi Bianca Adytama, oksigen yang ia hirup hari ini tidak lagi berbau logam karat atau pembersih lantai murah. Ada aroma aspal basah sisa hujan semalam dan kebebasan yang terasa getir di lidahnya. Sepuluh tahun. Waktu yang cukup panjang untuk merontokkan keangkuhan seorang nona muda yang dulu menganggap dunia bisa dibeli dengan jentikan jari.

Suara gerbang besi yang berderit menutup di belakangnya menjadi tanda titik bagi masa lalunya. Bianca berdiri mematung dengan satu tas kecil di tangan, hingga sebuah suara lembut memecah lamunannya.

"Bianca..."

Di sana, bersandar pada mobil SUV putih yang elegan, berdiri Kirana Adytama. Wajah kakaknya itu tidak banyak berubah, tetap tenang dan anggun. Namun, yang membuat jantung Bianca berdegup kencang adalah dua remaja yang berdiri di samping Kirana.

"Onty!" Viera, gadis remaja yang cantik dengan mata berbinar, langsung berlari memeluknya. Di belakangnya, Xavi menyusul dengan langkah yang lebih kalem, menunjukkan aura maskulin yang mulai tumbuh, sangat mirip dengan ayahnya.

"Kalian... sudah sebesar ini?" suara Bianca serak, tertahan di tenggorokan. Ia memeluk kedua keponakannya erat-erat, seolah ingin membayar sepuluh kali ulang tahun yang ia lewatkan di balik jeruji.

"Xavi dan Viera hampir tiap hari tanya kapan Onty pulang," ujar Kirana sambil mendekat, lalu mendekap adiknya itu dengan kasih sayang yang tak luntur oleh waktu. "Ayo, kita pulang. Dunia luar sudah menunggumu."

Di dalam mobil, Bianca duduk di samping Kirana yang mengemudi. Viera tidak berhenti berceloteh tentang sekolahnya, sementara Xavi sesekali menimpali dengan lelucon kecil.

"Mas Raditya mana, Mbak?" tanya Bianca pelan. Ia ingat betul betapa kacau hubungannya dengan kakak iparnya itu dulu, namun surat-surat dari Raditya selama ia di penjara membuktikan bahwa pengampunan itu nyata.

"Masmu sedang di luar negeri, ada proyek besar yang tidak bisa ditinggal. Dia titip salam, katanya nanti kalau dia pulang, kita makan malam besar," jawab Kirana hangat.

Mobil melaju membelah kemacetan Surabaya yang sudah sangat asing bagi Bianca. Gedung-gedung baru menjulang tinggi, reklame digital menyilaukan mata. Hingga akhirnya, mobil berbelok ke sebuah kawasan residensial premium. Keamanannya sangat ketat, dengan deretan pohon palem yang tertata rapi.

"Ini rumah siapa, Mbak? Kita tidak ke rumah utama?" tanya Bianca bingung saat mobil berhenti di depan sebuah hunian modern minimalis yang tampak sangat asri.

"Ini rumahmu, Bianca."

Rumah itu bernuansa earth tone, tenang, dan jauh dari kesan mencolok yang dulu sangat disukai Bianca. Kirana mengajaknya masuk, memperkenalkan seorang asisten rumah tangga paruh baya dan seorang pria yang merangkap supir sekaligus teknisi.

"Aku ingin kamu merasa nyaman dulu," ujar Kirana sambil membimbing Bianca ke sebuah ruangan di lantai dua.

Begitu pintu dibuka, Bianca terpaku. Itu adalah ruang kerja sekaligus perpustakaan pribadi. Rak-rak kayu jati tinggi berisi buku-buku klasik hingga literatur modern. Di sudut ruangan, ada jendela besar yang menghadap ke taman belakang yang hijau.

"Aku tahu selama di sana, kamu jadi kutu buku," goda Kirana kecil. Ia kemudian meletakkan sebuah map kulit di atas meja kayu. "Ayah tidak pernah benar-benar membuangmu, Bianca."

Bianca membuka map itu dengan tangan gemetar. Lembar demi lembar dokumen resmi terpampang di sana.

"Saham Adytama Properti atas namamu... sekarang sudah mencapai tiga puluh persen. Dividen sepuluh tahun terakhir tidak kusentuh, aku belikan rumah ini dan sisanya ada di rekening ini." Kirana mengangsurkan beberapa kartu ATM dan buku tabungan. "Lalu ini, sertifikat lahan di beberapa titik yang Ayah siapkan sejak dulu sebagai bekalmu."

Air mata yang sejak tadi ditahan Bianca akhirnya jatuh juga. Ia melihat angka-angka di buku tabungan itu—jumlah yang lebih dari cukup untuk membuatnya kembali menjadi sosialita papan atas dalam semalam. Namun, hatinya terasa kosong saat melihatnya.

"Terima kasih, Mbak. Untuk semuanya... untuk jaminannya sehingga hukumanku berkurang lima tahun. Aku tidak tahu bagaimana harus membalasnya," isak Bianca di pelukan kakaknya.

Kirana mengusap punggung adiknya. "Cukup jalani hidupmu dengan baik, Bianca. Itu sudah lebih dari cukup untukku dan Ayah."

Siang itu, setelah makan siang yang penuh tawa bersama Xavi dan Viera, Bianca duduk sendirian di perpustakaannya. Ia memandangi kartu-kartu ATM itu. Harta ini adalah pengaman, tapi bukan tujuan.

Ada tujuan lain yang ia inginkan. Bianca kembali ke lantai bawah menghampiri Kirana yang duduk bersantai di taman belakang. Bianca langsung mengambil tempat duduk disamping Kirana dan menatap Kirana dengan tatapan yang sangat teguh.

"Mbak, mungkin besok aku akan meninggalkan Surabaya."

Kirana meletakkan cangkir kopinya, terkejut. "Ke mana? Kamu baru saja pulang, Bianca. Tinggallah dulu di sini, pulihkan energimu."

"Aku ingin pergi ke sebuah desa di Jawa Barat. Aku butuh udara pegunungan, Mbak. Aku ingin hidup tenang, jauh dari orang-orang yang tahu siapa Bianca Adytama. Aku ingin memulai dari nol, benar-benar nol."

"Tapi rumah ini? Uangmu?"

"Semuanya akan tetap di sini. Aku akan menyimpannya sebagai jaminan masa tuaku. Tapi untuk sekarang, aku ingin bekerja dengan tanganku sendiri. Aku ingin mencari siapa aku yang sebenarnya tanpa embel-embel nama Adytama."

Kirana meraih tubuh Bianca mendekapnya dalam pelukannya. “Mbak, sama sekali tidak punya kuasa untuk menghalangi langkahmu dan Mbak berharap kalau ini adalah keputusan yang terbaik untukmu.”

“Iya, Mbak. Aku sudah memutuskan ini sejak lama, sejak aku masih di penjara.”

Kirana mengurai pelukannya, menatap Bianca yang kini sudah benar-benar dewasa. Kirana bangga dengan perubahan pada adiknya itu.

“Kamu harus selalu ingat, bahwa disini ada kami yang selalu menyayangi dan mencintaimu.”

“Pasti itu, Mbak. Kalian akan tetap selalu berada dihatiku.”

**

Perjalanan itu memakan waktu belasan jam dengan kereta api dan kendaraan umum. Bianca sengaja tidak menggunakan supir pribadi atau mobil mewah. Ia hanya membawa satu koper sedang.

Tujuannya adalah sebuah desa di lereng pegunungan Jawa Barat, tempat di mana kabut turun setiap sore dan aroma teh basah memenuhi udara. Begitu turun dari bus kecil, udara dingin langsung meresap ke pori-porinya. Ia berjalan menyusuri jalan aspal yang bersih, diapit oleh deretan vila-vila mewah milik orang kota yang hanya dikunjungi sesekali.

"Permisi, Bu," sapa Bianca sopan kepada seorang ibu yang sedang menjemur kerupuk di pinggir jalan. Senyumnya ramah, sangat jauh dari Bianca yang dulu sering memandang rendah orang lain.

"Iya, Neng? Cari siapa?"

"Saya Gita, Bu. Saya baru sampai. Apa di sekitar sini ada kontrakan atau kos-kosan yang sederhana?"

Ibu itu memandang Bianca dari ujung rambut sampai kaki. Meski pakaiannya sederhana, cara bicara dan tegaknya tubuh Bianca tidak bisa menyembunyikan aura "berkelas".

"Oh, ada di belakang sana, milik Pak Haji. Tapi Neng sendirian? Mau apa di desa sepi begini?"

"Saya ingin cari kerja, Bu. Kira-kira di sini biasanya orang kerja apa ya?"

"Wah, kalau tidak di kebun teh, ya jadi penjaga atau pengurus vila. Di atas sana banyak villa besar milik juragan."

Sore itu juga, Bianca—yang kini menyebut dirinya Gita Ivara—mendapatkan sebuah rumah kontrakan kecil berdinding kayu dengan jendela yang langsung menghadap hamparan kebun teh. Esok harinya, dengan keberanian penuh, ia mendatangi salah satu villa paling megah di kawasan itu. Villa Dirgantara.

Di sana, ia bertemu dengan sepasang suami istri paruh baya yang sangat bersahaja meskipun kaya raya.

"Nama saya Gita, Pak, Bu," ucapnya tenang saat diwawancarai di teras belakang villa yang luas.

"Usia tiga puluh? Pengalaman kerja?" tanya Sang Ibu dengan nada menyelidik namun lembut.

Gita menarik napas panjang. Ia memutuskan untuk tidak memulai hidup barunya dengan kebohongan total.

"Saya baru keluar dari penjara sepuluh tahun, Bu. Ini surat berkelakuan baik saya dan ini sertifikat keahlian tata boga serta manajemen kebersihan yang saya ambil selama di dalam."

Suasana mendadak hening. Pasangan itu saling berpandangan. Kejujuran Gita adalah sesuatu yang langka. Kebanyakan orang akan memalsukan identitas mereka.

"Kenapa kamu jujur?" tanya Sang Bapak.

"Karena saya ingin mencari ketenangan, bukan tumpukan kebohongan baru."

Ketulusan di mata Gita meluluhkan hati mereka. Gita pun diterima bekerja, bukan di kebun teh, melainkan sebagai staf kebersihan internal villa tersebut. Tugasnya memastikan kamar-kamar di bangunan utama selalu sempurna.

**

Tiga minggu pertama berjalan sangat damai. Gita menikmati pekerjaannya. Menyapu, mengepel, dan menata seprai adalah meditasi baginya. Hingga suatu sore, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di depan lobi villa.

Seorang pria turun dengan langkah terburu-buru. Wajahnya keras, rahangnya tegas, dan matanya memancarkan kelelahan yang dalam. Arlan Dirgantara, putra sulung sang juragan yang baru saja melarikan diri dari hiruk-pikuk Jakarta dan perceraiannya yang menguras emosi.

Gita sedang merapikan vas bunga di ruang tengah saat Arlan masuk. Langkah pria itu terhenti. Ia melihat seorang wanita berseragam pelayan, namun caranya berdiri... caranya menyentuh kelopak bunga itu... tidak tampak seperti seorang pekerja kasar.

"Siapa kamu?" suara berat Arlan menggema.

Gita berbalik, sedikit terkejut namun tetap tenang. Ia menunduk sopan.

"Saya Gita, Tuan. Pekerja baru di sini."

Arlan menyipitkan mata. Ia terbiasa menghadapi wanita-wanita di Jakarta yang bersolek habis-habisan untuk menarik perhatiannya. Namun wanita di depannya ini, tanpa riasan dan hanya dikuncir kuda, memiliki kecantikan yang "mahal" dan sorot mata yang sangat cerdas.

"Gita..." gumam Arlan, seolah mencicipi nama itu di lidahnya.

***

1
Mukeseh
hajar stella arlan 🤣🤣🤣 q suka list keributan besar pokoke 😂😂😂
Anisa Sudarwanto
lnkut thorr
Mundri Astuti
Kirana coba muncul sama Raditya yak
Verawati Naycyl
Stella kamu salah memilih lawan.....bisa bisa kamu sama Mahendra bakalan di bikin nangis darah
fatmawati (pipit)
stella kamu blm mengenal keluarga adytama, jari lentik seseorang bisa membuka tabir kebusukan mu dan keluarga mu dlm pencurian aset milik arlan
Mundri Astuti
lanjut thor 🙏
Mukeseh
stella belum ae siapa gita ivara 🤣🤣 apalagi kalau mahendra tau apa gak syok dia 🤭
Sri Murtini
Byanka tenang saja blm saatnya kau kembali ke Surabaya
ryuka
adduuhhh duuhh bianca gimana ini 🤭🤭🤭🤭🤭
Mukeseh
lagi thorr
fatmawati (pipit)
stella kau blm mengenal bianca secara seluruhnya, mungkin dia di penjara bukan karna kemauannya karna ada seseorang yg menjebak dia dan keluarga adytama hancur
mungkin juga karna musuh raditya
fatmawati (pipit): yg itu aku lupa🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
fatmawati (pipit)
kau blm mengenal biaca adytama (gita Ivana) kau ingin menjatuhkan bianca maka kau akan berhadapan dengan sisi lainnya bianca
ryuka
aduuhhh bianca kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠🫠🫠
Mundri Astuti
Mahendra minta dikepret ma Kirana dan raditya
Mundri Astuti
jangan harap bisa nyentuh Bianca kaya si bunglon Stella Mahendra, krn da Raditya, Kirana dan Aditama ...
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh
Mukeseh
huuuu 😂😂semoga atrlan bisa mrlindu gi
Verawati Naycyl
gak sabar nunggu kelanjutannya thor....bakalan di apain Bianca sama Arlan..
Verawati Naycyl
lanjut thor..
Mundri Astuti
diihhhh Arlan, Gita atau Bianca ga terus terang itu krn privasinya, emang selama ini dia ngerugiin kamu kaya mantanmu itu...ngga kan
Sri Murtini
Arlan...siapapun Gita kamu harus hati " bikin dia nyaman disisimu jgn sampai lepas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!