Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.
Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.
Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.
Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10: Business Plan
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah tirai sutra di kamar Amorette, jatuh menyinari lantai kayu yang berkilau. Gadis itu berbaring diam di atas ranjang empuknya, menatap langit-langit berhias ukiran rumit tanpa berkedip sedikit pun. Sejak bangun tidur, perasaannya terasa gelisah, sangat gelisah. Kejadian kemarin di pesta ulang tahun Elarise terputar berulang kali di kepalanya bagaikan rekaman yang tidak mau berhenti.
Biasanya, setelah acara besar seperti itu, Amorette akan segera bergegas ke perpustakaan untuk menambah wawasan atau mempelajari hal baru. Namun hari ini, ketertarikannya pada buku-buku tebal itu sirna seketika. Ia tidak punya semangat untuk belajar, tidak punya semangat untuk melakukan apa pun selain berbaring. Ia berniat menghabiskan hari ini hanya dengan beristirahat total, memulihkan tenaga dan pikirannya yang lelah berakting. Namun, niat itu seketika buyar saat Lily masuk membawa sebuah amplop tertutup berwarna abu-abu dengan segel lilin bergambar elang—lambang Kerajaan Remington.
Amorrette segera duduk dan meraih surat itu. Isinya singkat namun jelas: Ada hal penting yang harus dibicarakan. Temui aku di perbatasan kota, di kedai kecil dekat gerbang selatan. Segera.
Tanda tangannya samar, namun ia mengenali gaya tulisan itu. Itu dari Algernon.
Dengan berat hati namun penuh rasa ingin tahu, Amorette bangkit dari ranjangnya. Ia tahu, jika Algernon memanggil, itu pasti bukan hal sepele.
"Esther, Lily, bersiaplah. Aku butuh bantuan kalian untuk bersiap-siap keluar," ucapnya pelan.
Ia memilih gaun berwarna sampanye yang lembut, kainnya berkilau samar saat terkena cahaya, memberikan kesan elegan namun tidak berlebihan. Di bagian dada, gaun itu dihiasi pita sederhana yang bertatahkan permata kecil berwarna putih, cukup untuk menunjukkan status bangsawannya namun tidak mencolok.
Esther menyusun rambutnya menjadi gulungan rendah yang rapi, membiarkan beberapa helai rambut jatuh membingkai wajahnya, sementara Lily menyiapkan kipas lipat halus dan payung berenda untuk melindungi kulit tuannya dari terik matahari.
Sambil duduk diam membiarkan pelayannya merapikan penampilan, pikiran Amorette kembali melayang ke kejadian kemarin.
Ia teringat tatapan mata Theodore yang penuh emosi, penolakan tegasnya terhadap gagasan pertunangan baru, dan bagaimana pemuda itu mengejarnya hingga ke ruang rahasia. Di dalam cerita asli, Theodore adalah orang yang paling membencinya setelah mengetahui segala kejahatan yang dilakukan Amorette kepada Elarise. Namun kenyataannya... sebelum rasa benci itu tumbuh, saat mereka masih kecil, Theodore sebenarnya sangat menyukai Amorette. Ia mengingat sisa-sisa ingatan pemilik tubuh ini: saat mereka berusia sepuluh tahun, Theodore sering mengejar-ngejarnya, memberinya bunga, dan berkata bahwa Amorette adalah gadis tercantik yang pernah ia temui. Rasa suka itu perlahan berubah menjadi kecewa dan benci mendalam hanya karena serangkaian fitnah dan perbuatan jahat yang dipelintir.
Dan sekarang... batin Amorette sambil menghela napas panjang. Sekarang aku ada di sini, menggantikan sosok itu. Aku sopan, aku cerdas, aku tidak lagi menyakiti Elarise. Jadi... apakah aku ini adalah sosok Amorette yang selalu diinginkan Theodore sejak dulu? Sosok yang ia kagumi sebelum semua keburukan itu muncul?
Amorette kembali menghela napasnya.
Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi karena penolakanku itu. Semoga dia tidak berubah menjadi lebih obsesif atau berbuat nekat karena rasa penasarannya semakin tinggi, gumamnya dalam hati, merasa sedikit khawatir namun tahu bahwa keputusannya menjauh dari Theodore adalah langkah paling aman demi bertahan hidup.
Setelah segala sesuatunya siap, Amorette berangkat. Ia berjalan kaki keluar dari gerbang samping istana agar tidak menarik perhatian, ditemani Lily yang berjalan setia di sampingnya membawa payung. Sesampainya di tempat yang ditentukan, sebuah restoran kecil yang nyaman dan tenang di pinggiran kota, Amorette segera melihat sosok Algernon yang sudah menunggu di sudut ruangan yang agak gelap dan tersembunyi.
Amorette masuk dengan anggun, membuka kipasnya sedikit untuk menutupi bagian bawah wajahnya—kebiasaan lama untuk menjaga privasi—lalu duduk di hadapan Algernon. Lily berdiri tepat di belakang kursi tuannya, sikapnya waspada namun tenang.
Algernon menatap Lily sekilas, lalu menatap Amorette dengan nada datar dan sedikit protes. "Apa perlu membawa pelayanmu itu? Bukankah kita membicarakan hal rahasia? Aku tidak mau citraku atau rencana kita ketahuan oleh pelayan istana."
Amorette tersenyum tipis, melambaikan kipasnya dengan gerakan santai.
"Tidak apa-apa, Jasper. Bukankah aku sudah menceritakan segalanya padamu tentang dia? Lily adalah satu-satunya orang yang rela berkorban mati demi Amorette di dalam cerita asli. Dia setia, dia jujur, dan dia sama sekali tidak akan mengkhianatiku. Dia lebih aman daripada dinding-dinding ruangan ini," jawabnya tenang, lalu langsung bertolak pada inti pertemuan itu. "Lalu, apa yang ingin kau bicarakan sampai harus memanggilku ke sini?"
Algernon mencondongkan badannya ke depan, menyingkirkan cangkir teh di depannya seolah itu penghalang. Sorot matanya yang biasanya santai kini berubah tajam dan serius, kembali menjadi sosok CEO yang haus strategi.
"Ini tentang bisnis. Dan ini peluang besar pertama kita," bisiknya pelan. "Setelah kejadian kemarin, saat aku berbicara panjang lebar dan menunjukkan perubahanku di depan umum, Raja August sangat terkesan. Saat kami kembali ke kediaman kami di malam harinya, beliau membawaku ke ruang kerja pribadinya dan berbicara tentang banyak hal. Salah satunya adalah mengenai tambang emas besar yang dimiliki keluargaku di daerah pegunungan utara Kerajaan Remington."
"Lalu?" Amorette menaikkan satu alisnya, tertarik. "Ada masalah dengan tambang itu?"
"Tidak ada masalah, justru sebaliknya. Tambang itu sangat kaya, sangat besar, namun hasilnya belum dimaksimalkan. Beliau mengeluh bahwa banyak bangsawan yang menguasai jalur perdagangan, sehingga keuntungan keluarga kerajaan sering kali tergerus oleh para penengah. Raja August menginginkan seseorang yang cerdas, bisa dipercaya, dan berwawasan luas untuk mengurus pemasaran dan perdagangan hasil tambang itu. Dan... dia menunjukku sebagai orang yang akan memimpin proyek itu."
Algernon melirik sekilas ke arah Lily yang berdiri diam di belakang Amorette, matanya kosong dan tatapannya lurus ke depan, seolah sama sekali tidak mendengar atau mengerti apa pun yang dibicarakan tuannya dan tamunya. Meski ia tahu kesetiaan gadis itu, namun ini adalah hal yang terlalu besar, terlalu berisiko jika sampai terdengar oleh telinga lain, meski hanya desas-desus.
Amorette mengerti kekhawatiran itu. Ia menoleh ke belakang, menatap wajah polos Lily, lalu tersenyum ramah. Ia mengambil sebuah kantung kain tebal dari dalam saku gaunnya, lalu menyodorkannya ke gadis itu.
"Lily, ambil ini. Di dalamnya ada 100 koin emas. Pergilah berkeliling kota, beli apa pun yang kau suka, makan apa pun yang kau inginkan, dan nikmati waktumu," ucap Amorette lembut.
Mata Lily membelalak besar, berbinar terang bagaikan bintang. Ia menerima kantung itu dengan tangan gemetar, tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Seratus... seratus koin emas?! Tuan Putri, ini terlalu banyak! Terima kasih! Terima kasih banyak, Yang Mulia!" serunya bersemangat sambil membungkuk berulang kali. "Apakah sisanya boleh kusimpan? Aku belum pernah memegang uang sebanyak ini seumur hidupku!"
Amorette tertawa pelan, mengangguk mengizinkan. "Tentu saja. Uang itu milikmu sekarang. Pergilah, kembali lagi ke sini sekitar satu jam lagi. Jangan khawatirkan aku."
Lily kembali mengucapkan terima kasih berkali-kali dengan riang, lalu bergegas keluar dari kedai itu dengan langkah melompat-lompat karena gembira, meninggalkan Amorette dan Algernon berdua saja.
"Baiklah," ucap Amorette sambil merapikan lipatan gaunnya, kembali fokus. "Sekarang, kembali ke rencanamu. Apa hubungan tambang emas itu dengan kita?"
Algernon mengubah posisi duduknya menjadi lebih santai namun tetap serius.
"Rencana utamaku adalah: kita harus membangun citra yang bagus di mata para bangsawan dan pedagang. Agar mereka mau bekerja sama, mau menjadi mitra bisnis kita, dan mau mendukung kita. Dengan modal kepercayaan Raja August dan kekayaan tambang itu, kita bisa mulai bergerak. Aku ingin kau ikut terlibat di dalamnya. Kita berdua yang akan mengelola pemasaran emas itu ke kerajaan-kerajaan tetangga."
Amorette langsung mengerutkan keningnya, ekspresi enggan terlihat jelas di wajahnya.
"Aku harus bersosialisasi? Berurusan dengan para bangsawan itu? Berpura-pura ramah, tersenyum pada orang yang tidak aku sukai, dan mengobrolkan hal-hal yang tidak berguna?"
"Apakah seburuk itu?" Algernon menatapnya dengan tatapan mengejek sambil tersenyum miring.
"Tentu saja!" seru Amorette sedikit keras, lalu segera merendahkan suaranya kembali. "Mereka semua sangat bermuka dua, Jasper! Di depanmu mereka memuji-muji, di belakangmu mereka menggunjingkan. Mereka penuh intrik, penuh kepalsuan, dan aku... aku tidak sanggup berpura-pura seperti itu terus-menerus. Bagaimana kalau aku harus melakukan itu bertahun-tahun? Entah sampai kapan?!"
Algernon terdiam sejenak, menatap keluar jendela kecil ke arah jalanan kota yang ramai.
"Entahlah... sampai kita mencapai akhir yang bahagia? Atau sampai kita bisa menemukan cara untuk kembali ke dunia kita semula?" jawabnya pelan, namun nada bicaranya terdengar ragu.
"Itu tidak mungkin..." Amorette menggeleng lemah, matanya menerawang jauh. "Kita sudah mati di sana. Tubuh kita sudah hancur. Kembali ke dunia kita berarti... berarti kita harus mati lagi di sini. Dan aku tidak mau mati, Jasper. Aku baru saja mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup."
"Sudahlah," potong Algernon lembut, nada suaranya berubah menjadi menenangkan dan logis. "Berpura-pura memang sulit di awal. Kau benci berpura-pura, aku juga sama. Di duniaku, aku jujur dan tegas, tidak suka basa-basi. Tapi kita harus terbiasa, Autumn. Kita ada di sini untuk bertahan hidup, 'kan? Dan untuk bertahan hidup di dunia kerajaan ini, kekuatan saja tidak cukup. Uang dan pengaruh jauh lebih kuat daripada pedang apa pun."
Amorette terdiam, membiarkan nasihat itu meresap ke dalam benaknya. Pikirannya kembali bekerja secara logis, menganalisis untung dan rugi.
Dia benar, batinnya. Aku adalah anggota keluarga kerajaan, seorang putri. Tanpa kekayaan dan kekuasaan, aku hanya akan menjadi boneka yang bisa dijadikan tumbal kapan saja. Jika aku ingin hidup aman, aku harus punya kekuatan sendiri. Dan kekuatan itu datang dari uang dan koneksi.
"Baiklah," jawabnya akhirnya, menghela napas panjang pasrah namun tegas. "Kau benar. Itu akan jadi rencana yang bagus. Kita akan membangun citra, kita akan berbisnis. Lalu, apa selanjutnya setelah kita menguasai perdagangan emas?"
Algernon tersenyum penuh rencana besar, matanya berkilat seperti saat ia masih menjadi penguasa bisnis di dunia asalnya.
"Setelah kita menjalin jaringan luas dan mendapatkan keuntungan dari hasil tambang keluargaku... kita mulai membangun bisnis kita sendiri. Bisnis yang sepenuhnya milik kita, di luar pengetahuan kerajaan. Bisnis yang belum pernah ada di dunia ini, sesuatu yang baru, yang pasti akan dicari oleh semua orang dari kalangan bawah hingga bangsawan tertinggi."
Ia berhenti sejenak, seolah sedang memikirkan ide brilian apa yang cocok diterapkan di dunia abad pertengahan ini.
"Bagaimana dengan menjual makanan?" tanya Amorette tiba-tiba, teringat akan pengetahuannya yang luas soal kuliner dan pengolahan bahan pangan.
Algernon menepuk meja pelan, wajahnya bersinar gembira.
"Ide yang sangat brilian! Makanan adalah kebutuhan dasar, sesuatu yang selalu dibutuhkan setiap hari, tidak peduli apakah negara sedang damai atau perang, apakah orang kaya atau miskin. Ini adalah bisnis jangka panjang yang paling aman dan paling menguntungkan. Dan lebih hebatnya lagi..." Algernon mencondongkan badannya semakin dekat, berbisik penuh semangat. "Bagaimana jika kita membuat dan menjual makanan, minuman, atau camilan yang berasal dari dunia kita? Resep-resep yang hanya kita berdua yang tahu, rasa yang belum pernah dicicipi siapa pun di benua ini?"
Amorette tersenyum lebar, senyum penuh makna dan ambisi yang sama besarnya dengan senyum di wajah Algernon. Ia membayangkan berbagai jenis kue, minuman manis, bumbu masakan, hingga cara pengolahan yang canggih yang ada di ingatannya.
"Itu ide yang sangat bagus, Jasper!" ucapnya antusias. "Kita bisa memulai dengan makanan ringan yang mudah dibuat, lalu perlahan mengembangkannya menjadi restoran mewah, lalu memproduksi bahan makanan yang awet disimpan. Kita bisa menjadi orang terkaya di benua ini sebelum mereka sempat sadar!"
"Dan dengan uang itu, kita bisa membeli kesetiaan, membangun pasukan sendiri, mengumpulkan informasi, dan yang paling penting... kita bisa mengubah nasib kita sepenuhnya," tambah Algernon menutup pembicaraan, sementara di luar sana, matahari semakin meninggi, menandakan dimulainya babak baru perjuangan mereka berdua untuk mengubah takdir.