NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Sementara itu, di sebuah kafe mewah di sudut kota yang berbeda, suasana tampak kontras dengan kehangatan yang sedang tercipta di kediaman Bramantyo.

Musik jazz mengalun lambat, menemani Albert yang duduk bersandaran di kursi kulit sembari mengaduk cangkir kopinya dengan pandangan kosong.

Di hadapannya, duduk Linda—sahabat sekaligus wanita selingkuhan yang malam sebelumnya menjadi pemicu hancurnya hubungan Albert dan Jihan.

Linda yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik kekasih itu perlahan menopang dagu, menatap Albert dengan sepasang mata yang curiga.

"Albert..." panggil Linda dengan nada manja yang sedikit menuntut.

"Apakah kamu masih memikirkan wanita babi itu?"

Albert tersentak dari lamunannya. Mendengar sebutan tentang Jihan, rahangnya sempat mengeras sesaat. Namun, ego dan kesombongannya dengan cepat mengambil alih.

Albert menegakkan posisi duduknya, lalu menggelengkan kepalanya dengan tegas.

"Tidak. Untuk apa aku memikirkan dia?" jawab Albert dengan nada meremehkan, mencoba meyakinkan diri sendiri.

"Aku justru bersyukur dia menangkap basah kita semalam. Dengan begitu, aku tidak perlu repot-repot mencari alasan untuk memutuskan hubungan dengannya."

Linda tersenyum puas, ia mengulurkan tangannya di atas meja untuk mengusap jemari Albert.

"Baguslah kalau begitu. Kamu itu tampan dan punya masa depan, Albert. Kamu pantas mendapatkan wanita yang modis dan sepadan sepertiku, bukan wanita bertubuh subur yang kerjanya hanya tahu cara memasak dan makan seperti dia."

Albert membalas senyuman Linda dan mengangguk setuju.

"Kamu benar. Lagipula, tanpa aku, Jihan tidak akan bisa mendapatkan lelaki lain. Uangnya pasti sudah habis total karena dia selalu membelikanku ini-itu. Kita lihat saja seberapa lama dia bisa bertahan hidup sambil menangis meratapi nasibnya di luar sana."

Albert terkekeh sinis, membayangkan Jihan saat ini pasti sedang mengurung diri di rumah sederhananya dengan air mata yang berlinang karena patah hati.

Lelaki itu sama sekali tidak pernah tahu, bahwa di saat ia sedang menyombongkan diri dan menertawakan kemiskinan Jihan, mantan kekasih yang dihina-hinanya itu justru baru saja menerima mahar fantastis puluhan juta dollar, dan kini telah resmi menjadi ratu penguasa di istana megah seorang CEO nomor satu di kota ini.

Keesokan paginya, jarum jam di dinding kamar utama baru menunjukkan pukul empat pagi.

Suasana di luar masih gelap gulita dan udara pagi terasa sangat menusuk tulang.

Jihan perlahan membuka matanya.

Ia menoleh ke samping dan mendapati Darren, suaminya, masih tertidur dengan sangat pulas.

Napas pria paruh baya itu terdengar teratur dan wajahnya tampak begitu damai tanpa beban. Jihan tersenyum manis.

Ia memajukan tubuhnya sedikit, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut yang penuh rasa sayang di kening suaminya.

Setelah itu, Jihan segera beranjak dari tempat tidur.

Ia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri, menunaikan ibadah sholat subuh dengan khusyuk, dan langsung bergegas menuju ke dapur utama.

"Selamat pagi, Bibi," sapa Jihan dengan suara ceria saat mendapati Bibi Diana baru saja menyalakan lampu dapur.

Bibi Diana tersentak kaget, ia mengerjapkan matanya tidak percaya melihat nyonya barunya sudah rapi di dapur sepagi ini.

"S-selamat pagi, Nyonya Jihan. Pagi sekali Anda sudah bangun," ucap Bibi Diana dengan nada sungkan sekaligus kagum.

"Mendiang Nyonya Sarah dulu selalu bangun siang dan menyerahkan semua urusan pagi kepada kami."

Jihan tersenyum tipis sambil menggulung lengan bajunya.

"Mulai hari ini, Bi, saya ingin membuat perubahan baru di rumah ini. Kita harus membiasakan suasana pagi yang sehat dan produktif."

Jihan mulai membuka lemari pendingin dan menatap bahan makanan yang tersedia.

"Bi, tolong ambilkan roti tawar dan daging asap. Saya ingin membuat bekal sandwich yang padat gizi untuk anak-anak."

"Baik, Nyonya," sahut Bibi Diana dengan sigap.

"Lalu untuk Mas Darren, saya minta tolong Bibi buatkan bubur ayam yang lembut agar ramah untuk lambungnya. Dan tolong siapkan segelas susu kedelai hangat, ya. Mulai hari ini, kurangi konsumsi kopi untuk Mas Darren agar jantungnya tidak berdebar terlalu kencang," instruksi Jihan dengan sangat detail, menunjukkan perhatiannya yang luar biasa sebagai seorang istri.

Bibi Diana mengangguk-angguk takzim, merasa tersentuh dengan kepedulian Jihan pada kesehatan sang majikan.

Sebelum mulai mengoles mentega ke rotinya, Jihan berjalan menuju ke arah pintu belakang dan jendela-jendela besar di area dapur.

Ia membukanya lebar-lebar, membiarkan angin fajar yang segar masuk ke dalam rumah mewah yang semula terasa pengap itu.

"Dan satu lagi, Bi. Selalu buka pintu dan jendela setiap pagi, ya. Biarkan udara segar bertukar, agar malaikat pembawa rezeki dan berkah mau masuk ke rumah kita," ucap Jihan lembut dengan filosofi sederhananya.

Bibi Diana tersenyum tulus dan menganggukkan kepalanya dengan hormat.

"Baik, Nyonya Jihan. Saya mengerti."

Dengan kerja sama yang kompak, dapur kediaman Bramantyo pagi itu mulai dipenuhi oleh kehangatan dan aroma masakan yang menggugah selera.

Jihan bersiap, karena sebentar lagi jam dinding akan menunjukkan pukul enam pagi, waktu di mana ia harus membangunkan ketiga anak tirinya dengan cara yang tidak akan pernah mereka lupakan.

Setelah semua urusan dapur selesai dan bekal telah tertata rapi di dalam kotak makanan, Jihan kembali melangkah masuk ke dalam kamar utama.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul lima pagi.

Ia berjalan mendekati ranjang, lalu menggoyang pelan bahu suaminya.

"Selamat pagi, Mas. Ayo bangun. Mas belum sholat subuh, lho. Nanti keburu kesiangan," ucap Jihan dengan suara lembut di dekat telinga Darren.

Darren melenguh pelan, perlahan membuka kedua matanya.

Hal pertama yang ia lihat adalah wajah segar istrinya yang sudah rapi dan wangi.

Sebuah senyuman langsung terukir di bibir paruh bayanya.

"Sayang, kamu sudah sangat cantik sekali pagi ini," gumam Darren dengan suara serak khas bangun tidur, mencoba meraih tangan Jihan.

Wajah Jihan seketika merona merah, namun ia langsung menepis pelan tangan suaminya sambil berkacak pinggang.

"Mas! Jangan ngegombal pagi-pagi begini. Cepat bangun, setelah ini aku masih harus membangunkan anak-anak."

Darren terkekeh pelan. Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang, menatap Jihan dengan tatapan yang begitu dalam dan penuh rasa syukur.

"Sayang, terima kasih untuk segalanya, dan..."

Chup.

Jihan seketika membelalakkan matanya dengan sempurna.

Kalimat Darren terputus karena pria paruh baya itu tiba-tiba menarik tengkuknya dan mendaratkan sebuah kecupan manis tepat di bibir Jihan.

Kejutan pagi itu sukses membuat seluruh sistem di otak Jihan mendadak stuck alias gagal merespons.

Sebelum Jihan sempat melayangkan protes atau pukulan gemasnya, Darren sudah melompat bangkit dari tempat tidur dengan tawa renyah yang menghiasi wajah tampannya, lalu segera berlari masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

Jihan mengusap bibirnya yang terasa hangat sambil menggelengkan kepala, senyum tipis tidak bisa disembunyikan dari wajah suburnya.

"Dasar CEO mesum," bisiknya geli.

Namun, senyuman ramah Jihan langsung lenyap begitu ia keluar dari kamar utama dan menatap lorong deretan kamar ketiga anak tirinya.

Suasana di sana masih sangat sepi, sekamar pun tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Jihan mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan tenaga, lalu berjalan mantap menuju kamar pertama. Kamar Andre, si anak sulung.

BRAK!

BRAK!

BRAK!

Jihan menggedor pintu kamar Andre dengan kekuatan penuh menggunakan telapak tangannya yang kokoh, membuat pintu kayu solid itu bergetar hebat.

"Ayo bangun!! Andre, Riko, Angela! Bangun semuanya!! Tidak ada yang boleh bermalas-malasan di rumah ini! Cepat bangun!" teriak Jihan dengan suara lantang yang menggelegar ke seluruh penjuru lorong rumah mewah itu.

Tidak puas hanya di kamar Andre, Jihan bergeser menggedor kamar Riko dan Angela bergantian dengan ritme yang sama kerasnya seperti ketukan marching band.

Dari dalam kamar, terdengar suara gerutuan frustrasi dan langkah kaki yang dihentak-hentakkan dengan kesal.

Ketiga anak manja itu akhirnya terpaksa terjaga dari tidur nyenyak mereka karena gedoran maut dari sang ibu tiri baru.

Pintu ketiga kamar itu akhirnya terbuka hampir bersamaan.

Andre, Riko, dan Angela melangkah keluar dengan rambut acak-acakan, mata yang masih setengah terpejam, dan wajah bantal yang sepenuhnya ditekuk masam.

Mereka bertiga langsung mengepung Jihan di lorong dengan tatapan penuh permusuhan.

"Heh, Gajah! Bisa santai sedikit tidak kalau membangunkan orang?!" omel Andre dengan suara serak khas bangun tidur, melotot ke arah Jihan.

"Ini baru jam berapa? Kampret benar, telingaku rasanya mau pecah!"

"Iya! Sopan santun kamu di mana, sih? Sengaja ya mau merusak waktu tidur kami?" timpal Riko sembari mengucek matanya gusar, masih merasakan sisa pegal di bokongnya akibat pukulan sapu semalam.

Angela tidak mau kalah, ia bersedekap dada dan menatap Jihan dari atas ke bawah dengan pandangan muak.

"Benar-benar ibu tiri berandalan! Norak tahu tidak! Di rumah ini tidak ada sejarahnya orang bangun jam segini!"

Menghadapi rentetan omelan dan makian dari ketiga anak manja itu, Jihan sama sekali tidak gentar.

Ia justru melipat kedua tangannya di bawah dada, menatap mereka satu per satu dengan senyuman tenang yang sarat akan kemenangan.

Jihan melirik jam tangan digital yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Sudah selesai mengomelnya?" tanya Jihan santai.

"Kalau sudah, sekarang dengarkan Mama baik-baik. Lekas mandi dan bersiap sekarang juga, atau, tidak akan ada uang saku sepeser pun untuk kalian hari ini. Ingat, dua juta sebulan itu bisa langsung dipotong per hari kalau kalian membangkang."

Mendengar kata 'potong uang saku', Andre yang tadinya hendak menyemburkan makian lagi langsung terbungkam. Kalimatnya tertahan di tenggorokan.

Riko dan Angela pun seketika melotot panik. Fasilitas mobil sudah ditarik, kartu kredit sudah dibekukan, dan jika uang saku harian mereka juga ikut ditahan, mereka benar-benar akan menjadi gelandangan kelas atas di lingkungan elite ini.

Jihan benar-benar tahu di mana letak kelemahan terbesar mereka: dompet.

"Mama hitung sampai tiga. Kalau belum ada yang bergerak ke kamar mandi, jatah hari ini hangus," ancam Jihan lagi dengan nada yang sangat lempeng namun mematikan.

"Satu..."

"Ishhh... MENYEBALKAN!!" teriak Andre, Riko, dan Angela secara kompak bertiga dengan suara melengking frustrasi.

Tanpa komando lagi, ketiganya langsung berbalik arah dan membanting pintu kamar masing-masing dengan keras untuk berebut mandi.

Jihan yang berdiri sendirian di lorong langsung mengulas senyum puas.

"Bagus, kerja sama yang kompak," gumam Jihan geli, lalu berjalan kembali ke ruang makan untuk menemani suaminya yang pasti sudah selesai bersiap.

1
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!