Di dunia di mana batas tertinggi manusia hanyalah Saint Rank, Sander Duster—putra ketiga keluarga militer terkuat di Elegrand Kingdom—dianggap gagal karena tidak memiliki bakat Life Energy seperti para ksatria lain. Namun takdirnya berubah saat ia menyelamatkan seekor kucing hitam misterius di tengah badai salju.
Kucing itu ternyata adalah Behemoth, salah satu Legendary Beast pemegang Hukum Devouring yang hampir memusnahkan dunia di masa lalu.
Melalui ikatan Soul Resonance yang tak disengaja, Sander perlahan memperoleh kekuatan fisik abnormal yang melampaui logika manusia biasa. Di balik kehidupan akademi, intrik politik bangsawan, ancaman perang antar kerajaan, dan kebangkitan monster legendaris mulai mengguncang dunia.
Saat semua orang memperebutkan kekuasaan, Sander justru berjalan menuju sesuatu yang belum pernah dicapai siapa pun dalam sejarah—
God Rank, ranah sang Dewa Perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Beban Sebilah Pedang
Hamparan salju putih menutupi seluruh permukaan lapangan latihan utama Kastil Aethelgard. Angin musim dingin yang berembus dari arah pegunungan utara membawa serpihan es yang menusuk kulit, namun hawa dingin tersebut sama sekali tidak mengurangi intensitas pertarungan yang sedang berlangsung di tengah lapangan. Dua sosok pemuda bergerak dengan kecepatan tinggi, menciptakan dentingan logam yang bergema konstan di antara dinding batu kastil yang kokoh. Lapangan luas yang biasanya digunakan untuk apel prajurit itu kini berubah menjadi panggung unjuk kekuatan yang memukau.
Aron Duster, putra sulung klan Duster yang berusia dua puluh dua tahun, berdiri dengan kuda-kuda yang sangat stabil di atas lapisan es. Kedua tangan kokohnya menggenggam sepasang pedang kembar yang memancarkan aura dingin berwarna putih keperakan. Sebagai seorang ksatria yang telah mencapai ranah Master Rank di usia muda, setiap pergerakan Aron dipenuhi dengan efisiensi mematikan khas prajurit perbatasan utara yang kaku dan disiplin. Tidak ada gerakan yang sia-sia, tidak ada napas yang terbuang percuma. Setiap ayunan pedangnya adalah kalkulasi matang dari latihan bertahun-tahun.
Di hadapannya, Brian Duster yang berusia sembilan belas tahun merangsek maju dengan beringas. Genggaman tangannya pada gagang tombak panjang miliknya begitu erat, mengalirkan Life Energy yang bergejolak cepat. Brian adalah tipe petarung yang energetik dan penuh dengan kejutan. Dengan satu sentakan kuat, Brian memutar tombaknya, menciptakan lingkaran angin yang mengusir serpihan salju di sekitarnya, lalu mengarahkan tusukan beruntun yang sangat cepat ke arah dada kakak tertuanya.
"Aron! Sambut ini!" seru Brian dengan seringai lebar di wajahnya.
Dentingan keras kembali tercipta saat Aron menyilangkan sepasang pedang kembarnya, menahan mata tombak Brian tepat beberapa senti di depan dadanya. Tekanan Life Energy dari benturan tersebut menciptakan gelombang kejut kecil yang menyapu bersih lapisan salju di sekitar kaki mereka, memperlihatkan permukaan batu hitam lapangan yang membeku. Aron tidak bergeming sedikit pun, matanya menatap tenang pada ujung tombak adiknya yang bergetar menahan tekanan balik.
Di sudut lapangan latihan, di bawah perlindungan atap kayu menara pengawas, seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun sedang berdiri tegak dengan kedua tangan menggenggam sebuah pedang kayu latihan. Anak itu adalah Sander Duster. Mata hitamnya menatap tanpa berkedip pada setiap pertukaran tebasan, tangkisan, dan tusukan yang diperagakan oleh kedua kakaknya. Sander mencoba mengingat setiap ritme, setiap perpindahan berat badan, dan bagaimana Life Energy dialirkan ke ujung senjata hingga menciptakan visualisasi aura yang mengintimidasi.
Sander menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin utara mengisi paru-parunya yang terasa kering. Dia mengangkat pedang kayu miliknya tinggi-tinggi di atas kepala, mencoba meniru teknik tebasan vertikal sempurna yang baru saja ditunjukkan oleh Aron. Sander mengencangkan otot-otot lengannya yang masih kecil, berniat mengalirkan sirkulasi internal tubuhnya untuk memicu Life Energy miliknya sendiri agar bisa melapisi permukaan kayu tersebut.
Namun, tepat saat dia mencoba mendorong energi hayatinya keluar dari pusaran pusat tubuhnya, seolah ada dinding raksasa tak terlihat di dalam pembuluh darahnya yang menolak aliran tersebut secara paksa. Sirkulasi internalnya mendadak berantakan dan menolak sirkulasi Life Energy elemental tradisional yang biasa diajarkan di klan mereka. Rasa sakit yang tajam dan panas mendadak menusuk bagian dadanya, membuat napas Sander tercekat. Tubuh kecil Sander kehilangan keseimbangan, pandangannya agak mengabur, kakinya terpeleset di atas permukaan salju yang licin, dan dia ambruk ke tanah dengan pedang kayu yang terlepas dari genggamannya.
Mendengar suara deburan keras di atas salju, Aron dan Brian langsung menghentikan duel mereka seketika. Sepasang pedang kembar Aron kembali masuk ke dalam sarungnya dengan kecepatan yang hampir tidak terlihat, sementara Brian langsung menancapkan ujung bawah tombaknya ke tanah untuk menahan momentum gerakannya. Tanpa memedulikan sisa hawa bertarung yang masih menyelimuti tubuh mereka, kedua ksatria muda itu bergegas berlari mendekati adik ketiga mereka.
"Sander!" Brian berteriak panik, langsung berlutut di atas salju yang dingin dan mengangkat tubuh kecil Sander dari gumpalan es.
Aron berdiri di samping mereka, wajahnya yang biasanya kaku, dingin, dan tanpa ekspresi kini memancarkan kecemasan yang sangat jelas. Dengan tangan kanannya yang dibungkus sarung tangan kulit tebal, Aron dengan telaten membersihkan sisa-sisa salju yang menempel di pakaian wol dan rambut hitam Sander. Matanya dengan cepat memindai tubuh adiknya untuk mencari tanda-tanda cedera fisik yang serius.
"Apa ada yang terluka? Di mana yang sakit, Sander? Katakan pada Kakak," tanya Brian dengan nada suara yang tidak lagi beringas seperti saat bertarung tadi, melainkan penuh dengan kehangatan dan kelembutan seorang kakak.
Sander menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengatur napasnya kembali normal sambil menatap kedua kakaknya dengan tatapan sedikit frustrasi. "Aku tidak apa-apa, Kak Brian. Hanya saja, tubuhku kembali menolak energi itu saat aku mencoba mengalirkannya ke pedang. Rasanya seperti menabrak dinding batu."
Aron mengambil pedang kayu yang tergeletak beberapa langkah di atas salju, memeriksa apakah ada bagian yang patah, lalu menepuk pundak Sander dengan sangat lembut. "Jangan memaksakan diri jika sirkulasi tubuhmu belum siap, Sander. Berdirilah, salju ini terlalu dingin untuk diduduki terlalu lama." Aron mengulurkan tangan kuatnya dan membantu Sander untuk kembali tegak di atas kedua kakinya.
Meskipun suasana di lapangan latihan tersebut bisa saja berubah menjadi suram karena kegagalan Sander merasakan atau memicu energi dasar Pawn Rank, Aron dan Brian sama sekali tidak menunjukkan raut kekecewaan, ejekan, atau rasa malu. Bagaimanapun, di mata dunia luar, seorang anak dari klan Duster yang tidak bisa memicu Life Energy di usia sembilan tahun adalah sebuah aib. Namun tidak di sini, tidak di antara sesama saudara Duster.
Sebaliknya, Brian justru merangkul leher Sander dengan akrab, menariknya mendekat dan mengajaknya berjalan kembali menuju bangunan utama kastil sembari terus memberikan kata-kata penyemangat yang konyol. "Ah, lagipula pedang itu terlalu membosankan, Sander. Suatu hari nanti aku akan mengajarimu cara menggunakan tombak. Teknik tombak milikku jauh lebih hebat dan keren daripada pedang kembar kaku milik Aron, kau akan lihat sendiri nanti!" kata Brian sambil tertawa lebar, mencoba mencairkan kekecewaan di hati adiknya. Aron yang berjalan di sisi lain hanya bisa mendengus pelan mendengar bualan adiknya, namun sebuah senyuman tipis yang sangat langka muncul di sudut bibirnya.
Beberapa saat kemudian, setelah Sander membersihkan diri dan mengganti pakaian latihannya yang basah oleh salju, dia berjalan melintasi koridor kastil yang panjang menuju ruang kerja utama milik ayahnya, Grand Duke Gabriel Duster. Kastil Aethelgard selalu dipenuhi oleh atmosfer militer yang sangat kental. Barisan ksatria penjaga berzirah besi tebal berdiri tegak dan kaku di setiap sudut koridor, memegang tombak-tombak panjang dengan tatapan waspada. Namun, bagi Sander, koridor-koridor batu yang dingin ini adalah rumah yang paling aman di seluruh benua.
Sander mengetuk pintu kayu ek besar di depan ruang kerja tersebut dengan ritme yang teratur sebelum melangkah masuk bersama kedua kakaknya. Di dalam ruangan yang hangat oleh nyala api yang menari-nari dari tungku dinding, Grand Duke Gabriel Duster sedang duduk di balik meja kerja besar yang dipenuhi tumpukan dokumen. Di atas meja tersebut tersebar berbagai peta logistik wilayah utara, laporan cuaca ekstrem, dan dokumen militer rahasia mengenai pergerakan pasukan dari Vorthamere Kingdom di perbatasan luar.
Gabriel mendongak dari dokumennya, melihat ketiga anak laki-lakinya melangkah masuk ke dalam ruangan. Seketika itu juga, raut wajah tegas, dingin, dan mengintimidasi dari seorang panglima tertinggi militer nomor satu Elegrand Kingdom langsung melunak. Gabriel berdiri dari kursi besarnya, tubuhnya yang raksasa, tegap, dan penuh bekas luka perang kini dibalut pakaian beludru tebal yang nyaman tanpa zirah perang "Frostbringer" miliknya yang terkenal menakutkan bagi para musuh.
"Ah, kalian semua sudah selesai berlatih? Bagaimana perkembangannya hari ini?" suara Gabriel menggema berat dan dalam di seluruh ruangan, namun suara itu sarat akan kasih sayang seorang ayah yang tulus.
Sander berjalan mendekat ke arah meja kerja, sementara Aron dan Brian mengambil posisi berdiri dengan sikap tegap dan penuh hormat di belakang adik bungsu mereka. Di sudut lain ruangan yang dihiasi karpet bulu beruang kutub, duduk sesosok wanita dengan keanggunan yang luar biasa mutlak. Wanita itu adalah Grand Duchess Lyora Duster, ibu mereka. Lyora sedang menyeduh teh dengan gerakan yang sangat lembut, tenang, dan anggun, seolah-olah dia hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang lemah, berhati lembut, dan tidak memahami sama sekali bagaimana kerasnya dunia militer serta pertumpahan darah di luar sana.
Gabriel menatap ketiga anak lelakinya dengan pandangan bangga, lalu berjalan memutari meja kerjanya untuk mendekati mereka. Tatapan mata sang Grand Duke sempat tertuju pada pedang kayu yang masih dipegang erat oleh Sander di tangan kanannya. Gabriel tentu saja sudah mengetahui tentang kondisi sirkulasi internal Sander yang selalu menolak energi hayati tradisional dari laporan para tabib kastil, namun tidak ada sedikit pun kilatan amarah, kekecewaan, atau penghinaan di mata pria yang telah memegang ranah legendaris Saint Rank tersebut.
Gabriel meletakkan kedua telapak tangannya yang besar dan kasar di atas pundak Aron dan Brian, lalu menatap mereka bergantian hingga pandangannya berhenti dan mengunci pada mata hitam Sander. Gabriel menarik napas dalam, bersiap menanamkan sebuah doktrin mutlak klan mereka yang tidak tertulis di buku sejarah mana pun kepada anak-anak lelakinya.
"Dengarkan aku baik-baik, anak-anakku," kata Gabriel dengan nada suara yang beralih menjadi sangat serius, mendalam, dan penuh penekanan. "Kalian dilahirkan di bawah nama besar klan Duster. Di luar sana, di seluruh penjuru Elegrand Kingdom, orang-orang mengenal kita sebagai pedang terkuat kerajaan. Mereka melihat kita sebagai monster perang yang bertarung di garis depan demi menghancurkan musuh, menghalau badai, dan membantai monster-monster perbatasan."
Gabriel berhenti sejenak, melirik sekilas ke arah istrinya, Lyora, yang saat itu sedang tersenyum sangat lembut sembari meletakkan cangkir-cangkir teh di atas meja kecil di dekat sofa.
"Namun, ketahuilah satu hal ini. Kekuatan ksatria Duster yang sesungguhnya bukanlah ada untuk dipamerkan, digunakan demi kesombongan, atau untuk menindas yang lemah," lanjut Gabriel, suaranya kini dipenuhi getaran emosi yang kuat dan absolut. "Ibu kalian, Lyora, dan adik perempuan kecil kalian, Lilia, adalah wanita-wanita biasa yang rapuh. Mereka tidak memiliki zirah besi yang tebal, mereka tidak menggenggam pedang raksasa untuk melindungi diri mereka sendiri dari kekejaman dunia luar. Kekuatan yang kalian latih setiap hari di bawah badai salju, Life Energy yang kalian kumpulkan dengan susah payah hingga memecah ranah kekuatan, esensinya hanya ada untuk satu hal yang mutlak: menjadi perisai bagi kelembutan mereka."
Aron dan Brian mengangguk serentak dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh kepatuhan, kesetiaan, dan rasa hormat yang mendalam atas doktrin sang ayah. Mereka telah diajarkan sejak pertama kali bisa memegang senjata bahwa tugas utama seorang lelaki sejati dari klan Duster adalah melindungi keluarga mereka, menjaga kehangatan rumah mereka, bahkan jika harus mengorbankan nyawa sebagai taruhannya. Di perbatasan utara yang kejam ini, keluarga adalah segalanya.
Sander mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya dengan seksama. Meskipun dia tahu di dalam hatinya bahwa tubuhnya saat ini dinilai tidak memiliki bakat oleh para tetua kastil karena batu penguji elemental tidak pernah bereaksi sedikit pun saat disentuhnya, doktrin dari ayahnya membuat Sander merasakan sesuatu yang hangat menjalar di dadanya. Perkataan Gabriel membuatnya sadar bahwa dia tetap memiliki beban, kehormatan, dan tanggung jawab yang sama sebagai seorang Duster. Dia tidak boleh menyerah begitu saja dengan batasan tubuhnya. Sander bersumpah dalam hati bahwa dia harus mencari jalannya sendiri, metode kekuatannya sendiri, untuk menjadi perisai yang kokoh bagi orang-orang yang dicintainya.
Di sudut ruangan, Lyora Duster memperhatikan interaksi antara suami dan anak-anak lelakinya dengan senyuman yang sangat hangat di wajahnya yang luar biasa cantik. Dia berdiri dari duduknya, berjalan mendekat dengan gerakan yang begitu halus dan gemulai, membawa nampan berisi beberapa cangkir teh hangat yang mengepulkan uap wangi untuk suami dan anak-anaknya. Gerakannya yang tampak ringkih dan tanpa beban energi tersebut benar-benar memperkuat penyamarannya dengan sangat sempurna di depan anak-anaknya, seolah-olah dia benar-benar tidak memiliki setitik pun kemampuan atau kekuatan bertarung untuk membela diri.
"Minumlah teh ini selagi masih hangat. Latihan di bawah badai salju yang ekstrem tadi pasti membuat tubuh kalian sangat dingin," kata Lyora dengan nada suara yang begitu merdu dan lembut, seketika meredakan atmosfer militer yang sempat tegang dan berat di dalam ruangan kerja tersebut.
Gabriel langsung menyambut cangkir teh dari tangan istrinya dengan senyuman yang sangat ceria dan mata yang berbinar-binar. Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat dalam sekejap mata, dari sosok jenderal besar Saint Rank yang ditakuti seluruh benua menjadi seorang suami yang sangat bucin dan penurut di depan istrinya. Brian terkekeh pelan melihat perubahan sikap ayahnya yang selalu terjadi setiap kali ibunya berada di dekatnya, sementara Aron hanya bisa menggelengkan kepala pelan melihat tingkah laku kedua orang tua mereka yang selalu terlihat harmonis dan saling mencintai meski telah bertahun-tahun menikah.
Sander menerima cangkir teh hangat yang disodorkan oleh ibunya, merasakan kehangatan cairan dari porselen tersebut merambat perlahan ke telapak tangannya yang masih sedikit gemetar akibat kelelahan latihan dan benturan sirkulasi tadi. Di dalam ruangan yang dipenuhi oleh kasih sayang persaudaraan yang tulus, perlindungan seorang ayah, dan kehangatan seorang ibu ini, Sander menatap uap tehnya dengan pandangan bertekad. Dia berjanji di dalam lubuk hatinya yang paling dalam bahwa suatu hari nanti, terlepas dari apa pun batasan fisik atau misteri sirkulasi yang mengunci tubuhnya saat ini, dia akan berdiri tegak di garis paling depan di samping kedua kakaknya untuk menjaga kedamaian dan kehangatan Kastil Aethelgard ini dari badai konspirasi dunia yang perlahan, namun pasti, mulai mendekat dari kegelapan.
folback aku yah ehehe