Dien Moretz adalah sarjana pengangguran yang selalu gagal dalam wawancara kerja, karena memiliki kekurangan bibir sumbing yang menyebabkan komunikasinya tidak lancar dan dianggap sebuah beban. Suatu hari saat sedang mencari pekerjaan, tiba-tiba ada monster yang muncul dan memangsa orang-orang. Dien yang selamat akhirnya menyadari bahwa ada dunia lain, dunia yang berbeda dari yang dia jalankan selama ini. Dien yang tertarik dan tidak mendapatkan pekerjaan akhirnya memilih menjadi bagian dari dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YT FiksiChannel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gejala Mutasi
Kapten Medi sesekali mengetuk puntung rokoknya di asbak rokok yang tampak hampir penuh dengan abu rokok sembari mendengar laporan Dien dan Freya. Tangan kiri kapten Medi tampak sibuk menggunakan mouse untuk menggambar sesuatu di komputernya.
Kapten Medi mengangguk mengerti dan menghisap rokoknya, lalu kembali fokus melukis sesuatu sembari mendengar laporan dua bawahannya tersebut.
“Kekuatan apa yang orang itu gunakan?” Tanya kapten menghisap rokok, lalu menyemburkan asapnya ke atas beberapa detik kemudian.
Dien tampak berpikir dan mengingat-ingat pertarungan.
“Dia mungkin bisa menggunakan sihir regenerasi dan dapat mengubah hewan biasa menjadi monster brutal. Aku melihatnya beberapa kali mencoba meregenerasi tangannya dan secara jelas mengubah beberapa kelabang menjadi monster brutal tingkat 2 sampai tingkat 4.” Dien tampak mengingat-ingat kekuatan Demma.
Kapten Medi mengangguk dan menambah sedikit detail di lukisannya, lalu kembali membuang abu rokok ke asbak.
“Apakah dia memiliki rekan atau orang yang membantunya?” Tanya kapten meregangkan tubuh dan memperbaiki posisi duduknya.
“Tidak! Dia tidak memiliki rekan. Orang itu menyerang kami seorang diri.” Balas Freya yakin.
Dien mengangguk setuju.
Kapten Medi membalikkan komputer dan menunjukkan lukisan yang dia kerjakan saat mendengar laporan Dien dan Freya. Lukisan itu menampilkan gambar seorang pria rambut keriting pendek, memiliki senyuman licik, tatapan mata yang merendahkan, memakai kalung rantai emas, dan memakai topi hijau dengan tulisan taksi di depannya.
“Apakah penampilan orang itu seperti ini?” Tanya kapten menatap lurus dua orang bawahannya tersebut.
Dien mengangguk membenarkan.
“Benar, tampilannya sama persis, hanya saja tidak memakai kalung rantai emas.” Freya tampak bersemangat.
Kapten mengangguk mengerti, menghisap rokoknya dan berkata “Sebelumnya dia memakai rantai emas dan menyamar sebagai satpam sebuah hotel.”
Dien dan Freya mengangguk mengerti maksud kapten.
“Baiklah. Terimakasih laporannya, kalian berdua bisa pergi.” Kapten Medi mengusir Dien dan Freya, lalu sibuk melakukan sesuatu di komputernya.
“Baik kapten, permisi.” Dien dan Freya menundukkan kepala hormat, lalu pergi dari ruangan kapten Medi.
Kapten Medi bersandar di kursi malasnya yang sangat nyaman dan empuk. Kapten melihat kepergian Dien dan Freya dengan tatapan berat seakan-akan menanggung sebuah beban yang sangat berat dipundaknya. Kapten menatap langit-langit untuk sesaat, menghela nafas, lalu melihat koran di atas meja kerjanya.
Koran itu memberitakan dua insiden. Yaitu insiden kemunculan monster di perumahan pondok yang beralamat di jalan Nangka 2, dan insiden ledakan yang terjadi di patung gajah putih bundaran simpang lima gajah putih.
“Ini kasus terberat yang aku tangani. Aku tidak yakin rahasia dunia ini dapat dipertahankan lebih lama lagi. Mungkin di masa depan, seluruh dunia akan mengetahui rahasia keberadaan praktisi spiritual dan monster pemangsa manusia yang selalu bersembunyi di dalam kegelapan. Dunia yang damai ini menuju kehancuran dan kebangkitan dunia spiritual yang kejam, tanpa perasaan, penuh pertumpahan darah, dan penuh dengan kekacauan.” Gumam kapten menatap komputernya yang menampilkan beberapa berita aneh tentang kemunculan beberapa monster.
Selain berita-berita dari media terpercaya ada beberapa influencer yang membahas insiden yang berkaitan dengan monster dan memperkeruh suasana. Beruntungnya divisi komunikasi dan informasi kepolisian berhasil memblokir, bahkan membuat masyarakat percaya bahwa itu berita hoax dan hanya AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan yang sudah sangat canggih.
Otoritas terkait juga berhasil menekan beberapa media berita agar meng-takedown berita-berita yang berkaitan dengan monster dan orang-orang sakti.
Kapten Medi hanya bisa menghela nafas berat melihat begitu banyak berita yang membuat kepalanya pusing. Kapten Medi melangkah keluar ruangan kerjanya untuk menghirup udara segar.
Kapten menatap layar handphonenya.
“Apa tujuan orang-orang ini? Kenapa mereka sangat ingin memperkenalkan praktisi spiritual dan monster pemangsa manusia ke seluruh dunia? Apakah mereka tergabung dalam satu organisasi?” Batin kapten Medi melihat laporan beberapa insiden yang berkaitan dengan orang sakti (praktisi spiritual) dan monster pemangsa manusia.
“Apakah mereka berniat membuat dunia ini kembali menjadi dunia spiritual yang kejam dan tanpa perasaan? Apakah mereka ingin memulai kembali masa kejayaan praktisi spiritual di masa lalu?” Tanya kapten Medi berpikir sendiri.
Kantin, Markas Tersembunyi.
Dien tampak berpikir keras setelah mengalami penyerangan yang berakhir dengan kekalahan telak. Satu hal yang membuatnya sangat marah, yaitu ketidakberdayaannya melawan Demma apalagi saat itu dalam kondisi tiga lawan satu.
“Aku harus segera melangkah menjadi praktisi lima elemen.” Gumam Dien bertekad di dalam hati.
Pelayan datang dengan membawa satu nampan pesanan dan menyusun pesanan Dien diatas meja.
“Silahkan tuan!” Ucap pelayan dengan senyuman ramah.
Dien mengangguk dan segera melahap makanannya.
Setelah mengisi perutnya Dien segera mencari tempat yang tenang untuk melatih energi spiritualnya.
Ketika melewati ruang medis, Dien kembali bertemu Freya yang duduk di kursi tunggu ruang medis. Dien mendekat dan bertanya dengan penuh perhatian “Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?”
Freya menatap Dien sekilas dan berkata dengan santai “Aamon berhasil melewati masa kritis. Itu wajar, bagaimanapun dia adalah yang terkuat diantara kita. Jangan khawatir!”
Dien lega mendengarnya.
Dien menyadari sesuatu dan menyipitkan mata melihat Freya lebih seksama. Dien tiba-tiba tersenyum lebar dan tampak seperti seorang penjahat licik.
“Kenapa kau begitu peduli kepadanya? Apakah kamu menyukai si rambut merah?” Dien bertanya dengan senyuman yang tidak bisa dijelaskan.
“Apa! Apa-apaan!” Freya tersipu malu.
Melihat sikapnya, Dien mengangguk mengerti dan membuat Freya gelagapan.
Setelah mengobrol beberapa saat dan sedikit menggoda Freya, Dien pamit undur diri.
“Freya ketika Aamon sadar! Sebaiknya kamu langsung memeluk dan menciumnya agar dia tidak melupakanmu! Haha!” Dien berkata cukup keras dan tertawa menggoda.
“Dien… kau…” Freya malu dan semakin malu ketika ditatap beberapa orang.
Dien kembali bertemu nenek Rose si peramal tua di pasar tradisional. Wanita tua itu tampak begitu pucat, nafasnya tidak beraturan, dan terlihat hampir kehilangan kendali, namun senyuman liciknya masih melekat dan terlihat sangat jelas. Di depan wanita tua itu terdapat bola bening, dua tumpuk kartu tarot, dan beberapa botol berserakan di sekitarnya.
Tampaknya wanita peramal tua jatuh dalam kegilaan.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu?” Tanya nenek Rose dengan suara serak.
Nenek Rose menunjukkan tanda-tanda kehilangan kendali, kewarasannya semakin memburuk. Wanita tua itu mengeluarkan sebuah botol ramuan yang dicurigai ramuan penenang, lalu menenggaknya dengan terburu-buru.
Setelah menenggak ramuan, nenek Rose tampak tenang dan pikirannya kembali jernih.
“Jangan khawatir, aku tidak akan bermutasi hanya karena melihat masa depan yang terhubung dengan entitas agung dan mengerikan.” Ucap nenek Rose tertawa tanpa suara.
Dien tersenyum, namun waspada karena nenek Rose beberapa kali menunjukkan tanda-tanda kehilangan kendali. Dien bahkan beberapa kali melihat perubahan di kulit wajah nenek Rose seakan-akan ada sisik yang ingin keluar dan menampakkan diri.
“Ada apa? Kenapa kamu melihatku seperti itu?” Nenek Rose bertanya dengan wajah setengah ular, mata ular, dan mengeluarkan aura darah yang mengerikan.
Nenek Rose hampir kehilangan kendali dan menjadi gila. Nenek Rose menuju mutasi monster.
“Guru kendalikan dirimu!” Pinta Dien mundur menjauh.
Meskipun tidak tega, Dien siap membunuh nenek Rose agar tidak membahayakan orang lain.
Bersambung.