Begitu terbangun dari tidur, pikiran Su Niannian tiba-tiba terhubung dengan sebuah sistem bernama Sistem Cahaya Bulan. Dengan nada dingin, sistem itu memberikan perintah: Tugasmu adalah—menimbulkan masalah, memfitnah orang lain, dan menjadi wanita paling dibenci di seluruh kota. Su Niannian: ???
Tugas pertama: Memarahi Direktur Utama Jiang Lin di depan umum dan menyebutnya pria yang sombong. Dengan terpaksa dia melakukannya, lalu menunggu keputusan pemecatan. Namun nyatanya, pria itu sama sekali tidak marah, malah tersenyum dan berkata: "Kau menarik."
Tugas kedua: Memuji pria lain secara berlebihan di hadapannya. Dia memuji dengan cara yang kaku dan canggung, dalam hatinya dia merasa pasti kali ini masalah besar akan menimpanya.Namun Jiang Lin malah mengerutkan dahi dan bertanya: "Menurutmu, apa kelebihanku? "—Tunggu dulu, bukankah itu bukan inti permasalahannya?
Tugas ketiga, tugas keempat, dan seterusnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Estrellaaya_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Empat
Dia menarik koper berisi pakaiannya masuk ke kamar tidur utama dan membuka lemari. Di sana tergantung rapi deretan kemeja milik Jiang Lin dengan warna yang berurutan dari putih, abu-abu, hingga hitam — sangat teratur hingga membuat orang yang menyukai kerapian merasa puas.
Dia menggantungkan pakaiannya di sisi lain, yang tampak berwarna-warni dan sangat kontras dengan sisi sebelahnya.
Saat sedang menggantungkan pakaian, dia melihat sebuah kotak kecil di sudut paling dalam lemari.
Kotak itu berwarna hitam dengan lapisan beludru, terlihat seperti tempat perhiasan.
Dia tidak membukanya dan juga tidak bertanya apa isinya.
Setiap orang memiliki rahasianya masing-masing, sama seperti kotak kayu miliknya yang belum dibuka.
Saat senja tiba, seluruh barang-barang sudah tertata rapi.
Su Niannian terasa sangat lelah hingga langsung menjatuhkan diri di sofa. Jiang Lin keluar dari dapur sambil membawa dua gelas air dan menyerahkannya padanya.
"Terasa lelah?"
"Sangat lelah," jawab Su Niannian sambil meminum airnya dengan cepat. "Pindah rumah ternyata sangat melelahkan."
"Tidak perlu pindah lagi di masa depan," kata Jiang Lin sambil duduk di sampingnya. "Tinggallah di sini."
Su Niannian bersandar di sofa sambil menatap langit-langit. Lampu gantung di atas kepalanya memancarkan cahaya kuning hangat yang membuat seluruh ruangan terasa nyaman.
Tiba-tiba sebuah pertanyaan terlintas di benaknya.
"Jiang Lin."
"Ya?"
"Besok hari Senin, bagaimana kita akan berangkat ke kantor?"
"Berangkat bersama."
"Berangkat bersama?" tanya Su Niannian sambil langsung duduk tegak. "Berangkat dari sini... dari apartemenmu menuju kantor bersama-sama?"
"Ya."
"Lalu seluruh karyawan kantor akan mengetahui hubungan kita?"
Jiang Lin menatapnya: "Apakah kau merasa keberatan jika diketahui orang lain?"
Su Niannian terdiam.
Apakah dia merasa keberatan?
Sepertinya... tidak juga.
Namun memikirkan pandangan orang-orang di kantor, bisikan rekan kerja, dan tuduhan bahwa dia dipromosikan karena hubungan pribadi — hal itu tetap membuatnya merasa tidak nyaman.
"Bukan merasa keberatan," jawabnya. "Hanya saja aku belum siap."
Jiang Lin terdiam selama dua detik.
"Kalau begitu kita merahasiakannya dulu," katanya. "Di dekat kantor, kau turun dan berjalan kaki sisanya."
Su Niannian menatapnya, dan hatinya terasa sedikit terenyuh.
Dia bisa saja berkata bahwa tidak ada masalah jika diketahui orang lain, namun dia memilih untuk mengalah demi perasaannya.
"Terima kasih," katanya.
"Terima kasih untuk apa?"
"Terima kasih... karena bersedia mengalah demi keinginanku."
Jiang Lin mengulurkan tangannya dan mengusap rambutnya dengan lembut, sementara ujung jarinya menyentuh helai rambutnya.
"Ini bukan mengalah," katanya. "Aku hanya tidak ingin membuatmu merasa tertekan."
Su Niannian menunduk dan merasakan hidungnya terasa sedikit perih.
[Pemberitahuan Sistem: Terdeteksi perubahan emosi pengguna — merasa tersentuh. Tingkat ketertarikan orang yang dituju meningkat 2 poin. Tingkat ketertarikan saat ini: 84/100.]
Dia menarik napas panjang dan menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Jiang Lin, aku lapar."
"Apa yang ingin kau makan?"
"Masakan buatanmu."
Jiang Lin meliriknya sekilas: "Tidak takut rasanya tidak enak?"
"Meski rasanya tidak enak, aku akan tetap memakannya."
Jiang Lin berdiri dan masuk ke dapur. Su Niannian mengikutinya sambil bersandar di ambang pintu dapur, melihat dia mengenakan celemek, mencuci sayuran, dan memotongnya.
Keahlian memotongnya tidak terlalu baik, irisan kentang yang dipotongnya terlihat tebal dan tipis tidak beraturan, namun dia melakukannya dengan sungguh-sungguh dan mengerutkan kening seolah sedang menangani keputusan bisnis yang sangat penting.
Su Niannian tidak bisa menahan tawa.
"Ada apa yang lucu?" tanya Jiang Lin tanpa menoleh.
"Lucu melihat ekspresimu saat memotong kentang," jawab Su Niannian. "Seolah sedang menandatangani kontrak penting."
Jiang Lin menoleh dan meliriknya sekilas sambil tersenyum kecil tanpa membantah.
Empat puluh menit kemudian, tiga hidangan dan satu mangkuk sup sudah tersaji di meja makan.
Terdapat tumis tomat dan telur, tumis kentang, sayuran hijau dengan bawang putih, dan sup rumput laut serta telur.
Semua adalah masakan rumahan yang sederhana, penampilannya biasa saja, namun rasanya — ternyata cukup lezat.
"Sejak kapan kau belajar memasak?" tanya Su Niannian sambil memakan kentang itu.
"Sejak kuliah, saat tinggal sendirian. Jika tidak belajar, maka akan kelaparan," jawab Jiang Lin sambil menuangkan sup untuknya.
Su Niannian meminum sup itu sambil menatap Jiang Lin yang sedang makan dengan tenang di seberang meja, dan tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas di benaknya —
Inilah kehidupan yang diinginkannya.
Bukan sesuatu yang terlalu menggebu atau menegangkan, melainkan suasana sore yang sederhana, berdua makan bersama sambil berbicara hal-hal ringan.
[Pemberitahuan Sistem: Tugas baru telah diumumkan!]
Tangan Su Niannian yang memegang sumpit terhenti sejenak.
[Tugas 6: Dalam waktu satu hari besok, ciptakan setidaknya satu kali "kesalahpahaman yang mengarah pada hubungan khusus" di lingkungan kantor — sehingga setidaknya satu rekan kerja menduga bahwa keduanya sedang menjalin hubungan asmara.]
[Cara pelaksanaan bebas.]
[Hadiah Jika Berhasil: 350 poin, nilai pengalaman Cahaya Bulan Terang +30]
[Hukuman Jika Gagal: Besok malam, foto terbaru dari galeri ponsel pengguna akan secara otomatis dikirim ke nomor ponsel Jiang Lin.]
Su Niannian membulatkan matanya.
Apa maksudnya?
Dia baru saja menyampaikan keinginan untuk merahasiakan hubungan mereka, namun sistem malah memerintahkannya untuk menciptakan kesalahpahaman?
Ini sungguh bertentangan.
"Ada apa?" tanya Jiang Lin melihat ekspresinya yang berubah.
"Tidak ada apa-apa," jawab Su Niannian sambil menunduk dan melanjutkan makan. "Hanya memikirkan pekerjaan besok."
Dia terus mengumpat sistem dalam hati sambil makan.
[Pemberitahuan Sistem: Tugas ini bertujuan untuk "menciptakan kesalahpahaman", bukan "mengumumkan hubungan secara terbuka". Keduanya tidak saling bertentangan. Pengguna dapat menyelesaikannya dengan cara yang tidak mencolok.]
Su Niannian menarik napas panjang.
Baiklah, memang tidak bertentangan.
Namun bagaimana cara melakukannya?
Dia melirik Jiang Lin yang sedang meminum sup di seberang meja dan mulai berpikir dalam hati.
Urusan besok, dipikirkan besok saja.
Setelah makan malam selesai, Jiang Lin mencuci piring sedangkan Su Niannian mengelap meja.
Keduanya bekerja sama dengan baik, seolah sudah hidup bersama sejak lama.
Su Niannian selesai mengelap meja dan berdiri di ambang pintu dapur sambil menatap punggung Jiang Lin.
"Jiang Lin."
"Ya?"
"Aku merasa sangat bahagia hari ini."
Jiang Lin menutup keran air dan berbalik menghadapnya, sementara tangannya masih meneteskan air.
"Aku juga," jawabnya.
Su Niannian tersenyum.
Di luar jendela hari sudah gelap total dan lampu-lampu di seluruh kota mulai menyala.
Dia berdiri di dapur yang asing ini sambil menatap pria yang baru dikenalnya kurang dari sebulan, namun hatinya terasa sangat tenang — perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
[Pemberitahuan Sistem: Hitung mundur tugas baru dimulai. Harap pengguna bersiap-siap.]
[Tingkat Cahaya Bulan Terang saat ini: 2. Untuk mencapai tingkat 3, harus menyelesaikan tugas ini dan tugas-tugas selanjutnya.]
Su Niannian melirik tampilan sistem itu sekilas, lalu menutupnya.
Malam ini dia tidak ingin mempedulikan sistem.
Hanya ingin menikmati momen ini sepenuhnya.