Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.
Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.
"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Keesokan harinya. Sinar matahari baru saja menembus jendela ruang rawat, namun di dunia keluarga Pradana, hari itu terasa gelap dan penuh malapetaka.
Perintah Daxon berjalan sangat cepat dan tanpa ampun. Pagi itu juga, Tuan Ardi—ayah Valeria—dikejutkan oleh serentetan pemberitahuan yang masuk ke kantornya. Semua kontrak kerja sama yang menjadi tumpuan perusahaannya dibatalkan sepihak. Bank menolak perpanjangan pinjaman, pemasok utama menarik pasokan barang, dan setiap mitra yang selama ini mendukungnya tiba‑tiba menutup pintu rapat‑rapat.
Telepon berdering terus, namun tidak ada satu pun yang menawarkan bantuan. Sebaliknya, berita menyebar seperti api, siapa pun yang berhubungan dengan keluarga Pradana akan dianggap bermusuhan dengan Daxon.
"Ah! Sialan, aku bangkrut dalam sekejap!" kesal tuan Ardi yang berada di ruang keluarga bersama Valeria dan Ratna.
"Ini semua gara-gara kau anak sialan tidak berguna! Jika kau tidak mendorong dia, kita tidak akan bangkrut!" gertak tuan Ardi menujuk Valeri yang hanya menundukkan kepalanya.
Beberapa pengusaha yang sempat ragu dan masih ingin menjalin kerja sama dengan Tuan Ardi, dalam hitungan jam mengalami nasib buruk—mobil mereka terlibat kecelakaan jalan raya, gudang terbakar tanpa sebab yang jelas, dan dokumen penting hilang secara misterius. Semuanya terlihat seperti kejadian tragis biasa, namun siapa pun yang mengerti dunia bawah tahu siapa dalang sebenarnya.
Dalam waktu singkat, kekayaan dan kekuasaan yang dibangun keluarga Pradana selama puluhan tahun runtuh seketika. Mereka tidak hanya bangkrut, tapi juga dikucilkan sepenuhnya dari lingkaran sosial dan bisnis. Valeria sendiri yang semalam berniat membunuh Azalea, kini hanya bisa menangis histeris di kamarnya.
Sementara itu, setelah memastikan Azalea tidur nyenyak dan ditangani perawat dengan baik, Daxon berpamitan sebentar. Ia melaju menuju kediaman lamanya—tempat ibunya, Luciana, tinggal. Begitu sampai, wajahnya sudah dingin sepenuhnya, tidak ada lagi rasa hormat seperti biasanya.
Luciana yang sudah mendengar kabar buruk mengenai keluarga Pradana, menyambut kedatangan putranya dengan wajah tegang namun masih berusaha mempertahankan sikap angkuhnya.
"Kau datang untuk apa? Apakah kau sadar sudah menghancurkan hubungan baik keluarga kita hanya karena wanita biasa itu?" bentak Luciana segera.
Daxon berdiri tegak di hadapannya, tatapannya tajam menusuk hingga ke tulang. Suaranya rendah dan berat, tanpa ada nada bercanda.
"Aku datang bukan untuk mendengar omonganmu, Ibu. Aku datang untuk memperingatkanmu untuk terakhir kalinya."
Ia melangkah lebih dekat, membuat Luciana mundur selangkah tanpa sadar melihat sorot mata putranya yang mengerikan.
"Aku tahu persis rencanamu. Kau dan keluarga Pradana bersekongkol agar aku bisa meniduri Valeria, menyewakan kamar di hotel , dan berharap dia bisa memisahkanku dari Azalea. Kau yang menjadi dalang di balik semua ini, bukan?"
Wajah Luciana memucat, tapi ia tetap berusaha membela diri.
"Aku melakukan ini demi kebaikanmu! Demi masa depan keluarga kita! Gadis itu hanya akan merusak segalanya—"
"Cukup!" bentak Daxon keras, membuat benda‑benda di meja bergetar. "Kebaikanku bukan urusanmu lagi jika itu harus mengorbankan wanita yang aku cintai dan anak yang sedang dikandungnya. Kau tidak berhak mengatur kehidupan yang aku pilih."
Daxon menunjuk tepat ke arah ibunya, nadanya berubah menjadi peringatan mematikan.
"Ingat kata‑kataku baik‑baik. Jangan pernah lagi mencampuri urusanku, jangan pernah berusaha menyakiti Azalea atau anakku sedikit pun. Jika kau masih berani melanggarnya, jangan harap aku akan membedakan darah daging atau hubungan keluarga. Apa yang terjadi pada keluarga Pradana, bisa terjadi juga kepada dirimu. Aku tidak akan ragu untuk memutuskan hubungan sepenuhnya dan membiarkanmu merasakan kejatuhan yang jauh lebih menyakitkan."
Luciana terdiam kaku, seluruh tubuhnya menggigil ketakutan—baru kali ini ia benar‑benar merasakan betapa kejam dan tak terhentikan kekuasaan putranya itu.
"Mulai hari ini, urusanmu dan urusanku terpisah. Jangan cari aku, dan aku pun tidak akan datang lagi kecuali ada hal penting. Semua ini adalah peringatan terakhir. Jika kau melewati batas, kau akan tahu akibatnya." lanjut Daxon dingin.
Tanpa menunggu jawaban lagi, Daxon berbalik dan melangkah keluar meninggalkan mansion, meninggalkan ibunya yang terduduk lemah di kursi, seperti memikirkan sesuatu.
Setelah menyelesaikan semuanya, Daxon segera kembali ke rumah sakit, membawa kembali keteguhan hatinya untuk kembali menjaga Azalea tanpa gangguan apa pun lagi.
Daxon melaju mobil kembali ke rumah sakit dengan pikiran yang sudah lebih tenang, meski tatapannya masih menyisakan sisa kedinginan setelah berurusan dengan ibunya dan mengurus nasib keluarga Pradana.
...****************...
Begitu tiba di lantai rawat, ia berjalan dengan langkah pasti menuju kamar tempat Azalea diruang rawat.Sesampainya di depan pintu, ia berhenti sejenak, lalu memutar gagang pintu perlahan dan mendorongnya terbuka.
Pemandangan yang terlihat di dalam seketika melunakkan seluruh ketegangan di wajahnya.
Di atas tempat tidur, Azalea sudah duduk bersandar dengan bantuan bantal yang disusun rapi. Wajahnya masih terlihat agak pucat, tapi sudah tidak selemah kemarin. Seorang perawat berdiri di sampingnya, sedang menyuapi perlahan sesendok demi sesendok bubur ayam yang terlihat hangat dan beraroma sedap.
Azalea membuka mulutnya perlahan menerima suapan itu, sesekali mengerjap pelan atau menggeleng lembut saat merasa kenyang, membuat perawat itu tersenyum kecil dan berbicara dengan nada lembut.
"Pelan saja, Bu. Makan sedikit demi sedikit agar tenaganya cepat pulih," kata perawat itu.
Melihat kedatangan Daxon, perawat itu segera berhenti dan menoleh, lalu menunduk hormat. Azalea pun mengangkat wajahnya, matanya langsung bersinar lembut begitu melihat sosok pria yang ditunggunya.
Daxon melangkah masuk dan menutup pintu kembali. Langkahnya yang tadinya tegas kini berubah lembut, seolah tak ingin mengganggu suasana yang tenang itu. Ia mendekat ke sisi tempat tidur, matanya tak lepas menatap wajah Azalea.
"Kau sudah terbangun dan mau makan?" tanyanya dengan suara rendah dan hangat, sangat berbeda dengan nada bicaranya saat berurusan dengan orang lain.
Azalea mengangguk pelan, sedikit tersenyum. "Iya, perawatnya baru saja membawakan bubur ini. Katanya bagus untuk memulihkan tenaga dan janin," jawabnya lembut.
Perawat itu segera menyerahkan mangkuk dan sendok ke tangan Daxon. "Karena Tuan sudah datang, saya permisi keluar sebentar. Nanti saya kembali lagi untuk memeriksa kondisi tekanan darahnya," ucapnya sopan, lalu berjalan keluar meninggalkan mereka berdua.
Begitu pintu tertutup, Daxon duduk di kursi samping tempat tidur, lalu mengangkat mangkuk berisi bubur itu. Ia meniupnya sebentar agar tidak terlalu panas, lalu menatap Azalea dengan tatapan lembut.
"Kalau begitu, biar aku yang menyambungkan sisanya," bisiknya pelan.
Daxon meniup bubur itu perlahan sampai suhunya pas, lalu mendekatkan sendok itu ke bibir Azalea dengan gerakan yang sangat hati‑hati, seolah sedang menangani benda paling berharga di dunia.
Azalea membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Rasanya hangat dan gurih, terasa menenangkan perutnya yang masih terasa tidak enak. Ia menatap wajah Daxon yang tampak sangat serius melakukannya, sampai tak sadar tersenyum kecil melihat sisi lembut pria yang dikenal sebagai Tuan Mafia paling kejam itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
aldric paling penakut iiih🤣
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
lanjut thor😄