NovelToon NovelToon
Hanya Bisnis, Sayang

Hanya Bisnis, Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vanessa_Write

"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."

Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.

Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.

Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Darah di Atas Dek

Begitu pintu baja kabin tertutup rapat di belakang tubuh Adrian, suara bising di luar sana langsung menghantam indra pendengaran Elena dengan berkali-kali lipat lebih keras. Suara angin laut yang mengamuk, gemuruh ombak yang menghantam lambung kapal, dan rentetan tembakan senapan mesin berat saling bersahutan, menciptakan simfoni kematian yang mengerikan.

Elena mencengkeram dadanya sendiri, merasakan sisa kehangatan dari ciuman nekat Adrian yang masih membekas di bibirnya. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai rasanya mau copot. Di bawah siraman cahaya lampu darurat kabin yang berwarna merah remang-remang, ia hanya bisa menatap pintu baja itu dengan cemas, berharap suaminya tidak kembali dalam keadaan bernyawa di dalam kantong mayat.

Sementara itu, di dek luar The Obsidian, suasananya jauh lebih gila. Peluru-peluru tajam dari kapal patroli kedua musuh terus mengikis permukaan dinding kapal, menciptakan percikan api dan serpihan logam yang beterbangan ke mana-mana. Kapal musuh itu sekarang jaraknya sudah dekat banget, cuma tersisa sekitar beberapa puluh meter di lambung kanan dan mereka bersiap untuk melempar tali jangkar untuk memaksa masuk.

Adrian melangkah keluar dengan tubuh yang merunduk rendah di balik barikade baja dek tengah. Angin laut yang dingin langsung menerpa wajah tampannya, membuat helai rambut hitamnya berantakan. Namun, sepasang mata gelap cowok itu sama sekali tidak berkedip. Dengan gerakan yang sangat tenang dan terlatih, ia mengangkat pistol semi-otomatisnya, membidik ke arah siluet dua orang tentara bayaran Syndicate yang sedang berdiri di ujung dek kapal musuh.

DOR! DOR!

Dua tembakan presisi dari Adrian langsung mengenai dada musuh, membuat kedua pria bertubuh kekar itu terlempar ke belakang dan jatuh terkapar ke dalam gulungan ombak hitam samudra.

"Hendra! Pasang senapan mesin berat di sayap kanan! Jangan kasih mereka celah buat merapat!" teriak Adrian dengan suara baritonnya yang menggelegar, mengalahkan suara gemuruh badai laut.

"Siap, Tuan!" Hendra yang posisinya berada beberapa meter di depan Adrian langsung mengokang senapan mesin berat yang terpasang di pagar kapal, lalu memberondong kapal patroli musuh tanpa ampun.

TATATATATATATATATA!

Rentetan peluru dari Hendra sukses menghancurkan kaca ruang kemudi kapal musuh, membuat kapal itu sempat kehilangan kendali dan oleng menghantam ombak besar. Namun, para tentara bayaran di kapal itu tampaknya sudah mati rasa. Salah satu dari mereka yang memegang peluncur roket portabel alias RPG mendadak muncul dari balik palka kapal dan membidik langsung ke arah posisi Hendra.

Melihat bahaya itu, insting predator Adrian langsung bereaksi secepat kilat. Tanpa memedulikan keselamatan nyawanya sendiri, Adrian melompat keluar dari balik barikade perlindungan dan berlari kencang menerjang tubuh Hendra hingga mereka berdua jatuh bergulingan di atas lantai dek yang licin akibat cipratan air laut.

BOOM!

Detik itu juga, roket kiriman musuh meledak hebat tepat di tempat Hendra berdiri tadi. Ledakan itu menciptakan kobaran api jingga yang besar dan guncangan dahsyat yang membuat kapal The Obsidian makin miring ke kanan. Serpihan besi panas sempat menggores lengan jaket taktis Adrian hingga robek, menumpahkan darah segar yang mengalir membasahi lengannya.

Di dalam kabin, Elena yang merasakan guncangan luar biasa itu langsung panik setengah mati. Ia tidak bisa lagi hanya duduk diam dan menunggu seperti orang bodoh.

"Nyonya Elena, jangan keluar! Perintah Pak Adrian sangat jelas!" seru salah satu operator taktis yang tersisa, mencoba menahan langkah Elena.

"Minggir! Suamiku lagi bertaruh nyawa di luar sana!" bentak Elena dengan binar mata yang menyala penuh amarah dan keberanian.

Elena meraih sebuah pistol cadangan yang tergeletak di atas meja taktis, memeriksa pelurunya seperti yang pernah diajarkan Adrian sekilas, lalu membuka paksa kunci pintu baja kabin. Begitu pintu terbuka, pemandangan pertama yang ia lihat adalah kobaran api di dek kanan dan sosok Adrian yang sedang berusaha bangkit bersama Hendra di tengah kepulan asap hitam.

Namun, ketakutan Elena memuncak saat ia melihat tiga orang tentara bayaran musuh ternyata sudah berhasil melompat dan menginjakkan kaki di atas dek The Obsidian. Salah satu dari mereka yang memegang pisau taktis panjang sedang berjalan mendekati punggung Adrian yang masih setengah limbung akibat efek ledakan roket tadi.

"Adrian, awas di belakangmu!" teriak Elena sekencang mungkin.

Tanpa berpikir panjang, Elena mengangkat kedua tangannya, mengarahkan pistol di genggamannya ke arah pria berpisau itu, dan menarik pelatuknya dengan mata melotot.

DOR! DOR!

Tembakan Elena memang tidak langsung mengenai kepala, tapi dua peluru itu sukses bersarang di perut dan paha si tentara bayaran, membuat pria itu berteriak kesakitan dan jatuh berlutut di atas dek.

Mendengar suara tembakan Elena dan teriakan musuh, Adrian langsung memutar tubuhnya dengan cepat. Matanya sempat melebar kaget saat melihat Elena berdiri di ambang pintu kabin dengan pistol di tangan, namun sedetik kemudian, ekspresi terkejut itu digantikan oleh kilatan amarah yang dingin.

Adrian langsung menerjang dua tentara bayaran sisanya yang mencoba mendekat. Dengan kombinasi gerakan bela diri taktis militer yang super cepat dan kejam, Adrian mencengkeram leher salah satu musuh, memutarnya hingga terdengar suara tulang patah yang mengerikan, lalu merebut senapan otomatis milik musuh tersebut.

RATATATATATA!

Menggunakan senapan rampasan itu, Adrian menembak habis tentara bayaran terakhir dan menghujani lambung kapal patroli musuh dengan ratusan peluru sampai kapal itu mengalami kebocoran bahan bakar.

Dalam hitungan detik, kapal kedua milik Syndicate itu meledak hebat, berubah jadi bola api raksasa sebelum akhirnya tenggelam perlahan ke dasar laut malam yang pekat.

Suasana di atas dek mendadak berubah jadi sunyi, hanya menyisakan suara deru angin laut dan napas Adrian yang memburu berat. Asap hitam dari sisa ledakan perlahan mengalir naik ke langit tanpa bulan.

Adrian membuang senapan di tangannya yang sudah kosong ke lantai dek dengan ketukan keras, lalu berbalik dan berjalan cepat mendekati Elena dengan langkah kaki yang teramat tegas dan mengintimidasi. Wajah tampannya penuh dengan noda hitam sisa ledakan, dan darah segar masih terus menetes dari lengan kanannya yang terluka.

Adrian berhenti tepat di depan Elena, mencengkeram kedua pergelangan tangan wanita itu dengan sangat erat hingga pistol di tangan Elena terjatuh ke lantai. Tatapan mata gelap Adrian sekarang benar-benar mengunci Elena dengan intensitas yang sanggup bikin siapa saja gemetar ketakutan.

"Apa yang kamu lakukan, Elena?! Aku sudah bilang tetap di dalam kabin!" bentak Adrian dengan suara baritonnya yang bergetar hebat karena amarah bercampur rasa cemas yang luar biasa. "Kalau sampai peluru atau ledakan roket tadi mengenai tubuhmu... aku bisa gila, Elena! Kamu tidak tahu seberapa takutnya aku kehilanganmu malam ini!"

Elena mendongak, menatap langsung ke dalam sepasang mata gelap suaminya di atas kertas tersebut. Bukannya takut karena dibentak, Elena justru merasa matanya mulai berkaca-kaca. Ia mengabaikan rasa sakit di pergelangan tangannya, lalu secara tidak terduga memajukan tubuhnya dan memeluk erat pinggang kokoh Adrian, menyandarkan wajahnya di dada bidang pria itu yang naik-turun karena napas yang memburu.

"Aku keluar karena aku tidak mau kehilangan kamu, Adrian," bisik Elena dengan suara yang agak serak, mempererat pelukannya pada tubuh tegap suaminya. "Aku tidak peduli seberapa bahayanya di luar sini. Aku tidak bakal membiarkan kamu bertarung sendirian lagi. Kita adalah tim sekarang."

Tubuh Adrian yang tadinya menegang keras karena amarah, perlahan mulai melunak saat merasakan pelukan hangat dan ketulusan dari tubuh ramping Elena di dadanya. Pria itu mengembuskan napas panjang yang teramat berat, lalu perlahan melingkarkan tangan kirinya yang bersih untuk mendekap erat punggung Elena, menenggelamkan wajahnya di antara rambut hitam sang istri yang wangi meskipun berbaur bau asap laut.

"Kamu benar-benar wanita paling keras kepala yang pernah kutemui, Putri Kecil," bisik Adrian rendah tepat di telinga Elena, ada nada kepasrahan yang protektif di dalam suaranya.

Adrian melepaskan pelukannya sedikit, lalu menoleh ke arah Hendra yang sedang sibuk membersihkan sisa area dek bersama kru yang tersisa. "Hendra... obati lukaku secepatnya, lalu jalankan mesin cadangan kiri. Kita harus sampai di koordinat pulau tujuan sebelum fajar menyingsing. Musuh sudah tahu kita selamat, dan mereka pasti sedang menunggu kita di sana dengan persiapan yang jauh lebih mengerikan."

"Siap, Tuan Adrian!" jawab Hendra tegas.

Di bawah sisa-sisa asap kebakaran yang mulai menipis di atas lautan internasional bebas, aliansi contracts antara Adrian dan Elena malam ini rasanya sudah berubah total.

Darah yang tumpah di atas dek dan keberanian Elena yang nekat telah mengunci hati mereka berdua ke dalam sebuah ikatan tak kasat mata yang jauh lebih kuat dari sekadar dokumen bertinta emas. Perang di tengah laut telah selesai mereka menangkan, namun gerbang neraka yang sesungguhnya di pulau rahasia Syndicate sudah menanti di depan mata.

......BERSAMBUNG......

1
Bu Dewi
seru kak alur ceritanya😍😍😍👍
VanessaJournal: terima kasih atas support nya kak! 😊🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!