Demi 100 Miliar, Gisel harus menjadi sekretaris penggoda bagi bosnya sendiri.
Gisella (20) terjepit kebutuhan ekonomi untuk pengobatan ibunya. Di tengah keputusasaan, Nyonya Widya ibu dari CEO tampan Arselan Dirgantara memberinya penawaran gila: Imbalan 100 miliar rupiah jika Gisel bisa membuktikan bahwa Arsel bukan penyuka sesama jenis.
Tugas Gisel hanya satu: Menjadi sekretaris pribadi dan menggunakan segala cara termasuk pesona fisiknya untuk memicu kembali gairah Arsel yang membeku sejak dikhianati masa lalu.
Gisel yang ceriwis harus menghadapi Arsel yang dingin dan gila kerja. Namun, saat tembok es Arsel mulai mencair, Gisel terjebak dalam dilema antara tuntutan kontrak dan perasaan yang mulai tumbuh nyata.
"Mampukah Gisel menuntaskan misinya, atau justru ia yang akan hancur oleh kebenaran di balik kontrak tersebut?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerimis Penyesalan dan Kabar di Balik Badai
Langit seolah ikut merasakan kepedihan yang menyayat di hati Gisella. Sore itu, kediaman mewah keluarga Dirgantara tampak seperti benteng yang tak tertembus. Pagar besi yang tinggi menjulang berdiri kokoh, memisahkan Gisel dari pria yang sangat ia cintai.
Gisel berdiri di depan pagar, kedua tangannya mencengkeram besi dingin itu. "Mas Arsel! Keluar, Mas! Tolong dengarkan aku dulu!" teriaknya dengan suara yang sudah mulai parau.
Ia sudah berdiri di sana selama dua jam. Kakinya mulai lemas, namun ia menolak untuk beranjak. Di dalam sana, di balik jendela lantai dua yang tertutup rapat, Arselan berdiri di balik tirai. Ia menatap sosok mungil di bawah sana dengan rahang yang mengeras.
"Mas Arsel! Aku mohon... satu kali saja!" teriak Gisel lagi, suaranya kini pecah, nyaris hilang.
Tiba-tiba, kilat menyambar diikuti suara guruh yang menggelegar. Hujan turun begitu deras seolah tumpah dari langit, membasahi tubuh Gisel dalam hitungan detik. Gaun yang ia kenakan melekat erat pada tubuhnya yang bergetar karena kedinginan.
Arsel berdesis, tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih. "Keras kepala. Kenapa kau tidak pulang saja?!" gumamnya dengan nada penuh kemarahan yang bercampur dengan rasa sakit yang tak tertahankan.
"Dia tidak akan pulang sampai kau mau mendengarkannya, Arsel."
Arsel tersentak dan menoleh. Ibunya, Nyonya Widya, berdiri di ambang pintu kamar dengan wajah yang penuh penyesalan. Tidak ada lagi raut otoriter atau licik di sana.
"Pergilah, Ibu tidak mau melihatnya mati konyol di depan rumah kita," lanjut Nyonya Widya.
"Ibu yang menyebabkan ini semua! Ibu yang menyewanya!" bentak Arsel, emosinya meledak.
"Iya, Arsel. Ibu yang salah," suara Nyonya Widya melembut, matanya berkaca-kaca. "Ibu yang memaksanya. Ibu takut kau menyimpang karena terlalu lama sendiri dan tidak pernah dekat dengan wanita. Gisel awalnya menolak, tapi ia butuh biaya untuk pengobatan ibunya. Dan soal uang 100 miliar itu..."
Nyonya Widya melangkah mendekati putranya, menunjukkan layar ponselnya. "Dia mengirimnya kembali ke rekening Ibu, Arsel. Dia bilang dia tidak butuh uang itu lagi karena dia benar-benar tulus mencintaimu. Dia melepaskan harta itu demi martabatnya di depanmu."
Arsel tertegun. Dadanya terasa sesak seperti dihantam beban ribuan ton. Pengakuan ibunya adalah tamparan keras yang menyadarkannya bahwa egonya telah menutup mata hatinya dari kebenaran yang paling murni.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arsel menyambar payung besar dan berlari menuruni tangga secepat kilat. Ia membuka pintu depan dan menerjang hujan menuju pagar.
Gisel, yang pandangannya sudah mulai kabur karena air hujan dan air mata, melihat sosok pria itu mendekat. Ia tersenyum tipis di antara bibirnya yang membiru.
"Mas... Arsel..." bisik Gisel saat Arsel membuka pintu pagar dan memayunginya.
"Pulang, Gisel! Apa kau gila?!" Arsel berteriak di tengah suara hujan, namun matanya memancarkan kekhawatiran yang luar biasa.
Gisel menghampiri Arsel, memegang lengan pria itu dengan sisa tenaganya. "Maaf... maafkan aku, Mas. Aku tulus... aku beneran sayang..."
Belum sempat Arsel menjawab, tubuh Gisel mendadak lemas. Matanya terpejam, dan ia jatuh pingsan tepat di pelukan Arsel.
"Gisel! Gisella! Bangun!" Arsel panik. Ia segera membuang payungnya dan menggendong tubuh Gisel yang dingin ke dalam rumah, membawanya langsung ke kamar tamu di lantai bawah.
Suasana kamar tamu menjadi sangat tegang. Arsel sudah mengganti pakaian Gisel dengan baju tidur yang bersih dengan bantuan pelayan, namun wajah Gisel tetap pucat pasi. Dokter keluarga Dirgantara sedang memeriksa kondisi Gisel dengan sangat teliti.
Arsel berjalan mondar-mandir di depan pintu, sementara Nyonya Widya duduk terdiam di kursi sudut. Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Dokter keluar dengan ekspresi wajah yang serius namun tenang.
"Bagaimana keadaannya, Dok? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Arsel buru-buru.
Dokter itu melepas kacamatanya. "Tuan Arsel, Nona Gisella mengalami kelelahan yang luar biasa dan syok emosional. Namun ada hal lain yang harus Anda ketahui."
Arsel menahan napas.
"Nona Gisella sedang hamil muda. Usia kandungannya baru memasuki minggu keenam," ujar Dokter. "Karena kejadian tadi hujan-hujanan dan tekanan batin kondisi kandungannya menjadi sangat rentan. Dia harus istirahat total (bed rest) dan tidak boleh mengalami tekanan pikiran sedikit pun, atau dia bisa kehilangan janinnya."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Arsel. Hamil? Gisel mengandung anaknya?
Arsel terduduk lemas di kursi. Rasa bersalah kini berkali lipat menghujam hatinya. Di dalam sana, wanita yang ia maki dan ia usir, ternyata sedang membawa benih cintanya di tengah badai pengkhianatan yang ia ciptakan sendiri.
"Anakku..." gumam Arsel parau. Ia menoleh ke arah kamar, hatinya kini dipenuhi tekad baru. Ia tidak hanya harus meminta maaf, tapi ia harus menebus semua lukanya demi wanita itu dan nyawa kecil yang kini ada di dalam rahimnya. Badai mungkin telah merusak istana pasir mereka, namun Arsel bersumpah akan membangun pondasi yang lebih kuat di atas sisa-sisa reruntuhan itu.
nanti kamu praktekan aja 🤭🤭
kuat💪💪
makacih udah update 🙏