Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
“Eeeh?!!” terdengar kaget ketika Maya mengatakannya
Yah siang itu di sebuah kafe yang biasa aku dan Maya kunjungi, kami kembali berkumpul untuk membahas hal – hal yang perlu aku lakukan di kehidupan kedua untuk mendapatkan seorang teman. Pertemuan yang sebenarnya sudah mulai aku rasakan sebagai rutinitas meski sejatinya aku adalah seorang serigala penyendiri. Aku kembali merasa tidak nyaman untuk terus berkumpul bersama Maya seperti ini, hal itu karena aku melihat ekspresi aneh yang di tunjukkan padaku oleh Maya.
Ekspresi Maya saat aku mengatakan jika aku akan terpisah dari kelompok study tour Luna benar – benar membuatku ingin berkata ‘Jangan kasihani aku, aku sudah terbiasa untuk menjadi seorang penyendiri’ namun tentu saja kata itu hanya akan membuat Maya marah, jadi aku memutuskan untuk mencari kata lain untuk menjelaskan bahwa semua akan baik – baik saja meski aku akan sendirian saat study tour nanti.
“Aaa... jadi begini, kamu gak usah mengkhawatirkanku sampai berekspresi seperti itu, oke? Aku benar – benar gak bisa menikmati liburan bersama orang – orang ekstrovert seperti mereka itu!” jelasku dengan panik, perlahan ekspresi khawatir berlebihan Maya berubah menjadi datar namun aku tahu kekhawatirannya masih ada meski tidak begitu ia tampakkan dari raut wajah.
“Iya sih...” dengan ragu Maya mengucapkannya, lalu kami terdiam.
Di dalam kepala sebenarnya aku sudah membayangkan skenario terburuk jika nanti kelompok study tour Luna akan memaksaku untuk tetap tinggal bersama sepanjang hari, aku tahu mereka hanya akan menjadikanku sebagai juru foto untuk mereka seperti yang pernah aku alami di kehidupan pertama. Yah itu tidak buruk juga, tapi aku pasti akan merasa capek dan lebih parah dari itu adalah suasana canggung yang akan terjadi ketika aku sudah selesai mengambil foto mereka. Pasti akan terjadi suasana ketika mereka merasa canggung karena aku tidak ada di dalam foto bersama itu, ya kan?
“Dengar, meski aku benci dalam hal membentuk kelompok seperti ini, tapi aku sangat sabar untuk tidak berinteraksi dengan mereka sampai kita pulang nanti” celetukku menambahkan alasan agar Maya tidak mengkhawatirkanku terus, perlahan Maya menundukkan kepalanya.
“Kamu... gak masalah sama itu?” tanya Maya, aku semakin merasakan kekhawatirannya yang berlebihan itu dan aku rasa dia mencoba untuk tidak menangis saat ini...
Dalam hati aku berkata ‘Kenapa dia menjadi merasa sedih?’ padahal aku sudah berkali – kali bilang kalau aku ini tidak masalah menjadi seorang penyendiri, apa memang sedang ada tren di mana seorang penyendiri menjadi sebuah topik untuk dikasihani pada masa ini? Aku rasa di kehidupan pertama aku tidak pernah merasakan perasaan dikasihani seperti ini meski sudah menjadi seorang penyendiri selama tiga tahun masa SMA, apa ini karena ikatanku dengan Maya?
“Study tour semacam ini penting buat memperkuat ikatanmu bersama teman – teman sekelasmu, kan?” tanya Maya lagi dan masih saja menunduk, aku menghela nafas lalu mengambil gelas berisi cola di atas meja untuk meminumnya.
“Tidak” jawabku tegas, lalu aku meminum beberapa teguk cola sebelum meletakkan kembali gelas itu di atas meja.
“Fondasi penyendiriku sudah terlalu kokoh, sampai sekarang pun aku gak bermasalah kalau aku gak punya teman buat mengobrol” ucapku tegas lalu perlahan Maya kembali menatapku dengan ekspresi sedihnya itu, jujur aku sudah mulai merasa risi dengan semua ini karena dia terlalu ikut campur dengan kehidupanku.
“Aku gak masalah kalau gak punya teman main di kelas, aku juga gak bakal depresi hanya karena gak punya teman di sekolah, aku akan baik - baik saja” ucapku mempertegas bahwa aku baik – baik saja, perlahan aku melihat Maya berpikir sejenak sebelum menimpali perkataanku.
Di tengah kebisuan itu aku teringat masih ada satu setengah bulan lagi sebelum liburan tengah semester diadakan lalu ada festival ulang tahun sekolah yang akan diadakan di awal semester kedua, aku masih memiliki waktu untuk mempersiapkan diri untuk semua kegiatan kelompok lainnya setelah study tour. Aku rasa aku memiliki waktu untuk mengisi ulang daya tenagaku yang terkuras karena berkumpul dengan para ekstrovert itu di study tour sebelum menghadapi festival ulang tahun sekolah, aku harus bisa memperkukuh posisiku sebagai seorang serigala penyendiri di kelas mulai dari sekarang.
“Kelas kamu sebelum naik kapal bakal ngadain acara barbeku-an kan?” tanya Maya tiba – tiba memecah keheningan, aku pun mencoba mengingat agenda acara kelas sebelum kami naik ke kapal untuk menyeberangi lautan.
“Hm? Ooh iya juga...” jawabku agak ragu, aku benar – benar tidak tahu pasti agenda setiap jam ketika study tour seperti ini.
“Kamu mau main bareng gak pas acara itu?” tanya Maya saat itu dan penawaran itu terasa sangat tidak masuk akal di telingaku
Kenapa dia menawarkan main bersama di saat semua teman sekolah kami berada di tempat yang sama? Bukankah itu artinya hubungan kami bisa dengan mudah bakal diketahui secara luas oleh teman sekolah? Apa yang Maya pikirkan sebenarnya? Eeh tunggu... sebelumnya Elma juga mengatakan hal yang sama seperti ‘Kenapa gak main sama Maya aja?’
“Tidak!! Tidak!! Lelucon konyol macam apa ini?!!” tanyaku panik dan sambil menggebrak meja
“Aku gak bercanda! Meski kita beda kelas, tapi kita naik kapal dan tujuan yang sama. Di waktu luang seperti acara barbeku-an, kita bisa ketemu, aku serius loh!” timpal Maya dengan bentakan untuk menegaskan seberapa serius Maya dengan tawarannya itu.
“Berhenti bersikap bodoh!! kelompokmu sendiri gimana?!” tanyaku balik dengan bentakan juga
“Ya ditinggal pergi aja! Apa susahnya?!” tanya balik Maya padaku dan aku terdiam sejenak menatap kedua matanya yang begitu serius dengan kata – katanya itu.
Aku menarik nafas dalam – dalam lalu menyangga kepala dengan tangan kiri yang aku letakkan di atas meja, aku tidak mengerti kenapa Maya bisa dengan mudahnya mengatakan kalau dia akan meninggalkan kelompoknya begitu saja hanya demi aku yang memang sejak awal selalu nyaman dengan kesendiriannya. Mungkin dia benar – benar tidak paham risiko yang akan dia tanggung dari perbuatannya itu, aku harus menjelaskannya sesederhana mungkin...
“Jangan lah...” belum selesai aku berkata, Maya memotong
“Kenapa?! Kamu gak mau main sama aku?!” tanyanya dengan bentakan
“Bukan gitu, dengar ya... aku paham kita berdua sama – sama penyintas waktu, tapi orang yang sudah memiliki teman akan sangat dirugikan di sini. Tadi sudah kamu bilang, kan? Acara seperti study tour seperti ini sangat penting buat mempertahankan hubungan sama teman – teman sekelasmu” jawabku mencoba untuk memberikan pengertian yang sederhana kepadanya
Jujur saja, meski aku mengatakan seperti itu tapi aku tidak bisa memungkiri kalau aku masihlah tetap seorang cowok normal. Meninggalkan kelompok study tour untuk bertemu hanya berdua saja bersama seorang gadis secantik Maya, itu terkesan seperti sebuah kencan, kan? Aku yakin aku bakal gembira dengan kondisi itu, tapi kenyataannya tidak bisa sesimpel itu.
Untukku tidak akan ada yang berubah ketika aku harus meninggalkan teman kelompok study tour-ku... Tapi jika Maya yang melakukannya... dia harus meninggalkan teman sekelasnya dengan alasan yang tidak jelas dan pasti akan berbohong, lalu hubungan yang dia miliki dengan teman sekelas dan juga kelompok study tour-nya akan mengalami keretakan yang sangat dalam dan akan sangat sulit untuk diperbaiki.
Lagi pula, memang Maya punya alasan kuat untuk meninggalkan kelompok demi bermain bersamaku? Aku sendiri tidak bisa memahaminya, aku ini bukan seseorang yang menyenangkan buat diajak jalan, aku juga bukan tour guide, dan juga bukan seorang vloger makan dan minuman. Tidak ada untungnya bermain bersamaku ketika kita sedang study tour seperti ini...
“Aku ingatkan lagi, kamu mungkin berpikir hidup sebagai seorang penyendiri seperti aku ini menyedihkan dan penuh penderitaan, tapi pada dasarnya aku sudah sangat puas dengan kondisi ini. Aku katakan saja, aku kadang muak diberi rasa kasihan aneh olehmu setiap kali kita membahas tentang mencari seorang teman seperti ini” ucapku meneruskan perkataanku sebelumnya, berharap Maya mengerti namun dia malah mengatakan...
“Ini bukan rasa kasihan!!” bentaknya, aku sampai terkejut mendengar Maya membentak seperti itu.
“Aku cuma... ingin kamu menikmati hidup juga... sama sepertiku~” ucap Maya lagi terdengar dia akan menangis ketika itu...
...Menurutku sudah berkali – kali Maya melewati batasan untuk mencampuri kehidupanku sejauh ini, aku tahu ada perbedaan yang besar dalam pola pikir kami sejak kami dipaksa kembali ke masa tiga tahun yang lalu...
Aku memilih untuk menjadi seorang penyendiri atas keinginanku sendiri, menurutku, tidak ada satu pun yang salah dari keputusanku itu. Sedangkan Maya, dia berpikir kalau menghabiskan masa SMA dengan menjadi penyendiri itu adalah hal yang merugikan sehingga dia memaksaku untuk mencari seorang teman agar kehidupan masa SMA-ku menjadi jauh lebih baik.
Perbedaan pola pikir antar manusia itu adalah hal yang sangat wajar dan sangat mustahil bagi kami bisa mencapai titik kompromi semudah itu, mengubah pola pikir tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Hingga detik ini kami menghindari perbedaan yang ada dengan sadar, kami telah melangkah dengan hati – hati sejauh ini agar tidak melewati batasan yang wajar yang telah kami buat secara tidak sadar.
Tapi ide Maya untuk menemaniku ketika study tour itu sama saja dengan dia ingin mengorbankan dirinya hanya untukku, menurutku, itu sudah keluar dari batasan yang telah tercipta di antara kami dan aku sudah tidak bisa mentoleransinya lagi. Aku tidak bisa menerima ini lagi dan hal seperti ini tidak boleh terus terjadi dan berulang...
“Maaf, aku tidak sudi menerima itu” tegas aku katakan itu dan membuat Maya terkejut dari sorot matanya yang menatapku
Sejak awal, Maya dan aku tidak seharusnya berada di titik garis waktu ini. Kehidupan kami tidak seharusnya saling bersinggungan, sedangkan alasan Maya begitu peduli padaku di kehidupan kedua ini aku rasa sudah tidak perlu lagi aku perjelas kenapa. Aku yakin dia masih merasa bersalah karena aku mati setelah menyelamatkan hidupnya pada insiden di persimpangan jalan dekat sekolah...
“Jangan merasa gak enakan, bukankah kita sudah perjelas sejak awal? Aku menyelamatkanmu dan kamu membangkitkan aku dari kematian, kita sudah gak terikat hutang budi apa pun karena sudah impas” ucapku meneruskan kalimatku sebelumnya, namun Maya terlihat masih diam dengan ekspresi kagetnya itu menatapku.
Aku yakin Maya masih terbebani atas kejadian itu, Maya mungkin berpikir bahwa setelah menyeretku kembali ke masa tiga tahun lalu hanya dia yang sukses menjalaninya karena dia memiliki banyak teman. Tapi Maya salah, dia lupa kalau di kehidupan sebelumnya dia memang pada dasarnya sudah di kelilingi banyak teman sedangkan aku sejak awal tidak memiliki satu pun teman.
“Iya... aku paham sama yang kamu katakan...” gumam Maya terdengar sedih, perlahan dia menundukkan kepala namun tidak lama sampai dia kembali menatapku sambil berkata...
“Tapi bukan itu aja! Aku berpikir kalau di kehidupan kedua ini kita bisa...” perkataan Maya menggantung dan dia menatapku dengan mata yang berkaca, perlahan Maya kembali menundukkan pandangan dan dia terdengar seperti menghela nafas.
“...Maaf ya sudah mengucapkan kata aneh...” kembali agak bergumam Maya mengucapkannya
“Memang gak realistis rasanya kalau kita ketemuan saat study tour, maaf ya... tingkahku jadi sedikit aneh setelah mendengar Elma sama Luna melakukan sesuatu buatmu...” ucap Maya sambil perlahan dia berdiri dari duduknya, namun dia masih juga tidak menatapku seperti biasanya dan hanya tertunduk.
“Maaf ya... aku pamit duluan, ini uangnya” ucap Maya lagi dan kali ini dia menatapku sambil tersenyum namun kali ini senyumnya berbeda... aku tidak pernah melihat senyum Maya yang seperti ini...
...Senyum itu terasa menyesakkan hatiku...
Aku tidak mengerti senyum apa yang dia tunjukkan padaku itu dan apa artinya... itu bukan senyum yang selama ini ingin aku lihat dari Maya, senyum yang seolah mengatakan penyesalan yang begitu dalam juga kesedihan. ‘Apa maksudnya?’ hanya itu yang ada di dalam kepalaku ketika melihat Maya beranjak pergi meninggalkan kafe, aku pun hanya bisa diam mematung membiarkan Maya pergi meninggalkanku dengan semua keanehannya...