NovelToon NovelToon
Jurig Jarian

Jurig Jarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Roh Supernatural / Horor
Popularitas:339
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertarungan Adrian

Makhluk berbulu hitam raksasa itu melangkah mendekati Adrian yang terkapar di tanah. Dengan satu gerakan cepat, tangan besarnya yang legam dan berbulu mencengkeram leher Adrian, mengangkat tubuhnya tinggi ke udara.

Cengkeraman itu begitu kuat hingga Adrian bisa merasakan seluruh pasokan udara di jiwanya terputus. Matanya mendelik menahan sakit, dan dadanya terasa seperti dihantam batu besar yang sangat berat.

"JIWAMU AKAN MENJADI TUMBAL PENGGANTI DI SINI, MANUSIA BODOH!"

Suara makhluk itu bergemuruh, getarannya membuat kesadaran Adrian perlahan-lahan mulai mengabur. Di tengah rasa sesak yang luar biasa dan pandangan yang kian menggelap, sekelebat ingatan mendadak melintas di kepala Adrian. Dia teringat sesaat sebelum jiwanya dilepas oleh Aki Sukra di tepi lubang Jarian.

“Nak Adrian, bawa keris tua ini. Selipkan di kain jarikmu. Ini pusaka desa, gunakannya hanya di saat jiwamu benar-benar terancam!” Kalimat Aki Sukra terngiang jelas.

Menggunakan sisa-sisa tenaga yang hampir habis, tangan kanan Adrian bergerak gemetar meraba pinggangnya di balik lilitan kain jarik. Benar saja, jemarinya menyentuh hulu kayu sebuah keris tua. Tanpa berpikir panjang, Adrian menarik keris itu keluar.

Dengan teriakan lemah yang tertahan di tenggorokan, Adrian menghantamkan keris itu sekuat tenaga, menusukkannya tepat ke pergelangan tangan raksasa yang sedang mencekik lehernya.

JLEBBB!

"AARRGGGGHHHHHH!!!"

Raungan melengking penuh kesakitan yang memekakkan telinga keluar dari mulut makhluk tersebut. Asap hitam pekat berbau busuk mengepul dari luka tusukan keris pusaka Aki Sukra. Cengkeraman makhluk itu langsung terlepas, membuat tubuh Adrian jatuh di atas tanah.

Makhluk raksasa itu melangkah mundur beberapa langkah, memegangi tangannya yang terbakar oleh energi keris. Sepasang mata merah darahnya menatap Adrian dengan kombinasi rasa amarah dan ketakutan.

"KAU... KAU AKAN MENYESAL, MANUSIA!!!"

Bersamaan dengan runtuhnya makhluk itu, tubuh raksasa berbulu tersebut perlahan memudar, berubah menjadi gumpalan kabut hitam yang bergerak cepat mundur ke dalam kegelapan padang rumput, lalu menghilang sepenuhnya dari pandangan.

Adrian terengah-engah, memegangi lehernya yang memar. Namun, dia tahu makhluk itu bisa kembali kapan saja. Sambil tetap menggenggam keris pusaka, dia merangkak dengan cepat menuju rumah gubuk tempat Dinda dan Bagas ditahan.

Dia segera memeriksa kondisi kedua sahabatnya yang masih terlilit sisa-sisa tali. Dengan bantuan ketajaman keris di tangannya, Adrian memotong habis sisa tali yang mengikat leher dan tangan mereka.

"Gas! Bagas, bangun! Ini aku, Adrian! Buka matamu, Gas!". Adrian mengguncang-guncang bahu Bagas dengan panik.

"Euuuhhh. Yan? Adrian.? Aku. aku di mana? Dadaku sakit banget, Yan.". Bagas perlahan mengerang, kelopak matanya bergerak berat.

"Aku disini menjemputmu. Bertahanlah!". Adrian air matanya menetes karena lega.

Adrian kemudian beralih ke tubuh Dinda. Wajah gadis itu masih sangat pucat. Adrian menepuk-nepuk pipinya lembut sambil merapalkan doa sebisanya.

"Dinda. bangun, Din. Tolong buka matamu. Maafkan aku. maafkan aku yang gak pernah peka sama perasaanmu. Tolong bangun, kita pulang." Adrian menangis sesegukan mengingat kejadian yang dia alami.

Setelah beberapa saat yang menegangkan, Dinda tersedak, seolah-olah baru saja mendapatkan kembali napasnya yang hilang. Matanya terbuka lebar, menatap Adrian dengan tatapan yang awalnya kosong, lalu berubah menjadi penuh tangis ketakutan.

"Adrian.? Kamu benar-benar di sini? Bukan bayangan? Aku takut banget, Yan.”. Dinda langsung terisak, suaranya lemah.

"Iya, Din. Ini aku di sini bersama kalian. Semuanya sudah selesai." Adrian langsung menarik Dinda dan Bagas ke dalam pelukannya.

Di tengah padang rumput gersang berlatar langit merah darah yang mencekam, ketiga sahabat itu saling berpelukan erat. Tangis penyesalan, kelegaan, dan rasa takut bercampur aduk menjadi satu. Bagas, meski tubuhnya masih sangat lemah, ikut mempererat pelukan mereka menggunakan sebelah tangannya.

"Terima kasih, Yan. kamu beneran nekat datang ke tempat ini buat kami.". Bagas suaranya bergetar menahan tangis.

”Maafin aku, Adrian, gara-gara kebodohanku dan rasa cemburuku, kita semua jadi seperti ini." Dinda memeluk erat Adrian.

"Sudah, jangan bahas itu dulu. Yang penting kalian sudah sadar. Kita harus cepat keluar dari tempat ini sebelum gerbang ghaib yang dijaga Aki Sukra tertutup selamanya. Ayo, kita pulang!" Adrian menggelengkan kepala sambil mendekap mereka berdua lebih erat.

Wuuussssshhhh!

Sebuah embusan angin sedingin es mendadak bertiup kencang dari dalam lubang Jarian, memadamkan kepulan asap kemenyan yang ada di tungku tanah liat. Di saat yang sama, tubuh Adrian seolah ditarik kembali secara paksa melewati lorong waktu yang gelap gulita.

Uhuk! Uhuk!

Adrian tersentak bangun, dadanya naik turun memburu napas. Dia terbatuk hebat, menghirup udara malam dunia nyata yang terasa begitu segar. Kesadarannya telah kembali sepenuhnya ke dalam jasad fisiknya. Di hadapannya, Aki Sukra perlahan menurunkan tasbihnya sambil melepaskan napas lega yang amat dalam.

"Alhamdulillah... jiwamu sudah kembali, Nak Adrian." Aki Sukra yang menghela nafas lega melihat keadaan Adrian.

Aki! Nak Adrian! Lihat ke arah bawah pohon beringin itu! Ada sesuatu!" Pak RT berlari mendekat dengan wajah cemas.

Kang Kosim segera mengarahkan cahaya obornya ke area tumpukan sampah di bawah akar pohon beringin tua Jarian. Di sana, terkapar dua sosok tubuh manusia yang mengenakan pakaian kotor penuh tanah.

"Dinda! Bagas!". Adrian sambil memegangi kain jariknya, ia langsung bangkit berdiri meski tubuhnya lemas.

Para warga yang berjaga di sekitar lokasi langsung bergerak cepat membantu membawa tubuh Dinda dan Bagas yang ditemukan tidak sadarkan diri di bawah pohon beringin tersebut. Tubuh fisik mereka berdua yang selama ini disembunyikan oleh kekuatan Jarian akhirnya dimunculkan kembali ke dunia nyata seiring dengan keberhasilan Adrian.

Warga dengan sigap membaringkan Dinda dan Bagas di atas tikar yang telah disiapkan. Aki Sukra segera mendekat, memercikkan air doa ke wajah kedua mahasiswa tersebut sambil merapalkan ayat-ayat suci penawar sihir.

Uhuk. Yan.

Bagas menjadi yang pertama membuka mata, disusul oleh Dinda yang perlahan-lahan mulai tersadar sambil memegangi kepalanya yang pusing. Begitu melihat kedua temannya benar-benar bernapas dan kembali ke dunia nyata, Adrian langsung berlutut di antara mereka dan mendekap kedua sahabatnya itu dengan sangat erat. Air mata kebahagiaan tumpah ruah di malam yang dingin itu.

"Kalian kembali. kalian beneran kembali. Terima kasih Ya Allah. terima kasih." Adrian menangis sesenggukan, mendekap erat bahu Bagas dan Dinda.

"Kita berhasil pulang, Yan. Kamu beneran nekat." Bagas tersenyum lemah, menepuk punggung Adrian yang tak berbaju.

Adrian. maafin aku ya. terima kasih sudah jemput kami dari tempat mengerikan itu." Dinda meraba wajah Adrian, memastikan ini bukan mimpi.

"Alhamdulillah, ritualnya berhasil. Terima kasih Aki Sukra, terima kasih Nak Adrian atas keberanianmu." Pak RT menyeka air matanya melihat pemandangan mengharukan tersebut.

Aki Sukra berdiri tegak, memandangi hutan larangan Jarian yang perlahan-lahan mulai tenang. Kabut tebal yang tadinya liar dan mencekam berangsur-angsur menipis, dan wangi melati yang bercampur bau busuk pun menguap digantikan oleh aroma tanah basah yang normal. Energi dendam dari hantu Sinta dan penguasa ghaib Jarian akhirnya meredam setelah menerima kekalahan dari pusaka keris yang dibawa Adrian.

"Malam ini, kegelapan Jarian telah mengakui kekalahannya. Perjanjian terkutuk itu sudah putus. Jiwa Sinta tidak akan bisa mengusik kalian lagi karena ikatannya pada hati yang cemburu telah dihancurkan oleh ketulusan persahabatan kalian." Aki Sukra menguatkan.

Malam yang panjang dan penuh teror itu akhirnya berakhir dengan kemenangan bagi mereka. Pengorbanan dan keberanian nekat Adrian berhasil membayar lunas kelalaian masa lalu mereka. Dan yang paling disyukuri oleh seluruh warga desa, setelah kematian tragis Maman yang menjadi korban pertama sekaligus pemicu terungkapnya rahasia kelam masa lalu, tidak ada lagi korban-korban selanjutnya yang jatuh ke dalam pelukan mistis hutan larangan Jarian.

Keesokan harinya, rumah kolonial Belanda itu tidak lagi terasa dingin dan mencekam. Meja makan bundar yang sempat kosong kini kembali dipenuhi oleh canda tawa pelan dari tiga sahabat yang saling menguatkan, siap untuk menyelesaikan sisa masa KKN mereka dengan hati yang jauh lebih bijaksana.

1
Heriyansah
Terimkasih kak
Khodijah
bagus ceritanya semangat ya' Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!