Jolina Zaneva, siswi SMA, diam-diam mencintai gitaris band idolanya—sosok yang hanya ia kenal lewat lagu dan layar. Meski dilarang ibunya, ia nekat datang ke konser, berharap mimpinya menjadi nyata.
Namun malam itu berubah menjadi mimpi buruk ketika Jolina melihat idolanya memperlakukan seorang gadis dengan kasar. Amarah mengalahkan kekaguman—dan sebuah tamparan mengakhiri rasa cinta yang ia simpan diam-diam.
Sejak saat itu, Jolina membenci lelaki yang pernah ia puja. Hingga takdir kembali mempertemukan mereka dalam hubungan yang jauh lebih rumit. Perlahan, Jolina mulai meragukan apa yang ia lihat malam itu.
Saat rahasia terungkap, Jolina harus memilih: bertahan pada kebencian, atau berani mendengarkan kebenaran di balik melodi yang pernah ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jjamiyuu09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Esok paginya, Jolina sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Rambutnya terikat sederhana, wajahnya terlihat segar meski matanya menyimpan sisa kelelahan semalam. Ia merapikan buku-buku, memastikan semuanya masuk ke dalam tas dengan rapi.
Saat hendak menutup resleting tasnya, pandangannya tertuju pada sepasang sepatu milik Jeremy yang terletak rapi di sudut kamar. Sepatu itu sudah bersih—hasil cucian tangannya sendiri kemarin.
Jolina menghela napas panjang.
Dengan langkah malas, ia mengambil sepatu itu, memasukkannya ke dalam paper bag, lalu keluar dari kamar.
Di depan kamar Jeremy, ia berhenti sejenak. Ragu. Namun akhirnya ia mengetuk pintu itu juga.
“Jeremy,” panggilnya singkat.
“Buka aja,” teriak Jeremy dari dalam.
Jolina mendecak pelan. Dengan enggan, ia memutar knop pintu dan membukanya.
Begitu pintu terbuka, Jolina langsung mematung.
Jeremy berdiri membelakanginya, bertelanjang dada, membuka lemari dan mengambil seragam sekolahnya. Rambutnya masih sedikit basah, handuk tergantung di bahunya. Jolina reflek mengalihkan pandangan ke arah lain.
Dia ini sengaja, ya? batinnya kesal.
“Kenapa lo diam aja?” tanya Jeremy santai.
“Nih sepatu lo…” ucap Jolina cepat, tanpa menoleh.
Jeremy meliriknya lewat pantulan cermin, lalu cengengesan sambil mengeringkan rambutnya.
“Lo cuciin ternyata. Gue kira lo buang.”
Jolina memilih diam. Ia menelan ludah. Entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya. Ia membenci fakta bahwa Jeremy terlihat—terlalu—menyebalkan pagi ini.
“Yaudah nih sepatu lo, gue letak sini ya…” katanya, hendak menaruh paper bag di dekat pintu.
“Eh jangan, kok letak di situ sih…”
“Ya terus di mana?”
“Di sini,” ujar Jeremy sambil menunjuk lemari sepatu di dekatnya.
Jolina memutar mata. “Gue bener-bener udah kayak art, ya…”
“Udah buruan letakin di sini, yang rapi yaa.”
“Gue lempar nih sepatu ke kepala lo…”
Jeremy menoleh ke arahnya, tersenyum. Senyum yang menurut Jolina—sangat menyebalkan.
“Taruh di sini ya, kakak.”
Dengan langkah berat, Jolina menghampirinya dan meletakkan paper bag di atas meja. Saat itu Jeremy justru mendekat. Sedikit menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Jolina.
“Terima kasih…”
Nada suaranya rendah. Terlalu dekat.
Jolina reflek mendorong dadanya. “Minggir!”
Tanpa menunggu reaksi apa pun, ia langsung berbalik dan keluar dari kamar Jeremy, menutup pintu agak keras.
Sementara di dalam, Jeremy hanya tersenyum kecil.
Dan di luar, Jolina berjalan cepat menuju kamarnya, jantungnya masih berdegup tak karuan—kesal, bingung, dan entah kenapa… gugup.
***
Di meja makan pagi, suasana terasa canggung. Bunyi sendok dan piring beradu terdengar lebih jelas dari biasanya. Jolina duduk dengan wajah datar, sesekali mengaduk makanannya tanpa benar-benar berselera. Sementara itu Jeremy makan dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
Mama memecah keheningan.
“Mulai sekarang, Jolina berangkat sekolah sama Jeremy ya.”
Sendok di tangan Jolina berhenti bergerak.
“Hah? Ma…,” Jolina mengangkat wajahnya, jelas tidak setuju. “Kan aku biasa sendiri. Lagian—”
“Tidak,” potong mama tegas. “Pergi dan pulang harus sama Jeremy. Mama nggak mau dengar alasan.”
Jolina membuka mulut, ingin membantah. Otaknya langsung bekerja keras, mencari-cari alasan paling masuk akal agar bisa lolos dari keputusan itu. Tapi sebelum ia sempat bicara lagi—
“Iya ma, aku tanggung jawab,” ucap Jeremy dengan nada lembut, nyaris sempurna. Sikap anak berbakti yang sulit ditolak.
Mama langsung tersenyum. “Nah gitu dong. Mama jadi tenang.”
Jolina menunduk, menahan kesal. Tangannya mengepal di bawah meja. Di seberangnya, Jeremy meliriknya lalu tersenyum kecil—menyebalkan—memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
Rasanya pengen gue lempar piring ini ke mukanya, batin Jolina.
Setelah selesai makan, mereka bersiap pergi ke sekolah. Jeremy sudah lebih dulu berada di atas motornya. Jolina melangkah keluar rumah tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya.
Jeremy menyodorkan helm ke arah Jolina.
“Pakai.”
“Gue nggak mau pakai helm.”
Jeremy menghela napas pelan. “Lo itu masyarakat yang nggak mematuhi peraturan lalu lintas ya?”
“Nanti rambut gue berantakan kalau pakai helm.”
Jeremy meliriknya sekilas. “Justru kalau nggak pakai helm rambut lo makin berantakan, Jolin.”
“Pokoknya gue nggak mau pakai helm.”
Jeremy terdiam sejenak, rahangnya mengeras. “Terserah lo deh.”
Nada suaranya terdengar kesal, tapi ia tidak memaksa lagi.
Dengan hati yang masih dongkol, Jolina naik ke atas motor. Jarak mereka terasa dekat, terlalu dekat, meski tidak ada sentuhan apa pun. Mesin motor dinyalakan, dan mereka pun melaju meninggalkan rumah—dalam keheningan yang dipenuhi emosi tertahan.
Jolina menatap jalanan di depan, sementara Jeremy fokus pada jalanan. Pagi itu terasa panjang, bahkan sebelum sekolah benar-benar dimulai.
Motor besar itu masuk ke kawasan sekolah elit, suaranya masih menggema pelan sebelum akhirnya terparkir rapi di barisan motor siswa lainnya. Begitu mesin dimatikan, Jolina langsung turun dengan cepat, seolah ingin menjauh sejauh mungkin dari Jeremy. Tangannya refleks merapikan rambut yang sedikit berantakan, napasnya masih belum sepenuhnya stabil.
“Lo itu bisa nggak sih bawa motor?” omelnya kesal. “Gue aduin papa lagi lo ya…”
Jeremy melepas helmnya dengan santai. “Gue emang biasa kayak gini kalau bawa motor.”
“Lo itu sengaja ya mau nyiksa gue…” Jolina memicingkan mata, suaranya menahan emosi.
Jeremy meliriknya sekilas. “Emmm… nggak juga sih.”
Jolina mencoba mengatur napas, tapi perutnya terasa tidak nyaman. Rasa mual tiba-tiba naik, membuat wajahnya sedikit pucat.
“Lo keterlaluan banget tau gaa…” gumamnya lirih.
Jeremy terkekeh kecil, lalu dengan refleks menepuk-nepuk dan memijat pundak Jolina. Gerakannya santai, seolah itu hal yang biasa.
“Singkirin tangan lo itu!” Jolina langsung menepisnya.
Di saat yang sama, Rama—ketua OSIS yang terkenal ramah dan populer—turun dari motornya tak jauh dari mereka. Tatapannya langsung tertuju pada Jolina yang tampak tidak enak badan.
“Jo? Selamat pagi,” sapa Rama dengan nada khawatir. “Kamu kenapa?”
Jolina terkejut, refleks tersenyum tipis. “Eh… Kak Rama… ah nggak kok, aku gapapa.”
“Gapapa gimana? Kamu kelihatan mual-mual gitu. Kamu sakit?”
Jolina cepat-cepat menyingkirkan tangan Jeremy yang tadi sempat kembali mendekat ke pundaknya.
“Dia pacar kamu?” tanya Rama, melirik Jeremy sekilas.
“Ah nggak kok,” jawab Jolina cepat. “Bukan pacar aku.”
Rama mengangguk pelan. “Aku antar kamu ke UKS ya.”
“Maaf kak Rama, kalau aku ngerepotin,” ucap Jolina sungkan.
“Nggak kok,” Rama tersenyum hangat.
“Makasih ya kak.”
“It’s okay, Jo.”
Jolina lalu menoleh ke Jeremy dan dengan nada dingin berkata, “Bawain tas gue ke kelas.”
Jeremy mendelik. “Lo pikir gue ba—”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tas Jolina sudah melayang dan mendarat tepat di dada Jeremy.
“Woiii, Jolina?? Enak aja lo ya…” Jeremy mengangkat tas itu. “Gue buang nih tas lo—”
“Eh itu siapa?” Rama menoleh ke arah Jeremy. “Kasihan dia.”
“Itu nggak penting,” jawab Jolina cepat.
Pipi Jolina sedikit memerah, entah karena malu atau kesal. Ia lalu melangkah pergi mengikuti Rama menuju gedung sekolah, meninggalkan Jeremy yang berdiri dengan wajah masam.
Jeremy menatap punggung Jolina dengan ekspresi jijik bercampur kesal.
“Hehh!!! Gue buang nih tas lo ke tempat sampah,” teriak Jeremy.
Rama menoleh pada Jolina. “Eh, itu tas kamu…”
Jolina mendengus kecil. “Udah, dia nggak bakal berani. Ntar aku aduin dia sama papa.”
Rama tersenyum kaku. “Ah… kalian saudara.”
“Iya,” jawab Jolina singkat. “Ya gitu deh…”
Langkah mereka berlanjut menuju UKS, sementara di kejauhan Jeremy masih berdiri, menggenggam tas Jolina dengan rahang mengeras—emosinya tertahan, matanya mengikuti Jolina sampai menghilang di balik pintu gedung.
***