"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16. Perang batin
Sore harinya sekitar pukul lima, deru mesin mobil Rayhan kembali terdengar memasuki halaman rumah kontrakan. Ia sengaja pulang lebih awal dari biasanya demi memastikan kondisi ibunya. Setelah meletakkan tas kerja di ruang tengah, Rayhan buru-buru melangkah menuju kamar di sebelah kanan.
Di dalam kamar, suasana tampak temaram. Habibah masih tertidur lelap dalam posisi miring berselimut tebal. Efek obat penurun panas dan pereda nyeri yang diminumnya siang tadi benar-benar bekerja kuat, membuat tubuhnya yang lelah terlelap sangat dalam.
Imam, yang sejak tadi duduk berjaga di kursi kayu sudut kamar sambil sesekali memeriksa berkas di tabletnya, langsung menoleh saat menyadari kehadiran calon menantunya. Pria paruh baya itu meletakkan tabletnya lalu bangkit berdiri dengan gerakan sangat pelan, memberikan isyarat dengan telunjuk di bibir agar Rayhan tidak berisik.
Mereka berdua berjalan keluar kamar, menutup pintu kayu itu dengan amat perlahan agar tidak mengusik tidur Habibah.
"Gimana keadaan Ibu, Om?" tanya Rayhan setengah berbisik begitu mereka tiba di ruang tengah. Gurat kecemasan masih kentara jelas di wajah pemuda itu.
"Demamnya sudah mulai turun dibandingkan tadi siang, Ray. Tapi dari tadi sore Ibumu masih tidur pulas karena pengaruh obatnya memang agak kuat," jawab Imam, suaranya terdengar tenang dan kebapakan, menyembunyikan getaran emosional yang sepanjang siang tadi ia rasakan saat merawat cinta pertamanya. "Tadi siang sudah mau makan bubur sedikit dan langsung minum obat."
Rayhan menghembuskan napas lega, bahunya yang tegang perlahan rileks. "Syukurlah kalau begitu. Terima kasih banyak ya, Om, sudah mau repot-repot menjaga Ibu seharian ini."
"Sama-sama. Sudah menjadi kewajiban Om saling menolong, kita sudah menjadi keluarga setelah tinggal satu atap, meskipun kamu dan Ameera belum menikah" sahut Imam sembari tersenyum tipis, memberikan penekanan tipis pada kata 'kewajiban' yang tentu saja diartikan lain oleh Rayhan sebagai bentuk solidaritas calon keluarga baru.
Rayhan melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah enam. "Ibu kalau sakit biasanya susah sekali makan, Om. Bubur instan pasti tidak akan cukup buat memulihkan tenaganya. Karena itu, ini Rayhan niat mau membuatkan sup ayam jahe kesukaan Ibu. Biasanya kalau badannya greges dan dipaksakan makan sup hangat yang banyak rempahnya, Ibu bisa langsung segar lagi."
Imam tersenyum tipis, ada rasa bangga melihat perhatian Rayhan yang begitu besar pada ibunya. "Ide bagus itu, Ray. Biar tenaganya cepat pulih. Perlu Om bantu siapkan bahan-bahannya di dapur?"
"Eh, tidak usah, Om! Om Imam pasti sudah lelah seharian ini menjaga Ibu," tolak Rayhan sungkan sambil buru-buru menggulung lengan kemeja kerjanya dan berjalan menuju dapur mungil di sudut ruangan. "Biar Rayhan saja yang masak. Menunya simpel kok, cuma potong sayur dan ayam."
Selama satu jam berikutnya, dapur kontrakan itu dipenuhi oleh aroma harum kaldu ayam yang gurih bercampur wangi jahe yang hangat dan menenangkan. Rayhan dengan telaten mengiris wortel, kentang, dan mememarkan beberapa siung bawang putih serta jahe tebal, memastikan masakan untuk ibunya benar-benar sempurna.
Sementara di dalam kamar yang sunyi, di bawah pengaruh obat yang mulai perlahan menipis, Habibah bergerak gelisah di atas ranjangnya. Sembari kesadarannya perlahan kembali, indra penciumannya mulai menangkap samar-samar aroma sup hangat yang sangat familier dari arah dapur, perlahan-lahan menuntunnya untuk terjaga dari tidur panjangnya.
*
*
Sekitar pukul setengah tujuh malam, pintu depan kontrakan kembali terbuka. Ameera melangkah masuk dengan wajah yang tampak sangat lelah setelah bergelut dengan kemacetan jalanan dan urusan vendor yang tak ada habisnya.
Begitu kakinya melewati batas ruang tengah, indra penciumannya langsung disambut oleh aroma gurih kaldu ayam dan hangatnya jahe yang memenuhi penjuru rumah. Ia menoleh ke arah dapur dan mendapati Rayhan sedang sibuk memindahkan sup yang baru matang ke dalam mangkuk saji besar. Sementara di ruang tengah, ayahnya sedang duduk membaca berkas dengan tenang.
Melihat pemandangan itu, perasaan bersalah langsung menghantam dada Ameera. Rasa tidak enak hati menjalar hebat di benaknya. Sebagai calon menantu perempuan, ia merasa sangat bersalah karena justru pulang paling akhir dan sama sekali tidak ikut andil dalam merawat Habibah sejak pagi.
Dengan langkah pelan dan kepala agak tertunduk, Ameera menghampiri ayahnya terlebih dahulu di sofa.
"Papa..." panggil Ameera lirih, meremas tali tas jinjingnya dengan canggung. "Maaf ya, Pa... Ameera baru pulang. Ameera beneran merasa tidak enak hati banget hari ini. Tante Bibah sakit, tapi Ameera malah tidak ada di rumah sama sekali untuk bantu merawat atau sekadar buatkan teh."
Imam menurunkan berkasnya, lalu menatap anak perempuan semata wayangnya itu dengan sorot mata yang teduh. Ia mengerti betul tabiat Ameera yang selalu perfeksionis dan mudah merasa bersalah.
"Nggak apa-apa, Meer. Jangan berpikiran begitu," ujar Imam lembut, mencoba menenangkan kegundahan anaknya. "Tadi siang Papa sudah pastikan Tante Bibah makan bubur dan minum obat. Lagipula, tugasmu di luar kan juga penting untuk mempersiapkan pernikahan kalian. Tante Bibah pasti sangat memaklumi itu."
Meskipun ayahnya sudah menenangkan, rasa mengganjal di hati Ameera belum sepenuhnya hilang. Ia kemudian melangkah menuju dapur, menghampiri Rayhan yang sedang menata mangkuk di atas nampan.
"Yang..." panggil Ameera dengan nada penuh sesal. "Maaf ya, aku baru pulang. Aku beneran merasa bersalah banget sama Ibu. Malah kamu yang repot-repot masak sup sendirian setelah pulang kantor."
Rayhan menoleh, lalu tersenyum hangat melihat gurat kecemasan di wajah calon istrinya. Ia mengusap pundak Ameera dengan lembut. "Hei, nggak apa-apa. Jangan merasa begitu. Tadi kan ada Om Imam yang menjaga Ibu seharian di rumah. Ini aku cuma buatkan sup supaya Ibu ada tenaga setelah bangun tidur."
Rayhan mengambil mangkuk sup kecil yang sudah diisi kaldu hangat. "Ibu sepertinya sudah mulai terjaga di dalam. Bagaimana kalau kamu yang bawa sup ini ke kamar dan suapi Ibu? Sekalian kamu bisa lihat kondisinya langsung."
Mendengar tawaran Rayhan, mata Ameera langsung berbinar lega. Ini adalah kesempatannya untuk menebus rasa tidak enak hatinya sejak sore tadi.
"Iya, biar aku saja yang suapi Ibu!" ujar Ameera cepat, mendadak bersemangat. Ia mengambil alih mangkuk sup hangat itu dengan hati-hati.
Sebelum melangkah menuju kamar Habibah, Ameera sempat melirik ke arah ayahnya di ruang tengah dengan tatapan penuh rasa terima kasih. Ia sama sekali tidak pernah menyadari bahwa di balik kebaikan ayahnya menjaga sang calon ibu mertua seharian ini, ada getaran asmara masa lalu yang sedang diredam mati-matian.
*
*
Pagi harinya, suasana rumah kontrakan terasa jauh lebih tenang dibandingkan kemarin. Aroma sup ayam jahe sisa semalam digantikan oleh wangi teh melati hangat yang baru diseduh.
Habibah sudah bisa keluar dari kamar. Meskipun langkah kakinya masih agak pelan dan jemarinya terasa lemas, wajahnya tidak lagi sepucat kemarin. Ia duduk di meja makan, mengenakan khimar panjang berwarna pastel, mencoba menyesap teh hangatnya perlahan.
Di dekat pintu depan, Rayhan dan Ameera sudah rapi dengan pakaian kerja mereka. Rayhan sedang memakai sepatu pantofelnya sambil sesekali melirik ibunya dengan pandangan memastikan.
"Bu, beneran sudah tidak apa-apa ditinggal?" tanya Rayhan, menaruh tas kerjanya di atas bufet pendek. "Kalau Ibu masih lemas begitu, Rayhan bisa minta izin masuk agak siang ke kantor."
Habibah memaksakan segaris senyum hangat untuk menenangkan putranya. "Sudah jauh mendingan, Ray. Demamnya sudah hilang, cuma tinggal sisa lemasnya saja karena belum banyak gerak. Kamu berangkat saja, jangan telat. Ameera juga, ayo berangkat, nanti keburu macet di jalan."
Ameera yang sudah menyampirkan tasnya ikut mendekat, mencium punggung tangan Habibah dengan takzim. "Tante, kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu, langsung telepon Ameera ya. Kemarin Ameera sudah merasa bersalah banget tidak bisa menjaga Tante."
"Iya, Meer, terima kasih ya. Tante sudah sehat, kok," jawab Habibah lembut.
Sementara anak-anak bersiap di dekat pintu, Imam berdiri mematung di koridor antara kamarnya dan ruang tengah. Pria paruh baya itu sudah mengenakan kemeja batik formal dan celana kain, namun dompet dan kunci mobilnya masih tergeletak di atas meja ruang tamu. Langkah kakinya tertahan oleh keraguan yang amat sangat.
Matanya melirik ke arah meja makan, menatap sosok Habibah yang duduk sendirian sambil memegangi cangkir teh dengan tangan yang masih sedikit bergetar.
‘Dia masih lemas,’ batin Imam bergejolak. ‘Bagaimana kalau dia pusing lagi saat tidak ada orang di rumah?’
Namun di sisi lain, Imam juga teringat ucapan Habibah kemarin tentang rasa bersalah yang menghantam batin wanita itu. Jika hari ini ia kembali mengambil cuti atau menunda ke kantor, ia takut tembok pertahanan Habibah akan semakin runtuh, atau worse, maka anak-anak akan menaruh curiga pada perhatiannya yang berlebihan.
Rayhan yang melihat Imam berdiri diam langsung menyapa, "Om Imam mau berangkat bareng?"
Imam tersentak dari lamunannya. Ia berdehem, mencoba menguasai suaranya agar terdengar tenang. "Eh... kalian duluan saja, Han, Meer. Om... Om masih ada beberapa dokumen yang harus diperiksa ulang di laptop. Mungkin Om agak siangan sedikit baru ke kantor, nunggu jam ganjil-genap selesai sekalian."
Ameera tersenyum manis. "Oh, ya sudah kalau begitu, Pa. Kami berangkat duluan ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan," jawab Imam dan Habibah hampir bersamaan.
Begitu pintu depan ditutup dan deru mobil Rayhan perlahan menjauh meninggalkan halaman, rumah kontrakan itu seketika kembali diselimuti oleh keheningan yang intim sekaligus menegangkan.
Imam membalikkan badannya, melangkah perlahan mendekati area meja makan. Jantungnya kembali berdegup dengan irama yang familier, debaran lemas yang selalu muncul setiap kali ia berada berdua saja dengan Habibah.
Habibah yang menyadari langkah kaki Imam mendekat, langsung meletakkan cangkir tehnya. Ia mendongak, menatap Imam dengan sorot mata yang sarat akan permohonan terselubung.
"Mas Imam... kenapa tidak berangkat sekarang saja?" tanya Habibah, suaranya pelan namun ada nada khawatir yang jelas di sana. "Aku sudah tidak apa-apa. Tolong... jangan menunda pekerjaanmu lagi karena aku."
Imam berhenti tepat di samping kursi kosong di sebelah Habibah. Ia tidak duduk, melainkan hanya menatap wajah wanita itu dengan tatapan dalam yang mengunci jiwa.
"Aku tidak menunda pekerjaan karena terpaksa, Bah," ujar Imam parau, suaranya merendah. "Aku hanya... tidak tenang membiarkanmu berjalan ke dapur dengan tangan yang masih bergetar seperti itu. Biarkan aku di sini sampai siang, memastikan kamu sudah benar-benar kuat untuk ditinggal sendirian."
Habibah tertegun, meremas jilbabnya di bawah meja. Di pagi yang cerah itu, perang batin di antara rasa bersalah kepada anak-anak dan kenyamanan dirawat oleh sang pemilik hati kembali dimulai.
*****