"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tangga Seribu Langit dan Intelijen si Gendut
Hari pertama sebagai murid Fraksi Urusan Luar dimulai dengan sangat bersahaja. Di dalam pondok kayu sederhana di kaki Puncak Kesembilan, Lin Ling menatap seragam barunya: selembar jubah putih polos standar murid luar. Dengan watak santainya, Lin Ling menolak memakainya dengan rapi. Dia membiarkan jubah putih itu tersampir longgar, kancing atasnya terbuka, berpadu kontras dengan rambut putih panjangnya yang terurai malas.
Di sampingnya, Wang Ba sibuk bernapas terengah-engah hanya karena mencoba mengancingkan jubah putihnya yang kekecilan hingga menonjolkan perut buncitnya.
"Aduh, Saudara Lin, seragam sekte megah ini sepertinya tidak ramah untuk kultivator berbobot lebih sepertiku," keluh Wang Ba sambil menyeka keringat.
Lin Ling tertawa konyol. "Tenang saja, Gendut. Pakai saja longgar-longgar seperti aku. Lagipula, siapa yang peduli pada penampilan tukang sapu?"
Seorang murid senior yang bertugas mengurus logistik mendatangi mereka dengan wajah bosan, lalu melemparkan peralatan kerja. Wang Ba menerima sebuah ember kayu dan kain lap, sementara Lin Ling menerima sebatang sapu lidi bambu biasa.
"Tugas kalian hari ini adalah membersihkan Tangga Seribu Langit yang menghubungkan kaki gunung dengan batas bawah Fraksi Alkimia Obat dan Fraksi Pedang Langit. Kerjakan dengan benar, atau jatah makan malam kalian dipotong!" gertak si senior sebelum pergi begitu saja.
Wang Ba langsung lemas dan terduduk di lantai. "Tangga Seribu Langit? Kudengar jumlah anak tangganya benar-benar seribu dan terbuat dari giok putih! Bagaimana mungkin tubuh tambunku ini bisa bertahan?!"
Lin Ling menimang-nimang sapu lidinya dengan cengiran lebar. Baginya, ini adalah rute taktis terbaik di seluruh sekte. Menyapu di perbatasan Fraksi Alkimia Obat berarti dia bisa mengintai medan tanpa memicu kecurigaan. Dia merangkul bahu gempal Wang Ba dengan akrab.
"Sudahlah, Gendut, jangan menangis. Ayo jalan. Aku yang menyapu, kau yang mengelap tiangnya. Kalau kau lelah, kau bisa tidur di balik bayangan tiang giok, biar aku yang mengawasi situasi," ujar Lin Ling santai.
Mendengar kebaikan hati Lin Ling, mata Wang Ba langsung berbinar-binar penuh haru. "Saudara Lin! Kau benar-benar saudara sehidup sematiku mulai hari ini!"
Sinar matahari siang menyinari Tangga Seribu Langit yang luar biasa megah. Sementara murid-murid jenius dari fraksi atas terbang lalu-lalang di langit menunggangi bangau spiritual dengan jubah berkilauan, di bawah sini, Lin Ling dengan baju putih longgarnya sedang menguap malas sambil menyeret sapu lidinya secara acak-acakan.
Di anak tangga ke-100, Wang Ba sudah ambruk, bersandar di pilar giok sambil memakan bakpao yang diam-diam dia selundupkan di dalam jubahnya.
"Hei, Gendut," panggil Lin Ling santai, ikut duduk di samping Wang Ba dan menyandarkan sapu lidinya. "Kau bilang ayahmu menyogok petugas agar kau bisa masuk ke sini. Pasti kau tahu banyak gosip tentang sekte megah ini, kan?"
Wang Ba langsung menelan bakpaonya dan menegakkan tubuh, merasa bangga karena pengetahuannya dibutuhkan. Dia mendekatkan wajahnya secara taktis ke arah Lin Ling dan berbisik pelan.
"Tentu saja! Ayahku berteman dengan salah satu pedagang logistik sekte. Saudara Lin, kau tahu tidak? Meskipun sekte ini punya sembilan puncak, pusat kekayaan terbesar itu ada di Puncak Kedua milik Fraksi Alkimia Obat yang dipimpin Tetua Duanmu Rong!"
Mata hitam penyamaran Lin Ling sedikit berkilat. "Oh? Seberapa kaya?"
"Sangat gila!" bisik Wang Ba bersemangat. "Kudengar, seminggu sekali, Aula Penyimpanan Obat mereka menerima pasokan ratusan Pil Kondensasi Qi tingkat tinggi dan Tanaman Obat Salju Seribu Tahun. Tapi pelindungnya luar biasa ketat. Formasi Array di sekitar gudang mereka dipasang langsung oleh Tetua Fraksi Ketiga, konon bisa menghancurkan kultivator ranah Core Formation dalam sekali tembak jika berani menyusup!"
Wang Ba bergidik ngeri membayangkannya, sementara Lin Ling di sampingnya justru harus sekuat tenaga menahan diri agar tidak tertawa terpingkal-pingkal.
Formasi yang hanya bisa membunuh Core Formation? batin Lin Ling geli. Dengan tubuh baru berfisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, formasi semacam itu bahkan tidak akan sanggup menggelitik kulitnya. Baginya, Aula Penyimpanan Obat itu tidak berbeda dengan supermarket gratis tanpa kasir.
"Lalu, bagaimana dengan Tetua Inti dari Klan Lin? Yang katanya punya akar spiritual kelas super?" tanya Lin Ling lagi secara santai, menguji informasi tentang adiknya.
"Ah, Nona Lin Xian'er!" Wang Ba mendesah kagum. "Beliau adalah kebanggaan sekte, tinggal di Puncak Utama yang paling tinggi. Beliau sangat jarang turun gunung karena sibuk bermeditasi. Tapi kudengar, bulan depan saat pendaftaran murid baru selesai, beliau akan hadir di upacara penyambutan untuk melihat potensi murid-fraksi atas."
"Begitu ya..." Lin Ling tersenyum konyol, menatap sapu lidinya. Adik kecil, nikmati saja meditasimu dengan tenang. Sementara kau sibuk bertapa, kakakmu ini akan mengosongkan seluruh isi tabungan sekte tempatmu bernaung.
Baru saja Wang Ba ingin melanjutkan gosipnya, sekelompok murid baru dari Fraksi Pedang Langit berjalan turun melewati tangga dengan angkuh. Mereka adalah anak-anak muda dari klan kaya yang mengenakan jubah pedang yang rapi dan megah.
Melihat Lin Ling yang berambut putih dan berbaju acak-acakan sedang duduk santai bersama si gendut, salah satu murid sombong itu mendengus jijik. Saat berjalan melewati Lin Ling, murid itu sengaja mengalirkan sedikit Qi ke bahunya dan menabrakkan diri ke arah Lin Ling untuk menjatuhkannya dari tangga sebagai lelucon.
BRUK!
"AAAGHH?!"
Bukannya Lin Ling yang menggelinding jatuh, murid sombong itu justru berteriak kaget. Rasanya seperti menabrak dinding gunung besi purba yang tak bergeming. Momentum murni membuat tubuh murid itu terpental tiga meter ke belakang, mendarat dengan pantat terlebih dahulu di atas tangga giok yang keras.
"Aduh! Bahuku..." murid itu mengaduh kesakitan, merasa tulang bahunya hampir retak.
Lin Ling perlahan berdiri, mengucek mata hitamnya dengan wajah polos tanpa dosa, lalu memegang sapu lidinya kembali.
"Wah, Saudara Muda dari Fraksi Pedang, tangga ini memang agak licin. Lain kali kalau berjalan lihat-lihat ya, untung saja tubuhku ini agak tebal jadi bisa menahanmu agar tidak menggelinding ke bawah," kata Lin Ling konyol dengan nada yang sangat ramah namun terasa sangat menyebalkan.
"Kau—!" Teman-teman murid sombong itu hendak marah, namun melihat Lin Ling yang sama sekali tidak terluka dan malah tersenyum bodoh, mereka merasa ada yang aneh. Menilai kultivasi Lin Ling yang hanya Body Tempering lapisan pertama, mereka mengira teman mereka sendiri yang ceroboh dan tersandung.
Dengan wajah memerah menahan malu, mereka segera memapah teman mereka yang kesakitan dan pergi terburu-buru.
Wang Ba yang melihat kejadian itu langsung melongo, bakpao di tangannya hampir jatuh. Dia menatap Lin Ling dari atas ke bawah. "Saudara Lin... kau... bagaimana bisa kau tidak bergeser satu inci pun saat ditabrak kultivator yang sudah punya Qi?"
Lin Ling hanya terkekeh santai, menepuk perut buncit Wang Ba. "Sudah kubilang, Gendut. Aku ini dasarnya malas, jadi lemak di tubuhku dipadatkan oleh bakat alami. Ayo, bantu aku menyapu sepuluh anak tangga lagi, setelah itu kita kembali ke asrama untuk bersiap makan malam."
Sambil menyeret sapu lidinya kembali, senyum misterius terukir di sudut bibir Lin Ling. Informasi siang ini sudah lebih dari cukup. Puncak Kedua, Aula Penyimpanan Obat milik Tetua Duanmu Rong. Target pertamanya telah terkunci secara taktis, dan malam ini, si murid tukang sapu baju putih siap meluncurkan aksi pencurian pertamanya.