Aurora sudah terlihat cantik dengan riasan wajah natural flowles dan glowing. ia mengenakan gaun pengantin impiannya rancangan sahabatnya sendiri Vera.
Di sudut ruangan rias Maxime yang tak lain sahabat Aurora berdiri mengamati kecantikannya dengan takjub.
Tiba-tiba sebuah kabar buruk datang jika pengantin pria yaitu Andre tidak datang melainkan pergi tanpa kabar sejak semalam. kepanikan seketika melanda terutama Aurora sampa jatuh pingsan dan harus di tenangkan oleh teman dan keluarganya. hingga waktu yang di tentukan Andre tak juga datang. demi menyelamatkan nama keluarga besar akhirnya Maxime bersedia menikahi Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 12 Pisah Rumah
"Bos mobil mba Rora ada di rumah keluarga Antoro" kata Wisnu. ia sengaja memasang pelacak di mobil Aurora secara diam-diam setelah Rora menikah dengan Maxime. tentu semua juga atas arahan Maxime.
Maxime hanya ingin menjaga Aurora siapa tahu ada yang berniat jahat pada Rora terutama lawan bisnis Maxime. sebagai CEO yang memegang dua perusahaan sekaligus Max punya banyak teman tapi ia juga punya banyak pesaing yang tidak segan melakukan berbagai cara untuk menjatuhkan perusahaannya.
"Oke Wisnu thanks"
Maxime mengarahkan mobilnya menuju rumah mertuanya. ia tenang karena Aurora ada di rumah orang tuanya sendiri. setiba di rumah keluarga Antoro, Maxime di sambut bibi yang membukakan pintu.
"Eh mas Maxime, mba Rora di kamar menangis terus sejak tadi" kata bibi.
"Iya bi saya langsung ke kamar Rora ya"
"Silahkan mas"
Maxime berjalan menaiki tangga menuju kamar Aurora. ia mengetuk pintu perlahan tanpa bersuara. kalau Aurora mendengar suaranya pasti dia tidak mau membuka pintu.
"Siapa? papa ya?" tanya Aurora dari dalam kamarnya.
ceklek..
Pintu terbuka Aurora menatap Maxime berdiri di hadapannya tersenyum tipis dengan wajah bersalah.
"Sorry ..." kata Maxime.
Aurora hampir menutup pintu kamarnya tapi Max menahan dengan sebelah tangannya.
"Rora maafkan aku" Maxime mengulangi permintaan maafnya dengan lebih tulus.
"Pergi, aku mau sendiri!" kata Rora masih marah.
"Ayo kita pulang" kata Maxime setengah memohon.
Maxime merasa kesepian di rumah sendiri. ia sudah terbiasa tinggal dengan Aurora.
"Pulang saja sendiri!" Aurora memaksa mendorong pintu hingga tertutup.
Max terdiam sejenak ia lalu berjalan turun ke lantai utama menunggu mertuanya pulang agar membantu membujuk Aurora.
"Hai Max sudah disini?" sapa papa Antoro.
"Iya pa, Rora marah pa dia ada di kamar tidak mau bertemu saya tidak mau pulang juga"
"Sabar Max nanti biar papa nasehati dia kau pulang istirahatlah dulu. besok biar papa antar Rora pulang ke rumah kalian"
"Iya Max kau tahu sendiri Rora kalau ngambek lama" tambah mama.
"Ya sudah saya mohon bantuannya pa, ma" kata Maxime pasrah.
Maxime pamit pulang ia menuju rumah orang tuanya. Maxime tidak mau di rumah sendiri kesepian tanpa Aurora. meski selama tinggal berdua mereka tidak berbuat apapun dan tidur di kamar masing-masing tapi kehadiran Aurora sangat berarti bagi Maxime.
Maxime berbaring di sofa ruang keluarga menatap layar televisi dengan tatapan kosong.
"Cie lagi marahan ya?" Catherine duduk di samping kakaknya.
"Galau ya?" goda Catherine membuat Maxime kesal hingga melempar bantal pada adiknya itu.
"Pergi sana!"
"Terlalu kecintaan sama Aurora jadinya marahan sedikit saja sudah galau!" sindir Catherine.
"Anak kecil tahu apa sih!" omel Maxime.
Catherine membalas melempar bantal ke wajah Maxime ia lalu berlari pergi ke kamarnya. sementara papa Gunanto dan mama hanya geleng-geleng kepala.
"Maxime sama Aurora sama labilnya ya pa" kata mama.
"Sudah biarkan saja mereka menyelesaikan permasalahan rumah tangganya, bertengkar itu biasa" kata papa.
Semalaman Maxime tertidur di sofa sampai pagi tiba, mama yang membangunkannya.
"Max cepat mandi katanya ada meeting" kata mama.
Maxime membuka matanya ia jadi lesu setelah menyadari jika dirinya ada di rumah papa mama bukan di rumahnya sendiri.
"Mana Aurora?" tanya Max.
"Ngigau ya?!" celetuk Catherine usil.
"Pa suruh anak kecil itu pergi!" Maxime kembali melempar bantal pada Catherine.
"Sudah-sudah Cath ayo cepat nanti terlambat ke sekolah"
"Kak Maxime sudah gila pa"
"Sudah Cath jangan goda kakak mu terus" kata papa menahan tawa.
Maxime malas-malasan hari ini. ia serasa tidak semangat berangkat ke kantor. tapi mau bagaimana lagi meeting sialan itu tidak bisa di tunda. Max akhirnya pergi ke kantor ia meminta Wisnu menjemputnya.
Setibanya di kantor Serly menyambut kedatangan Maxime.
"Pagi pak, ini kopinya" kata Serly meletakkan segelas Americano di atas meja kerja Maxime.
Maxime menatap penampilan Serly yang terlihat berbeda. celana panjang dan blazer tertutup. high hells nya juga terlihat tidak setinggi biasanya.
"Pagi Serly apa kau sehat?" tanya Maxime heran dengan perubahan sekretarisnya. selama lima tahun Serly bekerja untuknya baru kali ini gadis itu memakai pakaian tertutup begitu.
"Saya sehat kok pak" jawab Serly malu-malu.
Wisnu terkekeh ia juga takjub dengan perubahan Serly.
"Ada apa dengannya?" tanya Maxime setelah Serly keluar dari ruangannya.
"Kemarin mba Aurora bilang kalau karir Serly mau panjang di kantor ini sebaiknya Serly tidak memamerkan belahan dadanya ke pak bos" kata Wisnu.
Maxime terdiam lalu tertawa ia senang Aurora seperti orang cemburu pada Serly.
"Benarkah Rora berkata begitu?"
"Benar bos buktinya Serly berubah"
Maxime mengangguk ia meraih gelas kopinya lalu meminum sedikit.
"Mana kunci mobil!"
"Bos mau kemana? sebentar lagi ada meeting penting" kata Wisnu.
"Ah itu tidak penting! Aurora lebih penting!" kata Max sembari berjalan cepat pergi meninggalkan ruang kerjanya.