Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.
Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.
Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 27
Suasana di depan pintu masuk penthouse mewah itu seketika berubah mencekam.
Hawa hangat yang tadinya melingkupi Farrel dan Amelia Putri menguap, digantikan oleh aura dingin yang menusuk.
Amelia yang merasakan perubahan drastis dari tubuh Farrel langsung melangkah mundur.
Gadis itu bersembunyi di balik punggung bidang Farrel, meremas ujung kemeja taktis pria itu dengan jari-jarinya yang gemetar.
Farrel menempelkan telapak tangannya pada pemindai biometrik pintu digital.
Klik.
Pintu baja tebal itu terbuka tanpa suara. Di dalam ruang tamu yang luas, lampu utama sengaja dimatikan, hanya menyisakan pendaran cahaya lampu Kota Bogor dari balik jendela kaca besar yang menembus kegelapan malam.
Di atas sofa kulit Italia tempat Farrel biasa bersantai duduk sesosok wanita dengan postur tubuh yang sangat proporsional.
Wanita itu mengenakan setelan catsuit kulit hitam ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang seksi, lengkap dengan sabuk taktis di paha kirinya.
Rambut hitam pendeknya dipotong gaya bob yang tajam. Di tangannya, ia sedang memainkan sebilah belati titanium, memutarnya di antara jemari dengan kecepatan yang mengagumkan.
"Jadi... lu supir angkot yang lagi jadi buah bibir di dunia bawah tanah?" Suara wanita itu terdengar renyah, namun memiliki nada sinis yang tajam.
Farrel melangkah masuk dengan tenang. Ia tidak terkejut, karena panel virtual Sistem di otaknya sudah menyala sejak tadi.
【 Ting! Analisis Penyusup Berhasil! 】
【 Identitas: Maya Arisanti (24 tahun). Tingkat Kecantikan: 93/100 (Sangat Menawan). Jabatan: Pembunuh Bayaran Independen / Agen Bayangan Kelas S. 】
【 Catatan: Target dikirim oleh Aliansi Pengusaha Jakarta (koneksi mendiang Jenderal Hermawan) untuk menyelidiki runtuhnya faksi Hermawan dan Cakar Bumi. Target menyusup karena penasaran dengan rumor tentang Anda. 】
【 Tingkat Kesukaan (Favorability) Awal: 0% (Netral / Sangat Penasaran). 】
Farrel berjalan mendekati meja bar tanpa memedulikan tatapan tajam wanita itu.
"Maya Arisanti. Agen kelas S yang disewa orang-orang Jakarta. Gua gak nyangka mereka bakal kirim aset berharga cuma buat nyari tahu soal gua."
Maya sedikit tersentak. Seringai di wajah cantiknya langsung hilang, digantikan oleh kilatan waspada.
"Bagaimana bisa bajingan ini tahu nama asli dan kelasku? Intelijen Jakarta bahkan butuh waktu tiga hari hanya untuk melacak apartemen ini!" batinnya tegang.
Maya bangkit dari sofa, berniat menguji apakah rumor tentang kehebatan Farrel itu nyata atau hanya bualan.
Dengan kecepatan luar biasa, Maya melesat maju, mengayunkan belati titaniumnya langsung ke arah leher Farrel dalam gerakan melingkar yang mematikan.
Wuss!
Serangan itu menghasilkan suara robekan angin yang tajam. Namun, di bawah pengaruh stat kecepatan superior milik Farrel, gerakan Maya tampak sangat lambat.
Farrel bahkan tidak memindahkan posisi berdiri pribadinya. Tangan kirinya bergerak secepat kilat, mencengkeram pergelangan tangan Maya dengan cengkeraman sekuat baja, lalu memutarnya ke belakang tubuh wanita itu.
Dengan satu hentakan halus, Farrel mengunci tubuh seksi Maya, menempelkannya erat pada dada bidangnya sendiri dari arah belakang.
"Arrgh!" Maya meringis kesakitan saat belatinya terlepas dan jatuh berdenting di atas lantai marmer.
Tubuh sintalnya yang terbalut kulit ketat kini terkunci mati dalam dekapan kekar Farrel.
【 Ting! Kontak fisik pertama dengan Target Maya Arisanti berhasil! 】
【 Aura dominasi Pengguna berhasil mengguncang mental target. 】
【 Tingkat Kesukaan Maya Arisanti meningkat: 0% -> 15% (Terkejut & Mulai Tunduk secara Fisik)! 】
Farrel mendekatkan bibirnya ke telinga Maya, mengembuskan napas hangatnya yang membuat tubuh agen wanita itu merinding hebat.
"Lu terlalu lambat untuk ukuran pembunuh kelas S, Maya. Lu datang ke sini bukan buat bunuh gua, tapi karena lu penasaran, kan?"
Maya menelan ludah, dadanya naik-turun menahan debaran jantung yang menggila akibat karisma Farrel yang begitu pekat.
"L-Lepasin gua... Gua cuma mau mastiin apa benar mantan supir angkot bisa ngeratain ratusan preman dalam satu malam."
Farrel melepaskan kunciannya dengan santai, membiarkan Maya mundur beberapa langkah sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah.
Farrel menoleh ke arah Amelia yang masih menonton dengan wajah pucat.
"Mel, masuk ke kamar sebelah kanan. Mandi dan istirahatlah."
"Urusan di sini sudah selesai," ucap Farrel lembut. Amelia hanya mengangguk patuh dan segera masuk ke dalam kamar.
Farrel kembali menatap Maya yang kini menatapnya dengan pandangan yang jauh berbeda penuh rasa hormat yang terpaksa.
"Kembali ke bos lu di Jakarta, Maya. Bilang sama mereka, kalau mereka coba-coba usik Bogor lagi, gua sendiri yang bakal datang ke Jakarta buat potong kepala mereka."
Maya terdiam sesaat, lalu mengambil kembali belatinya dengan anggun.
"Gua bakal sampaikan pesan lu, Farrel. Tapi ingat, orang-orang di Jakarta gak serendah Jenderal Hermawan atau Bramantyo. Mereka punya uang dan pasukan yang jauh lebih besar."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Maya berbalik dan melompat keluar melalui jendela penthouse yang terbuka, menghilang di balik kegelapan malam Kota Bogor bagai hantu.
Farrel hanya menatap kepergiannya dengan seringai tipis. Baginya, Aliansi Jakarta hanyalah ladang poin sistem berikutnya yang siap dipanen.