Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.
Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.
"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Benteng yang Retak dan Ujian sang Raja
Ketegangan di dalam paviliun kaca Mansion Ketiga begitu pekat hingga suara tarikan napas pun terdengar seperti ancaman. Dominic Garrick diam mematung, sepasang mata elangnya menatap lurus pada barikade manusia di depannya. Cedric berdiri paling depan dengan rahang mengeras, sementara Xavier dan Julian memasang badan dengan tangan siap mencabut senjata di balik jas mewah mereka. Di belakang mereka semua, Adrian menatapnya dengan pandangan menantang.
Empat saudaranya yang selama ini saling sikut dan mendamba kehancuran satu sama lain, kini bersatu erat hanya untuk melindungi satu nama: Alana.
Dominic perlahan menurunkan tablet militer di tangan kanannya. Seringai dingin, namun sarat akan kebingungan taktis, terukir di bibirnya. "Luar biasa," desis Dominic, suaranya bergaung rendah menembus kaca-kaca paviliun. "Cedric, dua puluh empat jam yang lalu kamu mengacungkan senapan ke arah Julian. Xavier, kamu menguras aset keuangan Faksi Pertama milik Cedric. Dan sekarang... kalian berdiri berdampingan seperti anjing penjaga yang patuh di depan anak haram ini?"
"Jaga mulutmu, Dominic," bentak Cedric, selangkah maju hingga dadanya yang masif hampir bersentuhan dengan Dominic. Aura militer yang brutal kembali memancar dari tubuhnya. "Dia bukan anak haram. Dia adik perempuan kami. Dan jika kamu mengambil satu langkah lagi ke arah ranjangnya, aku tidak peduli jika kamu adalah tangan kanan Ayah—aku akan memastikan kamu pulang tanpa kepala."
Xavier terkekeh gila, matanya menggelap penuh kilatan posesif yang protektif. "Mundur, Dominic. Kamu tidak punya kekuasaan di Mansion Ketiga. Tempat ini... dan semua yang ada di dalamnya, adalah milikku. Jika kamu mengusik ketenangan Alana lagi, aku akan membekukan seluruh suplai dana operasional pasukannya di seberang laut dalam hitungan detik."
Dominic menatap mereka bergantian, sebelum pandangannya menembus celah bahu Cedric, mengunci sepasang mata jernih Alana yang duduk dengan tenang di atas kursi empuknya. Gadis itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun senyuman tipis di bibir pucatnya seolah menegaskan bahwa dialah pemilik mutlak dari loyalitas para monster ini.
Menyadari situasi tidak lagi menguntungkannya secara taktis, Dominic mendengus dingin. Dia memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari paviliun tanpa sepatah kata pun. Namun, di dalam kepalanya, badai keraguan mulai berkecamuk. Kata-kata Alana tadi malam tentang paranoia sang Ayah yang sengaja menjauhkannya di luar negeri mulai berdenging kembali, meretakkan fondasi kesetiaan butanya pada sang Raja.
Dua jam setelah kepergian Dominic, kedamaian di paviliun kembali terkoyak oleh sebuah kehadiran yang jauh lebih masif dan mengerikan.
Tanpa ada pengumuman dari penjaga gerbang, tanpa ada deru langkah kaki pasukan elite, pintu kaca paviliun bergeser terbuka secara perlahan. Sesosok pria paruh baya dengan jubah wol hitam panjang melangkah masuk. Rambutnya yang mulai memutih disisir rapi ke belakang, dan sepasang matanya yang sedingin kematian menatap lurus ke dalam ruangan.
Victor Garrick. Sang Raja tertinggi dinasti ini datang sendirian.
Atmosfer di dalam paviliun seketika runtuh ke dalam titik nadir ketakutan. Aura membunuh yang dipupuk dari puluhan tahun pembantaian dunia bawah tanah merembes dari tubuh Victor, membuat Adrian yang biasanya santai seketika merinding dan menahan napas.
Namun, respons fisik dari kakak-kakak Alana justru membuat Victor menaikkan sebelah alisnya. Xavier dan Julian tidak mundur satu inci pun; mereka justru merapat, memperketat barikade mereka di depan Alana. Cedric langsung memasang badan di baris paling depan, tangannya secara terang-terangan mengokang senjata api taktisnya tepat di hadapan ayah kandungnya sendiri.
Sebuah pembangkangan massal yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah dinasti Garrick.
Victor tidak marah. Dia justru menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan meja paviliun, menatap putra-putranya dengan pandangan menilai yang dingin. "Menarik," ucap Victor, suaranya yang berat membelah keheningan dengan kejam. "Aku membesarkan kalian menjadi serigala yang saling menggigit untuk memperebutkan takhtaku. Tapi sekarang, kalian justru berkumpul di sini seperti kawanan domba yang ketakutan, hanya untuk melindungi sebutir debu."
Victor mengeluarkan sebuah berkas tebal dari balik jubahnya dan melemparkannya ke atas meja marmer dengan kasar. Berkas itu mendarat tepat di depan Julian.
"Faksi luar di Eropa Timur mulai mengendus kelemahan kita setelah runtuhnya Faksi Pertama kemarin. Mereka memboikot rute logistik utama di perbatasan. Aku ingin tahu, siapa di antara kalian yang akan bertanggung jawab atas kerugian ini? Ataukah... otak genius di belakang kalian yang akan menyelesaikannya?" Victor menatap tajam ke arah Alana dari balik bahu Cedric.
Tekanan aura intimidasi dari Victor begitu kuat hingga Alana, yang kondisi fisiknya belum pulih total, tiba-tiba merasakan dadanya sesak. Dia terbatuk kecil beberapa kali, memegangi dadanya menahan rasa perih yang menjalar dari luka jahitan di punggungnya.
Mendengar suara batuk Alana dan melihat wajah adiknya yang kian pucat akibat tekanan sang Ayah, kemarahan dan sifat posesif para kakak langsung meledak melewati batas logika mafioso mereka.
"Cukup, Ayah!" potong Xavier dengan suara meninggi, mengabaikan hierarki absolut keluarga. Dia melangkah maju, menepis berkas di atas meja hingga terjatuh ke lantai. "Kerugian di Eropa Timur hanya berkisar seratus juta euro. Faksi Ketigaku akan mentransfer seluruh jumlah itu ke rekening utama Ayah dalam waktu lima menit! Anggap saja itu uang tebusan agar Ayah tidak perlu menginjakkan kaki di Mansion Ketiga lagi dan mengganggu istirahat Alana!"
Julian ikut membuka suara, nadanya sedingin es yang membekukan. "Mengenai boikot rute logistik, saya sudah memerintahkan jaringan Faksi Kedua untuk menutup seluruh akses maritim mereka sebagai serangan balik. Masalah ini sudah selesai sebelum Ayah datang ke sini untuk menekan adik kami."
Cedric tidak menurunkan senjatanya sedikit pun. Matanya merah, dipenuhi oleh naluri protektif yang gila. "Jika Ayah menginginkan darah untuk menebus kegagalan ini, ambil darahku. Jangan sentuh Alana. Dia sudah membayar 'pajak darahnya' kepada Ayah di lobi kemarin."
Victor Garrick menatap ketiga putranya yang kini berani mengancamnya demi seorang anak perempuan yang dulu mereka sia-siakan. Untuk pertama kalinya, sebuah tawa rendah yang mengerikan lolos dari bibir sang Raja. Dia tidak melihat pembangkangan ini sebagai ancaman, melainkan sebagai bukti mutlak dari kejeniusan Alana. Gadis kecil yang terluka itu telah berhasil menyatukan senjata, uang, dan strategi dinasti Garrick di bawah kendalinya.
"Kamu benar-benar luar biasa, Alana," desis Victor, matanya berkilat bangga dengan cara yang sangat kejam. "Kamu telah menjinakkan monster-monster kecilku. Pertahankan posisi ini, karena ujian sesungguhnya dari dunia luar akan segera datang."
Tanpa menyelesaikan makan malam atau mengambil berkasnya, Victor berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan paviliun dengan kepuasan yang aneh. Sang Raja telah mengakui potensi Alana sebagai penerus paling berbahaya yang pernah dia lahirkan.
Malam harinya, setelah paviliun kembali tenang dan kakak-kakaknya sibuk memperketat penjagaan luar, Alana duduk di depan laptop khusus yang sudah dienkripsi oleh Adrian. Wajahnya masih lelah, namun sepasang matanya menyala tajam.
"Adrian," panggil Alana lirih melalui mikrofon internal. "Kirimkan berkas nomor 07 ke server pribadi Dominic sekarang."
"Dipahami, Alana. Pengiriman selesai dalam tiga detik," sahut suara Adrian dari pelantang telinga.
Di seberang kompleks, di dalam ruang kerja Faksi Utama, Dominic baru saja selesai memeriksa sistem keamanannya ketika sebuah notifikasi merah berkedip di monitor rahasianya. Sebuah pesan terenkripsi masuk tanpa nama pengirim, namun menggunakan sandi digital yang dia kenali sebagai kode milik Adrian.
Dominic membuka berkas tersebut. Detik berikutnya, seluruh darah di tubuh sang putra mahkota pertama seolah berhenti mengalir. Wajah tegasnya mendadak pucat pasi.
Layar monitornya menampilkan manifes pembayaran rahasia dari rekening pribadi Victor Garrick yang ditujukan kepada organisasi pembunuh bayaran independen paling mematikan di Eropa Selatan. Tanggal pemesanannya adalah tiga hari yang lalu—tepat sebelum Dominic diperintahkan pulang ke Monako. Target eliminasi yang tertera di dokumen itu adalah dirinya sendiri: Dominic Garrick.
Victor tidak pernah berniat memberikan takhta kepada Dominic. Sang Ayah sengaja memanggilnya pulang untuk dijebak dan dilenyapkan, agar kekuasaan Faksi Utama tetap berada di tangan sang Raja tanpa ada ancaman dari putra pertamanya yang terlalu kuat.
Di akhir dokumen, sebuah pesan teks pendek dari Alana muncul, berkedip pelan di layar:
"Raja tidak pernah membagi mahkotanya, Kak Dominic. Dia hanya memanfaatkan pedangmu untuk membersihkan musuhnya sebelum mematahkan pedang itu. Berlututlah di bawah takhtaku, dan aku akan memberikan kepala Victor Garrick sebagai gantinya."
Dominic mencengkeram tepi mejanya hingga kayu jati itu retak. Napasnya memburu gila di antara amarah yang membakar dan kenyataan pahit bahwa dia telah dikhianati oleh ayah yang dia agungkan seumur hidupnya. Tembok pertahanan sang putra mahkota pertama telah runtuh sepenuhnya, dan umpan maut Alana telah berhasil mengunci mangsa terakhirnya.