Pada malam hari Aletta tengah berjalan santai menikmati udara malam yang begitu dingin sambil mau makan buah jeruk. Ya Aletta sangat menyukai jeruk mereka seperti sahabat sejati sebab jika Aletta kemana-mana dirinya selalu membawa jeruk. "Tinggal 5 butir dan bijinya ada 7 makan aja deh semuanya." Ucapnya semangat. Aletta langsung memasukkan 5 butir jeruk ke dalam mulutnya saat sedang asyik maunya tiba-tiba Aletta mengalami sesak nafas dan langsung terjatuh.
Uhukkkk....uhukkkk.
"Sesak banget dada gue."
"Sialan ya kali gue metong karena keselek 7 biji jeruk yang bener saja lelucon macam ini." Ucapnya kesal.
Kesadaran Aletta mulai menghilang dan Aletta berdoa kepada Tuhan untuk meminta kehidupan yang kedua.
"Tuhan jika akhir hidupku aku minta ke pada mu kehidupan untuk kedua kalinya aku ingin memperbaiki semuanya dan aku ingin minta maaf sama Mommy, Daddy dan para Abang lucknut." Ucapnya lirih tersenyum lebar di akhir kesadarannya dan sisa hembusan nafas terakhirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Putri Arabella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan Keluarga Wilson
"MELISSA UDAH SIAP BELOM?" Teriak Rachel dari lantai satu menunggu sodaranya di ruang tamu bersama Renan dan Robert.
"Jangan teriak-teriak sayang nanti tenggorokan kamu sakit." ucap Robert penuh perhatian.
Rachel mencebikkan bibirnya kesal. "Ish lagian Melissa lama banget Abang."
"Sabar sayang mungkin dia lagi siap-siap." Ucapnya lembut yang memainkan rambut halus Rachel.
"Ayo udah siap semuanya kan?" Matthew tiba-tiba datang bersama yang lainnya terutama Melissa dengan wajah yang sangat bahagia karena ia dan keluarganya akan segera berlibur.
"Udah dong opah." jawab Rachel, Renan dan Robert serempak.
"Yaudah yuk kita jalan." Ajak Henry berjalan ke luar sambil menarik koprnya yang diikuti dengan yang lain.
"Ssssshhhhhh." Ringis orang itu yang tiba-tiba sebuah tangan besar memegang sesuatu.
"Nakal ya." Ucapnya menggoda.
"Aku gak tahan sayang." ucapnya dengan suara lirih.
"Sabar sayang kita bermain aman di sana, ayo cepat kita segera menyusul mereka." Ucapnya mengedipkan matanya.
"Ayo mereka udah masuk ke dalam mobil."
Tak berapa lama empat mobil keluarga Wilson telah sampai di bandara Soekarno Hatta, mereka bergegas turun dan langsung menuju jet pribadi milik keluarga Wilson.
"Huh akhirnya gue liburan juga." Ucap Rachel menduduki tubuhnya di kursi pesawat samping jendela.
Begitupun dengan Melissa menduduki tubuhnya di belakang Rachel. "Iya gue gak sabar pengen cepet sampai biar bisa keliling-keliling di sana terus beli makanan-makanan di sana juga." Ucap Melissa antusias.
"Take off aja belom udah mau cepat-cepat sampe." Celetuk Robert terkekeh geli mendengar obrolan dua princessnya.
Para orang tua yang mendengar obrolan anak-anaknya hanya geleng-geleng kepala menggemaskan sekali anak-anaknya ini, sedangkan Rachel dan Melissa hanya meringis cengengesan.
Beda halnya dengan Revan yang mengabaikan obrolan mereka dan memilih duduk di depan samping jendela dengan pikiran Revan yang tertuju pada adiknya Aretta.
"Adek lagi apa ya sekarang? Pasti dia nyari² kami karena tiba-tiba mansion sepi." Batin Revan yang khawatir Aretta akan mencari keluarganya.
Revan menggeleng². "Gak mungkin sih dia bakal nyariin kami, pasti dia seneng banget kami gak ada di mansion, dia juga bebas mau ngelakuin apa aja tanpa ada yang memarahinya bahkan menyiksanya." Batinnya lagi.
"Maafin Abang dek karena baru sekarang ini Abang tau kebenaran, dengan teganya Abang membiarkan kamu di siksa sama keluarga kita sendiri tanpa membantu kamu sedikitpun." Gumamnya lirih.
Revan merasakan dadanya yang sesak jika mengingat sikap dia ke Aretta, walaupun Revan tidak pernah ikut menyiksa Aretta tapi Revan membiarkan keluarganya sendiri menyiksa Aretta tanpa menolongnya. Revan benci dengan dirinya sendiri melihat Aretta di siksa oleh keluarganya di depan matanya tapi dirinya tidak pernah membantu Aretta dirinya hanya menatap pemandangan di depan matanya dengan tatapan bencinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terdapat 3 gadis cantik yang tengah berkumpul di salah satu kamar di mansion besar berlantai 3. mereka Tengah membicarakan perpindahan mereka ke sekolah SMA Alexander.
"Semuanya udah di urus kan?" Tanya Sherina yang tidak mengalihkan pandangannya ke arah kedua sahabatnya.
Audrey yang sedang mengemil menganggukkan kepalanya. "Udah ko lo tenang aja semuanya udah gue urus." Ucap Audrey lalu memasukkan cemilan yang ada di tangannya ke dalam mulut.
"Hah, semoga kita bisa lupain Aletta ya dia udah bahagia di atas sana." Ucap Ghista dengan pandangan ke arah luar jendela dengan tatapan sendunya. "Walaupun dia rese banget terus juga ngeselin tapi dia sahabat gue dia baikkkkkkk banget tapi sayangnya otaknya gila terus setengah lagi." Ucap Ghista lagi yang tiba-tiba kesal karena mengingat kelakuan sahabatnya itu.
Sherina dan Audrey terkekeh kecil mereka memang mengakui apa yang di ucapkan Ghista memang kebenarannya.
Terkadang mereka berdua kesal dengan Aletta yang begitu mudah percaya dengan Galen bahkan mengorbankan keluarga Alexander untuk mengangkat Cherly menjadi anak dari orang tuanya dengan iming² Galen akan mencintainya dan mau menikah dengannya.
Tentu saja itu membuat Aretta tertarik dan melakukan apa yang Galen inginkan, Aletta langsung bicara kepada keluarga Alexander dan mengutarakan keinginan apalagi kalau bukan menyuruh mereka untuk memasukkan Cherly ke dalam keluarga Alexander.
Tapi bagusnya permintaan Aletta yang tidak berbobot langsung di tolak mentah-mentah oleh mereka semua, sejak kejadian itu Aletta marah besar dan benci kepada orang tuanya karena mereka tidak memenuhi permintaannya.
Orang tuanya beserta keluarga besar Alexander menerima kemarahan dan kebencian Aletta dengan lapang dada dari pada mereka harus memasukkan Cherly ke dalam keluarga Alexander.
Sherina menutup laptopnya yang menandakan ia telah selesai mengerjakan pekerjaannya. "Yaudah kita istirahat yuk biar besok gak telat." Ajaknya.
Ghista dan Audrey mengangguk mereka berdua langsung bangkit menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah bersih² mereka berdua berjalan ke arah kasur yang ukuran king size, melihat kedua sahabatnya sudah selesai bersih² Sherina bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk bersih-bersih.
Beberapa menit Sherina telah selesai bersih² ia langsung berjalan menghampiri kedua sahabatnya yang sudah merebahkan tubuhnya dengan posisi nyaman mereka.
"Tidur, biar besok gak kesiangan." Ucap Sherina yang sudah merebahkan tubuhnya mencari posisi ternyamannya. Audrey dan Ghista langsung memejamkan matanya karena mereka berdua memang sudah sangat ngantuk.
Melihat kedua sahabatnya sudah tertidur pulas Sherina menyunggingkan senyumnya." Selamat malam Aletta semoga lo bahagia di atas sana." Ucapnya lirih. Lama kelamaan mata Sherina tertutup dan Sherina tertidur pulas menyusul kedua sahabatnya ke alam mimpinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Masih di dalam jet yaitu di ketinggian 51.000 kaki seluruh keluarga Wilson sudah tertidur nyenyak karena mereka harus mengisi tenaga untuk perjalanan jauh.
Di dalam jet pribadi keluarga Wilson terdapat 7 kamar yang memang Matthew siapkan untuk keluarga, dan kamar itu sangat berfungsi disaat mereka melakukan perjalanan jauh seperti ini.
Kamar ke 1 yaitu kamar khusus Matthew sendiri yang di kunci dengan sidik jarinya, kamar ke 2 yaitu kamar Henry dan Alina yang bisa di buka dengan sidik jari mereka berdua, kamar ke 3 yaitu kamar Tristan dn Zelin yang bisa di buka dengan sidik jari mereka berdua, kamar ke 4 yaitu kamar Revan, Renan dan Robert tentu saja hanya mereka bertiga yang bisa membuka pintu kamar itu, kamar ke 5 yaitu kamar Melissa dan Rachel kamar ala² cewek yang di desain khusus untuk mereka berdua, lalu kamar ke 6 kamar rahasia Matthew dan hanya Matthew yang bisa membuka kamar tersebut, lalu kamar ke 7 adalah kamar kosong yang jarang sekali di pake bahkan seluruh keluarga Wilson tidak pernah memasuki kamar ke 7.
Keluarga Wilson telah istirahat di kamarnya masing-masing kamar yang kedap suara sangat menguntungkan mereka agar tidur mereka tidak terganggu, terutama kegiatan di salah satu kamar.
Suasana di dalam kamar semakin panas karena kegiatan mereka, walaupun di dalam kamar itu terdapat 3 orang tapi orang satunya lagi tidak terganggu dengan suara laknat mereka berdua yang seharunya tidak mereka lakukan.
Kegiatan mereka berlangsung selama beberapa jam. Setelah melakukan kegiatan itu keduanya tertidur pulas. Sama halnya di salah satu kamar kegiatan tersebut tengah berjalan yang dimana seharusnya mereka tidak melakukan itu. Menuruti nafsu membuat mereka terlibat dalam hal yang terlarang, mereka tidak memikirkan akibatnya nanti.