NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:620
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22

Malam mulai turun perlahan di atas distrik lama. Lampu-lampu jalanan mulai menyala satu per satu, sebagian berkedip redup seperti enggan untuk hidup. Gerimis kecil mulai turun, cukup untuk membasahi aspal retak dan membuat gang-gang sempit memantulkan cahaya kuning yang kusam.

Waktu mereka tiba.Di dalam apartemen tua itu semuanya sudah bersiap. Tidak banyak barang yang bisa dibawa. Han hanya memasukkan pistol dan amunisinya, beberapa dokumen, dan botol air ke dalam tas ransel hitam lusuh. Gerakannya cepat dan efisien, seperti sudah terlalu sering melakukan hal ini.

Nara membawa dokumen penting yang di simpan dalam map tahan air yang dipinjamkan oleh Damar. Sedangkan Arga, setelah protes panjang soal “prioritas evakuasi digital”, akhirnya memasukkan laptop dan hard drive eksternalnya ke tas ransel yang dibawanya.

“Kalau ini rusak,” katanya sambil mengelus tasnya dramatis, “sebagian hidup gue akan ikut mati.”

“Kalau kamu yang rusak, siapa yang akan hack sistem buat kita?” balas Nara.

Arga terdiam beberapa detik.

“Wah. Itu kalimat paling manis yang pernah lu bilang ke gue.”

“Jangan salah paham.”

“Sudah terlanjur.”

Han menghela napasnya perlahan. Meski situasinya tegang, suara mereka membuat ruangan itu terasa sedikit lebih hidup. Damar berdiri dekat pintu sambil memeriksa layar ponselnya.

“Rute belakang aman.”

Han mengangguk.

“Anak-anakmu?”

“Sudah nyebar.”

Tatapan Damar beralih ke Han sesaat.

“Begitu keluar, jangan pernah berhenti.”

“Aku tahu.”

Damar memandangnya beberapa lama, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun akhirnya hanya mengangguk kecil. Tidak perlu banyak bicara lagi.

Han membuka pintu apartemen tua itu. Udara malam yang dingin langsung menerpa. Mereka bergerak cepat menyusuri tangga kayu tua lalu turun ke gang belakang di gedung.

Distrik lama di malam hari terasa seperti dunia yang berbeda. Lebih sunyi dan lebih gelap. Namun justru lebih hidup dengan caranya sendiri.

Bayangan orang-orang yang berkumpul di sudut gang, mengangguk singkat ke arah Damar.  Tidak ada pertanyaan dan  tatapan yang penasaran. Hanya satu pengertian dalam diam.

Han berjalan paling depan dengan langkah yang pasti, seolah tubuhnya sudah hafal setiap retakan di jalan. Nara berjalan tepat di belakangnya, untuk sesaat ia memperhatikan punggung pria itu. Kaku dan tegak, tapi ada sesuatu yang berbeda malam ini. Bukan sekadar waspada tapi lebih pada seseorang yang sedang berjalan menuju kenangan yang tidak ingin ia temui lagi.

Arga mendekat sedikit ke sisi Nara.

“Dia kelihatan lebih serem malam ini,” bisik Arga pada Nara

Nara hanya mengangguk kecil.

Mereka berjalan melewati gang-gang sempit, lorong diantara bangunan tua, bahkan melewati sebuah pasar kosong yang hanya menyisakan bau besi dan kayu yang basah.

Beberapa kali Damar memberi isyarat untuk berbelok tanpa suara. Semuanya terorganisir dalam sepi dan hening. Sekitar lima belas menit kemudian, mereka akhirnya sampai di ujung distrik.

Di hadapan mereka berdiri sebuah bangunan tua yang besar. Sebuah gudang yang sangat tua. Dindingnya terbuat dari beton dengan cat yang hampir seluruhnya mengelupas. Pintu besi utama tertutup rantai besar yang berkarat. Sebagian atapnya sudah terlihat amblas. Bangunan itu tampak seperti mayat yang dibiarkan membusuk.

Arga berhenti dan menatapnya lama.

“…oo shit…. Ini lebih creepy dari ekspektasi gue.”

“Gue harap ngga bertemu setan disini,” lanjut Arga.

“Setannya juga takut sama lu,” sambung Darma, sambil tersenyum kecil.

Nara hanya diam, memperhatikan bangunan itu. Ada aura yang aneh dari tempat itu. Bukan karena hal menyeramkan. Tapi lebih terasa seperti tempat yang menyimpan banyak cerita. Han berdiri memandang bangunan itu cukup lama. Tidak bergerak dengan tatapan mata yang kosong. Seolah sedang melihat sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri.

“HAN?”

Suara Damar memanggilnya pelan. Han berkedip pelan, seakan baru kembali ke dirinya sendiri.  Ia mengeluarkan kunci besi tua dari dalam sakunya. Memasukan ke dalam gembok besar yang mengunci rantai dan saat logam itu berputar gembok, terdengar bunyi klik halus dan ranai terlepas. Han mendorong pintu gudang itu dengan perlahan. Suara gesekan panjang yang bisa membuat bulu kuduk merinding.

Di dalam suasana makin gelap, dingin dan lembab. Bau debu yang menumpuk seperti sudah lama tidak tersentuh oleh sapu. Han masuk lebih dulu sambil menyalakan senter kecil yang dibawanya.

Cahaya menyapu ruangan luas yang dipenuhi rak-rak besi tua, peti kayu kosong, dan kain kain penutup berdebu. Nara melangkah masuk perlahan. Tempat itu terasa mati, namun anehnya ia merasa kalau tempat ini sudah ditinggalkan. Seolah ada seseorang yang pernah menjaga tempat ini.

Arga menyorotkan senter ponselnya ke sekitar.

“Kalau ada setan, munculnya nanti aja yaa, jangan sekarang.”

“Kalau ada setan juga, dia bakal muntah lihat muka lu,” jawab Han datar.

“Wah…lu emang kejam.”

Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Han bergerak sangat tipis. Hampir tidak terlihat. Tapi Damar memperhatikan itu dan tersenyum kecil.

Han berjalan melewati ruangan itu tanpa ragu. Melangkah melewati peti peti dan rak berdebu menuju bagian belakang gudang. Mereka mengikutinya sampai berhenti di depan sebuah dinding beton tua yang tampak biasa saja.

Tidak ada pintu atau jendela, hanya tembok.

Han menyentuh salah satu bagian dinding dan membersihkan debu tebal dari sebuah panel logam kecil yang tersembunyi.

Nara mengernyit, “…Itu…”

“Ruangan tersembunyi,” jawab Han.

Arga langsung tampak antusias, “…sekarang kita bicara.”

Han menatap panel angka itu selama beberapa detik. Jarang sekali Nara melihat ekspresi seperti itu di wajahnya. Tampak ragu atau mungkin takut. Jarinya perlahan mulai menekan kombinasi angka.

Bip.

Bip.

Bip.

Setiap bunyi terdengar terlalu keras dalam kesunyian gudang itu.

Lalu…

klik.

Ada bagian dinding yang bergeser perlahan ke samping. Membuka sebuah lorong sempit dengan cahaya redup yang menyala satu per satu.

Arga ternganga.

“Han…”

“Apa.”

“Lu serius punya markas rahasia?”

Han tidak menjawab. Ia hanya menatap lorong itu cukup lama. Wajahnya berubah sedikit murung. Nara melangkah sedikit lebih dekat.

“Apa yang ada di sana?”

Han menjawab tanpa menoleh.

“Tempat terakhir aku kehilangan semuanya.”

Kalimat itu membuat udara sekitar terasa lebih berat. Tidak ada yang langsung bicara. Karena nada suara Han kali ini berbeda. Tidak datar ,tidak dingin tapi terasa seperti ada sesuatu yang hancur di sana.

Damar menepuk bahunya dengan pelan, “…Lu ngga sendirian sekarang, Han.”

Han diam lalu mulai melangkah masuk ke lorong itu. Sementara Nara dan yang lain langsung mengikutinya dari belakang.

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!