NovelToon NovelToon
Transmigrasi Jadi Ayah

Transmigrasi Jadi Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Duda / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Fiyaaa

apa jadinya jika seorang pemuda berumur 17 tahun transmigrasi ketubuh seorang duda berumur 36 tahun karena di seruduk oleh seekor domba?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fiyaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Tiga bulan kemudian.

Pukul 10.00. Private chapel, Ubud, Bali.

Dekorasi putih dan sage green. Bunga kaca piring di mana-mana. Tamu tidak banyak. Hanya Rasya, Revan, Langit, Gilang, beberapa rekan Arion, dan teman Saga dari komunitas pelukis.

Di ruang tunggu, Saga mondar-mandir pakai beskap putih gading. Tangannya dingin.

“Ion mana? Kok belum masuk?” Saga narik lengan Rasya. “Asya, Ion jadi nggak sih?”

Rasya yang pakai jas abu-abu menepuk bahu Papanya. “Jadi, Pa. Om Ion lagi gugup di luar. Katanya dasinya miring mulu.”

“Beneran?” Saga menutup mulut. “Aga juga gugup. Jantung Aga mau copot.”

Pintu dibuka. Langit masuk, ganteng pakai kemeja putih. “Papa,” panggilnya. “Sudah waktunya.”

Saga menoleh. Matanya langsung berkaca. “Langit... Papa takut.”

Langit jalan mendekat, merapikan kerah beskap Saga. “Takut kenapa? Kan Papa yang ngebet mau nikah sama Om Ion. Katanya nggak mau tidur sendirian lagi.”

“Habisnya...” Saga meremas tangan Langit. “Ini beneran? Aga boleh bahagia?”

“Boleh, Pa.” Langit meluk Papanya singkat. “Papa berhak bahagia. Udah cukup Papa jagain kita. Sekarang giliran Om Ion yang jagain Papa. Aku, Abang Rasya, Revan setuju.”

Revan nongol dari belakang. “Udah Pa, ntar Om Ion dikira diculik lagi. Ayo jalan.”

Musik piano mulai mengalun dari chapel.

Rasya mengulurkan tangan. “Ayo, Pa. Aku yang antar.”

Saga mengangguk, menautkan tangan ke lengan anak sulungnya. “Asya... kalau Aga nangis gimana?”

“Ya nangis aja,” jawab Rasya pelan. “Nggak ada yang larang.”

Pintu chapel dibuka.

Arion berdiri di altar. Beskap putih, songket senada. Wajahnya tegang, tapi saat melihat Saga, seluruh tegang itu luruh.

Saga jalan pelan. Rasya menyerahkan tangan Papanya ke Arion.

“Om,” kata Rasya, suaranya berat. “Saya titip Papa. Seutuhnya.”

Arion menggenggam tangan Saga. “Saya terima, Rasya. Terima kasih udah percaya.”

Penghulu memulai.

Narasi kembali formal. Pernikahan sesama jenis belum diakui secara hukum negara, namun keduanya memilih mengikat janji di hadapan Tuhan, keluarga, dan orang-orang yang mencintai mereka. Bagi Arion dan Saga, sah di mata mereka sudah lebih dari cukup.

“Arion Adi pramana,” ucap penghulu. “Apakah Saudara bersedia menerima Saga sebagai pasangan hidup, untuk saling mengasihi, dalam suka maupun duka, sampai maut memisahkan?”

Arion menatap Saga. Mata Saga berkaca-kaca, bibirnya bergetar.

“Saya bersedia,” jawab Arion tegas. “Saya janji jaga Aga. Saya janji jadi rumahnya. Sampai napas terakhir saya.”

Saga menutup mulut, air mata jatuh.

“Saga,” giliran penghulu. “Apakah Saudara bersedia menerima Arion Adi pramana sebagai pasangan hidup, untuk saling mengasihi, dalam suka maupun duka, sampai maut memisahkan?”

Saga mengangguk cepat. “Saya bersedia! Aga bersedia!” Suaranya pecah. “Aga janji nggak nakal. Aga janji nggak bikin Ion capek. Aga janji... janji sayang Ion terus.”

Tawa kecil terdengar dari bangku tamu. Revan ngelap mata. Langit menunduk, sembunyiin muka merah.

“Cincin,” kata penghulu.

Rasya maju, menyerahkan baki. Dua cincin platinum polos.

Arion mengambil cincin, memasangkan ke jari manis Saga. Tangannya gemetar.

“Dengan cincin ini, aku milik Aga. Aga milik aku,” bisiknya.

Giliran Saga. Tangannya lebih gemetar. Cincin hampir jatuh dua kali. Arion menahan sabar, senyum.

Akhirnya terpasang. Saga menatap cincin itu, lalu menatap Arion. “Udah? Aga udah jadi suaminya Ion?”

Arion mengangguk, mengusap air mata di pipi Saga. “Udah, Sayang.”

“Dengan ini, saya nyatakan kalian sebagai pasangan hidup,” tutup penghulu. “Silakan.”

Sebelum penghulu selesai bicara, Saga sudah menarik kerah beskap Arion, cium singkat tapi dalam.

Chapel riuh. Revan bersiul. Langit pura-pura nutup mata. Rasya tepuk tangan paling kencang.

Setelah pemberkatan, sesi foto.

“Papa! Jangan nempel mulu sama Om Ion!” protes Langit saat Saga nggak mau lepas dari rangkulan Arion.

“Lho, sekarang udah suami Aga!” Saga nggak terima. “Aga mau nempel 24 jam!”

Arion cuma rangkul pinggang Saga lebih erat. “Biarin, Langit. Biar semua tau Papanya udah laku.”

Rasya geleng-geleng. “Baru sah lima menit, Pa.”

Malam hari. Villa tepi tebing.

Hanya ada mereka berdua. Honeymoon dadakan.

Saga duduk di tepi ranjang, masih pakai beskap, mainin cincin barunya. Arion keluar dari kamar mandi, rambut basah.

“Ion,” panggil Saga.

“Hmm?”

“Aga masih nggak percaya.” Saga menunduk. “Tadi Aga nikah beneran ya? Sama Ion?”

Arion jalan mendekat, berlutut di depan Saga. “Beneran, Aga. Kamu udah jadi suami aku. Aku suami kamu.”

Saga nangis lagi. “Terus Aga nggak boleh panggil Ion ‘Om’ lagi dong?”

“Boleh. Terserah Aga.” Arion tawa. “Asal jangan panggil orang lain ‘Sayang’.”

“Nggak mau!” Saga meluk leher Arion kencang. “Aga cuma punya Ion. Ion cuma punya Aga.”

Arion mengangkat Saga ala bridal style, dibaringkan ke ranjang. “Sah, kan? Berarti malam ini...”

Saga tutup muka pake tangan. “I-Ion! Pelan-pelan. Aga malu...”

Arion mengecup jari-jari Saga satu-satu. “Aku tau. Kita pelan-pelan. Semalam suntuk juga nggak apa-apa. Kita punya seumur hidup.”

Di luar villa, suara ombak. Di dalam, dua detak jantung akhirnya punya nama yang sama.

Di Jakarta, Rasya menatap foto pernikahan di ponselnya. Foto Saga ketawa, dipeluk Arion.

Dia kirim ke grup ‘Papanya Kita’.

Rasya: Misi selesai. Papa sudah diculik resmi sama Om Ion.

Revan: AKHIRNYA. Nggak drama lagi.

Langit: Papa, jangan lupa kabarin kalau udah sampe bulan madu ke-10.

Satu jam kemudian, Saga bales. Selfie sama Arion. Keduanya pakai piyama kembar, cincin kawin kelihatan jelas.

Aga: Udah sah ya, anak-anak. Makasih udah jagain Papa selama ini. Sekarang giliran suami Papa yang jagain. Love you 😘

Rasya: I love you too, Pa. Bahagia terus.

Revan: Titip Om Ion, Pa! Jangan dimakan abis!

Langit: Papa, jangan nakal-nakal.

Arion merebut HP Saga.

Ion: Tenang. Papanya kalian aman sama saya.

Saga merebut balik, ngirim voice note.

“Udah ah, Aga mau bobok dipeluk suami Aga. Daaaah!”

Malam itu, Saga tidur tanpa mimpi buruk.

Karena nama baru di hidupnya bukan lagi korban, bukan duda, bukan Papa yang kesepian.

Dan Arion? Tidurnya paling tenang, karena Aga akhirnya di sisinya. Sah. Utuh. Selamanya.

1
Mima D. S
semangat terus thor
Mima D. S
thank you thor udh update byk🤗
Hmmm;): iyee, capek tangannya ngetik muluu huaaa😭
total 1 replies
Mima D. S
menarik dan sangat seruu, tp update nya yg byk dong thor😁
Hmmm;): yeuuuu sabar atuhhh nunggu banyak yang baca hehehe
total 1 replies
Mima D. S
lanjutttt thorrr
Mima D. S
semangat thor💪
Mima D. S
update yg byk dong thor😭😭
Hmmm;): makasii hehe
total 3 replies
Mima D. S
lanjut kk
Hmmm;): iya dehh
total 1 replies
YunaD
mangkanya kambing itu disembelih biar engak kita yang dibunuh
Hmmm;): pantes ya pas hari Idul adha kambing disembelih🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!