Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman
Semburat warna emas dan lembayung mulai mendominasi cakrawala Pantai Melasti, menciptakan garis pemisah yang magis antara langit dan air laut yang membentang luas. Menghasilkan pemandangan yang sangat cantik. Pas untuk dijadikan lokasi pengambilan foto prewedding.
Sore ini, angin bertiup cukup kencang, memainkan ujung gaun off-shoulder putih milik Aiena yang menjuntai indah di atas pasir. Shane berdiri di sampingnya, tampak gagah dengan kemeja linen putih yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan pergelangan tangan yang bersih tanpa aksesori apa pun.
“Oke, Mbak Aiena, Pak Shane, kita ambil angle siluet di sini ya,” teriak sang fotografer utama sembari mengatur posisi tripodnya agar tepat menangkap pantulan matahari di air laut. “Tolong posisi badannya lebih merapat. Pak Shane, tangan kanannya di pinggang Mbak Aiena, tangan kiri Mbak Aiena di dada Pak Shane.”
Aiena melangkah mendekat, merasakan kehangatan tubuh Shane yang begitu menenangkan. Ia bisa melihat dengan jelas detail kuku-kukunya yang dihiasi nail art cantik nan elegan, hasil karya Juwita yang tampak begitu apik saat bersentuhan dengan kain kemeja putih Shane.
“Sempurna! Tahan di posisi itu,” instruksi sang fotografer lagi. “Sekarang, pelan-pelan wajahnya mendekat. Ya, terus... sedikit lagi. Oke, sekarang saya mau kalian berciuman bibir dengan latar matahari terbenam ini. Ini akan jadi foto paling ikonik di album kalian.”
Jantung Aiena berdegup kencang. Ia mendongak, menatap mata Shane yang kini hanya berjarak beberapa sentimeter darinya. Aroma parfum Shane yang maskulin bercampur dengan wangi air laut merasuki indranya. Ia sudah bersiap untuk menutup mata, mengikuti arahan sang profesional, namun gerakan Shane tiba-tiba terhenti.
Shane sedikit menarik wajahnya menjauh, meskipun tangannya tetap melingkar protektif di pinggang Aiena. “Maaf, Mas. Untuk adegan ciuman bibir, saya keberatan,” ujar Shane dengan suara baritonnya yang tenang namun tegas.
Fotografer itu tampak menurunkan kameranya sejenak, sedikit bingung. “Tapi Pak, ini siluet. Hasilnya akan sangat artistik dan tidak akan terlihat vulgar sama sekali. Cahayanya sedang sangat bagus.”
Shane tersenyum tipis, lalu menunduk menatap Aiena yang juga tampak terkejut. “Saya mengerti soal estetikanya. Tapi saya ingin menyimpan ciuman itu untuk momen yang lebih sakral. Saya ingin ciuman pertama kami dilakukan di atas altar nanti, setelah janji suci kami sah.”
Aiena terpaku, merasakan gelombang haru yang luar biasa menyerang dadanya. Di tengah tren foto pra-pernikahan yang semakin berani, Shane justru memilih untuk menjaga kehormatan hubungan mereka dengan cara yang sangat tradisional namun romantis.
“Jadi, kita ganti gayanya,” lanjut Shane sambil menatap kembali sang fotografer. “Cium kening atau cium tangan saja. Itu jauh lebih bermakna bagi kami.”
“Baik, Pak. Kalau begitu, Pak Shane cium punggung tangan Mbak Aiena dengan posisi memeluk dari belakang, ya?” fotografer itu akhirnya mengalah, kembali membidikkan lensanya.
Shane bergeser ke belakang Aiena, melingkarkan lengannya di bahu gadis itu, dan mendaratkan sebuah ciuman yang sangat lembut dan lama di punggung tangan kanan Aiena. Selama beberapa detik, Aiena memandang wajah tulis Shane dari posisi yang begitu dekat itu, meresapi setiap detik sentuhan itu. Rasa aman yang ia rasakan saat ini jauh melampaui apa pun yang pernah ia rasakan di masa lalu.
Di bawah cahaya matahari sore yang kian meredup, di tempat yang dulu pernah menjadi saksi kerapuhannya, Aiena kini menyadari bahwa ia sedang membangun sebuah istana baru. Sebuah istana yang pondasinya bukan hanya cinta, melainkan rasa hormat dan janji suci yang dijaga dengan penuh martabat oleh pria yang akan segera menjadi suaminya dalam waktu beberapa bulan lagi.
***
Sesi pemotretan yang melelahkan itu akhirnya berakhir seiring dengan matahari yang sepenuhnya tenggelam di balik garis cakrawala, meninggalkan sisa-sisa warna ungu gelap di langit Bali.
Shane dan Aiena beristirahat di atas sepasang kursi pantai kayu yang terletak agak menjauh dari hiruk-pikuk kru fotografer yang sedang membereskan peralatan. Deburan ombak yang kini terdengar lebih menderu menjadi latar suara yang menenangkan, sementara angin laut mulai membawa hawa dingin yang segar.
Sebutir kelapa muda yang sudah terbuka bagian atasnya, lengkap dengan dua sedotan yang bersilangan di dalamnya, diletakkan di meja yang memisahkan mereka. Potongan es batu membuat air kelapa murni itu terasa makin segar.
“Minum dulu, Na. Kamu pasti haus setelah berjam-jam senyum di depan kamera,” ujar Shane sambil menggeser kelapa itu lebih dekat ke arah Aiena.
Aiena menyesap air kelapa yang dingin itu, merasakan kesegaran menjalar di tenggorokannya. Ia kemudian bersandar, menatap profil samping wajah Shane yang tampak sangat tenang.
“Shane,” panggilnya pelan, jemarinya memainkan ujung sedotan.
Shane menoleh, tangannya bergerak merapikan beberapa helai rambut Aiena yang terbang tertiup angin. “Ya, Sayang?”
“Jujur, tadi aku benar-benar kaget. Kamu nolak arahan fotografer buat pose ciuman.” Aiena menatap mata Shane dengan penuh rasa ingin tahu. “Padahal, kalau dipikir-pikir, hampir semua pasangan yang melakukan prewedding disini lakuin pose itu. Bukannya itu hal yang dianggap wajar sekarang?”
Shane terkekeh pelan, ia mengambil giliran menyesap air kelapa dari sedotan yang satunya sebelum menjawab. “Memang wajar buat orang lain, tapi bukan berarti harus menjadi standar buat kita, kan? Aku mau hubungan kita ini beda, Na. Aku mau menjagamu lewat caraku sendiri.”
Ia meraih tangan Aiena, mengusap lembut punggung tangannya yang dihiasi kuku palsu dan nail art cantik itu. “Aku sangat menghormatimu. Buat aku, bibirmu wilayah sakral yang cuma boleh aku sentuh setelah janji kita sudah sah. Aku baru akan cium kamu di hari pernikahan kita nanti, di atas altar, sebagai tanda bahwa kamu sudah resmi jadi milikku.”
Aiena merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya, namun kalimat Shane selanjutnya justru membuat ritme jantungnya berubah.
Shane mendekatkan wajahnya ke telinga Aiena, suaranya berubah menjadi bisikan bariton yang sarat akan nada jahil, “Dan lanjutannya bakal aku simpan buat malam pertama kita nanti.”
Mata Aiena membelalak seketika. Pipinya yang semula pucat karena angin laut langsung berubah menjadi merah padam. Ia refleks menarik tangannya dan memukul pelan bahu Shane. “Shane! Apa-apaan sih, jangan ngomong gitu!”
Shane tertawa lepas, tawa polos dan jujur yang selalu disukai Aiena. Ia tidak tampak merasa bersalah sedikitpun setelah menggoda tunangannya itu. “Kenapa? Itu kan kenyataan, Calon Istri. Memangnya salah kalau aku nunggu malam pertama kita?”
“Iya, tapi... nggak perlu ditekankan begitu juga nadanya!” Aiena menunduk, berusaha menyembunyikan senyum malunya di balik rambutnya. Ia tahu benar bahwa Shane hanya sedang menggodanya. Tidak ada sedikitpun kesan kotor atau melecehkan dalam nada bicaranya. Itu hanya jenis candaan seorang pria yang sedang sangat jatuh cinta dan merasa nyaman dengan pasangannya.
“Lihat, kamu sudah seperti kepiting rebus sekarang.” Shane mencolek hidung Aiena, tawanya berangsur reda namun kilat jenaka masih tersisa di matanya. “Tenang saja, aku sabar nunggu tiga bulan lagi. Tapi jangan salahin aku kalau aku mulai menghitung hari dari sekarang.”
Aiena hanya bisa menggelengkan kepala, mencoba menyesap kembali kelapa mudanya untuk meredakan rasa panas di wajahnya. Sementara di sampingnya Shane justru tertawa setelah berhasil menjahili Aiena.
****