"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sudah beberapa psikiater didatangi, berbagai terapi dijalani, namun hasil nya tidak ada, keadaan bu shanty tidak pernah berubah sedikitpun juga.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan bu Shanty?.
Kedukaan yang teramat dalam, membuat shanty benar benar hancur lebur, putra kesayangannya lenyap begitu saja tanpa jejak sedikitpun juga.
Hari hari nya diisi dengan kesedihan dan kepiluan hati. Dia jatuh dan hancur ke jurang yang paling dalam, tanpa tahu apa yang bisa dia kerjakan.
Meskipun berbagai cara di upayakan nya, namun kesedihan dan rasa kehilangan itu tidak pernah pergi dari hati nya.
Hingga beberapa tahun kemudian, saking kuat nya rasa duka itu, air matanya terasa kering, dan hari hari ceria nya pun sudah selesai. Kini dia hidup tanpa tangis, namun juga tanpa senyum dan tawa. Hati nya terasa benar benar beku, meskipun raga nya masih bernyawa, namun jiwa nya seolah telah lama tiada. Kini dia sudah mati rasa.
Lalu beberapa bulan terakhir, senyum bahkan tawa itu muncul kembali, bukan karena gangguan jiwa, tetapi hati dan otak Shanty sudah membuat pola baru cara bertahan hidup. Dia selalu berkhayal, jika putra nya masih hidup dan berada didekat nya, bermain dan bercanda bersama nya. Mungkin inilah yang namanya depresi tingkat dua. Otak dan hati tidak lagi menerima kehilangan, namun berbuat seolah orang nya masih ada.
"Yukae!, pulang nak, ayo hari mau hujan sayang!, jangan bermain terus!" teriak Shanty sambil melambaikan tangan nya kearah taman.
Syafea menangis memeluk sang mamah, hati nya benar benar hancur luluh, adik kesayangan nya hilang begitu saja, dan itu membuat hati nya selalu menyalahkan diri nya sendiri, andai saja waktu itu dia tidak lalai dan teledor menjaga adik nya, kejadian itu tidak mungkin akan terjadi.
Hingga saat ini, Syafea terus menyalahkan diri nya, meskipun tanpa kata kata. Apa lagi kini, melihat keadaan mamah nya, seolah dia merasa jika penyebab semua nya ini adalah diri nya.
Bahkan semenjak saat itu, papah nya menjadi manusia yang mudah marah, sedikit saja ada masalah, seolah olah otak nya sudah jadi mendidih karena nya.
Rumah tangga yang semula hangat bercahaya, kini redup hambar tanpa canda dan tawa lagi.
Mungkin itu salah satu penyebab, kenapa Syafea tumbuh menjadi pribadi egois, mudah marah, dan gampang membully orang lain, angkuh dan sombong.
Setiap pagi, pak Irfan hanya memberikan uang seberapapun yang diminta Syafea, dia tidak perduli segala apapun, juga tidak bertanya apapun pada putri nya.
Tekanan ini membuat hati Syafea merasa, jika semua orang ikut menyalahkan diri nya.
Sebuah mobil Pajero sport masuk dan berhenti di depan teras dan pak Irfan turun dari dalam mobil itu, berjalan menenteng tas kerjanya.
Bik Sumi buru buru menyambut tas kerja pak Irfan dan meletakan nya diatas meja kerja nya, lalu buru buru ke dapur membuatkan kopi panas untuk tuan nya itu.
"Ba… bagai mana keadaan nya pah?" tanya Syafea ragu ragu.
Sebelum menjawab, pak Irfan terlebih dahulu menarik nafasnya dalam-dalam, "aku yakin kau tahu jika anak itu tidak sengaja melakukan itu kepada mu, iya kan?" suara pak Irfan menggelegar.
Wajah Syafea menjadi pucat pasi, "tap… tapi saya benar benar tidak tahu pah, saya kira dia sengaja, lagi pula buat apa sekolah memasukan anak orang miskin seperti itu ke sekolah, anak orang gila lagi, itu menjatuhkan nama sekolah pah!" jawab nya masih dengan nada angkuh nya.
"Apa yang membuat mu tidak menyukai anak itu?" tanya pak Irfan sambil menatap Syafea dengan tajam.
"Aku sangat malu di cium seorang anak sampah, anak orang gila!" tegas dara itu.
"Kau tahu?, karena laporan palsu mu itu, papah mu ini menjadi malu besar!, paman mu sangat marah dengan papah!, dan sekarang, anak itu masuk Rumah Sakit gara gara papah!" suara pak Irfan meninggi.
"Syukurin deh kalau begitu, biar mati sekalian!" teriak Syafea tidak mau kalah.
"Kelakuan mu ini seperti monyet Fea!" ....
"Kalau Fea monyet, berarti papah, papahnya monyet dong, dan opa juga opanya monyet!, mana ada manusia beranak monyet, yang ada monyet beranak monyet pah!" teriak Syafea sambil berlalu, masuk ke dalam kamar nya.
Pak Irfan menyandarkan tubuh nya ke sofa, siang tadi dia datang ke Rumah Sakit ingin menjamin seluruh biaya rumah sakit sebagai rasa pertanggung jawaban nya, namun Kiai Nuruddin yang terlanjur marah, tidak ingin pak Irfan ikut mengeluarkan biaya sedikitpun walau seratus perak untuk Kaenan.
Setelah seminggu berada di rumah sakit, kini Kaenan diperbolehkan pulang, namun harus tetap cek rutin setiap Senin untuk memantau perkembangan otak nya, kalau kalau ada efek samping dari trauma benda tumpul yang menimpa kepala nya.
Disekolah, tidak ada lagi perundungan yang dialami oleh Kaenan, namun hinaan dan caci maki, masih rutin di dapatkan nya. Karena semua kehinaan dan kenistaan itu seolah sudah melekat kuat menjadi jati diri nya.
Apa lagi Syafea cs, bagi mereka, hari tidak akan afdol jika tanpa diisi dengan penghinaan kepada Kaenan.
Jhonatan juga ikut ikutan, sengaja membuat gara gara, agar Kaenan terpancing memulai keributan.
Tapi Kaenan tetap diam, tidak ingin meladeni pancingan dari Jhonatan.
Minggu pun berganti bulan, dan ujian akhir semester ganjil kelas sebelas pun tiba.
Ternyata kali ini, nilai ujian semester ganjil milik Kaenan mendapatkan nilai sangat sempurna, alias seluruh soal, dijawab semua dengan benar, tanpa ada satupun yang salah.
Bukan hanya juara kelas, tetapi Kaenan menjadi juara umum, alias mendapatkan nilai tertinggi dari kelas A hingga kelas E.
Hal ini membuat kebencian dihati Jhonatan yang biasa nya selalu menjadi rangking satu kelas B, kini kalah nilai dengan Kaenan, meskipun untuk kelas B, dia masih rangking satu, namun secara umum, dia turun ke rangking sembilan.
Begitu juga dengan Syafea, jika dahulu saat di SMP dia mendominasi rangking pertama semenjak kelas tujuh hingga kelas sembilan, kini tidak berdaya di posisi kedua, dibawah Kaenan dengan nilai yang terpaut sangat jauh sekali.
Hal itu membuat kebencian di hati Syafea semakin membesar, ingin sekali dia menghancurkan hidup Kaenan sehancur hancur nya.
Setelah penerimaan raport semester ganjil, liburan semester selama dua Minggu.
Seperti biasa nya, Kaenan mengisi liburan dengan membantu di pondok pesantren, membersihkan lingkungan atau membuang sampah.
Pagi menjelang siang, Kaenan baru saja selesai menyapu halaman depan pesantren, saat seorang anak pesantren menyampaikan bahwa Aisyah memanggil diri nya.
Setelah meletakan sapu di tempat asal nya, Kaenan bergegas menemui Aisyah di rumah nya di depan pondok pesantren Al Ilmi.
"Assalamualaikum kak!" ....
"Wa Alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh, ayo sini Kae, langsung masuk saja!" sambut Aisyah di depan pintu.
Kaenan melangkah masuk, lalu duduk di lantai sambil bersandar di tembok, "ada apa kak?, ada yang perlu saya bantu?" tanya Kaenan.
"Iya!, belikan kakak kuota internet, yang dua belas giga saja ya, yang satu bulan, ini uang nya, sisa nya untuk belanja mu!" ujar Aisyah menyerahkan selembar uang berwarna pink, "tau kan kartu kakak?" ....
"Iya kak!" ....
"Jangan jalan kaki, pakai motor kakak saja, ini kunci nya!" Aisyah menyerahkan kunci motor metik nya kepada Kaenan.
"Kalau sudah membeli kuota internet, boleh mampir beli es krim kan kak?" tanya Kaenan.
Aisyah menganggukkan kepala nya, "iya belilah, tapi jangan terlalu lama ya" ....
Dengan motor metik milik Aisyah, Kaenan pergi membeli kuota internet untuk gadis itu.
Kebetulan warung yang jualan pulsa lumayan jauh dari rumah, harus melewati taman kota, baru ada orang yang jualan pulsa, maklum mereka hidup di pinggiran kota besar.
Selesai membeli kuota dua belas giga seharga enam puluh ribu, Kaenan tidak langsung pulang, tetapi terlebih dahulu mampir di taman kota untuk membeli es krim.
Siang itu, taman kota sangat lengang, mungkin karena orang orang banyak yang berlibur keluar kota.
Setelah membeli es krim, Kaenan duduk di kursi taman sambil menikmati es krim nya.
Diseberang kursi yang diduduki Kaenan, berjarak sekitar empat meter, ada kursi lain nya, yang di tempati oleh seorang pria tua bertubuh agak kurus, dengan rambut putih seluruh nya.
Pria tua itu duduk diatas kursi sambil bertumpu pada tongkat nya, dengan mata yang sedikit terpejam.
Baru saja Kaenan menghabiskan es krim nya, dan berniat melanjutkan perjalanan pulang nya, tiba-tiba pria tua itu tersungkur ke depan, jatuh keatas rerumputan.
"Grubyak!" ....
Kaenan membatalkan niatnya untuk pergi dari tempat itu, dan segera menolong pria tua itu.
"Ada apa kek?, apa yang terjadi dengan kakek?" tanya Kaenan panik.
Pria tua itu tidak mampu menyahut, hanya suara ah uh ah uh saja yang keluar dari mulut nya.l, dengan nafasnya yang tersengal sengal.
Tidak mau mengambil resiko, Kaenan berlari ke arah jalan raya mencari pertolongan.
Kebetulan tidak ada seorang pun yang lewat, kecuali hanya sebuah ojol saja.
"Bang!, bang!, tunggu!" Kaenan berusaha memanggil kang ojol itu.
Kang ojol itu berhenti di dekat Kaenan, lalu membuka kaca helm nya, "ada apa dik?" tanya pemuda kang ojol itu.
"Bang!, disitu ada seorang kakek yang pingsan, boleh minta tolong tidak, tolong antarkan ke Rumah Sakit terdekat bang!" Kaenan memohon pada pemuda itu.
Tanpa berpikir dua kali, pemuda itu segera mengarahkan motor nya mendekati kursi tempat pria tua tadi pingsan.
Dengan dibantu oleh Kaenan, kang ojol itu menaikan tubuh pria tua tadi keatas motor, lalu minta tolong Kaenan untuk memegang tubuh pria tua itu. Setelah kang ojol itu nain ke motornya, kini giliran Kaenan naik di belakang pria tua itu, mengepit tubuh pria tua itu dengan kedua tangan nya yang berpegangan pada jaket kang ojol agar tubuh pria tua itu tidak tumbang.
Untung jarak Rumah Sakit tidak terlalu jauh, hanya sekitar tiga kilometer saja, dan jalan kebetulan lagi lengang sehingga perjalanan bisa ditempuh tanpa hambatan.
Di depan ruang UGD Rumah Sakit, para petugas buru buru melakukan pertolongan dengan membawa Brankar, mengangkat pria tua itu keatas Brankar, lalu mendorong nya masuk kedalam ruang unit gawat darurat untuk mendapatkan penanganan pertama.
Kaenan dan kang ojol itu duduk di kursi tunggu di depan ruang UGD.
"Terima kasih ya bang atas bantuan nya, saya hanya punya uang tiga puluh ribu saja, ini terimalah!" ujar Kaenan menyerahkan tiga lembar uang sepuluh ribuan kepada kang ojol tadi.
...****************...