NovelToon NovelToon
Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Pelayan Restoran Itu Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama / CEO
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: MrRabbit_

Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.

Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Perjalanan pulang terasa begitu ringan dan menyenangkan. Nurlia dan Adelia kembali naik angkot, namun kali ini beban di hati mereka jauh lebih enteng. Tangan Adelia menggenggam kantong plastik besar berisi seragam baru yang masih wangi dan bahannya tebal.

Adelia tak henti-hentinya tersenyum, sesekali dia mengusap kantong itu seolah tidak percaya kini dia memiliki setelan sekolah yang layak dan bagus.

"Kak Nur... tadi itu siapa sih orang baik yang bayarin kita? Baik banget ya orangnya," tanya Adelia penasaran sambil memandang keluar jendela angkot.

Nurlia tersenyum tipis, menatap wajah adiknya dengan penuh rasa syukur.

"Iya Del... memang orangnya sangat baik. Kakak juga baru beberapa kali ketemu, tapi entah kenapa dia selalu ada pas kita lagi butuh-butuhnya," jawab Nurlia.

Di dalam hati, Nurlia terus memikirkan sosok Sulthan Aditama. Dua kali bertemu di restoran, dia memberi tip yang nilainya luar biasa besar. Hari ini bertemu lagi di toko pakaian, tanpa diminta pun dia langsung melunasi semua belanjaan mereka.

"Aneh sekali... Kenapa dia selalu membantuku? Padahal kita bukan siapa-siapa," batin Nurlia bertanya-tanya.

Perasaan aneh mulai merayap di dadanya. Seolah-olah pertemuan-pertemuan ini bukan sekedar kebetulan semata. Mungkin Tuhan sedang mengatur jalan takdir mereka, mempertemukan mereka berulang kali di waktu dan tempat yang selalu tepat saat Nurlia sedang membutuhkan pertolongan.

"Apakah memang Tuhan yang sengaja mengirimkan dia sebagai malaikat penolong untukku dan Delia?" gumam Nurlia dalam hati. Hatinya dipenuhi rasa haru dan doa-doa kebaikan untuk pria kaya itu.

Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah kontrakan kecil mereka. Suasana rumah terasa hangat dan nyaman.

"Yuk Del, kita simpan bajunya biar nggak kusut," ajak Nurlia.

"Iya Kak," jawab Adelia antusias.

Mereka masuk ke kamar. Adelia segera membuka bungkusan itu dengan hati-hati. Kemeja putih yang bersih, rok abu-abu yang rapi, dasi, dan atribut lengkap lainnya dikeluarkan satu per satu.

"Wah... cantik sekali," puji Nurlia sambil membantu merapikannya.

"Enak banget bahannya Kak, nggak panas," kata Adelia sambil memegang kain seragam itu.

Dengan kehati-hatian, Adelia menggantungkan seragam barunya itu di gantungan baju, lalu memasukkannya ke dalam lemari tepat di sebelah baju-baju lainnya. Dia memposisikannya agar paling depan, supaya mudah diambil besok pagi.

"Besok pagi baru pertama kali dipakai ya Del. Pasti kamu bakal jadi siswi paling cantik dan rapi di sekolah," kata Nurlia sambil mengelus kepala adiknya.

"Iya Kak! Aku janji bakal belajar rajin dan jaga baju ini baik-baik. Makasih banyak ya Kak, makasih juga buat Om yang baik hati tadi," ucap Adelia tulus.

•••

Sore hari, suasana di kediaman megah keluarga Aditama terasa tenang dan hening. Sulthan sudah sampai di rumah dan kini duduk santai di ruangannya yang nyaman, ditemani secangkir teh hangat buatan Bu Lastri.

Namun, meski tubuhnya sedang bersantai, pikirannya justru melayang entah ke mana. Matanya menatap kosong ke arah perapian yang tidak menyala, dan bayangan wajah seorang gadis sederhana terus muncul di benaknya.

Nurlia...

Sulthan menghela napas panjang. Dia terus teringat pada gadis itu. Teringat senyum ramahnya saat melayani di restoran, teringat wajah polosnya saat terkejut melihat dia di toko tadi, dan yang paling utama, teringat betapa sederhananya kehidupan gadis itu.

Berbeda dengan wanita-wanita sosialita yang sering dia temui di acara pesta, yang selalu berdandan berlebihan, bicara soal merk, dan terlihat haus akan kemewahan, Nurlia justru tampak begitu berbeda. Dia bekerja keras, rendah hati, sopan, dan terlihat sangat tulus.

"Dasar gadis aneh... setiap kali ketemu pasti bikin aku kepikiran terus," gumam Sulthan sambil tersenyum sendiri.

Perlahan, pemikirannya mulai melangkah lebih jauh. Sulthan sadar betul, usianya sudah menginjak kepala tiga, dan selama ini dia memilih hidup sendiri, fokus membangun kerajaan bisnis Aditama Group yang diwarisi dari ayahnya. Dia tidak terikat dengan siapapun, tidak punya pacar, dan rasa kesepian juga kadang menghinggapi hati seorang CEO sekuat dia.

"Tapi kalau dipikir-pikir... kenapa tidak?" batin Sulthan mulai merenung serius.

"Wanita seperti Nurlia itu tipe yang jarang ditemukan. Dia sederhana, rajin, tidak matre, dan terlihat sangat menjaga dirinya baik-baik. Mungkin... justru dia yang cocok buat aku?"

Bayangan Nurlia yang cantik dengan wajah lugunya terbayang jelas di mata pikirannya. Sulthan membayangkan jika gadis itu ada di sisinya, menemani hari-harinya yang keras dan dingin ini. Pasti rumah besar ini akan terasa jauh lebih hangat dan berwarna.

"Ya... mungkin Tuhan memang mempertemukan kita berkali-kali bukan tanpa alasan. Mungkin memang dia yang ditakdirkan untuk mengisi kekosongan di hatiku," pikir Sulthan mantap.

Rasa penasaran dan ketertarikan yang tadinya hanya sekadar iba dan suka menolong, kini perlahan berubah menjadi perasaan yang lebih dalam dan serius. Dia mulai tertarik untuk mengenal gadis yang sederhana itu lebih jauh lagi. Pikiran itu terus menghantui Sulthan. Akhirnya, dia memutuskan untuk berhenti melamun dan segera membersihkan diri. Malam semakin larut, waktunya istirahat.

Sulthan berjalan menuju kamar mandi dalam di kamarnya. Pintu ditutup rapat, dan sekali lagi dia melepaskan semua pakaiannya, kembali menjadi dirinya sendiri yang bebas dan telanjang bulat.

Air dingin dinyalakan, membasahi tubuh kekarnya. Namun, saat dia mulai menyabuni tubuhnya, bayangan wajah Nurlia kembali muncul tak sengaja di benaknya.

Sulthan tersenyum sendiri membayangkan hal yang sangat nakal.

"Coba kalau Nurlia yang ada di sini... Gimana ya reaksinya kalau dia lihat aku begini?" batinnya berimajinasi liar.

Dia membayangkan wajah polos Nurlia yang tiba-tiba masuk dan melihatnya berdiri tegak tanpa sehelai benang pun. Terbayang jelas bagaimana mata gadis itu pasti akan membelalak lebar, wajahnya memerah padam karena malu, dan mulutnya terkunci rapat tak bisa berkata-kata.

Yang paling membuat Sulthan tersenyum menggoda adalah bayangan saat mata Nurlia terpaksa turun ke bawah, melihat burung besar miliknya yang menjuntai gagah dan mengintimidasi.

"Pasti dia kaget setengah mati... Mungkin bakal langsung nutup mata tapi ngintip dari celah jari," bayang Sulthan sambil tertawa kecil dalam hati. "Atau mungkin dia bakal terpesona lihat ukurannya yang besar dan panjang itu? Siapa tahu dia justru suka dan tergoda..."

Imajinasi itu membuat suasana kamar mandi tiba-tiba terasa semakin panas. Sulthan membayangkan betapa nikmatnya jika gadis sesederhana dan sepolos Nurlia bisa melihat dan menyentuh kebesarannya secara langsung.

Rasa gatal dan hasrat yang tadi sempat reda, kini kembali bangkit dengan cepat. Burungnya yang tadi lemas, perlahan mulai membesar dan mengeras lagi, berdiri tegak sempurna seolah menyetujui imajinasi liar tuannya tentang gadis pelayan restoran itu.

Imajinasi liar itu semakin menjadi-jadi dan tak bisa lagi dikendalikan. Bayangan wajah polos Nurlia yang membayang di pelupuk mata seakan memiliki kekuatan yang membakar darah Sulthan semakin panas.

Air dingin yang membasahi tubuh sama sekali tidak mendinginkan suhu di sana. Justru sensasi dingin itu bercampur dengan rasa panas di dadanya, membuat gairah yang meledak-ledak.

"Aahh... Nurlia..." gumamnya parau.

Tanpa sadar, tangan besarnya bergerak sendiri menggenggam burung besar miliknya yang sudah berdiri tegak sempurna, keras dan membesar penuh hasrat.

Dia mulai mengocoknya dengan perlahan namun pasti. Matanya terpejam rapat, membiarkan imajinasinya bekerja sepuasnya.

Di dalam benaknya, dia melihat jelas wajah Nurlia yang manis dan lugu sedang berlutut di hadapannya. Gadis itu menatap 'benda sakti' miliknya dengan tatapan takjub, mungkin sedikit takut melihat ukurannya yang luar biasa besar dan panjang.

"Coba sekarang... coba mulut manis itu yang mengulumku..." bisik Sulthan dalam hati.

Dia membayangkan bibir merah muda Nurlia terbuka sedikit, lidahnya yang manis keluar menjilat kepala burungnya yang sensitif, lalu perlahan menelan seluruh batangnya sampai dalam.

"Aahh...!!"

Sulthan mendesah berat dan sangat jantan. Tangannya mengocok semakin cepat, semakin mantap, seolah tangan itu adalah mulut dan lidah Nurlia yang sedang memanjakannya.

"Uuhh... sayangku... enak sekali... ahh!!"

Bayangan Nurlia yang sedang menunduk, memainkan 'burung besar' itu dengan mulutnya, membuat Sulthan semakin hilang akal. Dia membayangkan wajah gadis itu yang memerah, matanya yang menggenang karena kepenuhan, dan suaranya yang mendesah halus saat melayaninya.

Rasa nikmat itu menjalar ke seluruh tulang, membuat otot-otot tubuhnya menegang hebat.

"Huahh... mau keluar... ahhh!!"

Dengan satu tekanan kuat di pangkal, dan imajinasi terakhir tentang Nurlia yang menerima kenikmatannya, burung besar itu pun meledak hebat.

CROOOTTT!!! CROTT!!! CROTT!!!

"AAAHHH NURLIA!!!"

Cairan putih kental dan melimpah menyembur deras mengenai dinding keramik dan lantai kamar mandi. Semburan demi semburan keluar dengan sangat banyak, seakan mewakili luapan hasrat dan perasaannya pada gadis sederhana itu.

Sulthan terengah-engah, kepalanya menengadah ke atas, tangannya masih memegang batang vitalnya yang berdenyut kencang melepaskan sisa-sisa kenikmatan.

"Huahh... Nurlia... kamu benar-benar membuatku gila..." gumamnya lemas namun puas luar biasa.

1
Hagia Sophia
kapan BAB pacarannya, lamaaaa
Cimut (Kelinci Imut): Soalnya harus ada proses pendekatan dulu dong, gak tiba-tiba langsung pacaran, nanti kesannya alurnya maksa..
••
Apalagi Nurlia dan Sulthan awalnya orang asing yang belum kenal dekat.🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!