Dua saudari terjatuh ke sumur tua—terbangun di hutan belantara, menjadi buruan para pemburu; berusaha bertahan hidup ditengah intrik istana dan konflik asmara.
(Jika berkenan, follow Author di ig&tiktok untuk dapat melihat ilustrasi karakter dan berbagai cerita Author yang lain)
ig = @refinawriters
tiktok = @refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan-jalan Bersama Xiao Yan
"Hah?! Kakak serius?!" Shu Hua benar-benar sangat terkejut ketika Li Hua akhirnya memberitahu kepada Shu Hua tentang identitas sebenarnya dari Hao Lin dan Xiao Yan.
Shu Hua tidak bisa percaya dengan takdir yang aneh itu. Dari begitu banyaknya manusia, kenapa mereka justru ditolong oleh keluarga kerajaan? Dan hal penting yang membuat Shu Hua kurang nyaman adalah...
"Bukankah tidak baik bagi kita jika sampai berurusan dengan orang-orang dari istana kekaisaran? Jika ingin menjalani kehidupan normal di dunia ini, kita seharusnya tidak berurusan dengan orang penting seperti mereka," ucap Shu Hua.
"Iya, Kakak juga tahu itu. Tapi untuk saat ini, kita tidak punya pilihan lain. Kita harus tetap di sini, dan Kakak ingin, kamu pergi untuk melihat-lihat tempat ini, lalu pikirkan bagaimana caranya kita bisa berbaur dengan orang-orang itu. Kakak di sini akan berusaha untuk mengendalikan penglihatan Kakak. Semoga saja kita bisa mendapatkan jalan keluar dari masalah kita saat ini," balas Li Hua, menggenggam erat tangan Shu Hua.
Disaat obrolan antara Li Hua dan Shu Hua semakin dalam, tiba-tiba saja pinta kamar diketuk oleh seseorang, dan untung saja itu hanya Xiao Yan yang datang bersama dengan dua orang pelayan wanita yang tampak sedikit tertarik kepada Li Hua dan Shu Hua. Dan ketertarikan mereka itu wajar saja dan bisa dimengerti.
"Maaf jika aku menganggu. Aku datang karena ingin memberikan kalian pakaian untuk berganti saja. Ini memang bukan pakaian baru. Pakaian ini adalah milik almarhum Ibuku yang sudah meninggal. Tapi semua ini masih baru dan bagus. Jika tidak keberatan, kalian bisa memakainya," ungkap Xiao Yan.
"Terima kasih banyak, Xiao Yan. Tidak masalah jika ini hanya pakaian bekas. Bagi kami itu sudah lebih daripada cukup. Sekali lagi, terima kasih banyak," ucap Li Hua.
"Iya, tidak perlu sungkan. Dan jika kalian butuh sesuatu, jangan sungkan untuk meminta," kata Xiao Yan.
"Boleh meminta apa saja?" tanya Shu Hua.
Xiao Yan tersenyum kecil. "Iya. Apa saja," jawab Xiao Yan.
"Kalau begitu, apa kamu punya waktu setelah ini?" lanjut Shu Hua bertanya.
"Sebenarnya aku tidak punya janji apapun lagi. Lagipula hari sudah malam. Memangnya kenapa?" Xiao Yan balik bertanya.
"Hmmm... sebenarnya aku hanya ingin sedikit minta tolong," jawab Shu Hua.
"Minta tolong apa?"
"Apa kamu tidak keberatan mengajak aku berkeliling? Selama ini aku terkurung di hutan dan tidak pernah melihat keramaian. Aku benar-benar ingin melihat lebih banyak manusia," ungkap Shu Hua dengan sedikit dramatis.
Melihat cara penyampaian Shu Hua yang dramatis, Xiao Yan lagi-lagi tertawa kecil.
"Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Aku tidak keberatan jika harus mengajak kamu berkeliling. Tetapi, tidak untuk malam ini," jawab Xiao Yan.
"Kenapa tidak bisa malam ini saja?"
"Malam hari berbahaya bagi Xiao Yan. Musuhnya mungkin saja bersembunyi dibalik kegelapan. Tidak aman. Besok saja," timpal Li Hua.
"Oh, begitu. Baiklah. Kalau begitu, sampai jumpa besok, Xiao Yan."
Xiao Yan mengangguk pelan, kemudian dia pun pergi meninggalkan kamar Li Hua dan Shu Hua bersama dengan dua pelayan yang sebelumnya datang bersama dengannya.
Kini, di depan Li Hua dan Shu Hua tersedia banyak pakaian yang jauh lebih layak jika dibandingkan dengan pakaian yang mereka dapatkan di gubuk tua di tengah hutan itu.
"Akhirnya pakaian layak, Kak. Ini dari kain sutra!" Shu Hua tampak antusias melihat semua pakaian yang ada di depan matanya; tidak peduli jika pakaian itu hanya pakaian bekas. Bagi Shu Hua, pakaian itu adalah pakaian terbaiknya dalam satu tahun terakhir.
Dan disaat Shu Hua tampak sibuk dengan pakaian, Li Hua justru tampak tenang. Sejak tadi, banyak hal yang memberatkan isi kepala Li Hua. Mulai dari Hao Lin yang tidak bisa ia lihat energinya, dan bahkan kini kemampuannya untuk melihat sesuatu mulai terasa melemah.
Li Hua berpikir, kemungkinan semua ini terjadi karena Li Hua tidak pernah menggunakan kemampuan itu dengan benar. Bahkan, Li Hua juga tidak pernah berlatih menggunakannya dengan benar. Berbeda dengan Shu Hua yang seringkali berlatih untuk memanggil senjata dan juga berlatih menggunakan pedang.
Dan malam itu, Li Hua bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia takut akan terjadi hal buruk kepada dirinya dan Shu Hua; dan bahkan kini Li Hua pun juga harus memikirkan tentang Hao Lin dan Xiao Yan juga. Karena biar bagaimana pun, nasib mereka bisa berubah hanya karena menolong seseorang yang bahkan seharusnya tidak pernah mereka kenal.
———
Di pagi berikutnya, Shu Hua sudah bersiap dengan memakai pakaian milik Ibu Xiao Yan. Shu Hua menata rambutnya seadanya saja, senyamannya dirinya. Dan setelah selesai, Shu Hua berpamitan kepada Li Hua untuk pergi melihat-lihat.
"Hati-hati, dan jika bisa, hindari menarik perhatian orang-orang. Akan jauh lebih baik jika kita menyembunyikan kelebihan yang kita punya. Terkadang, pura-pura lemah bisa menjadi jalan keluar paling sederhana," ujar Li Hua.
"Kakak tenang saja. Aku akan berusaha untuk tidak menarik perhatian. Dan akan aku usahakan untuk menjadi wanita yang lemah. Ya... walaupun itu bukan jati diriku. Tapi, apapun itu asalkan bisa memberi hasil terbaik, akan aku lakukan!" Shu Hua memeluk erat sang Kakak, kemudian ia pun pergi menemui Xiao Yan yang sudah menunggu di luar.
"Hey!" Shu Hua menepuk pundak Xiao Yan dengan sedikit berjinjit.
Xiao Yan pun langsung melihat kearah Shu Hua, dan saat itu tiba-tiba saja Xiao Yan terdiam. Bukan hal yang tidak wajar saat Xiao Yan merasa terpesona dengan Shu Hua dengan memakai pakaian indah itu. Dan entah kenapa, saat melihat Shu Hua, Xiao Yan seperti melihat Ibunya. Mereka berdua cukup mirip di mata Xiao Yan.
"Ada apa? Gaya rambutku aneh?" tanya Shu Hua yang langsung sadar jika mungkin gaya rambutnya memang aneh; gaya rambut Shu Hua bukan gaya rambut yang umum digunakan pada masa itu.
"Tidak. Kamu cantik, dan kamu tidak aneh," jawab Xiao Yan.
Shu Hua sedikit tersipu saat mendapatkan pujian seperti itu dari Xiao Yan. Padahal dulu Shu Hua tidak pernah merasakan hal seperti saat seseorang memuji dirinya, tetapi entah kenapa saat ini Shu Hua justru merasa wajahnya akan terbakar hanya karena pujian kecil seperti itu.
"Sudahlah. Ayo kita jalan sekarang!" Tidak ingin terus tersipu hanya karena Xiao Yan, Shu Hua langsung mengambil langkah pertama, ia berbelok ke arah kanan, namun ternyata salah.
"Bukan kanan, tapi kiri." Xiao Yan memegangi kedua pundak Shu Hua, memutar arah jalannya dan kemudian berjalan di depan, memimpin Shu Hua dengan kipas besar dengan ukiran aksara yang indah.
-Bersambung-
Sungguh penasaran pasti shu hua bakal ngecincang Hao Lin dan Xiao Yan bakal kena nih 😄