Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
"Sejujurnya persaingan kali ini sangat ketat, terutama dari perusahaanmu. Supermodel Vivian tentu saja akan tampil," ungkap Louis setelah menyesap anggur yang khusus dibawakan oleh William. "Kau memintaku memberikan Angel kesempatan, bisa saja.... Namun itu tidak adil bagi model lain yang lebih unggul baik secara kemampuan ataupun visual."
"Aku ingin dia memiliki awal yang bagus. Akan lebih baik jika dia tidak terlalu tersorot, cukup berikan dia kesempatan." Tatapannya masih fokus pada layar, ia mengulang terus menerus video audisi Angel. "Buatlah serealistis mungkin, ok! Jangan sampai dia curiga. Dia ingin mengandalkan kemampuannya." William mengedipkan satu matanya merayu Louis.
"Hentikan tingkah menjijikkanmu itu, Will!" protesnya ringan. "Aku tidak tahan melihatnya." Louis menatap tajam William sambil bergidik ngeri.
Tawa William pecah, ia suka sekali menggoda Louis yang selalu bertingkah serius. "Kau sangat butuh seseorang untuk membuat hari-harimu lebih berwarna, bro. Aku khawatir kau akan menua dalam kesepian."
Louis menarik salah satu sudut bibirnya. "Hidupku sudah cukup merepotkan dengan kehadiranmu. Aku tidak perlu repot-repot menambahkan satu spesies lagi ke dalam hidupku," sungut Louis yang masih ditanggapi dengan tawa meledek dari William.
Dering telepon William menginterupsi, ia melihat nama yang tertera di layar.
My Little Angel
"Halo sayang...," sapanya penuh kelembutan.
***
Angel membuka tirai, menampilkan pemandangan dengan gedung-gedung menjulang tinggi yang berdiri kokoh di atas tanah Jakarta. Dari atas ia dapat melihat orang-orang yang berlalu lalang nampak begitu kecil.
Suara bunyi klik membawanya kembali dari lamunan, sosok yang ia tunggu sedari tadi muncul dengan setelan jas berwarna coklat tua serta rambut yang masih tertata rapi.
William tersenyum, tangannya terentang yang disambut dengan pelukan hangat. "Kapan kau tiba?"
Angel menengadahkan kepalanya. "Baru saja. Tapi, rasanya aku sudah menunggumu sangat lama," rengeknya manja.
"Maaf, padahal aku sudah berusaha secepat mungkin. Aku harap kau mengerti." William menyerukkan kepalanya ke leher jenjang Angel. Aroma khas gadis itu bercampur parfum yang membuatnya tak tahan untuk menciumnya hingga meninggalkan bekas kemerahan.
Merasakan geli sekaligus nikmat, Angel menutup matanya membiarkan William bermain-main dengan lidah dan bibirnya.
"Jangan berbekas, sayang. Besok aku masih harus menemui Bu Dian."
Tak menghiraukan larangan Angel, William terus menghujani Angel dengan ciuman keras di setiap inci lehernya. Lelah terus berdiri, ia membawa Angel dalam gendongan menuju sofa sementara bibirnya terus berada pada lekuk lehernya tanpa berniat untuk berhenti.
"Sayang...," desah Angel, jemarinya menyusup ke sela-sela rambut pria itu, mengusap tengkuknya. "Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu...." Nafasnya tersenggal-senggal di tengah gairah yang coba ia tahan sebelum ia melupakan niat awalnya datang kemari.
Sialnya, jemari William malah membelai pusarnya yang tidak tertutup. Sementara tangan yang lainnya membantunya untuk melepas jaket yang sedari tadi ia kenakan.
"Katakan sayang, aku mendengarkan...," ujar William di sela-sela aktifitasnya menciumi leher Angel. "Kulitmu sangat halus dan putih seperti susu. Sayang sekali aku belum melihatnya hari ini."
William mengerucutkan bibirnya, mengundang tawa kecil Angel.
Mengecup bibir William, Angel mencoba menghentikan godaan-godaan yang sedari tadi dilayangkan padanya. "Apakah aku cantik?" tanyanya serius.
"You're absolutely gorgeous, honey."
"Do you really think i could be a model?"
"A model?" William menaikkan alisnya. "Oh sweetheart, you'd steal the spotlight without even trying," jawabnya yakin.
William membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Tangannya mengelus punggung mencipta kenyamanan untuk Angel.
"Sayang...." William memanggil lembut.
"Hemmm...."
"Kau hanya perlu melakukan tugasmu sebaik mungkin. Latihan yang selama ini kau jalani, yakinlah itu akan membuahkan hasil. Kau pasti bisa tampil untuk fashion show kali ini. Jangan remehkan dirimu sendiri. Kau lebih hebat dari yang kamu bayangkan."
Angel menengadahkan kepalanya, kedua sudut bibirnya melengkung. "Kau sangat tidak cocok menjadi CEO."
"Tentu saja, aku hanya cocok menjadi kekasihmu," sahut William sambil membawa Angel menuju kamar. "Karena kau sudah berjuang hari ini. Maka aku akan memberimu hadiah."
Angel tertawa ringan, merasa geli dengan ciuman-ciuman kecil William di dadanya. "Hadiah apa?"
"Aku adalah hadiah terbesarmu sayang." William mendudukkan Angel di atas ranjang. Tangannya satu persatu melepas pakaiannya hingga hanya menyisakan celana dalam ketatnya.
"Kau bebas memperlakukanku sesuai keinginanmu."
"Kau gila, William!" teriak Angel di sela-sela tawanya. Ia memundurkan badannya ketika perlahan William menaiki ranjang dan bersiap seolah akan menerkamnya. "Kau bilang, aku bebas memperlakukanmu?"
"Iyap...."
"Berbaringlah..."
Menuruti perintah Angel, William berbaring membuat otot-otot perutnya terlihat sempurna. Serta tonjolan di bagian bawah yang meminta untuk dibebaskan.
Angel melepaskan tank topnya, tatapan mereka beradu saling memancarkan gairah. Jemarinya menelusuri setiap inci kulit William yang ditumbuhi bulu halus di garis tengah hingga pusar. Ia menekan tonjolan kecil yang ada di dada William bergantian, lalu turun hingga ke perut.
Angel tersenyum sinis saat melihat tonjolan besar dibalik celana dalam William.
Hap...
"Shit!" Ringisan disertai umpatan keluar dari mulut William.
Angel dengan hanya berbekal bra kecil yang menutupi payudaranya serta bagian bawah yang masih tertutup rapat. Ia menjatuhkan dirinya di atas William yang mati-matian menahan gairah.
William sungguh tak habis pikir dengan tingkah Angel, ia tak menyangka gadis polosnya bisa bertindak seliar ini, apalagi ketika dengan sengaja menempatkan miliknya tepat di atas milik gadis itu. Namun, terhalang oleh legging sialan.
"Sayang... Ini adalah kejahatan," rintih William, ia menatap Angel yang memamerkan belahan dadanya.
"Kau bilang, aku bebas melakukan apapun terhadapmu. Namun, baru segini saja kau marah?"
"No, sweety. Aku tidak marah, hanya saja kau akan menyiksaku jika ini terus berlangsung."
Angel sedikit mengangkat badannya hendak mencium William. Namun gerakan itu hanya membuat bagian bawah mereka saling menekan lebih dalam.
"Ahh...," desah William tertahan yang langsung disambut Angel dengan ciuman.
"Aku tahu, kau hanya ingin aku tidur di atasmu, bukan?" goda Angel. "Baiklah akan aku kabulkan." Lalu mengecup bibir William lembut. Ciuman singkat itu berubah menjadi lebih lama ketika William membalasnya dengan lumatan-lumatan penuh gairah. Jemari William tak tinggal diam, menelusuri setiap jengkal punggung Angel yang terekspos sempurna, mencipta rasa geli yang menyenangkan.
William menjauhkan bibir Angel. "Apa benar jika payudara disentuh oleh laki-laki akan sakit?" Ia menatap Angel serius.
"Entahlah, kata orang begitu."
"Apa kau penasaran?"
"Bukankah kamu seharusnya tahu, banyak perempuan yang sudah kau sentuh." Angel memalingkan wajahnya, bibirnya mengerucut lucu.
"Mereka tidak mengatakannya padaku. Lagipula aku bukan yang pertama bagi mereka." William menarik kepala Angel dan menciumnya.
"Bagaimana dengan Bu Sandra?" Angel mendudukan dirinya tepat di atas milik William yang semakin membesar.
"Ahh... Sayang...." William frustasi dengan setiap gerakan yang dilakukan Angel. "Apa kau ingin duduk di atasnya?"
Angel hanya menjawab dengan cengiran tanpa berniat untuk turun.
"Bisakah kita lupakan soal Sandra. Dia tidak sespesial itu sayang."
"Aku sendiri yang melihat kalian bercinta dengan penuh gairah! Bagiamana mungkin aku lupa?!" protes Angel, matanya melotot tak terima.
"Hanya gairah sayang, bukan cinta."
"Kau yakin?"
"Tentu saja. Aku tidak pernah mengungkitnya. Sebaliknya malah kau yang selalu melibatkan dia selama kita bermesraan."
Tak terima disalahkan, Angel menggerakkan badannya.
"Oh... Sayang, baiklah-baiklah. Aku yang salah. ok?" Angel tersenyum jumawa. "Sekarang, bisakah kau turun? Aku sungguh tidak mampu lagi menahan diri, sayang."
Bukannya turun, ia kembali merebahkan dirinya di atas badan William. "Aku mau tidur," ucapnya singkat tanpa peduli wajah frustasi kekasihnya.
***