Cakiya dan Baruna, dua pendekar muda yang paling dicari-cari keberadaannya di kerajaan. Salah satu alasan dua pendekar itu begitu diburu karena mereka dituduh mencuri tiga dari Delapan Senjata Pusaka milik Kerajaan, yaitu gada Aqni Samaja, kujang Nagacita dan keris Rudra Arutala.
Mereka berdua juga diincar orang-orang dari Perguruan Harimau Bulan dan Perguruan Harimau Matahari, dua perguruan aliran putih terbesar di Kerajaan. Takdir seperti apa yang akan menanti mereka? Apakah mereka tertangkap? Akankah Baruna & Cakiya berhasil memulihkan nama baik mereka? Atau mereka justru bergabung bersama para pendekar dari golongan hitam?
Catatan : Boleh promosi karya di kolom komentar, mohon maaf kalau saya lambat merespon atau malah lupa merespon di kolom komentar 🙇♂️🙇♂️. Mari sesama pegiat industri kreatif saling mendukung...✊✊✊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ersa Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Tongkat yang Bernyanyi
Orang-orang dari Perguruan Harimau Matahari benar-benar geram ketika melihat pemimpin dari mereka kalah hanya dengan dua jurus oleh Cakiya. Mereka semakin kalap menyerang Baruna yang hanya seorang diri melawan mereka semua menggunakan tongkat. Dua puluh orang melawan satu orang bukan jumlah yang imbang, akan tetapi bagi
pendekar seperti Baruna, dua puluh orang itu bukan sebuah masalah besar. Tiap jurus-jurus yang dilancarkan musuh kepada Baruna, dapat dihindari dengan mudah. Bagi Baruna gerakan orang-orang Perguruan Harimau Matahari itu sangat lambat, terlalu terburu-buru serta tidak memiliki sasaran yang jelas. Beberapa kali Baruna dapat melihat celah untuk menyerang balik melakukan serangan balasan yang bersifat fatal pada dua puluh orang itu, akan tetapi dirinya mengurungkan niat untuk menyerang balik hingga membuat mereka tidak berdaya karena ingin melihat seberapa jauh stamina dua puluh orang Perguruan Harimau Matahari itu.
Sesekali Baruna menyerang menggunakan tongkatnya kepada lawan-lawannya, Baruna menyadari jika melawan mereka secara langsung dengan beradu kekuatan melawan dua puluh orang Perguruan Harimau Matahari sekaligus bukan sebuah gagasan yang baik. Ia pun hanya bergerak lincah ke segala arah dengan kecepatan tinggi menghindari serangan musuh-musuhnya dan kemudian melakukan serangan belasan. Berkali-kali serangan Baruna mengenai kepala, leher atau pun dahi orang-orang Perguruan Harimau Matahari tersebut.
Baruna sengaja memperlemah serangannya kepada orang-orang Perguruan Harimau Matahari itu. Mereka semua menerima serangan-serangan Baruna tanpa mengetahui jika Baruna hanya sengaja mengurangi tenaga. Mereka mengira bahwa Baruna bukan merupakan lawan yang sulit untuk diatasi jika melihat dari serangannya yang demikian lemah.
“Jadi hanya ini serangan dari Baruna Witaka?” Komentar salah satu orang Perguruan Harimau Matahari.
Mengetahui serangan tongkat Baruna cukup lemah, dua puluh orang Perguruan Harimau Matahari itu tidak menangkis atau pun menghindari serangan Baruna. Mereka hanya menerima langsung serangan Baruna, lalu mengabaikan serangan itu dan terus mengeroyok pendekar dari Perguruan Harimau Bulan itu. Sebagian besar dari orang-orang Perguruan Harimau Matahari itu bertarung melawan Baruna hanya menggunakan tangan kosong. Hanya satu dua orang yang menggunakan senjata berupa golok dengan satu sisi bilah tajam serta kapak, meski mereka tetap lebih cenderung menggunakan tangan kosong ketika bertarung.
Berbeda dengan Perguruan Harimau Bulan dimana jurus-jurusnya menggunakan senjata, terutama tombak. Jurus-jurus yang dimiliki oleh Perguruan Harimau Matahari sebagian besar menggunakan tangan kosong atau pun senjata jarak pendek. Meski demikian jika dibandingkan, Perguruan Harimau Matahari lebih mengandalkan kekuatan serta daya tahan dibandingkan Perguruan Harimau Bulan yang lebih mengandalkan kecepatan serta akurasi. Baik jurus-jurus Perguruan Harimau Bulan maupun Perguruan Harimau Matahari sama-sama memiliki
kelebihan serta kekurangan masing-masing. Dan, hanya ahli bela diri bijaklah yang sanggup mengatasi kekurangan dari masing-masing jurus yang dimilikinya. Seperti halnya Baruna yang cukup menyadari kelemahan dan kekurangan dari jurus dari Perguruan Harimau Bulan miliknya.
“Apa perlu kubantu Baruna?”Cakiya menawarkan bantuan pada Baruna dengan tersenyum sambil menggeledah tubuh Macan Mawa yang sedang pingsan.
“Tidak usah.” Kata Baruna sambil menyiapkan kuda-kuda lalu bergumam. “Aku ingin melihat kualitas daya tahan mereka. Selain itu aku juga memiliki rencana sendiri pada orang-orang ini.”
“Oh begitu.” Jawab Cakiya mendekati Macan Mawa dengan senyuman penuh arti.
Dengan satu serangan pukulan di leher bagian kanan, Macan Mawa yang sudah tidak dapat menggerakkan tubuhnya kemudian tidak sadarkan diri. Cakiya lalu memperhatikan Macan Mawa dengan seksama, tubuhnya begitu kekar serta cukup terawat. Beberapa perhiasan mengiasi tubuh tinggi besarnya tersebut. Antara lain, sebuah cincin yang melingkar di jari manis dan jari tengah tangan kanannya. Sementara, sebuah gelang melingkari pergelangan kaki kiri Macan Mawa. Untuk ukuran seorang pendekar, Macan Mawa ternyata merupakan orang yang lebih dari berkecukupan, sekali pun dirinya hanya anak haram seorang bangsawan sekaligus tetua dari sebuah Perguruan yang terbesar dan paling berpengaruh di seluruh penjuru kerajaan. Dengan sebelah kakinya, Cakiya lalu menggoyang-goyangkan tubuh Macan Mawa hingga terdengar suara gemerincing dari balik saku celana dan pakaiannya. Cakiya menyeringai penuh kemengangan setelah mengetahui bahwa Macan Mawa membawa cukup banyak barang berharga.
“Nah Tuan Macan Mawa, kita lihat apa saja yang kaubawa kali ini.” Cakiya berjongkok lalu menggeledah isi pakaian Macan Mawa.
Cakiya mencari-cari barang berharga apa saja yang dibawa oleh pendekar dengan tinggi nyaris dua meter tersebut. Selain ingin mengambil sebagian barang berharganya, Cakiya juga penasaran tentang barang-barang apa saja yang dibawa oleh orang sebesar dan segarang Macan Mawa. Cakiya mendapat beberapa barang berharga berupa kalung berlian, cincin batu permata serta gelang. Cakiya menduga jika barang-barang yang disimpan oleh Macan Mawa sebagian besar merupakan hasil rampasan dari orang lain, karena sebagian besar perhiasan itu memiliki guratan
berbentuk tulisan nama-nama keluarga tertentu serta jenis emas tersebut adalah perhiasan dari emas kuno dimana dari segi kilau dan beratnya sedikit berbeda dengan jenis perhiasan emas yang beredar saat ini. Jenis perhiasan ini tentu aneh bila dimiliki serta dibawa kemana-mana oleh orang seperti Macan Mawa, karena pada umumnya yang membawa jenis perhiasan seperti ini adalah perempuan dewasa atau kaum ibu-ibu.
Sementara Baruna berkelit ke sana kemari melawan dua puluh orang musuhnya, Cakiya sibuk menggeledah Macan Mawa. Cakiya tidak terlihat begitu khawatir begitu mengetahui jika Baruna dikeroyok oleh dua puluh oranng pendekar. Ia dapat menaksir kekuatan Baruna dan kedua puluh orang tersebut dengan akhir perhitungan jika Baruna dapat memenangkan pertarungan tersebut dengan mudah. Dan, jika Baruna belum memenangkan pertarungan itu, Cakiya dapat menduga jika Baruna memiliki rencana sendiri.
Setelah memilih sebagian besar perhiasan milik Macan Mawa dan memasukkannya ke balik pakaiannya sendiri, Cakiya lalu meraih kantong penuh uang dari saku Macan Mawa. Setelah mendapatkan kantong uang itu, Cakiya kemudian memasukkannya di balik pakaiannya. Salah seorang murid Perguruan Harimau Matahari yang melihat
Cakiya menggeledah serta mencuri barang-barang milik Macan Mawa segera berteriak. Akan tetapi akibat terlalu memperhatikan aksi Cakiya mencuri barang-barang milik Macan Mawa, kesiagaannya mengendur hingga Ia tidak
memperhatikan kilatan tongkat Baruna yang berkelebatan di antara kedua kakinya.
“Hei Pencu-!” Belum sempat pendekar Perguruan Harimau Matahari itu menyelesaikan kalimatnya, kibasan tongkat Baruna menjegal kedua kakinya dan membuat tubuhnya jatuh terjengkang dengan kepala dahulu menghantam tanah. Ia terjungkal dan kemudian pingsan karena serangan tongkat Baruna.
Kesembilan belas rekannya yang mengetahui salah satu dari mereka kalah dan tidak sadarkan diri semakin terlihat marah serta kalap. Serangan-serangan mereka semakin kuat dan memiliki daya rusak yang lebuh mematikan. Akan tetapi, karena amarah menguasai benak kesembilan belas pendekar Perguruan Harimau Matahari itu, serangan mereka menjadi terlalu kaku dan memiliki pola yang dapat lebih mudah dihindari Baruna dari pada sebelumnya. Amarah yang menguasai mereka pun membuat daya tahan kesembilan belas orang tersebut menurun sangat besar. Nafas mereka tersengal-sengal serta gerakan mereka berangsur-angsur melambar. Baruna yang
mengetahui jika orang-orang dari Perguruan Harimau Matahari itu sudah mencapai batasnya kemudian memutuskan untuk mengakhiri pertarungan itu. Ia pun bergerak mundur sejauh beberapa meter lalu sambil memutar tongkatnya dengan putaran ke kiri, Baruna menyiapkan jurus untuk mengakhiri duelnya melawan sembilan belas orang dari Perguruan Harimau Matahari tersebut.
“Kyai Sakwari Warsita.” Bisik Baruna dan kemudian memainkan tongkatnya dengan
memutar-mutarkannya ke kiri dan kanan beberapa kali secara bergantian. Terdengar suara nyaring seperti alunan suling yang dibunyikan tanpa nada, bersumber dari senjata tongkat milik Baruna sewaktu tongkat itu diputarnya. Baruna lalu berbisik lirih. “Bernyanyilah dengan riang.”
oke thor tlg masukan dr para reader yg. sekiranya itu membangun tlg di aplikasikan.
kita sangat menghargai perih payah author dlm membangun cerita dan klopun ada kata2 yg kasar dari kami ya itu semata2 Krn kami ingin sajian yg memanjakan imaginasi.
kalau cepat hasil ceritanya tidak akan bagus, seru dan menarik jadi pembaca harus sabar ya