NovelToon NovelToon
DUNIA X KEKACAUAN

DUNIA X KEKACAUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:326
Nilai: 5
Nama Author: YT FiksiChannel

Dien Moretz adalah sarjana pengangguran yang selalu gagal dalam wawancara kerja, karena memiliki kekurangan bibir sumbing yang menyebabkan komunikasinya tidak lancar dan dianggap sebuah beban. Suatu hari saat sedang mencari pekerjaan, tiba-tiba ada monster yang muncul dan memangsa orang-orang. Dien yang selamat akhirnya menyadari bahwa ada dunia lain, dunia yang berbeda dari yang dia jalankan selama ini. Dien yang tertarik dan tidak mendapatkan pekerjaan akhirnya memilih menjadi bagian dari dunia tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YT FiksiChannel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dewa yang murka

Desa Sukahati, Pesisir Pantai. 

Sebagai pasukan malam yang sangat rahasia dan bergerak di dalam bayangan, Dien, Aamon, dan Freya bergerak secara diam-diam dan senyap dalam menyelesaikan misi yang mereka terima. 

Mereka bertiga datang ke desa Sukahati dengan menyamar sebagai pelancong atau wisatawan. Mereka bertiga berpencar dan berbaur dengan warga desa untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, sebelum bergerak untuk menangani roh jahat yang dicurigai sebagai dalang keanehan di desa Sukahati. 

Dien mendatangi sebuah warung kecil yang berada di pinggir jalan untuk menggali informasi ke pemilik warung atau warga sekitar yang kebetulan berbelanja.

“Aku dengar ada keanehan di desa ini. Katanya banyak barang atau benda yang tiba-tiba menghilang di telan kehampaan. Apakah itu benar?” Tanya Dien kepada pemilik warung sambil mengunyah roti. 

Dien mengenakan pakaian kasual, baju kemeja putih, celana jeans, memakai kacamata hitam, jam tangan, dan sepatu coklat yang terlihat elegan, serta rambut klimis yang disisir rapi menyamping kiri. 

Pemilik warung yang hanya mengenakan daster itu tersenyum menggoda. 

“Itu benar dewa yang agung. Desa ini sepertinya dikutuk oleh iblis. Banyak benda atau barang yang tiba-tiba menghilang ditelan kehampaan. Kamu tahu? Kemarin malam aku melihat sendiri gayung mandi tiba-tiba menghilang ditelan kehampaan. Hais… sebenarnya apa yang terjadi di desa ini.” Balas wanita penjaga warung dengan centil dan merasa takut. 

Wanita itu tersadar dari pengaruh topeng raja tanpa wajah. Wanita itu melihat Dien dengan kebingungan, lalu tiba-tiba membungkuk dengan ketakutan. 

“Yang mulia dewa yang agung. Hamba yang hina ini memohon ampun, karena berkata lancang tanpa penghormatan kepada anda yang mulia. Hamba yang hina ini siap dipenggal untuk menebus dosa dan kesalahan hamba.” Ucap penjaga warung dengan ketakutan. 

Wanita itu kembali sadar dari pengaruh topeng raja tanpa wajah dan bergumam. “Apa yang aku katakan? Kenapa aku begitu takut kepadanya? Kenapa aku begitu menghormatinya? Siapa orang ini? Apa yang terjadi sebenarnya?”

Penjaga warung melihat Dien dengan ngeri dan sangat takut. 

“Hei kau! Apa yang kau lakukan kepadaku?” Wanita itu berteriak marah menunjuk batang hidung Dien. 

Tiba-tiba wanita berwajah bengis itu ketakutan sendiri dan berlutut memohon pengampunan.

“Dewa yang Agung! Dewa yang agung! Ampuni hamba! Ampuni hamba! Ampuni hamba yang hina ini karena berkata lancang kepadamu. Dewa yang agung, hamba tidak tahu apa yang terjadi kepada hamba. Mohon ampuni hamba dengan kemurahan hatimu. Mohon ampuni hamba!!!” Ujar penjaga warung bersujud ketakutan dengan badan gemetar.

Dien mengangguk-anggukan kepala mendengar permintaan ampunan pemilik warung, dia sudah terbiasa dengan sikap plin-plan wanita tersebut. Dimana terkadang wanita itu memanggilnya dewa yang Agung, terkadang “kau”, dan terkadang yang mulia dewa yang agung. Dien dapat menebak bahwa wanita itu tanpa sadar terpengaruh topeng raja tanpa wajah, namun sesekali sadar dan tidak terpengaruh atau mungkin topeng raja tanpa wajah memang mempermainkannya. 

Dien menghela nafas ringan, lalu melirik beberapa warga desa yang menatapnya aneh. Tatapan mereka seperti tatapan kekaguman yang berlebihan, bahkan beberapa dari mereka tiba-tiba berlutut dan memujinya, beberapa lainnya lebih buruk dimana mereka bersujud hingga kepalanya berdarah dan itu dilakukan secara berulang-ulang sembari memujinya dengan kata “Dewa yang Agung!”

“Dewa yang agung! Hamba bersedia menjadi pelayanmu. Hamba akan melayanimu sepenuh hati. Tolong terima hamba yang hina ini sebagai pelayanmu wahai dewa yang agung. Dewa yang agung, engkau adalah dewa yang menguasai alam semesta, hamba adalah hamba yang hina. Wahai dewa yang Agung, tidak ada dewa yang setara denganmu. Engkau adalah penguasa alam semesta!!!” Seorang pemuda berlutut menyentuh kaki Dien dan mencium sepatu Dien yang becek, lalu mengucapkan beberapa kata dengan penuh kerendahan hati. 

“Dia orang ke-11 yang berlutut mencium kakiku dan menyembah aku sebagai dewa. Topeng ini benar-benar mengerikan dan membuat risih. Sangat risih hingga membuatku sedikit tergoda untuk menjadi dewa. Ini benar-benar berbahaya bagi imanku! Ini sangat berbahaya!!!” Batin Dien menyentuh wajah sempurnanya. 

Ada penyesalan di hati Dien ketika melihat secara langsung efek samping topeng raja tanpa wajah. 

“Oh Tuhan! Kuatkanlah iman hamba! Jangan engkau pergi dan mencabut iman hamba yang hina ini!” Dien menatap langit dan berdoa dengan tulus. 

Seorang wanita muda melingkari leher Dien dengan tangan halusnya dan berbisik lembut dengan nada menggoda birahi. “Yang mulia dewa penguasa alam semesta, hamba ingin anak bersamamu. Berikanlah hamba anak yang memiliki wibawa dan kekuatan agung sepertimu!”

Dien paham mereka menjadi seperti itu karena pengaruh topeng raja tanpa wajah. Dia sebenarnya risih, namun dia tidak bisa melakukan apapun kepada topeng raja tanpa wajah. 

“Dewa hanyalah gelar kosong yang diberikan kepada orang lain hanya karena rasa kagum atau takut. Bertobatlah dan kembalilah kepada Tuhan!!!” Ucap Dien menyingkirkan tangan sang wanita muda yang memang sangat cantik jelita tersebut. 

“Lalu kenapa? Bagiku kamu adalah dewa yang menciptakan dunia ini. Kamu adalah dewa yang turun untuk membuat anak denganku. Jujurlah wahai dewa ku.” Balas sangat wanita muda lebih menggoda dan memeletkan lidahnya memancing nafsu birahi. 

“Mari kita bersenang-senang.” Wanita muda menggigit telinga Dien dan berbisik dengan nada mendesah. 

Dien tergoda dan alat kelaminnya sudah berdiri dengan tegak serta memanjang dan membesar dari biasanya. Wanita muda itu tersenyum tipis dan semakin berani mengelus area pribadi Dien. 

Dien yang tidak tahan langsung mendorong sang wanita masuk ke dalam warung dengan disaksikan belasan orang, termasuk ibu pemilik/penjaga warung. 

“Apa yang kalian lakukan, dasar mesum!!!” Pekik ibu penjaga warung marah dan memukul kepala Dien dengan bakul roti. 

Dien yang birahi tinggi dan hampir merobek pakaian wanita muda hanya bisa terdiam dan merasa sangat dipermalukan. 

Semua orang yang tadinya di bawah pengaruh topeng raja tanpa wajah kini tersadar dan berbisik satu sama lain, membicarakan Dien dan wanita muda yang berbuat mesum. 

“Ahhh!!! Brengsek!” Pekik wanita muda itu mendorong Dien dan berlari ke sudut dekat meja kasir dengan menutupi bajunya yang robek seakan-akan baru saja diperkosa. 

Wanita muda itu menatap Dien dengan ketakutan dan meringkuk di pojokan ruangan dekat dengan kaki meja. 

“Brengsek! Pergi! Pergilah!” Penjaga warung memukul-mukul Dien dengan keras dan mengusirnya. 

Dien hanya bisa terdiam dan merasa sangat dipermalukan. Dien berdiri dan segera pergi dari warung kecil tersebut. 

“Mau kemana dewa ku?” Wanita muda tiba-tiba melompat dan memeluk Dien dari belakang. 

Semua orang yang menatap Dien jijik dan hina kini terlihat kembali menatap Dien dengan kagum yang aneh. 

“Dewa yang agung engkau mau kemana? Hamba akan menemani engkau wahai dewa ku.” Penjaga warung berlutut dan berkata dengan penuh hormat layaknya seorang pelayan yang paling setia. 

Dien sangat marah dan melepas lingkaran tangan wanita muda tersebut, lalu membayar dan pergi. 

“Tuanku… anda tidak perlu membayar. Hamba yang hina ini sangat senang anda datang dan membeli roti di warung hamba yang kecil dan hina ini. Tolong jangan membuat hamba seperti pelayan yang tidak berbakti.” Ucap penjaga warung dengan hormat dan merasa rendah diri, namun juga takut disaat yang sama. 

Dien berbalik melihat tingkah ibu penjaga warung tersebut. 

“Apa yang terjadi? Sebenarnya apa yang kau lakukan kepadaku?” Tanya penjaga warung yang sadar kembali. 

“Apa yang kau lakukan kepadaku pria mesum!!!” Pekik penjaga warung menunjuk Dien dengan takut. 

“SEBAIKNYA KAU BERHENTI BERMAIN-MAIN TOPENG SIALAN!” Raung Dien memukul dan menghancurkan etalase jualan dan melangkah pergi dengan penuh kemarahan. 

Semua warga yang berkumpul tidak berani mencegah kepergian Dien. 

Pemilik sekaligus penjaga warung juga tidak berani mencegah, karena takut dengan kemarahan Dien. Dien pergi dengan bebas tanpa hambatan. 

Tiba-tiba penjaga warung dan semua warga kembali menjadi seorang fanatik. 

“Mengantar kepergian dewa yang agung!!!” Ujar mereka serentak dan memuji Dien dengan penuh penghormatan. 

Sepanjang perjalanan, Dien beberapa kali disembah oleh warga desa tanpa sebab dan begitu fanatik. Dien yang marah tidak peduli dan bahkan menendang salah satu warga yang bersujud dan menyentuh kakinya untuk meminta berkat. 

“Hentikan atau aku akan melepasmu dari wajahku meskipun aku harus mati!” Pinta Dien dengan tatapan dingin lurus ke depan, dan mengabaikan para warga yang bersujud di sepanjang jalannya.

Dien semakin menekan topeng raja tanpa wajah dengan energi spiritualnya. 

Dien yang awalnya tidak terlalu memikirkan efek negatif topeng raja tanpa wajah, pada akhirnya sangat risih melihat dampaknya yang sangat mengerikan. Dien bahkan beberapa kali ingin melepas topeng, namun dia ragu dan tidak rela merusak apa yang dia inginkan sejak lahir. 

“Suatu saat aku akan melepas dan menghancurkanmu jika kau terus membuat masalah untukku, TOPENG SIALAN!!!” Ujar Dien mengancam topeng raja tanpa wajah. 

Bersambung. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!