NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Sejak pengakuan tak terduga dari Alexander Kingsley hari itu, hidup Aurora Quinn tidak lagi bisa tenang.

Hal itu terjadi bukan karena ada sebuah masalah besar yang menimpanya. Justru sebaliknya. Ketenangannya terusik karena setiap kali ingatan di kepalanya memutar ulang wajah tampan Alexander saat mengatakan kalimat, "Aku menyukaimu," jantung Aurora selalu berdebar dengan sangat kencang. Dan baginya, sensasi mendebarkan itu benar-benar sangat mengganggu fokusnya.

---

Tiga hari.

Sudah tiga hari penuh berlalu sejak kejadian di taman kampus itu, dan Aurora masih belum memberikan jawaban apa pun kepada Alexander.

Alasan ia menundanya bukan karena ia bingung atau tidak tahu apa isi hatinya. Justru sebaliknya, karena ia terlalu tahu jawabannya. Aurora tahu betul bahwa ia juga menyukai Alexander—sangat menyukainya, malah.

Namun, semakin besar perasaan itu tumbuh di dalam dadanya, semakin besar pula ketakutan yang ikut menghantuinya. Mereka berdua berasal dari dua dunia yang sepenuhnya berbeda kasta. Alexander adalah sang pewaris tunggal dari keluarga konglomerat Kingsley yang terhormat, sementara dirinya? Ia hanyalah seorang gadis biasa yang harus bekerja banting tulang di kafe sambilan demi bisa membayar biaya kuliahnya sendiri.

Bagaimana jika hubungan beda kasta ini tidak berhasil? Bagaimana jika suatu hari nanti Alexander merasa bosan dan menyesali keputusannya? Rentetan pikiran buruk itu terus saja berputar dan menghantui benak Aurora tanpa henti.

---

Sementara itu, di sudut lain kampus Hudson University.

Alexander Kingsley sedang mengalami penyiksaan mental dalam versi yang berbeda. Ia terus-menerus menatap layar ponselnya yang bergeming, membuat Ryan Walker yang duduk di hadapannya hampir tertawa setiap hari melihat tingkah konyol sahabatnya itu.

"Kamu masih belum mendapatkan jawaban dari Aurora?" tanya Ryan membuka obrolan sambil menahan senyum kegembiraan.

"Tidak," jawab Alexander singkat dengan wajah yang ditekuk kusut.

"Dan kamu masih setia menunggunya?" desak Ryan lagi sengaja memancing.

"Ya," sahut Alexander pasrah.

Ryan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat pemandangan langka di depannya. "Kalau aku menjadi dirimu, aku pasti sudah mati karena stres," komentar Ryan meragukan ketahanan mental sahabatnya.

Alexander menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan lemas. "Kenyataannya, aku memang sedang stres saat ini, Ryan," aku Alexander jujur tanpa gengsi lagi.

Mendengar pengakuan blak-blakan itu, Ryan langsung tertawa terbahak-bahak. Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun ia mengenal Alexander Kingsley, pria yang terkenal dingin dan kaku itu akhirnya bisa terlihat sangat gugup dan tak berdaya hanya karena memikirkan seorang wanita.

---

Sore harinya.

Aurora menyelesaikan sif kerjanya di kafe lebih awal dari biasanya. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti tepat saat ia keluar dari pintu kafe.

Ia melihat sosok pria yang sudah sangat ia kenal sedang berdiri bersandar di bawah pohon besar dekat pintu masuk utama kampus. Alexander berada di sana, mengenakan kemeja hitam sederhana dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Dan seperti biasa, pria itu tampak terlalu tampan untuk ukuran manusia normal.

Begitu menyadari kehadiran Aurora, seulas senyuman kecil langsung muncul di wajah Alexander. "Hai," sapa Alexander lembut.

Aurora tersenyum gugup, mencoba menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu. "Hai, Alex," balas Aurora lirih.

Mereka berdua kemudian memutuskan untuk berjalan berdampingan menyusuri jalanan kampus. Tidak ada yang membuka suara selama beberapa menit pertama; keheningan yang sedikit canggung menyelimuti langkah mereka. Sampai akhirnya, Alexander memutuskan untuk membuka suara terlebih dahulu.

"Aku tidak akan pernah memaksamu, Aurora," ujar Alexander memecah keheningan sembari menatap lurus ke depan.

Aurora menolehkan kepalanya sekilas. "Hm? Memaksa tentang apa maksudmu?" tanya Aurora pura-pura bingung.

"Tentang jawaban dari pernyataan cintaku tiga hari yang lalu," jawab Alexander berterus terang.

Aurora menggigit bibir bawahnya, merasa sedikit bersalah karena telah membuat pria itu digantung tanpa kepastian.

Alexander menoleh dan tersenyum tipis ke arahnya. "Tapi, aku juga bohong kalau aku bilang aku tidak merasa penasaran setengah mati saat ini," tambah Alexander mengaku dengan jujur.

Aurora tertawa kecil mendengar pengakuan yang terlampau jujur itu. "Aku tahu kok kalau kamu penasaran," sahut Aurora menggoda.

Alexander ikut tertawa pelan, rasa canggung di antara mereka perlahan menguap. "Apakah ekspresi penasaranku terlihat begitu kentara di wajahku?" tanya Alexander memastikan.

"Sedikit, sih," canda Aurora.

"Hanya sedikit?" tanya Alexander mengangkat sebelah alisnya.

"Nggak, deng. Terlihat banyak banget," ralat Aurora sambil terkekeh manis.

Keduanya akhirnya tertawa bersamaan, dan suasana tegang yang sempat melingkupi mereka sejak awal kini mendadak sirna begitu saja.

---

Langkah kaki mereka akhirnya berhenti di atas sebuah jembatan kecil yang terletak di dekat taman kampus. Di ufuk barat, matahari mulai terbenam secara perlahan, mengubah warna langit Manhattan menjadi kilauan jingga keemasan yang sangat indah.

Namun bagi Alexander, pemandangan alam seindah apa pun sore itu sama sekali tidak ada yang lebih menarik daripada sosok gadis cantik yang sedang berdiri di sampingnya saat ini.

"Aurora," panggil Alexander dengan nada suara yang perlahan berubah serius.

Aurora memutar tubuhnya untuk menghadap sang pria. "Iya, Alex? Ada apa?" tanya Aurora menyahut.

Alexander tampak menarik napas dalam-dalam. Wajahnya terlihat tenang, namun sebenarnya detak jantung di dalam dadanya sedang tidak baik-baik saja. "Aku cuma ingin mengetahui satu hal darimu saat ini," ujar Alexander penuh kesungguhan.

"Apa yang ingin kamu ketahui?" tanya Aurora penasaran.

"Apakah aku... setidaknya memiliki satu kesempatan untuk bisa masuk ke dalam hidupmu?" tanya Alexander menatap tepat ke dalam manik mata Aurora dengan penuh harap.

Aurora terdiam seribu bahasa selama beberapa detik yang terasa begitu lama bagi Alexander. Kemudian, sebuah senyuman kecil yang sangat manis terukir di bibir ranumnya—sebuah senyuman indah yang sukses membuat jantung Alexander hampir berhenti berdetak karena terpesona.

"Sebenarnya, aku juga mau jujur kepadamu tentang suatu hal," ucap Aurora dengan binar mata yang melembut.

Alexander menatapnya tanpa berkedip, menunggu kelanjutan kalimat itu dengan perasaan harap-harap cemas.

Aurora menarik napas pelan untuk mengumpulkan seluruh keberaniannya, lalu berkata dengan suara yang sangat jelas, "Aku juga menyukaimu, Alexander."

Deg.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, seorang Alexander Kingsley kehilangan kemampuan untuk memproduksi kata-kata. Pria yang biasanya selalu tampil percaya diri dan dominan di setiap situasi itu kini mendadak membeku sempurna di tempatnya berdiri.

Aurora sampai tidak bisa menahan tawa renyahnya melihat ekspresi melongo yang sangat jarang diperlihatkan oleh sang CEO masa depan itu. "Kenapa kamu malah bengong seperti itu?" tanya Aurora tertawa kecil.

Alexander masih saja diam, seolah jiwanya belum sepenuhnya kembali ke tubuhnya.

"Alex? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Aurora lagi sembari melambaikan tangannya di depan wajah Alexander.

Beberapa detik kemudian, Alexander akhirnya tersenyum lebar lalu tertawa pelan. Ia mengusap wajahnya sendiri dengan tangan kanan, mencoba meyakinkan diri bahwa ia tidak sedang bermimpi. "Aku... aku benar-benar nggak menyangka kamu akan membalas perasaanku," aku Alexander takjub.

Aurora mengangkat sebelah alisnya jenaka. "Kenapa memangnya? Memangnya apa yang kamu pikirkan sebelumnya?" tanya Aurora heran.

"Sebelum menemuimu di sini, aku bahkan sudah menyiapkan seratus alasan dan kemungkinan untuk menghadapi penolakanmu," tutur Alexander jujur.

Aurora langsung tertawa lepas mendengar persiapan ekstrem pria itu. "Kamu ini terlalu berlebihan dan lebay, tahu!" seru Aurora menggelengkan kepalanya.

"Mungkin saja aku memang berlebihan jika itu menyangkut dirimu," balas Alexander tersenyum tulus.

Namun, senyuman Alexander kali ini terasa sangat berbeda dari biasanya. Senyuman itu terlihat jauh lebih bahagia, lebih tulus, dan tampak begitu hidup. Karena wanita yang selama ini ia puja diam-diam, ternyata memiliki perasaan cinta yang sama besarnya dengan dirinya.

---

Angin sore bertiup pelan, memainkan helai rambut mereka berdua. Mereka saling melemparkan tatapan mata yang dalam satu sama lain, dan untuk beberapa saat berikutnya, tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan. Sebab, keheningan di antara mereka saat ini sudah terasa jauh lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya.

Aurora menundukkan kepalanya dengan senyuman malu-malu yang menghiasi wajahnya yang memerah, sementara Alexander sama sekali tidak bisa berhenti mengulas senyuman bahagia dari bibirnya.

Lalu secara perlahan, Alexander mengulurkan telapak tangan kanannya yang terbuka ke hadapan Aurora.

Aurora menatap jemari tangan kekar itu selama beberapa saat, lalu beralih menatap kembali ke arah wajah tampan Alexander.

Dengan nada suara yang teramat lembut dan sarat akan janji setia, Alexander berkata, "Kalau begitu, mulai hari ini, izinkan aku untuk selalu membuatmu bahagia, Aurora Quinn."

Jantung Aurora kembali berdebar dengan sangat hebat mendengar untaian janji manis itu. Dan tanpa ada rasa ragu atau ketakutan lagi yang tersisa di dalam hatinya, ia meletakkan telapak tangan kecilnya di atas uluran tangan Alexander, membiarkan pria itu menggenggamnya dengan erat.

Namun, tanpa pernah mereka berdua sadari, dari kejauhan di balik pilar gedung kampus, ada seseorang yang sejak awal sedang memperhatikan seluruh momen romantis itu dengan sepasang mata yang menyala penuh kobaran kebencian.

Orang itu adalah Sophia Laurent.

Kedua tangan Sophia mengepal begitu erat hingga kuku-kukunya memutih, sementara matanya mendadak memerah karena menahan rasa amarah yang luar biasa hebat. Momen pernyataan cinta dan kebahagiaan yang selama bertahun-tahun ini selalu ia impikan untuk terjadi antara dirinya dan Alexander, kini justru dengan begitu mudahnya diberikan oleh pria itu kepada wanita miskin seperti Aurora Quinn.

Sophia menarik napas tajam dan bersumpah di dalam hatinya dengan penuh dendam. Ia tidak akan pernah membiarkan hubungan cinta antara Alexander dan Aurora bisa berjalan dengan semudah dan sebahagia ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!