NovelToon NovelToon
PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).

Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.

Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 19

Dunia Fana – Langit di Atas Desa Angin Lembut.

Awan hitam bergulung-gulung menutupi matahari, ditarik oleh fluktuasi Qi dari ratusan murid Sekte Pedang Awan. Di tengah formasi itu, Ketua Sekte Zhao Tian berdiri di atas pedang raksasa yang memancarkan cahaya perak menyilaukan. Jubahnya berkibar arogan, menatap gubuk bambu di bawah sana layaknya dewa yang sedang menatap sarang semut.

"Waktu kalian sudah habis, Kultivator Iblis!" raung Zhao Tian. Tekanan Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul) miliknya menekan udara hingga berderak. "Karena kalian menolak menyerahkan pusaka itu, maka hari ini Desa Angin Lembut akan kuhapus dari peta dunia fana!"

Di bawah sana, penduduk desa sudah tiarap di tanah, gemetar ketakutan memeluk anak-anak mereka.

Namun, dari balik pagar bambu halaman keluarga Shi, bukan pusaka surgawi atau serangan sihir yang keluar menyambut mereka.

Melainkan tiga ekor anjing berwarna hitam legam.

Hitam Satu berjalan di depan, diikuti oleh Hitam Dua dan Hitam Tiga. Mereka bertiga melangkah dengan malas, sesekali menggaruk telinga mereka dengan kaki belakang. Di mata fana, mereka tampak seperti anjing pemburu biasa yang sedikit lebih besar dari ukuran normal.

Melihat hal itu, Zhao Tian dan para Tetua Agungnya tertegun sejenak, lalu meledak dalam tawa yang menggelegar meremehkan.

"BWAHAHAHA! Kultivator cacat itu sudah gila!" tawa salah satu Tetua Agung yang berada di tahap Inti Emas (Golden Core) puncak. "Dia pikir bisa menahan laju Sekte Pedang Awan dengan mengirim tiga ekor anjing kampung?! Biar aku yang menjadikan anjing-anjing itu sate!"

Tetua Agung itu membentuk segel jari, mengendalikan puluhan pedang terbang yang melesat ke bawah bagaikan hujan meteor perak, mengincar langsung ke arah Hitam Satu.

Di teras gubuk, Shi Hao menyandarkan tubuhnya ke dinding bambu. Dia sama sekali tidak melihat ke atas.

"Hitam Satu," panggil Shi Hao santai. "Istriku baru saja menyapu halaman. Jangan buat berantakan. Tangkap tulangnya di udara, dan jangan makan sampah beracun, nanti perut kalian sakit."

Mendengar instruksi itu, Hitam Satu berhenti melangkah.

Anjing hitam itu menengadah ke langit. Tiba-tiba, ilusi fana yang menyelimuti tubuhnya retak layaknya cermin yang dipukul palu besi.

KRAAAK!

Sebuah pilar aura hitam kemerahan meledak dari tubuh Hitam Satu, menembus langsung ke awan mendung dan mewarnai separuh langit menjadi merah darah. Tubuhnya membengkak. Otot-ototnya menonjol, bulunya berubah menjadi duri-duri baja Nether, dan keenam matanya terbuka serentak, memancarkan teror absolut dari Sembilan Nether.

Hitam Dua dan Hitam Tiga mengikuti. Dalam hitungan detik, tiga ekor Raja Anjing Nether monster tingkat puncak Nascent Soul berdiri menutupi seluruh halaman gubuk bagaikan gunung kegelapan.

Tekanan Qi Iblis Purba yang mereka lepaskan begitu dahsyat, hingga menghancurkan aura Nascent Soul milik Zhao Tian dalam sekejap, persis seperti badai topan yang meniup padam lilin kecil!

"A... A... APA ITU?!" tawa Tetua Agung tadi tercekik di tenggorokannya. Matanya nyaris melompat keluar.

Puluhan pedang terbang yang dia lemparkan tadi baru saja mencapai jarak sepuluh meter dari wajah Hitam Satu.

Hitam Satu tidak menghindar. Dia membuka rahangnya yang dipenuhi taring setajam pedang abadi, lalu menggigit udara di depannya dengan gerakan meraup.

KRAK! KRAK! KRAK!

Puluhan pedang pusaka tingkat bumi itu dikunyah oleh Hitam Satu layaknya kerupuk beras fana. Serpihan besi spiritual berjatuhan dari sela-sela giginya.

Hitam Satu menelan pedang-pedang itu, lalu meludah ke samping, mengeluarkan gagang pedangnya karena menurutnya rasanya terlalu hambar.

"P-Pedang pusakaku... dimakan anjing?!" Tetua Agung itu memuntahkan darah segar karena senjata spiritual yang terhubung dengan jiwanya hancur total.

Kepanikan masif seketika melanda formasi Sekte Pedang Awan. Arogansi mereka runtuh menjadi kengerian yang membuat lutut mereka lemas.

"M-Mundur! Itu bukan siluman biasa! Itu Raja Iblis dari dimensi lain!" teriak Zhao Tian panik, wajahnya sepucat kertas kematian. Dia segera memutar pedang raksasanya, berniat melarikan diri meninggalkan murid-muridnya. "Formasi pertahanan! Lindungi aku!"

Namun, anjing-anjing peliharaan Shi Hao belum selesai bermain.

Mengingat pesan majikannya untuk "menangkap tulang di udara", Hitam Dua dan Hitam Tiga menekuk kaki belakang mereka, lalu melompat.

BOOOM!

Lompatan mereka menciptakan kawah kecil di udara. Dua monster raksasa itu melesat ke langit, menembus formasi ratusan murid Sekte Pedang Awan.

Bagi anjing Nether, pedang-pedang terbang yang bersinar itu tampak seperti lemparan ranting kayu atau tulang mainan yang bercahaya.

GUK! RAWRRR!

Hitam Dua mengibaskan ekor durinya, menghantam puluhan murid Pembentukan Pondasi hingga mereka jatuh berjatuhan dari langit seperti lalat yang disemprot racun. Hitam Tiga mencaplok tiga pedang terbang sekaligus, menggigitnya hingga putus, membuat para pengendaranya jatuh menjerit-jerit.

"Tidaaak! Tolong!"

"Dewa, selamatkan kami!"

Hujan manusia dan pedang patah benar-benar terjadi. Murid-murid sekte yang sombong itu berjatuhan ke sawah dan ladang di sekitar desa dengan suara debum yang keras. Beruntung bagi mereka, Shi Hao melarang anjingnya memakan "sampah", jadi mereka hanya jatuh dan patah tulang tanpa kehilangan nyawa.

Di tengah kekacauan itu, seorang murid inti jatuh tepat di halaman keluarga Shi, tak jauh dari tempat Gou-zi bocah tujuh tahun beringus sedang berdiri memegang pedang bambu mainan barunya.

Murid inti itu, meski terjatuh dan babak belur, masih memiliki harga diri kultivator. Melihat seorang bocah fana, dia mencabut belatinya dengan marah. "Minggir, anak haram! Biarkan aku menyandera—"

Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Gou-zi yang ketakutan memejamkan mata dan mengayunkan pedang bambu pemberian Paman Hao dengan membabi buta.

"JANGAN GANGGU AKU! HIYAAAH!" teriak Gou-zi.

ZRAAAASH!

Niat Pedang Asura (Asura Sword Intent) yang tertanam di dalam pedang bambu itu bereaksi terhadap ancaman. Seberkas cahaya hitam melesat dari ujung pedang kayu tersebut.

Cahaya itu tidak membelah tubuh si murid inti (karena niat pedang itu diatur Shi Hao hanya untuk menakuti), tapi gelombang kejutnya mencukur habis seluruh rambut di kepala murid itu hingga botak, menghancurkan belatinya menjadi debu, dan merobek seluruh pakaiannya hingga menyisakan celana dalam.

Murid inti itu membeku. Dia meraba kepalanya yang botak dan licin, merasakan hawa kematian yang baru saja menyentuh kulit kepalanya.

Mata murid itu berputar ke atas, dan dia pingsan dengan mulut berbusa karena syok berat. Bocah tujuh tahun di desa fana ini baru saja mengeluarkan Niat Pedang tingkat Kaisar!

Di atas langit, pembantaian sepihak (atau lebih tepatnya, waktu bermain anjing) hampir selesai.

Hitam Satu memusatkan pandangannya pada mangsa terbesar: Ketua Sekte Zhao Tian yang sedang kabur mati-matian di ujung cakrawala.

Hitam Satu tidak repot-repot melompat. Dia hanya membuka rahang keenamnya, dan menyedot udara dalam-dalam.

"Tenik Penelan Ruang Nether!"

Sebuah pusaran gravitasi absolut tercipta di tenggorokan Hitam Satu. Zhao Tian, yang sudah terbang sejauh lima mil, mendadak berhenti. Tubuhnya tersedot mundur dengan kecepatan gila, tertarik kembali ke arah halaman gubuk bambu melawan kehendaknya.

"TIDAK! LEPASKAN AKU! AKU KETUA SEKTE! AKU—"

HAP!

Hitam Satu menangkap tubuh Zhao Tian tepat di udara. Giginya yang tajam mencengkeram jubah Zhao Tian tanpa menembus kulitnya, persis seperti induk anjing yang menggigit tengkuk anak anjing nakal.

Hitam Satu kemudian mendarat kembali ke halaman dengan bunyi thud pelan. Dia berjalan menghampiri Shi Hao, lalu melemparkan tubuh Zhao Tian yang menggigil hebat ke atas tanah berdebu, tepat di depan kaki bersandal jerami milik sang Kaisar Asura.

Awan mendung di langit lenyap seketika, mengembalikan sinar matahari siang yang cerah. Di sekeliling desa, ratusan murid Sekte Pedang Awan tergeletak mengerang di area persawahan, pedang pusaka kebanggaan mereka kini hanya menjadi serpihan logam tak berguna.

Hitam Dua dan Hitam Tiga kembali mengecil, berubah wujud menjadi anjing kampung hitam biasa, dan ikut duduk dengan rapi di belakang Hitam Satu, menjulurkan lidah mereka seolah menunggu pujian "anak baik".

Di kejauhan, dari atas dahan bambu, Lima Penjaga Teratai saling pandang dengan senyum masam.

"Sekte Pedang Awan dihapus dari peta hanya dalam waktu kurang dari segelas teh," gumam Hei Gen, mencatat kejadian itu di benaknya.

"Dan mereka bahkan tidak menyentuh ujung baju Tuan Besar. Mereka hanya diurus oleh peliharaan rumah tangga," tambah Lu Bai, menggelengkan kepalanya kasihan menatap Zhao Tian yang kini meringkuk di tanah. "Katak di dalam tempurung... akhirnya melihat naga yang sesungguhnya."

Di halaman, Shi Hao mengetuk-ngetukkan tongkat bambunya ke tanah, lalu perlahan berjalan mendekati Zhao Tian yang masih tidak berani mengangkat wajahnya.

"Tuan Ketua Sekte," sapa Shi Hao santai, nadanya sangat sopan namun bagi Zhao Tian terdengar seperti ketukan palu algojo neraka. "Kau menjatuhkan banyak pedang di sawah kami. Besok adalah musim tanam. Bolehkah aku meminta murid-muridmu memunguti sampah logam itu agar kerbaunya tidak terluka?"

Zhao Tian, seorang jenius tingkat Nascent Soul yang biasa disembah jutaan fana, kini bersujud di tanah. Seluruh kesombongannya telah luntur menjadi keputusasaan mutlak. Dia menganggukkan kepalanya ke tanah berulang-ulang dengan histeris.

"S-Siap, Yang Mulia! K-Kami akan membersihkannya! Kami akan mencabuti rumput liar di sawah Anda! Kami akan membajak tanah untuk Anda! Tolong... tolong ampuni nyawa anjing yang hina ini!" isak Zhao Tian.

Shi Hao tersenyum, mengangguk puas.

"Baguslah. Kerja bakti itu sehat," kata Shi Hao. "Oh ya, dan tolong jangan berteriak lagi di depan rumahku. Istriku sedang membuat adonan kue. Jika kuenya hangus karena terkejut oleh suaramu..."

Shi Hao sedikit memiringkan kepalanya, kain putih di matanya berkibar tertiup angin lembut.

"...Aku akan memastikan jiwamu menemani adonan itu di dalam tungku pembakaran."

1
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
kasian berkali kali manggg wuuuu ini....
saniscara patriawuha.
sakit banget tuhhh rasaneee...
saniscara patriawuha.
sikattttttt lagiiii mangggg shiiiiii.....
saniscara patriawuha.
mantaffffff surataffff....
Hendra Saja
makin penasaran.....apa tidak bertemu dengan sang tiran Thor....
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
HINATA SHOYO
mantapp jiwa kerennn cuuyyyyy
HINATA SHOYO
kerenn poolĺll lanjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!