para readers tolong bijak ya dalam pemilih bacaan
wanita mana yang tidak merasa sedih ketika ditinggalkan suaminya, apalagi di hari pernikahan mereka setelah ijab kabul dan sumpah - sumpah pernikahan itu telah terucap
"Jika bagimu ini adalah candaan
Jelaskan padaku di mana letak rasa lucu itu...?? Biar aku bisa membantumu menertawai hidupku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andee Rosalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Waktu terus bergulur hingga tidak terasa kini cukup sebulan aku benar - benar resmi telah menyandang gelar brawijaya pada namaku dan cukup sebulan pula aku membiarkan dedi menderita menahan gejolak nafsunya.
pagi ini berjalan seperti biasanya kami sarapan bersama lengkap dengan mr & ms brawijaya senior, awalnya tak ada yang berbicara hingga dedi membunuh sepi dengan ucapannya sehingga semakin membuat mr & ms brawijaya senior bungkam dan hanya menyaksikan kelakuan penerusnya
"Wi aku ingin hakku sekarang"
"..... "aku memilih memasang wajah sedatar lantai.
"Wi " panggilnya lagi
"..." aku masih tetap acuh.
"Dewi"
"..... "
" Wi" ujar Dedi merenggek-rengek seperti anak kecil.
"..... "
" Dewi Fortuna Brawijaya" Ujarnya marah dan mulai kehilangan kesabarannya.
"...."
"DEWI" Kali ini dengan suara tegas dan terbantahkan.
"Diam" Tidak kalah tegasnya
"Itu hakku dan itu kewajibanmu memenuhinya" Ya tuhan haruskah dia mengatakannya di meja makan dihadapan orang tuanya aku yakin kini dedi benar - benar kehilangan kewarasannya karena nafsu?
Tak ku hiraukan ucapannya dengan cepat aku meninggalkan ruang makan, berlari menuju pintu utama memasuki mobil sport milik dedi dan mengendarainya untuk meninggalkan rumah juga membiarkan dedi yang mengumpat akan kelakuanku.
Aku tidak pedulikan respon dari mertuaku kubiarkan mereka menilaiku sesuka hati, jika aku tak mampu meneruskan balas dendam dengan menghancurkan karir dedi, bermain - main akan kebutuhan biologisnya sungguh sangat menyenangkan.
Seperti biasanya aku memang tetap mengerjakan tugasku sebagai sekretaris dan asisten pribadi dedi tapi kini aku lebih banyak menghabiskan waktu dan mengerjakan semua tugasku di kantin kantor.
dengan alasan tidak ingin berdekatan dengan dedi dan menimbulkan banyak perdebatan dengannya juga semakin menambah daya tarik karyawan lain untuk mengetahui urusan pribadiku dengan bos mereka.
Dedi baru tiba dikantor setelah waktu makan siang telah usai dengan santainya Dedi menyeretku memasuki ruangannya dan kembali memaksaku menenuhi kebutuhan biologisnya segala upaya telah dilakukannya membujuk juga merayu namun aku lebih ahli menolaknya dibanding mengiyakan kehendaknya.
dalam ruangan ini dedi terus mencoba mendekatiku agar bisa kembali memaksaku melakukannya tapi tidak akan kubiarkan dia mendapatkan pelepasannya dengan mudah.
"Itu hakku wi biarkan aku mendapatkannya"
"Tidak"
"Ayolah seandainya kamu tahu betapa tersiksanya aku menahannya demi kamu" ujarnya memelas "oke waktu di korea aku minta maaf okey jadi biarkan aku mengerjakan bagianku dan kamu hanya perlu mendesah juga menikmatinya"
"K*parat" umpatku
" Sayang ayolah "
" Kalo kau hanya membutuhkan birahi kenapa tak kau pilih saja salah satu jalangmu"
"Dewi come on please"
".... "
Dedi Sedikit lengah ketika aku berpura – pura mengambil kendali dan membaringkannya di atas sofa lalu duduk atas tubuhnya yang sudah sangat menegang karena perlakuanku itu tapi bukannya melanjutkan permainan aku malah memilih untuk berlari meninggalkan dedi dan kembali ke rumah sampai dirumah aku mengunci diriku di kamar dan tidak ingin menemui siapapun terlebih dahulu.
Aku terlalu sibuk memanjakan diri dalam kamar hingga langit gelap kembali menghiasi langit.
malam ini bulan dan bintang menyapa dengan cahayanya yang tak seberapa namun tetap mampu meneranggi langit yang terlihat suram tanpa mereka
Dedi baru tiba ketika waktu telah menunjukkan 12:30 dengan keadaan acak - acakan ada bau alhokol yang kini memudarkan aroma parfumnya, tak sepatah katapun yang di ucapkan dedi ketika melihatku dirinya hanya memasuki kamar mandi dan setelah berganti pakaian dedi hanya berbaring memunggungiku.
kelakukan dedi sangat menggemaskan menurutku dan aksi bungkamnya terus berlanjut hingga hari ketiga dedi tidak menghiraukanku begitu pun aku.
kemarahan dedi disalurkan dengan membentak semua para karyawan dan tidak segan - segan memecat mereka jika pekerjaan mereka tidak sesuai ke inginan dedi.
hal ini membuat semua karyawan frustasi dan memaksaku untuk menenangkan boss mereka aku tahu akan sangat mudah membuat dedi bertekuk lutut namun rasanya sangat enggan untuk kulakukan.
"Wi lo ngapaen si boss sih lo tau nggak bentar lagi giliran kita - kita yang kena sidang ma laki lo kalo lo gak bisa buat dia tenang kita - kita kena PHK serempak please dong Wi lo tau kan gua baru aja nyicil mobil tuk adik gua kalo gua dipecat sekarang gua bayarnya pake apa ayo dong wi please" ujar Lisa dengan sedikit terisak aku tahu kini tidak hanya Lisa tapi yang lain juga dilanda kekhawatiran yang berlebihan akan nasip mereka seakan diujung tanduk dan kini hanya aku yang bisa menyelamatkan mereka dari amukan boss mereka
Dengan perasaan sedikit kesal dann terpaksa aku memasuki ruangan dedi, dihadapanku dedi terus saja membentak dan memaki seorang wanita yang kutahu dari divisi pemasaran dengan menunduk dan bercucuran air mata wanita itu kembali memungguti kertas yang tadinya dilemparkan dedi.
belum habis amukan dedi aku membantu wanita itu berdiri dan menuntunya meninggalkan ruangan ceo yang beberapa hari ini disulap menjadi neraka oleh pemiliknya. Walaupun kami berada si satu ruangan yang sama namun dedi kembali tak menghiraukanku juga menghindari menatap wajahku.
entah mendapat keberanian dari mana aku melangkah mendekatinya dan duduk dipangkuan dedi, awalnya tak ada penolakan ataupun respon yang kudapatkan hingga dengan lancangnya kuciumi seluruh wajahnya dan berakhir dengan lumayatan mesra pada bibirnya.
tidak mendapat balasan aku mengakhiri lumatanku, ku pikir dedi tidak berselera padaku tapi saat ku tatap matanya, ada sesuatu yang membuatku senang karena nyatanya usahaku tidak sia-sia.
dengan mata berkabut dedi kembali menyatukan bibirku dengan bibirnya juga membekapku dalam pelukannya meluapkan segala kemarahan dan ambisinya untuk penyatuan kami yang tidak terealistis setelah resepsi pernikahan.
Cukup lama kami saling melumat saling menyentuh dan cumbuan akhirnya membuat dedi tenang dan melupakan amarahnya namun semua itu tergantikan oleh nafsu yang makin membakar jiwanya memnuntut untuk dipuaskan
"Ayolah honey aku ingin sekarang" Ucap dedi diselala lengkungan leherku
"Dedi teman - temanku menunggu di luar untuk kau sidang"
"Aku tidak membutuhkan mereka ayolah honey juniorku ingin meledak saat ini"
"Kita pulang atau kau ingin berpuasa beberapa bulan lagi"
"dewiii"
"hmm"
"please" ucapnya menatapku penuh damba seperti anak kucingn yang minta untuk deelus manja
"Oke selamat berpuasa" Putusku menciba kembali mempermainkan dedi dan berpura – pura beranjak dari pangkuan Dedi.
"Okey okey kita pulang" putusku.
Kuseret Dedi untuk meninggalkan ruang kerjanya dan ketika kami sampai didepan pintu teman - temanku ternyata tetap setia menunggu disertai wajah cemasnya namun ketika melihat aku bergerak dan meninggalkan mereka bersama dedi untuk menuju lift kudengar suara helaan napas yang cukup keras dan ku yakin itu dri Tio.
Hal yang ku lakukan ternyata memberi mereka kelegaan tersendri akan nasib mereka sebagai pegawai kantor.
ko aku sedikit bingung ya, sebenarnya yg ngomong ini siapa sih?? dewi yg menceritakan kisah nya apa orang lain yg menceritakan kisah dewi
hmmmm 🤔🤔??