Di malam yang sama, Yu Xuan dan Chen Xi meregang nyawa. Namun takdir bermain jiwa Yu Xuan terbangun dalam tubuh Chen Xi, seorang budak di rumah bordil. Tak ada yang tahu, Chen Xi sejatinya adalah putri bangsawan Perdana Menteri, yang ditukar oleh selir ayahnya dengan anak sepupunya yang lahir dihari yang sama, lalu bayi itu di titipkan pada wanita penghibur, yang sudah seperti saudara dengan memerintahkan untuk melenyapkan bayi tersebut. Dan kini, Yu Xuan harus mengungkap kebenaran yang terkubur… sambil bertahan di dunia penuh tipu daya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27.Pagi itu.
Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di atas paviliun Yue Zhi ketika Chen Xi membuka matanya. Ia tidak tidur dengan nyenyak—bukan karena mimpi buruk, tetapi karena pikirannya terus bekerja sepanjang malam, menyusun jalan masuk menuju keluarga Shen.
Lian mengetuk pelan pintu.
“Nona… Nyonya menyuruh saya menyampaikan pesan. Informasi tentang keberadaan Nyonya Tua Shen sudah didapat.”
Chen Xi duduk, merapikan rambutnya yang tergerai. “Di mana beliau?”
“Di kuil Gunung Yuan shu. Sudah dua hari beliau menginap di sana… bersama Yun Xin dan Selir Wu.”
Tatapan Chen Xi berubah dingin dalam sekejap.
Jadi mereka bertiga kembali pergi bersama… bahkan tanpa pulang.
Tentu saja. Selir Wu tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menempel pada Nyonya Tua Shen, mengokohkan posisinya sebagai menantu kesayangan dan memastikan putrinya—Yun Xin—tetap dipandang paling layak menjadi putri keluarga Shen.
Chen Xi berdiri perlahan, matanya berkilat seperti permukaan pedang.
“Lian, bantu aku. Kita akan pergi ke kuil.”
“Sekarang, Nona?” Lian hampir tersentak. “Tapi kita perlu izin—”
“Aku tidak butuh izin.” Chen Xi tersenyum tipis. “Yang aku butuhkan adalah kesempatan dan itu sekarang.”
Di ruang sebelah, Nyonya Heng menunggu dengan kegelisahan. Ketika Chen Xi muncul dengan pakaian sederhana berwarna putih gading, rambut setengah digelung, ia menghela napas—karena putrinya tampak… berbeda.
Tidak seperti gadis yang sembunyi-sembunyi tumbuh dalam ketakutan.
Tidak seperti seseorang yang pasrah pada takdir.
Melainkan seperti seseorang yang tahu betul ke mana ia melangkah.
“Kau ingin menemui Nyonya Tua Shen hari ini?” tanya Nyonya Heng, meski ia sudah tahu jawabannya.
Chen Xi mengangguk. “Nenek mempercayai firasat, mimpi, dan pertanda gaib. Dan kuil adalah tempat terbaik untuk itu.”
“Apa kamu punya rencana? ”
“Tidak ibu, tapi kita akan tahu setelah melihat situasi disana”
Ia mendekat, suara lembut namun tajam.
“Selir Wu berada di sana bersama Yun Xin… berarti ia sedang berusaha menancapkan pengaruhnya. Itu hanya berarti satu hal dan aku harus datang untuk memberikan tanda pengenal untuk mereka.”
Nyonya Heng mengepal jemarinya. “Baiklah. Ibu akan menyiapkan kereta.”
Chen Xi menatap sinar pagi yang menerobos masuk dari jendela.
“Aku tidak akan membiarkan Selir Wu merebut apa yang seharusnya menjadi milikku.”
Sementara itu di luar gerbang kerajaan Han Yue.
Debu beterbangan mengikuti derap belasan kuda.
Pasukan elit Raja Long bergerak cepat, zirah perak mereka memantulkan cahaya pagi.
Di tengah formasi itu, sebuah gerobak besi bergerak berat.
Di dalamnya Putra Mahkota Zin Xu duduk terikat, tangan dan kaki dirantai, wajah penuh luka dan debu. Matanya kosong, seperti seseorang yang kehilangan seluruh dunia dalam satu malam.
Di sisi gerobak, penjaga meludah ke tanah.
“Putra mahkota? Ha! Sekarang dia hanya penjahat negara.”
Prajurit lain mendengus dingin. “Setelah Kaisar melihatnya, tidak tahu apakah kepala itu masih akan melekat pada tubuhnya.”
Zin Xu tidak menjawab.
Tidak marah.
Tidak meronta.
Tidak bicara.
Dalam diamnya, ada kehancuran yang jauh lebih dalam dari sebuah kutukan.
Nama Xu Yuan bergema di pikirannya…
…nama orang yang kematiannya ia rencanakan.
Nama yang kini menghantuinya lebih kejam dari luka mana pun di tubuhnya.
Dan hari ini, ia akan dihadapkan ke Kaisar Han Yue untuk dihukum.
---
Kuil Gunung Yuan shu – Pagi yang sama
Kuil itu berada di puncak bukit, diselimuti aroma dupa dan suara lonceng pagi yang lembut. Para pendetaberjalan perlahan, dan burung-burung kecil berterbangan di atap genteng hijau.
Di serambi utama, Nyonya Tua Shen duduk dengan postur tegak, wajahnya yang dipenuhi garis usia tetap menunjukkan wibawa yang tak berubah. Yun Xin duduk di sampingnya—cantik, lembut, dan tersenyum laksana bunga peony mekar.
Selir Wu berdiri di belakang mereka, mengenakan pakaian sutra ungu muda, wajahnya puas.
“Xin’er, nenek bermimpi lagi semalam,” kata Nyonya Tua Shen sambil menyeruput teh. “Tentang gadis yang akan membawa kejayaan bagi keluarga kita.”
Yun Xin tersipu. “Nenek selalu bermimpi yang aneh-aneh. Xin’er tidak berani mengartikan apa pun.”
Selir Wu menahan senyum.
Karena dalam benaknya, gadis yang dimaksud—tentu saja putrinya.
Mereka bertiga kembali berdoa didepan dewa mereka, dengan dibantu oleh pendeta disana.
Siang menjelang. Matahari mulai naik, menembus celah-celah pepohonan pinus di lereng Gunung Yuan Shu, memantulkan cahaya keemasan pada atap genteng hijau kuil tua itu.
Kereta Chen Xi berhenti tepat di depan gerbang batu besar tempat dua patung singa giok berdiri menjaga. Angin gunung berembus lembut, namun tidak cukup ringan untuk menenangkan hatinya.
Ia turun dengan perlahan.
Langkahnya mantap, tetapi mata Chen Xi tajam, mengamati setiap sudut kuil seperti seorang jenderal yang memeriksa medan perang.
Di kejauhan, suasana kuil tampak tenang.
Para pendeta berjalan dengan kain safron, para peziarah membakar dupa, dan lonceng besar dipukul perlahan setiap beberapa menit suara yang bergema sampai ke dasar perbukitan.
Namun ketenangan itu justru membuat Chen Xi semakin berhati-hati.
Lian berdiri di sampingnya, menunduk. “Nona… apa kita langsung masuk?”
Chen Xi menggeleng pelan.
Matanya menyipit.
“Tidak. Kita masuk tanpa undangan hanya akan dianggap tidak sopan. Dan Selir Wu pasti akan memanfaatkannya.”
“Lalu… apa rencanamu?” tanya Lian dengan suara pelan.
Chen Xi tersenyum—tipis, lambat, namun berbahaya.
“Nenek selalu memanfaatkan mimpi, pertanda, dan simbol-simbol yang disukai Nenek. Jika begitu… aku hanya perlu membuat sebuah pertanda yang tak bisa diabaikan.”
Ia melangkah ke samping tangga kuil, melihat para pendetamenggantungkan gulungan doa yang baru ditulis. Angin membuat gulungan itu berayun pelan.
“Kuil ini dihormati karena dipercaya menjadi tempat turunnya firasat.” Chen Xi berbisik, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
“Dan Nenek… selalu percaya pada firasat.”
Lian menatapnya bingung. “Nona… maksudmu, kau akan—”
Chen Xi tidak menjawab. Ia hanya melangkah menuju kios kecil tempat pendetapenjaga kuil duduk dengan gulungan doa dan papan permohonan.
Beberapa langkah sebelum tiba, ia berhenti.
Karena dari pintu aula utama, sekelibat warna ungu muda muncul—Selir Wu bersama Yun Xin, dan tak lama kemudian Nyonya Tua Shen menyusul dari dalam, didampingi dua pelayan.
Chen Xi memperhatikan secara diam, tak bergerak.
Dari kejauhan, Yun Xin tampak begitu anggun, rambutnya digelung sempurna, wajahnya bercahaya oleh keyakinan bahwa dunia berpihak padanya. Selir Wu berjalan setengah langkah di belakang, wajah penuh kebanggaan seolah seluruh kuil dibangun untuk menyambut mereka.
Nyonya Tua Shen berjalan perlahan, mata tuanya tetap tajam.
Tanpa sadar, Chen Xi menarik napas panjang.
“Inikah medan pertempurannya…” bisiknya.
Ketiganya berhenti untuk berbincang dengan kepala biksu—tentang mimpi, tentang pertanda, tentang “gadis pembawa kejayaan”.
Chen Xi memejamkan mata sejenak, menyatukan seluruh keberaniannya.
Ketika ia membuka mata kembali, tajamnya seperti mata burung elang yang membidik mangsa.
“Lian,” katanya pelan. “Pergi ke pendetapenjaga itu. Minta papan doa tertinggi—yang hanya digantungkan untuk permohonan keluarga bangsawan atau nama-nama penting. Sebutkan aku sebagai tamu agung yang datang diminta oleh mimpi.”
Lian terbelalak. “Nona… bukankah itu sangat… berani?”
“Itu memang tujuannya.” Chen Xi tersenyum samar. “Jika mereka percaya pertanda… maka mari kita berikan sesuatu yang tak bisa mereka abaikan.”
Dan tanpa menunggu jawaban, ia berjalan menuju serambi kuil.
Bukan bergegas.
Bukan dengan tampilan mencolok.
Melainkan dengan langkah tenang dan anggun—seolah keberadaannya sudah ditulis oleh para dewa sebelum hari itu tiba.
Saat Chen Xi berhenti di ujung serambi, cahaya matahari jatuh tepat ke pundaknya, membuat pakaian putih gadingnya memantulkan kilau lembut seperti cahaya bulan.
Seorang pendetamuda yang melihatnya sampai terdiam, seakan terpana oleh sosok yang bagai muncul dari kabut suci.
Lian cepat kembali dengan papan doa berwarna emas pucat—sesuatu yang hanya dipakai bagi orang yang dianggap penting dalam firasat.
“Ini… mereka memberikannya tanpa bertanya apa pun,” bisik Lian, gugup. “Seperti… seperti mereka juga merasa ada sesuatu.”
Chen Xi menerima papan itu dan mengusap permukaannya pelan.
“Bagus.”
Ia menunduk, menulis kalimat pendek—elegan, tetapi penuh makna tersembunyi:
“Untuk leluhur keluarga Shen—bimbinglah aku bertemu dengan orang yang benar.”
Lian menahan napas.
Chen Xi mengangkat papan doa itu dengan kedua tangan, membawanya sendiri menuju pohon doa tertinggi—tempat di mana hanya papan-papan terpenting digantung.
Saat ia menggantungkan papan itu…
Angin gunung tiba-tiba bertiup.
Kuat.
Mengguncang daun-daun pinus, menggerakkan pita-pita doa.
Dan nyaris semua orang di halaman kuil menoleh.
Termasuk—
Yun Xin.
Selir Wu.
Dan Nyonya Tua Shen.
Ketiganya membeku.
Karena di ujung serambi… berdiri seorang gadis berpakaian putih, rambut setengah tergerai, cahaya matahari memeluk sekujur tubuhnya.
Chen Xi menunduk hormat.
Dan seluruh kuil terasa seakan berhenti bernapas.
Nyonya tua memperhatikan dirinya tanpa bekedip, “Dia.., dia yang aku lihat di mimpiku selama ini. ” ucapnya dengan kebahagiaan.
Tatapan selir Wu mulai tidak senang, begitu juga putrinya. Mereka tidak menduga tiba-tiba gadis itu muncul, tepat didepan neneknya yang mencuri perhatian dari neneknya.