Nuraa tersentak, di tangannya ada sebuah undangan pernikahan yang baru saja di kirim oleh seseorang entah siapa, mungkin saja seorang kurir. Nuraa tertegun memandangi 2 nama di bagian depan dari undangan tersebut. 2 nama yang sangat Nuraa kenal, bahkan kedua nama tersebut memiliki tempat istimewa di hatinya.
"Bagaimana mungkin? Tidak!" teriak Nuraa.
"Tidak mungkin mereka menikah." Undangan itu pun lolos begitu saja dari tangan Nuraa, bersamaan dengan tubuhnya yang merosot dan luruh ke lantai.
Penasaran dengan kelanjutan kisah Nuraa?
Ikuti terus dengan membaca novel ini yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"Vivi! Apa maksud kamu?" Aska pun ikut berdiri.
"Aku gak hamil sama Kevin, Kak."
"Terus kamu hamilnya sama siapa?"
"Kamu jangan bercanda! Kamu sadar kan, karena pengakuan kamu, pernikahan Nuraa batal, dia harus merasakan sakit hati."
Kedua orang tua Aska pun ikut berdiri.
"Vivi... kalo bukan Kevin yang menghamili kamu, lalu siapa ayah dari bayi yang ada di dalam perut kamu itu?" tanya bunda Aska, mendesak.
Saat semua yang ada di situ sedang dalam keadaan tegang, Evelyn justru bersikap sebaliknya, Evelyn melipat kedua tangannya di dada, bersandar ke sofa dan terkekeh sinis.
Semua mata tertuju sejenak kepada Evelyn.
"Kenapa pada lihatin aku? Silahkan di lanjutkan dramanya, aku gak akan ganggu kok," ujar Evelyn dengan raut wajah datar.
"Duduk dulu, ayo." Bunda Aska memaksa Vivi untuk kembali duduk di sofa.
Aska pun melakukan hal yang sama.
"Sekarang jelasin!" tegas Aska, memandang tajam ke arah Vivi.
"Aku baru tau hari ini, kalo ternyata aku gak hamil, alat tespek yang waktu itu aku pake, sepertinya rusak," lirih Vivi.
Evelyn mendengus pelan di sertai seringai di wajahnya.
"Ini surat uji labnya." Vivi menyerahkan amplop coklat berisi hasil lab kepada Aska.
Dengan tidak sabar Aska membuka amplop tersebut, membacanya dengan seksama.
"Kak Aska gak perlu lagi menikah dengan Nuraa, karena aku yakin, Nuraa akan memilih kembali dengan Kevin, apalagi kalau tau ternyata semua ini salah paham, Nuraa itu cinta banget sama Kevin, Kak."
"Aku gak mau kak Aska menikahi seseorang yang bahkan belum selesai dengan masa lalunya sendiri."
Aska menghela napasnya sejenak.
"Kenapa baru sekarang kamu melakukan uji lab ini? Beberapa hari lalu kamu ngotot soal Kevin yang menghamili kamu."
"Oke. Sekarang kamu gak hamil, tapi bukan berarti kamu gak punya hubungan dengan Kevin di belakang Nuraa, kan?"
"Tentu aja, gak!" Vivi menjawab dengan tegas dan cepat.
"Kakak gak peduli, soal kehamilan kamu yang ternyata cuma salah paham, kakak tetap akan menikahi Nuraa."
"Bunda sama papah setuju, kan?" Aska menatap ke arah kedua orang tuanya.
"Kamu bukan lagi anak kecil, Ka. Kamu tau mana yang baik dan benar, kamu yang akan menjalani rumah tangga bersama dengan siapapun itu, papah terserah kamu saja," jawab papah Aska.
"Bunda juga terserah kamu, Kak. Tapi kamu harus pastikan dulu, apakah Nuraa benar-benar sudah selesai dengan Kevin? Bunda setuju kata Vivi, menikahi seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya itu akan sangat merepotkan kehidupan rumah tangga kalian di masa mendatang."
Mendengar hal tersebut Vivi tersenyum lebar, merasa ada yang mendukung dirinya.
"Soal masa lalu Nuraa dengan Kevin, gak semudah membalikkan telapak tangan untuk melupakan hal tersebut, semuanya butuh waktu, Bund."
"Nuraa bersedia membuka hatinya untuk aku, aku yakin lambat laun, Nuraa pasti bisa melupakan Kevin dan mencintai aku."
"Itu gak mungkin! Nuraa hanya cinta dengan Kevin, Kak. Aku tau banget soal mereka berdua," timpal Vivi.
"Biar kakak yang pastikan sendiri, kamu gak perlu ikut campur urusan kakak!" Aska berdiri dari duduknya hendak melangkah pergi dari ruang tamu.
"Itu gak perlu, Kak, tolong jangan menyakiti diri sendiri, Nuraa pasti bakalan kembali sama Kevin, buktinya dia gak cerita soal ini sama kak Aska, aku yakin Kevin sudah memberitahukan ke dia soal kesalahpahaman ini.
Sebelum benar-benar melangkah, Aska menatap lama ke arah Vivi. Aska akhirnya melangkah pergi begitu saja dari ruang keluarga, setelah kepergian Aska, Evelyn pun menyusul meninggalkan ruang keluarga.
Yang tersisa kini hanya Vivi dan juga kedua orang tua angkatnya.
"Papah ke kamar dulu, Bund. Aska juga sudah masuk ke kamarnya." Ujar papah Aska, kemudian melangkah pergi begitu saja, tanpa menyapa Vivi.
Vivi memandang sedih ke arah papah angkatnya, ini kali pertama dirinya di abaikan oleh papah angkatnya tersebut.
"Bund... Bunda harus bantu aku meyakinkan kak Aska untuk membatalkan niatnya menikahi Nuraa, aku cuma gak mau kak Aska akan sakit hati seumur hidupnya dan gak bahagia dengan pernikahannya."
"Bagaimana kalo ke depannya Nuraa justru selingkuh dari kak Aska, karena masih memiliki rasa dengan Kevin, Bund. Semua kemungkinan bisa saja terjadi."
"Aku cuma ingin yang terbaik untuk kak Aska, Bund. Kak Aska bisa dapat yang jauh lebih baik dari Nuraa, kak Aska gak kekurangan apapun untuk hal itu," lirih Vivi meyakinkan bunda angkatnya.
"Vi... bukannya bunda gak mau membantu kamu, sebagai seorang ibu, bunda yakin dengan pilihan anak-anak bunda, bunda yakin kakak kamu itu bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, dia sudah dewasa, dan bunda gak mau ikut campur soal itu."
"Bunda gak tau sejauh mana perkembangan hubungan Aska dan juga Nuraa, meskipun baru beberapa hari, tapi bunda rasa keduanya sudah memiliki komitmen yang serius, baru kali ini bunda ngeliat keseriusan di wajah kakak kamu."
"Kita serahkan semua keputusan ke kakak kamu ya." Bunda Aska menggenggam lembut kedua tangan Vivi.
"Tapi, Bund-"
"Sebaiknya kamu pulang ke apartemen, ini sudah malam, atau kamu mau menginap di sini?" sela bunda Aska.
"Aku pulang ke apartemen aja bund," jawab Vivi pasrah.
Vivi dan juga bunda Aska bersama-sama berdiri dari duduknya, Vivi berpamitan, mencium tangan bunda angkatnya sebelum keluar dari rumah.
Di dalam kamarnya Aska duduk di pinggiran kasur, pikirannya melayang ke mana- mana.
Karena terlalu larut dengan pikirannya sendiri, Aska sampai tidak mendengar ketukan di pintu kamarnya.
Sementara Evelyn sudah kehilangan kesabarannya karena Aska belum juga membuka pintu kamarnya.
Jika sebelumnya Evelyn mengetuk pintu kamar Aska dengan lembut, kali ini Evelyn mengetuknya dengan kuat, Aska pun terkejut dan bersegera membuka pintu.
"Evelyn... ada apa? Tumben ke kamar kakak," tanya Aska, dengan raut wajah heran karena ternyata Evelyn yang mengetuk pintu kamarnya.
"Aku mau ngobrol di dalam." Evelyn menerobos masuk ke dalam kamar Aska.
Evelyn terpaku sejenak melihat bingkai foto keluarga di meja samping kasur Aska, foto keluarga kecil mereka saat Vivi belum masuk ke rumah ini.
Saat Evelyn masih menjadi satu-satunya putri di rumah ini yang paling di sayang dan juga di manja.
Evelyn menggelengkan kepalanya, berusaha menghalau semua kenangan manis di antara mereka, karena setelah itu pasti akan terganti dengan kenangan pahit dan menyedihkan setelah kedatangan Vivi.
Tanpa menunggu persetujuan Aska, Evelyn langsung duduk di sofa yang ada di dalam kamar tersebut.
"Ini pertama kali kamu masuk ke dalam kamar kakak lagi, Eve," lirih Aska.
"Aku ke sini bukan mau membahas soal itu," jawab Evelyn acuh.
"Setelah semua yang terjadi, kak Aska masih percaya sama Vivi?" tanya Evelyn.
Evelyn memberikan waktu untuk Aska menjawab, ia melihat Aska diam mematung, mungkin saja sedang berpikir.
Bersambung...