Alea adalah wanita malang yang terpuruk dan hampir gila karena kehilangan bayi dan suaminya dalam satu waktu. Namun di saat itulah ia bertemu dengan seorang wanita asing yang memberikan bayi laki-laki padanya. Tanpa menaruh curiga Alea menerima bayi itu.
Siapa yang sangka jika bayi tersebut akan merubah masa depannya. Sebab bayi laki-laki itu ternyata adalah putra dari seorang konglomerat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27 Menguping
Di sebuah unit apartemen mewah David baru saja bangun dari tidurnya. Ia seperti menikmati hidup tanpa beban sama sekali. Beberapa hari terakhir yang ia lakukan hanya bersenang-senang, tanpa memikirkan urusan lain selain membahagiakan hidup.
Pun pekerjaan kantor yang sering membuatnya pusing tak ia sentuh sama sekali. Hidupnya hanya ingin bebas.
"Mau sampai kapan kau seperti ini?" ujar seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Sudah beberapa hari kau tidak pulang, tidak juga mengaktifkan ponselmu. Paula pasti khawatir padamu," sambungnya.
David tak percaya jika kekasihnya menyuruhnya untuk kembali pada istrinya. Biasanya Georgina merengek meminta waktunya karena ia terlalu sibuk di kantor juga dengan Paula.
"Kenapa kau seperti ingin mengusirmu?" tanya David malas.
"Aku bukan mengusirmu. Aku hanya ingin mengingatkanmu jangan sampai kau terllau santai di sini dan tiba tiba kita jadi miskin."
David langsung menangkap pesan yang tersirat dalam ucapan Georgina. Bagaimana bisa ia sesantai ini?
Mungkin dirinya sudah dipecat dari perusahaan milik keluarga Fernandez tapi ia juga punya perusahaan sendiri. Dasar bodoh!
"Aku tahu istrimu itu terlalu cinta padamu, tapi jika kau tidak pulang terus menerus tanpa kabar tentu akan membuat ia curiga. Dan kau tau konsekuensinya jika kau tak lagi bersama Paula. Mimpi kita belum sepenuhnya terwujud David, jangan lengah."
David tersenyum miring. Ia bangkit dari tidurnya. Tubuhnya bahkan masih polos saat ia menghampiri Georgina dan mengecup lembut bibir wanita itu.
"Kau memang yang terbaik. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakanmu."
*****
"Sebenarnya ke mana David pergi?" Paula mondar-mandir di kamarnya.
Pria itu tak ada kabar sejak pertengkarannya dengan Juan. Paula bahkan sudah mendengar kabar jika suaminya itu dipecat secara tidak hormat oleh adiknya sendiri.
"Apa sudah ada kabar dari David?" Adrian tiba-tiba masuk ke kamar ibunya.
Paula hanya bisa menggeleng.
"Kalau tidak ada David kenapa tidak Ibu saja yang bertindak sendiri. Apa ibu tahu apa yang sudah terjadi di rumah ini?"
Paula mengernyit.
"Bayi itu merebut perhatian semua orang. Terutama Nenek. Dia sangat bahagia sekali dengan cicitnya yang baru datang itu. Masih bayi saja dia sudah merebut perhatian semua orang, kalau nanti dewasa pasti akan merebut semua harta milik keluarga Fernandez. Sementara kita akan tersingkir dan miskin."
Paula menatap tajam Adrian. Apa yang Adrian katakan ada benarnya juga. David haris segera tahu hal ini agar bisa segera bertindak. Ia tidak mau usahanya dengan David sia-sia belaka.
Paula mengambil ponselnya. Berusaha menghubungi David kembali.
****
Di kamar yang Alea tempati saat ini begitu ramai dengan tawa Maria dan juga pelayan. Mereka sedang berlomba membuat Shane tertawa. Bayi kecil itu seperti sudah mengerti saja ketika Maria dan pelayan mencoba mengajaknya bicara. Membuat mimik muka yang menggemaskan.
Juan yang sejak tadi ada di sana hanya mampu jadi penonton. Entah kenapa ia terlalu kaku untuk bisa menjadi seorang ayah pada umumnya. Ia melihat kebahagiaan semua orang yang ada di kamar ini. Tak terkecuali Alea. Wanita itu ikut tertawa saat Shane tersenyum menggemaskan.
Dengan punggung bersandar dinding dan tangan di lipat di depan dada, tatapan Juan tak lepas dari Alea. Wajah teduh itu menarik perhatiannya. Alea memang tak secantik Louisa, karena penampilan Alea begitu polos dan lugu. Namun Juan yakin Alea pasti akan terlihat sama cantiknya seperti Louisa jika sudah dipoles.
Ah ... Juan, apa yang kau pikirkan?
"Nyonya, bajumu basah," teriak Sena.
Kalimat itu membuat Juan tersentak dari pikirannya sendiri.
Alea menunduk. Melihat dadanya yang basah. "Maaf."
"Tidak apa, itu adalah hal biasa bagi ibu meny*sui," ujar Maria. Ia pun meminta Sena untuk mengambilkan breast pump.
"Maaf Nenek, aku tidak biasa memompanya. Aku akan berikan langsung pada Shane," jawab Alea.
"Kalau begitu lakukanlah," ujar Maria.
Bukannya segera meny*sui Shane, Alea justru menatap Maria, Sena dan Magdalena bergantian. Yang terakhir ia melihat ke arah Juan yang juga tengah memperhatikannya. Bagaimana ia akan memberikan asi-nya pada Shane kalau ada banyak orang melihatnya. Terutama Juan. Itu tida mungkin bukan. Ia malu.
Maria pun menyadari ke mana Alea memandang. Ia lalu tersenyum. "Juan, pergilah dari kamar ini, Alea malu jika kau melihat dia meny*sui bayimu."
"Apa?" Tentu Juan kaget, tapi ia tak banyak tanya lagi sata melihat Alea yang tertunduk. Ia pun mengikuti apa yang Maria katakan untuk keluar dari kamar.
Meski Juan sudah keluar, Alea masih tak mau ada orang lain di kamar ini.
"Kenapa kau masih diam saja. Apa kau juga malu pada Sena dan Magdalena?"
Alea mengangguk.
Maria tidak marah sama sekali. Ia pun meminta dua pelayan itu untuk keluar. Ini hanya soal kebiasaan. Mungkin Alea belum terbiasa melakukan breast feed dilihat oleh orang lain, sekalipun itu sesama wanita.
"Sekarang hanya ada aku. Lakukanlah," ujar Maria.
Meski masih sedikit malu, tapi Alea tak berani menolak Maria. Wanita itu sudah sangat pengertian dengan meminta dua pelayan dan Juan pergi dari kamarnya.
*
Juan yang baru saja keluar dari kamar Alea langsung mendapatkan telepon dari seseorang. Ia pun pergi ke taman belakang agar tak ada yang mendengar percakapannya.
"Tentu aku sudah mempertimbangkannya dengan baik. Aku bilang pada nenekku kalau Alea yang menolong bayiku dan Louisa saat Louisa mengalami kecelakaan. Alea yang merawatnya sendiri karena ia juga baru saja kehilangan bayinya," ujar Juan pada orang di seberang sana.
"Kau tidak perlu khawatir, aku sudah merancang semuanya dengan baik. Tidak akan ada yang tahu jika bayi itu adalah anak Alea. Aku sudah membuat perjanjian dengannya dan memberikannya sejumlah uang untuk sandiwara ini," sambung Juan.
"Kau tahu kan aku selalu tidak berdaya di depan Nenekku. Aku hanya ingin mewujudkan apa yang menjadi permintaannya, karena hanya anak itu yang membuatnya bersemangat lagi untuk sembuh."
"Tidak akan ada yang tahu kebenaran ini kalau kau tidak bicara pada siapa pun. Kau harus ikut menjaga ...."
Juan belum selesai dengan kalimatnya pada orang di seberang telepon saat ia mendengar suara benda terjatuh.
'Pyar!'
Juan menoleh. "Siapa itu?"
Tak ada sahutan karena seseorang itu segera lari dari tempatnya menguping pembicaraan Juan via telepon.