“Aku sudah membelimu, jadi menurutlah. Patuhi semua keinginanku! Kau hanya budak di sini, tidak ada pilihan lain selain menuruti semua yang kukatakan!” Zico Archiven berkata pada seorang gadis cantik yang baru dibelinya dari tempat pelelangan.
Zico Archiven adalah seorang Tuan Muda generasi penerus dari keluarga Archiven di Italia. Dia adalah pebisnis sukses yang mempunyai beberapa usaha yang tersebar di seluruh dunia. Tak hanya jadi pebisnis sukses, dia juga menjabat sebagai ketua Mafia warisan dari sang Ayah yang sudah meninggalkannya lima tahun yang lalu.
Zico mempunyai kelainan aneh, dia tidak suka melihat wanita yang terlahir dari keluarga kaya raya. untuk itu dia mencari seorang budak untuk dijadikannya sebagai tempat pelampiasan hasr4tnya.
Bagaimana kelanjutan kisah Zico? Saat melihat gadis budaknya, Zico merasakan sesuatu yang beda. Dia seperti pernah melihat gadis tersebut. Siapakah gadis itu? Rahasia apa dibalik rasa penasarannya itu? Baca selengkapnya di sini, ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neoreul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 27 Tempat persembunyian
Dalam ruangan yang ditinggalkan tadi, Zico masih mencari keberadaan Aurora. Di sana banyak sekali pengunjung yang tertangkap oleh petugas karena terindikasi menggunakan obat-obatan terlarang.
"Bagaimana Fedric, apa ada jejak yang kau temukan?" tanya Zico pada asistennya.
"Maaf, Tuan. Saya tidak menemukan jejak Nona Aurora. Sepertinya ada seseorang yang membawanya kabur. Pasti Anda tahu siapa orang tersebut?" jawab Fedric.
Zico terdiam, dia sudah tahu jika itu adalah ulah saudara kembarnya. "Fedric, lacak lagi keberadaan Aurora. Aku sudah tidak bisa bersabar lagi."
"Baik, Tuan. Satu lagi, anak buah Tuan Bill, mendapatkan informasi tentang lokasi yang ada di hutan itu. Sebaiknya Anda bahas hal ini ke markas saja. Saya akan tarik semua anggota untuk kembali." Fedric memberitahukan hal penting.
Zico pun menurut, dia bergegas pergi dari gedung itu meski ada sedikit rasa kecewa. Puluhan anak buah Zico berhasil menangkap beberapa orang yang terjerat kasus narkoba dan juga perjudian ilegal.
Deretan mobil pergi meninggalkan gedung bertingkat itu. Target Zico adalah lokasi rahasia yang diberitahukan oleh Aurora. Jika Zico bisa membongkar kejahatan itu, maka dia akan mendapatkan sebuah nama dan juga penghargaan karena kasus itu bersifat global.
Kurang lebih setengah jam, Zico dan anak buahnya tiba di markas milik Paman Billy yang tak lain adalah patner Zico dalam usaha penyelamatan Aurora. Dia harus bekerja sama dengan kompak agar bisa membuka kasus berat itu.
Sesampainya di dalam, semua anggota sudah berkumpul. Mereka menunggu perintah Zico karena memang tak tik yang digunakan sangat efektif.
"Kita mulai saja pembahasan kali ini mengenai penggrebekan lokasi di hutan itu. Kita semua tidak boleh gegabah, karena aku yakin di sana banyak sekali orang yang ikut andil. Apa lagi, aku sendiri belum tahu siapa dalang di balik berdirinya organisasi tersebut." Zico membuka pembicaraan serius itu.
"Sebelum kita bekerja sama, ada satu hal penting yang harus kalian tahu. Otak di balik kasus ini adalah saudara kembarku. Dia sudah lama berkecimpung di dunia ilegal. Aku sendiri tahu sepak terjangnya. Hanya saja, untuk kasus ini aku tidak tahu dia bekerja sama dengan orang lain atau tidak. Aku masih melakukan penyelidikan agar rencana kita berjalan sempurna," lanjut Zico dengan penuh keyakinan.
Fedric mendengar sambil menganalisis informasi yang ditemukannya. "Tuan, GPS yang berada di cincin itu sudah menghilang dan tidak bisa dilacak lagi. Saya merasa jika saudara Anda sudah mengetahui pelacakan kita."
Zico semakin khawatir, dia tahu jika Nicco itu seorang psikopat gila. "Aku tahu jika hal ini akan terjadi. Fedric segera terapkan rencana yang sudah aku susun. Kita harus segera membongkar kasus yang berlokasi di hutan itu."
"Siap, Tuan. Saya akan menganalisis ulang." Fedric mulai serius membahas rencana dan tak tik bersama dengan anak buah Paman Billy.
****
Sementara itu, di sebuah ruangan dengan cahaya remang-remang. Aurora sedang duduk terikat di kursi. Dia belum sadar setelah Nicco memukulnya saat di casino tadi.
Nicco sudah menunggu terlalu lama hingga dia merasa tidak sabar. Pria itu mencipratkan air ke wajah cantik Aurora. "Bangun, gadis sialan! Ada yang ingin ku pastikan."
Aurora pun sadar, dia merasakan sakit di lehernya. Pandangannya kabur saat melihat Nicco yang berdiri di hadapannya. "Tuan, ada apa lagi? Bukankah saya berhasil mengalahkan wanita tadi? Mengapa saya masih diikat seperti ini?" tanya Aurora dengan suara lirih.
Nicco dengan sorot mata dingin mencengkram rambut Aurora hingga kulit kepala gadis itu terasa tertarik. Senyum sinis mengembang di bibirnya. "Aku sungguh terkejut, Aurora. Kau bukan gadis biasa. Seorang gadis tak berguna takkan pernah membuat Zico sampai sejauh ini. Katakan, apa keahlianmu yang sesungguhnya? Apakah kau seorang peretas? Cincin berlian yang kau pakai dilengkapi GPS, dan itu jauh melampaui dugaanku."
Aurora memejamkan mata, menahan sakit yang tidak seberapa itu. "Tuan, saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan. GPS? Peretas?Saya hanya orang biasa, Tuan."
Nicco mendengus, tak terpengaruh oleh penyangkalan Aurora. Amarahnya membuncah melihat keculasan gadis itu. "Jangan pura-pura bodoh! Aku tahu kau lebih dari sekedar orang biasa."
"Jawab aku, Aurora. Atau kau lebih memilih kekerasan untuk membuatmu bicara?"
Kesabaran Nicco telah habis menunggu Aurora yang terus bungkam. Dengan gerakan cepat dan penuh amarah, ia menampar wajah cantik itu dengan keras.
Suara tamparan itu menggema di ruangan sunyi, disusul oleh isakan lirih Aurora. Setetes darah segar mengalir di sudut bibirnya, menambah derita yang ia rasakan.
"Aku akan memastikan kau jujur, Aurora," bisik Nicco dengan tatapan matanya berubah menjadi lebih kejam.
Dia mengencangkan cengkeramannya pada rambut Aurora, seolah-olah ingin mencabut dari akarnya. "Bicara, atau kau akan merasakan lebih banyak lagi kesakitan."
Nicco mencondongkan tubuhnya hingga sangat dekat dengan wajah Aurora, tatapannya tajam dan mengancam. "Pilihlah, Aurora. Kerjasama lah denganku, atau hadapi konsekuensinya."
Suara Nicco bergetar karena amarahnya yang hampir meledak. Ia menunggu jawaban Aurora. Dia siap untuk menggunakan kekerasan yang lebih ekstrim jika gadis itu tetap menolak untuk bicara.
Aurora tetap bungkam dan teguh dengan pendirian. Dia tidak menghiraukan Nicco yang mengancam nyawanya. Hening menyelimuti ruangan sempit itu, hanya diselingi oleh detak jantung Aurora yang berdebar kencang.
Nicco dengan wajah memerah menahan amarah. Dia membawa pistol yang tampak mengkilat di bawah cahaya redup. Sebelumnya, ancaman Nicco yang terlontar dengan kata-kata kasar dan penuh kebencian telah diabaikan oleh Aurora.
Gadis itu terus diam tanpa kata-kata. Tatapannya lurus, tak menunjukkan sedikit pun rasa gentar. Nicco semakin murka dan geram. Dia mendesak dan mengancam Aurora dengan pistolnya.
"Kau benar-benar menantangku, ya?" Nicco menggeram dengan suara serak dan penuh amarah. Aurora tetap diam, matanya tak berkedip.
Nicco maju selangkah, mencondongkan pistol hingga ujung laras dingin menyentuh pelipis Aurora. Sentuhan dingin logam itu terasa nyata. Tekanan di pelipisnya semakin kuat. Amarah Nicco memuncak dan tak tertahankan.
"Jawab aku, atau otakmu akan bercecer4n di lantai!" teriak Nicco, dengan menempelkan pistol itu di pelipis Aurora.
Naik turunnya dada Aurora menandakan ketakutan yang terpendam. Namun, ia tetap tegak dan masih bertahan dengan sedikit keberaniannya.
"Aku tidak akan menahan lagi. Aku akan hitung sampai tiga. Jika kau tidak mau jujur maka peluru ini akan men3mbus kepalamu." Nicco berteriak keras. "Satu ... dua ... tiiii ...."
"Baiklah ... Saya mempunyai keahlian dalam peretasan," jawab Aurora terpaksa jujur, dia tidak ingin mati konyol.
Nicco menurunkan pistolnya, dia langsung memanggil asisten kepercayaannya untuk mengetes Aurora. "Steven, masuklah dan bawa file yang tidak bisa kau buka."
Tak berselang lama ada seorang pria muda yang berjalan sambil membawa laptop. Nicco melepaskan tali yang mengikat Aurora.
"Sekarang buka file ini! Pecahkan kata sandinya. Tunjukkan jika kau memang peretas handal!" Nicco memberikan perintah pada Aurora.
Aurora segera menuruti perintah itu meski tubuhnya terasa lemas. Dia akan mengulur waktu sampai mendapatkan peluang untuk kabur.
"Aku masih lemah untuk melawannya. Bagaimana ini? Aku sudah tidak kuat jika terus disiksa seperti ini. Rasanya sakit sekali!" ucap Aurora dalam hati.