menikah dengan laki-laki yang masih mengutamakan keluarganya dibandingkan istri membuat Karina menjadi menantu yang sering tertindas.
Namun Karina tak mau hanya diam saja ketika dirinya ditindas oleh keluarga dari suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27. kebohongan Vania terbongkar
"Pak, kapan kita ketemu Karina? Bapak sudah janji sama Ibu, kalau selesai panen kita akan menemui Karina. Ibu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Karina lagi. Apakah kita bisa menemuinya hari ini?" tanya Bu Indri dengan penuh harapan.
"Besok saja, Bu, kita ke sana," jawab Pak Rahmat dengan senyum. "Nanti Bapak siapkan dulu beras hasil panen yang akan kita bawa untuk Karina.
"Yowes, beneran besok, ya Pak. Ibu mau ke pasar dulu kalau begitu, mau membeli daging yang segar untuk membuat rendang yang spesial. Karina kan paling suka rendang buatanku," ucap Bu Indri dengan penuh semangat.
Melihat istrinya yang penuh dengan semangat dan harapan, membuat Pak Rahmat menggelengkan kepalanya dengan senyum yang lembut. Dirinya merasa kasihan dan terharu, karena dia tahu bahwa istrinya sudah sangat merindukan Karina, putri satu-satunya yang sudah lama tidak bertemu.
****
Lusi duduk termenung di ruang keluarga, menghela napas panjang yang berat, seolah-olah banyak beban pikiran yang membebani hatinya. Dia bingung memikirkan cucunya yang seharian tidak mau makan, tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat cucunya kembali ceria.
"Astaga, Aldo benar-benar tidak bisa dipisahkan dari Karina. Dia seperti terikat oleh ikatan batin yang kuat, sehingga tidak bisa melepaskan diri dari Karina. Bahkan makanan pun tidak mau dimakan jika tidak ada Karina di sebelahnya," Lusi mengeluh dengan nada yang khawatir dan cemas.
Saat sedang melamun memikirkan Aldo, tiba-tiba ponselnya berbunyi, memecahkan kesunyian dan menghentikan lamunannya. Lusi terkejut dan langsung mengambil ponselnya, melihat ada pesan masuk yang membuatnya penasaran.
Lusi segera membuka pesan tersebut yang ternyata dari salah seorang sahabatnya yang bernama Heni. "Heni kirim video apa?" Lusi bertanya dalam hati sambil membuka lampiran video yang dikirim oleh Heni. Dia penasaran apa isi video tersebut dan mengapa Heni mengirimkannya.
Begitu video bisa dibuka, betapa terkejutnya Lusi melihat isi video tersebut. Video yang berdurasi hampir 8 menit itu berisi tentang perlakuan Vania yang menampar Aldo dan berbicara kasar kepadanya. Lusi merasa jantungnya berhenti berdetak saat melihat cucunya yang malang itu. Dia merasa marah dan sedih melihat perlakuan Vania yang tidak manusiawi.
Lusi langsung menghubungi Heni untuk menanyakan tentang video yang dikirimnya. Dia mengangkat ponselnya dan menekan nomor Heni, menunggu dengan tidak sabar hingga Heni menjawab panggilannya. "Heni, bagaimana bisa kamu memilih video itu? Video yang kamu kirimkan tentang Aldo dan Vania... kamu mendapatkan itu dari mana?" Lusi bertanya dengan nada penasaran.
"Aku mendapatkan video itu dari Felicia, anakku. Saat itu, Felicia sedang makan di sana dan dia merekam kejadian itu. Banyak orang yang merekam kejadian tersebut, tapi Felicia yang memberitahu aku tentang video itu. Tadi pagi, Felicia bercerita tentang seorang anak kecil yang dipukul oleh seorang wanita. Aku penasaran dan meminta Felicia untuk menunjukkan video itu. Dan ketika aku melihatnya, aku sangat terkejut. Ternyata, anak kecil yang dimaksud Felicia adalah cucumu, Aldo."
Lusi menghela napas panjang, terlihat lelah dan khawatir. "Andrew sudah menyalahkan pengasuh Aldo atas kejadian itu," katanya dengan nada yang sedih. "Sekarang Aldo menangis dan mogok makan karena pengasuhnya dipecat. Dia sangat dekat dengan pengasuhnya, dan sekarang dia merasa kehilangan seseorang yang sangat dicintainya."
Lusi berhenti sejenak, mengumpulkan pikirannya sebelum melanjutkan. "Terima kasih ya, Hen. Mungkin dengan video ini, Andrew bisa sadar bahwa pengasuh Aldo tidak bersalah. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana cerita aku tentang kedekatan Aldo dan pengasuhnya? Bagaimana Aldo sudah menganggap pengasuhnya seperti ibunya sendiri?"
"Apa? Bagaimana bisa Andrew menyalahkan pengasuh Aldo?" Heni bertanya dengan nada yang terkejut dan tidak percaya. "Bukankah seharusnya dia menyelidiki dulu sebelum menyalahkan orang lain? Apalagi pengasuh Aldo sudah seperti ibu bagi anaknya." Heni terdengar sangat penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang kejadian tersebut.
"Itulah yang aku herankan dari sikap Andrew," kata Lusi dengan nada yang frustrasi. "Dia keras kepala dan tidak mau mendengarkan alasan orang lain. Bahkan aku, ibunya sendiri, tidak bisa membuatnya berpikir jernih. Dia hanya mengikuti emosinya dan menyalahkan orang lain tanpa mempertimbangkan fakta yang sebenarnya." Lusi menghela napas panjang, terlihat sangat kesal dengan sikap Andrew.
"Yasudah, semoga semua permasalahan ini cepat selesai dengan adanya video yang aku kirim tadi," kata Heni dengan nada yang optimis. "Semoga video itu bisa menjadi bukti yang kuat untuk membuktikan bahwa pengasuh Aldo tidak bersalah. Dan pengasuhnya Aldo bisa kembali bekerja."
"Sekali lagi, terima kasih ya, Hen. Kamu benar-benar telah membantu aku dalam situasi yang sulit ini. Kalau begitu, aku tutup dulu telponnya, aku ingin segera menunjukkan video itu kepada Andrew."
****
Andrew menghubungi Vania dan meminta dia untuk menemuinya di kantor. Dia ingin menanyakan tentang Aldo dan mendengar langsung dari Vania tentang apa yang sebenarnya terjadi. Andrew merasa penasaran dan dia ingin mendapatkan jawaban yang jujur dari Vania.
Vania berjalan ke arah ruangan Andrew dengan hati yang berdebar-debar dan pikiran yang penuh dengan kecemasan. Sebelum mengetuk pintu, Vania menarik napasnya dalam-dalam, mencoba untuk menenangkan dirinya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan Andrew yang mungkin akan membuatnya merasa tidak nyaman. Dengan telapak tangan yang sedikit gemetar, Vania akhirnya mengetuk pintu ruang Andrew.
Tok... Tok... Tok... Vania mengetuk pintu.
"Masuk!" terdengar suara Andrew dari dalam ruangan, suaranya terdengar sedikit serius dan formal. Vania mengambil napas dalam-dalam, mempersiapkan diri untuk menghadapi pertemuan yang mungkin akan menjadi sangat penting.
Vania masuk ke dalam dan menutup pintu di belakangnya. Vania kemudian memandang Andrew yang sudah duduk di belakang meja, matanya terlihat serius dan sedikit tegang.
"Silakan duduk!" Vania dengan patuh mengikuti perintah Andrew untuk duduk. Kini mereka berdua duduk saling berhadapan, hanya terhalang oleh meja.
Andrew memandang Vania dengan mata yang tajam, seolah-olah mencari jawaban atas pertanyaan yang belum dia ajukan. Vania, di sisi lain, terlihat sedikit gugup, tangannya yang terlipat di atas meja terlihat sedikit gemetar. Suasana di ruangan menjadi semakin tegang, sebelum Andrew akhirnya membuka mulutnya untuk berbicara. "Vania, aku ingin tahu tentang Aldo," katanya dengan suara yang serius.
"Pasti kamu ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Aldo, kan?" suara Vania sedikit bergetar.
"Ya, apa kamu bisa menceritakan semuanya?" Andrew mengucapkan kata-kata tersebut dengan suara yang rendah dan dingin, membuat Vania merasa seperti sedang berada di bawah tekanan yang kuat.
Vania menganggukkan kepala dengan lemah, matanya menunduk ke bawah. "Aku... tidak sengaja memukul Aldo karena kesal," katanya dengan suara yang tergagap-gagap. "Aldo tidak bisa menerimaku seperti dia menerima Karina, padahal aku sudah melakukan berbagi cara untuk mendekatinya dengan hati yang tulus. Sepertinya Karina sudah mencuci otak Aldo, Andrew. Dan aku memukul Aldo tidak keras, kok," Vania membela diri, "luka di bibir Aldo itu karena kejedot saat Karina menarik Aldo dengan kasar."
Kalimat Anda sudah cukup baik. Berikut adalah revisi kalimat Anda untuk membuatnya lebih deskriptif dan menarik:
Andrew terkejut dengan penjelasan Vania, matanya melotot. "Apa kamu bilang, luka di bibir Aldo karena ditarik oleh Karina?" katanya dengan suara yang terdengar tidak percaya, seolah-olah tidak bisa memahami apa yang baru saja dia dengar.
Vania menganggukkan kepala. "Kamu tidak percaya? Memangnya Karina cerita apa saja?" katanya dengan suara yang terdengar sedikit defensif, seolah-olah merasa bahwa Andrew lebih percaya pada Karina daripada dirinya.
Andrew menggelengkan kepala, matanya masih menatap Vania dengan ekspresi yang serius. "Tidak, dia tidak cerita apapun," katanya dengan suara rendah. "Bahkan kemarin aku langsung memecatnya, dan kurasa keputusanku itu benar," tambahnya dengan nada yang lebih tegas, seolah-olah ingin menegaskan bahwa keputusannya tidak akan berubah.
Vania tersenyum licik. "Aku rasa itu keputusan yang sangat tepat dengan memecat Karina," katanya dengan suara yang manis, namun dengan nada yang sedikit tajam. "Wanita itu membawa pengaruh buruk untuk Aldo, dan aku yakin dia hanya akan membawa kehancuran bagi hidupnya."
Vania menundukkan kepala, matanya menatap ke bawah dengan rasa bersalah. "Andrew, tolong maafkan aku," katanya dengan suara yang lembut dan penuh penyesalan. "Aku sudah memukul Aldo, dan aku tahu itu tidak bisa diterima. Aku sangat menyesali perbuatan itu. Beri aku kesempatan sekali saja untuk memperbaiki kesalahanku."
"Baiklah, aku akan memberikan kesempatan sekali lagi untukmu," kata Andrew dengan nada yang sedikit berat. "Tapi kalau sampai kamu mengulanginya lagi, maka aku tidak akan memaafkanmu. Aku tidak akan ragu-ragu untuk mengambil tindakan yang lebih serius."
"Terima kasih, Andrew, Aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi, aku berjanji."
Vania merasa lega dan bersyukur sekaligus, hatinya terasa ringan setelah Andrew mau memaafkannya. Meskipun dia sedikit berbohong tentang kejadian itu, Vania tidak bisa menyangkal perasaan lega yang mengalir di dalam dirinya. Dia berharap bahwa kebohongannya itu tidak akan pernah terungkap.
Ting... Suara notifikasi pesan masuk dari ponsel Andrew memecahkan kesunyian ruangan, membuat Andrew menoleh ke arah ponselnya yang berada di atas meja. Andrew mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirimkan pesan.
Ternyata tertera nama 'Mama' di layar ponsel miliknya, membuat hati Andrew berdebar dengan sedikit kekhawatiran. Andrew segera membuka pesan dari mamanya itu, berharap ada kabar baik tentang kondisi Aldo terkini. Dia menggeser jari-jarinya di layar ponselnya dengan cepat, membuka pesan yang baru saja masuk.
Namun, betapa terkejutnya Andrew saat membuka isi pesan dari mamanya. Yang ternyata ada video tentang anaknya.
Andrew mengepalkan tangannya, untuk menyalurkan amarahnya. Dan bruak... Andrew menggebrak meja kerjanya dengan keras.
"apa-apaan ini Vania? Kamu membohongi saya, hah."
Bersambung...
lanjut Thor, penasaran!
wong data semua dari kamu