Keegoisan istrinya, yang bersikeras menolak untuk hamil. Membuat Sam terpojok dengan permintaan neneknya. Satu sisi wanita yang dia cinta sepenuh hati menolak untuk hamil, satu sisi, wanita yang Sam cinta, yaitu nenek dan ibunya. Sangat menginginkan akan kehadiran penerus keluarga Ozage. Sam terpaksa menyetujui, untuk menikah lagi, demi membahagiakan neneknya dan ibunya.
Pernikahan kedua pun terjadi. Seorang wanita bernama Moresa Haya. Menjadi istri kedua Sam. Apakah Sam akan berpaling hati pada istri keduanya? Atau dia tetap setia dengan perasaannya pada Vania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Syarat apa
Vania langsung menelepon Sam. Saat terhubung, panggilannya langsung diangkat oleh Sam.
"Di mana kamu?" Pertanyaan itu, terlontar begitu saja dari ujung telepon sana.
"Aku akan terima kehamilan ini. Tapi, dengan satu syarat."
"Apa syaratmu?"
"Kita bicarakan di rumah, aku segera pulang."
"Baiklah, aku juga segera pulang, ucap Sam."
Tanpa berkata apapun lagi, Vania langsung menutup teleponnya.
Vania sungguh bingung, sedih karena kecolongan. Tapi, kabar kehamilan ini malah membuat media memburunya. Sampai saat ini panggilan terus berusaha menelponnya. Namun, sengaja tidak dia angkat.
Tepukan di bahu Vania, membuat Vania tersadar dari lamunannya.
"Selama ini, apakah aku pernah membuatmu sedih atau kerugian sesuatu?" Tanya Arini.
Vania menggelengkan kepalanya. "Kau manager yang terbaik, aku bahagia bisa mempunyai manager baik seperti kamu," ucap Vania, terukir senyuman manis di wajahnya.
"Jalani apa yang telah tergaris buatmu, barangkali … ini cara Tuhan, untuk membuat kamu mencintai Sam. Kasihan Sam. Selama ini dia berjuang sendirian dalam biduk rumah tangga kalian.
"Sudahlah, jangan bahas cinta, kepalaku pusing."
Arini mendengus, menahan kekesalannya pada wanita yang satu ini. Arini sangat ingin Vania berubah. Bermacam nasehat selama menjadi Manager Vania, sudah Arini berikan. Namun, Vania tidak memerdulikan apapun, selain dirinya sendiri. Wanita egois, ambisius, itu sangat melekat dengan Vania. Semua orang yang dekat dengannya tahu akan hal itu.
Terlihat Vania meraih tasnya, dan mulai memasukkan beberapa barangnya, yang sempat dia keluarkan.
"Kamu mau kemana?" Tanya Arini.
"Aku mau pulang, ada beberapa hal, yang ingin aku bicarakan dengan Sam, terkait kehamilan ini."
Vania mendaratkan ciumannya di pipi kanan dan di pipi kiri Arini. "Aku pulang," ucapnya.
Arini mengangguk. Menanggapi ucapan Vania barusan. Sedang Vania, dia segera melangkahkan kakinya, menuju pintu.
*****
Di kediaman Sam.
Setelah sampai di rumah, Resa dan Ramida duduk bersantai di ruang tamu. Mereka menikmati secangkir teh, dan kue yang di sediakan oleh pelayan. Di bagian ruangan lain, terlihat Jena mendorong kursi roda Marina.
"Resa, mari kita sampaikan kabar ini sama nenek," ser Ramida.
Resa menganggukkan kepalanya. Dia dan Ramida, segera melangkah menuju kamar Marina. Di kamar terlihat Marina dan Jena asyik mengobrol. Marina meleparkan senyumannya untuk Ramida dan Resa.
"Resa itu, pelayanmu, atau pelayanku?" Ucap Marina.
"Maaf, bu. Bukan maksudku membawa Resa, kalau siang kan, ada Jena. Dari pada Resa bengong, mendingan melayaniku," ucap Ramida.
Ramida mengalihakan pandangannya pada Jena. "Jen, kamu bisa pergi belanja? Sebenarnya aku ingin menyuruh Resa. Tapi, yang tahu kebutuhan rumah ini hanya kamu," ucap Ramida pada Jena.
"Iya Nyonya, saya bersedia." Jawab Jena.
Ramida meraih tasnya, dia mengeluarkan selebaran kertas, dan amplop yang berisi uang tunai. Dia memberikan kertas yang berisi daftar belanja, juga uang pada Jena.
"Uang itu lebih dari cukup, untuk belanja. Jangan lupa, sisanya kamu kirim ke kampung kamu," ucap Ramida.
"Nyonyaaa." Mata Jena nampak berkaca-kaca.
"Sudah, sana pergi sama supir." Perintah Ramida.
Jena segera pergi. Di dalam kamar hanya ada Ramida, Resa dan Marina. Ramida berjalan medekati mertuanya. Dia berjongkok di hadapan Marina.
"Bu, keinginan ibu akan segera terwujud. Resa dan Vania hamil!" Seru Ramida.
Wajah tua itu nampak terkejut, kedua bola matanya berbinar, tangannya yang keriput segera menutupi mulutnya yang menganga lebar.
"Selamat bu." Ramida memeluk lembut mertuanya.
"Setelah perut Resa mulai besar, kita harus pindah, untuk sembunyi, kita kembali setelah Resa melahirkan," usul Marina.
Ramida melepaskan pelukannya. "Hal itu juga bu, yang aku pikirkan."
Marina memandang kearah Resa. "Resa sayang, peluk nenek," pinta Marina.
Resa berjalan mendekati Marina. Dia segera memeluk wanita tua itu.
"Terima kasih, sayang." Marina mengusap lembut punggung Resa. Mereka berdua melepaskan pelukan mereka.
"Resa duduk sana," Marina menujuk tempat tidurnya. Resa segera duduk, di tepi tempat tidur Marina.
"Resa, nenek ingin bicara."
"Bicaralah nek," ucap Resa.
"Mengingat, Vania juga hamil, apakah nanti kamu sedih, kalau Sam, hanya memerhatikan Vania?"
"Tidak sama sekali, nek. Tapi, satu yang mengganjal, jika Vania juga punya anak, apakah anakku--"
"Kami akan pastikan tidak membedakan keduanya, kami akan menyayangi anakmu dan anak Vania, ibu janji!" Ramida sengaja memotong perkataan Resa.
"Aku lega, aku hanya memikirkan nasib anakku. Kalau nasibku sudah bisa kubaca, karena Sam sama sekali tidak menginginkanku." Resa mengukirkan senyuman manis di wajahnya.
Ramida merasa sesak, dia langsung memeluk wanita yang selalu nampak tegar itu.
******
Di kamar Sam.
Vania sampai kerumah lebih dulu, tanpa menyapa siapapun, dia melangkahkan kakinya begitu cepat menuju kamarnya. Dia langsung duduk di sofa yang ada dalam kamarnya dan Sam. Selang beberapa menit, perlahan pintu kamar terbuka. Setelah pintu terbuka sempurna. Terlihat sosok Sam. Sam langsung menutup pintu dan menguncinya.
Sam berjalan kearah Vania. Dia meletakkan satu kantong berisi benda yang dia tebus di Apotek. "Syarat apa yang ingin kamu ajukan."
"Selama aku hamil, kamu tidak boleh mengaturku, apa yang aku makan dan apa yang aku inginkan, aku berhak atas diriku."
"Kamu tidak hamil pun, hal itu sudah berlaku, kapan aku pernah mengomentari dan bisa mengatur dirimu, selama ini, apa yang kamu inginkan, apa yang kamu mau, selalu aku biarkan," balas Sam.
"Apa karena kamu tau kalau kau hamil, hingga sebelumnya kamu memintaku bermain kasar padamu? agar anak kita tidak bisa bertahan?"
"Kamu juga tidak boleh melarangku, jika aku menerima iklan dan lainnya." Vania merubah topik pembicaraan.
"Sudah kuduga, tidak jauh-jauh, pasti ini tentang duniamu." Sam tersenyum sinis mendengar syarat dari Vania.
"Ingat, kamu tidak boleh memaksaku untuk apapun, hanya karena alasan jabang bayi."
"Okey, aku akan menuruti kemauan kamu," Sam malas untuk bicara panjang lebar dengan Vania.
Sam masih memandangi Vania, sedang yang dia pandang nampak cuek. Vania meraih ponselnya, jemarinya sibuk mengusap-usap layar ponselnya.
"Kau sudah dapat tawaran iklan produk kehamilan?" Tanya Sam.
"Iya, ini beberapa perusahaan susu, dan bermacam produk ibu dan bayi sedari tadi menghubungiku. Bahkan ada yang ingin kontrak dengan calon bayi ini," ucap Vania.
"Ambil saja iklan dan kerja sama yang kamu mau. Tapi, jangan mimpi untuk menjual bayi kita, aku tidak mau dia jadi model dan apalah itu,"
Vania tidak memerdulikan ucapan Sam. Dia fokus pada layar ponselnya.
Sam terus mamndangi Vania.
Kamu beruntung Vania, karena aku sangat mencintai kamu.
Gumam hati Sam.
"Aku ingin kekamar nenek, pasti nenek bahagia jika mendapat kabar ini dariku langsung," ucap sam.
Tapi, yang orang yang dia ajak bicara tidak perduli. Vania asyik dengan ponselnya. Sam membuang napasnya begitu kasar. Dia melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. Sebelum menutup pintu, Sam memandangi Vania. Ternyata ponsel lebih tampan dari wajah Sam. Vania sedikitpun tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
pokoknya serba ga masuk akal
seolah2 semua org suka merengek
bukannya merengek itu bearti seperti manja